June 13, 2026, oleh

MALANG KOTA, RADAR MALANG -Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat peran strategis dalam mewujudkan kemandirian kesehatan nasional. Komitmen ini diwujudkan lewat penyediaan lahan untuk pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang. Dari total 14 hektare aset lahan milik UMM di lokasi tersebut, sekitar tiga hektare dialokasikan khusus sebagai kawasan industri terpadu.
Peletakan batu pertama (ground breaking) proyek ini resmi dilaksanakan pada Kamis kemarin (11/6). Dihadiri sejumlah tokoh penting, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI yang juga Sekretaris BPH UMM Prof Dr Fauzan Mpd, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta Wakil Rektor II UMM Dr Ahmad Juanda Ak MM CA.
TAMU PENTING: Para Pimpinan Muhammadiyah beserta Direksi PT Suryavena Farma Indonesia hadir dalam acara peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia, kemarin.
Pabrik tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2027, diproyeksikan menjadi penopang utama rantai pasok alat kesehatan. Baik bagi jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah maupun masyarakat luas.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi menegaskan, pendirian pabrik infus ini adalah manifestasi dari ekosistem socio-religious corpo ration. Menurutnya, inisiatif ini membuktikan, organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui aktivitas bisnis profesional yang orientasi utamanya adalah kemaslahatan publik dan kontribusi nyata bagi negara.
”Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Proyek yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya. Dalam pemaparannya, agama disebut tidak sebatas mengatur akidah dan ibadah, melainkan juga urusan muamalah dalam tata kehidupan sosial-ekonomi.
Oleh karena itu, keterlibatan di sektor industri medis ini diposisikan sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan. Guna menopang berbagai layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat.
Senada, Wakil Rektor II UMM Dr Ahmad Juanda Ak MM CA menjelaskan, kontribusi Kampus Putih tidak berhenti pada penyediaan lahan. Ke depannya, kawasan ini akan diintegrasikan menjadi ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM.
”Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional,” katanya. Misinya, selain mendukung layanan kesehatan, kawasan tersebut juga dirancang untuk menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri. Sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan.