June 15, 2026, oleh

Direktorat Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan 4th International Conference on Science and Technology for Sustainable Development (IC-STSD 2026) di Aula BAU UMM pada Sabtu (13/6). Mengusung tema integrasi inovasi, kesehatan, pendidikan, dan transformasi sosial, konferensi internasional ini menghadirkan para pakar dunia untuk membedah kesiapan masyarakat global dalam menghadapi tantangan berat seperti perubahan iklim, potensi gesekan sosial, hingga tata ruang kota demi mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs).
Menyoroti urgensi transformasi sosial, Assc. Prof. Mun’im Sirry dari Departemen Teologi, University of Notre Dame, Amerika Serikat, menjelaskan bahwa fondasi utama keberlanjutan sebuah negara majemuk seperti Indonesia adalah kemampuan warganya dalam merawat kerukunan. Berdasarkan risetnya, masyarakat perlu memupuk cinta sosial dan kepedulian antarumat beragama, di mana perbedaan keyakinan harus dijadikan ruang interaksi yang sehat untuk saling belajar dan memperkuat ikatan kemanusiaan.
“Untuk mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan, kita harus membangun budaya saling peduli di tengah masyarakat majemuk melalui pemahaman lintas agama, sehingga setiap individu merasa aman dan diterima,” paparnya.
Dari perspektif geografi, Dr. Irna Nurlina bt Masron, peneliti ISEAS Yusof Ishak Institute, Singapura, membahas dilema pelestarian sejarah kawasan kota tua yang kerap tergilas oleh arus komersialisasi pariwisata. Berpijak pada studi kasus di Little India, Singapura dan Pekojan, Jakarta, ia mengingatkan bahwa pelestarian warisan budaya wajib melibatkan masyarakat asli agar ambisi kota global dan derasnya arus modal investor tidak mengusir warga dari ruang hidup mereka.
“Konservasi tata kota harus dipandang sebagai proses kehidupan sehari-hari yang mengutamakan kesejahteraan penduduk lokal, bukan sekadar menjaga struktur bangunan kuno demi memenuhi ekspektasi sektor pariwisata semata,” urainya.
Menyambung ancaman krisis ekologi perkotaan, pakar energi terbarukan Fakultas Teknik UMM, Prof. Dr. Ir. Machmud Effendy, ST., M.Eng., memaparkan dampak fatal ketergantungan pada bahan bakar fosil yang terus menyumbang emisi mematikan. Solusi utama yang ditawarkan adalah transisi menuju energi hijau yang terintegrasi jaringan listrik pintar, sebuah terobosan yang telah diaplikasikan langsung oleh Kampus Putih lewat operasional Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dan deretan panel surya di atap Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5.
“Untuk mewujudkan kota yang benar-benar tangguh, kita perlu memanfaatkan teknologi cerdas dan menggunakan energi terbarukan agar emisi gas berbahaya dapat dikurangi serta kebutuhan energi di masa depan tetap terpenuhi,” tegasnya.
Forum berskala internasional ini kembali menegaskan kapasitas UMM sebagai institusi pendidikan yang responsif dalam mencari solusi atas krisis multidimensi. Penyelenggaraan IC-STSD 2026 diharapkan tidak berhenti pada diskursus akademik, melainkan menjadi stimulus lahirnya kolaborasi nyata dan jejaring riset konkret lintas negara. Melalui langkah proaktif ini, Kampus Putih berkomitmen untuk terus melahirkan agen perubahan yang matang secara keilmuan, siap menjaga kelestarian bumi, dan berkontribusi langsung pada kesejahteraan peradaban manusia.(*ali/faq)
Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman