June 13, 2026, oleh Humas Universitas

Sumber foto financedetik.com.

Tagar.co – Layar perdagangan saham berwarna merah. Angka-angka bergerak turun. Berita tentang merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga lebih dari 20 persen sejak awal 2026 hingga pekan lalu membuat banyak orang mulai bertanya-tanya

Apakah Indonesia sedang menuju krisis ekonomi?

Pertanyaan itu wajar muncul. Pengalaman krisis 1998 maupun gejolak ekonomi global beberapa tahun terakhir masih membekas di benak masyarakat. Saat pasar saham turun tajam dan nilai tukar rupiah melemah. Kekhawatiran biasanya datang lebih cepat daripada data dan penjelasan ekonomi yang sesungguhnya.

Kepanikan Investor Memicu ISHG Memerah

Menurut Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Novi Puji Lestari, kondisi saat ini belum menunjukkan tanda-tanda rapuhnya fundamental ekonomi nasional.

Ia menilai gejolak yang terjadi lebih banyak mempengaruhi faktor psikologis pasar daripada kondisi ekonomi riil.

“Turunnya IHSG saat ini lebih banyak memicu panic selling dari investor yang merasa khawatir secara berlebihan. Pasar sering kali bergerak lebih cepat merespons ketakutan dibandingkan kondisi ekonomi yang sebenarnya,” ujarnya dalam siaran pers Humas UMM yang diterima Tagar.co, Rabu 910/6/26).

Baca Juga:  Kesalehan dan Istikamah, Ujian Usai Ramadan

Fenomena panic selling bukan hal baru dalam dunia investasi. Ketika sebagian investor mulai menjual saham karena takut rugi, investor lain sering mengikuti langkah yang sama.

Akibatnya, tekanan jual semakin besar dan harga saham terus menurun. Situasi tersebut menciptakan lingkaran kepanikan yang membuat pasar tampak lebih buruk daripada kondisi sesungguhnya.

Di tengah kondisi tersebut, muncul persepsi bahwa penurunan IHSG menjadi indikator pasti memburuknya ekonomi nasional. Padahal, pasar saham hanya salah satu instrumen yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk sentimen, ekspektasi, dan psikologi pelaku pasar.

Pelemahan Rupiah dan Sentimen Global Tekan Pasar Saham

Novi menjelaskan bahwa salah satu pemicu utama kekhawatiran investor berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Ketika rupiah mengalami tekanan, investor asing cenderung menilai aset di negara berkembang memiliki risiko yang lebih tinggi.

Bagi investor global, stabilitas fiskal menjadi faktor penting sebelum menanamkan modal. Karena itu, perubahan kecil dalam persepsi terhadap kondisi ekonomi dapat memicu perpindahan dana dalam jumlah besar.

“Investor asing sangat sensitif terhadap isu stabilitas fiskal. Ketika rupiah melemah, mereka merasa aset yang dimiliki menjadi lebih berisiko sehingga muncul kecenderungan menarik dana dari pasar,” jelasnya.

Baca Juga:  Silaturahmi II Ambulans Muhammadiyah Jatim: Perkuat Layanan, Bangun Branding Berbasis Data

Meski demikian, pelemahan rupiah tidak selalu berarti ekonomi dalam kondisi buruk. Dalam banyak kasus, nilai tukar dipengaruhi faktor eksternal yang berada di luar kendali pemerintah maupun pelaku usaha domestik.

Kondisi global saat ini menjadi salah satu faktor yang memperkuat ketidakpastian. Perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang kembali memanas serta konflik geopolitik di Timur Tengah menciptakan sentimen negatif di berbagai pasar keuangan dunia.

Arus globalisasi membuat peristiwa yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia dapat memengaruhi keputusan investor dalam hitungan jam. Informasi bergerak sangat cepat. Respons pasar bahkan sering kali lebih cepat dibandingkan perkembangan peristiwa itu sendiri.

Novi Puji Lestari, SE, MM, Dosen Manajemen UMM

Menurut Novi, sekat ekonomi antarnegara semakin tipis. Dampak konflik global tidak lagi terbatas pada negara yang terlibat secara langsung.

“Konflik di Timur Tengah maupun tensi dagang AS-China sekecil apa pun dapat menciptakan sentimen negatif yang memengaruhi psikologis pasar domestik,” katanya.

Di sisi lain, pemerintah berulang kali menegaskan bahwa berbagai indikator makroekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif terjaga. Aktivitas ekonomi tetap berjalan, sektor riil masih bergerak, dan konsumsi masyarakat belum menunjukkan kontraksi yang mengkhawatirkan.

Baca Juga:  Gebyar Ramadan Lazismu Sidoarjo Hadirkan Taman Lansia, Padukan Kajian dan Edukasi Kesehatan

Saat IHSG Memerah, Masyarakat Perlu Tetap Rasional

Karena itu, masyarakat perlu membedakan antara gejolak pasar keuangan dan kondisi ekonomi sehari-hari. Penurunan harga saham memang dapat memengaruhi persepsi publik, tetapi tidak selalu berarti seluruh aktivitas ekonomi sedang mengalami krisis.

Bagi investor pemula, situasi seperti sekarang justru menjadi ujian penting dalam mengambil keputusan keuangan. Ketika pasar dipenuhi sentimen negatif, banyak orang tergoda menjual aset secara tergesa-gesa hanya karena mengikuti arus.

Padahal, keputusan investasi yang baik harusnya memberikan dasar pada analisis dan tujuan jangka panjang, bukan pada ketakutan sesaat. Kepanikan sering kali menjadi penyebab kerugian yang lebih besar yang tidak sebanding penurunan pasar itu sendiri.

Masyarakat juga perlu memahami bahwa fluktuasi merupakan bagian alami dari pasar modal. Tidak ada pasar yang selalu naik, sebagaimana tidak ada pasar yang terus turun tanpa henti. Dalam sejarahnya, berbagai bursa dunia pernah mengalami koreksi tajam sebelum akhirnya kembali pulih.