June 15, 2026, oleh Humas Universitas

Founder Social Movement Institute Eko Prasetyo SH menyampaikan materi dalam Kuliah Tamu Nasional Program Studi Sosiologi FISIP UMM. (Humas UMM/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Krisis intelektual yang melanda generasi muda saat ini bukanlah soal rendahnya kapasitas kecerdasan, melainkan pudarnya keberanian untuk berpikir kritis dan melawan ketidakadilan yang terjadi di depan mata. Realitas tersebut menjadi sorotan utama Founder Social Movement Institute Eko Prasetyo SH dalam Kuliah Tamu Nasional Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (13/6/2026).

Mengusung tema Kaum Cendekiawan dan Krisis Moral Perlawanan, kegiatan ini mendorong mahasiswa untuk merefleksikan kembali fungsi sejati kampus sebagai rahim lahirnya intelektual pemberani yang mampu mengoreksi realitas sosial.

Dalam pemaparannya di Gedung Kuliah Bersama (GKB) I Lantai 6 UMM, Eko menjelaskan bahwa krisis moral perlawanan tidak muncul dari ruang hampa, melainkan merupakan konsekuensi dari perubahan struktural di dunia pendidikan. Orientasi pendidikan yang semakin pragmatis, menjamurnya budaya individualisme, serta dominasi teknologi secara perlahan menggeser marwah kampus.

Lembaga pendidikan tinggi dinilai lebih menyerupai pabrik pencetak tenaga kerja dibandingkan ruang pembentukan karakter yang berpihak pada kebenaran. Akibatnya, mahasiswa semakin terasing dari tradisi menyuarakan kepentingan publik.

“Kampus adalah dunia yang dinamis, jangan hanya hidup monoton. Mahasiswa perlu memanfaatkan lingkungan akademik sebagai ruang berdiskusi, berorganisasi, dan menguji gagasan, bukan hanya mengejar nilai atau menyelesaikan perkuliahan. Keberanian mempertanyakan persoalan sosial merupakan fondasi utama bagi lahirnya kaum intelektual yang mampu membawa perubahan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Eko mengkritisi fenomena komersialisasi pendidikan dan disrupsi informasi yang dinilai menggerus daya nalar kritis mahasiswa. Menurutnya, ketika akses pendidikan semakin mahal dan eksklusif, ruang perjumpaan lintas kelas sosial otomatis menyempit sehingga empati sosial turut terkikis.

Di sisi lain, banjir informasi akibat penggunaan gawai justru sering melahirkan pemahaman yang dangkal. Mahasiswa mengetahui banyak isu, tetapi gagal memetakan akar persoalan karena mengabaikan budaya literasi, dialog yang komprehensif, serta ketajaman berpikir analitis.

“Egoisme dan hasrat kekuasaan kini mengakar kuat karena terus dipelihara oleh berbagai lembaga dalam masyarakat. Kondisi ini berkontribusi terhadap melemahnya keberanian masyarakat untuk mengkritik ketidakadilan. Budaya kepatuhan dibuat lebih dominan daripada budaya berpikir independen. Dalam kondisi seperti itu, kampus memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga tradisi intelektual agar tetap hidup,” urainya.

Menutup kuliah tamu nasional tersebut, Eko menyampaikan pesan penting yang perlu direfleksikan bersama oleh seluruh civitas academica. Menurutnya, krisis moral perlawanan hanya dapat diakhiri apabila mahasiswa berani menanggalkan sikap apatis dan mulai terlibat langsung dalam memahami berbagai persoalan masyarakat.

Dia menegaskan bahwa esensi seorang intelektual sejati tidak pernah diukur dari tumpukan gelar akademik, melainkan dari keberanian dalam memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan secara nyata. Karena itu, kampus harus kembali ditegakkan sebagai ruang yang subur bagi tumbuhnya gagasan kritis, independen, dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas.

(Faqih/AS)