June 12, 2026, oleh Humas Universitas

Ketum Muhammadiyah Haedar Nashir memimpin peletakan batu pertama pembangunan pabrik infus di Kabupaten Malang (Foto: Aris /jatimnow.com)

jatimnow.com – Muhammadiyah resmi memulai pembangunan pabrik infus di wilayah Kabupaten Malang. Dimulainya proses pembangunan pabrik infus di wilayah Karangploso, Kabupaten Malang, menjadi penanda Muhammadiyah satu-satunya Organisasi Masyarakat (ormas) keagamaan yang memiliki pabrik infus di Indonesia. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan, pembangunan pabrik infus ini menjadi tonggak awal membentangkan peran Muhamadiyah terhadap pembangunan Indonesia. Selama ini ada stigma negatif dibalik ormas keagamaan terjun ke pengelolaan industri, seperti pembuatan pabrik infus ini. Padahal pengelolaan sektor industri, termasuk pembangunan pabrik infus menjadi bagian dari pengamalan sosial keagamaan, yang mengatur hubungan antar manusia, maupun dengan lingkungan.

Kita ingin memberi pemahaman bahwa itu pandangan yang sempit tentang gerakan keagamaan, bahkan juga pandangan yang sempit tentang agama itu sendiri. Karena agama itu dalam pemahaman remaja bukan hanya aspek akidah dan ibadah, tapi juga akhlak dan muamalah, duniawiyah muamalah, itu segala urusan yang berinteraksi dengan hubungan sesama manusia dan dimensi lingkungannya,” ujarnya saat Groundbreaking Pabrik Infus di Karangploso, Malang, Kamis (11/6/2026) siang. Selama ini kata Haedar, Muhammadiyah memiliki sebanyak 130 rumah sakit dan 231 klinik yang bisa menjadi pasar infus produksi PT Suryavena Farma Indonesia, perusahaan pabrik infus yang dimiliki Muhammadiyah. Menurutnya, kebutuhan infus itu merupakan hal dasar di dunia medis di samping kebutuhan obat-obatan lain di sektor medis. “Kita punya 130 rumah sakit dan ratusan klinik, kalau tidak kita layani dengan kekuatan sendiri, biasanya kan menggunakan jasa orang lain. Kita akan memulai sesuatu yang paling bisa kita lakukan ekosistem bisnis rumah sakit. Kita akan bergerak di bidang obat, banyak hal yang biasanya kalau sudah kita mulai sesuatu yang lain akan mengikuti,” terangnya. Harapannya dari pembangunan pabrik infus dan masuknya Muhammadiyah ke beberapa sektor bisnis lain, termasuk tambang dan pengelolaan sawit, demi memberikan kemandirian dan kemanfaatan bagi masyarakat. Sehingga ketika dibutuhkan tak perlu lagi meminta sumbangan atau donasi ke beberapa pihak termasuk ke pemerintah.

“Harus ada organisasi Islam yang punya potensi yang sudah cukup relatif kuat, bergerak lebih maju lagi. Agar kita bisa memiliki Indonesia ini oleh kita sendiri, tidak diserahkan pada pihak lain yang tidak bertanggung jawab,” imbuhnya. Sementara itu, Ketua Bidang Ekonomi, Bisnis, dan Industri Halal PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy menyebut, nilai investasi pabrik infus ini sebesar Rp800 miliar yang mampu memproduksi hingga 15 juta botol infus per tahunnya. Pabrik ini menempati luas area tanah hingga 14 hektar di wilayah Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Dari luasan tersebut tiga hektar di antaranya dialokasikan untuk kawasan industri terpadu. “Saya harap tahun depan pertengahan 2027 pabrik ini bisa berproduksi. Nilai investasi pabrik Rp800 miliar di luar tanah, UMM (Universitas Muhamadiyah Malang) salah satu pemegang saham. Jadi ini lahannya memang milik Universitas Muhammadiyah Malang, sementara untuk pabrik sendiri itu melibatkan rumah sakit-rumah sakit besar di lingkungan Muhammadiyah,” kata Muhadjir Effendy. Muhadjir optimis pembangunan pabrik infus ini mampu memenuhi kebutuhan infus di sekitar 130 rumah sakit dan 231 klinik Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Sebab selama dua tahun ini Muhammadiyah bekerjasama dengan produsen obat BUMN, dalam suplai infus di fasilitas medis milik Muhammadiyah. Bahkan jika memungkinkan, infus – infus itu bisa menyuplai kebutuhan rumah sakit dan klinik lain di Indonesia. “Kita tahu infus adalah salah satu bahan yang sangat dibutuhkan oleh semua rumah sakit, semua dokter, tidak ada resep khusus, sehingga ini sangat generik. Kalau infus tidak ada kata, tidak yang berani memberi resep, dari manajemen resiko mudah dikelola. Nanti kalau kita membuat memproduksi sendiri dengan pabrik sendiri ini kita harapkan akan jauh lebih efisien,” pungkasnya.