June 20, 2026, oleh

pwmu.co –Fenomena generasi muda yang kerap berpindah pekerjaan atau dikenal dengan istilah kutu loncat sering kali memunculkan anggapan bahwa Generasi Z (Gen Z) kurang loyal terhadap perusahaan. Namun, pandangan tersebut dinilai tidak sepenuhnya tepat.
Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kenny Roz, S.Kom., M.M., menilai tingginya angka perpindahan kerja di kalangan Gen Z lebih disebabkan oleh perubahan cara pandang terhadap dunia kerja daripada persoalan loyalitas.
Menurutnya, jika generasi sebelumnya melihat pekerjaan sebagai sumber stabilitas ekonomi jangka panjang, Gen Z justru memandang pekerjaan sebagai sarana untuk belajar, berkembang, dan mengaktualisasikan diri.
Kenny menjelaskan bahwa tingginya tingkat resign pada pekerja muda juga dipengaruhi oleh perkembangan ekosistem digital yang serba cepat. Kondisi tersebut membuat mereka lebih mudah membandingkan informasi dan menilai apakah lingkungan kerja sesuai dengan ekspektasi yang dijanjikan perusahaan.
“Faktor utama yang membuat mereka lebih rentan resign adalah ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realitas kerja. Karena mereka terbiasa memperoleh informasi secara instan, ketika perusahaan tidak memberikan ruang berkembang atau visi misinya tidak sejalan, mereka tidak ragu mencari peluang lain yang dirasa lebih pas,” ujarnya pada 18 Juni lalu.
Menurut Kenny, kompensasi finansial bukan lagi faktor tunggal yang menentukan loyalitas pekerja muda. Saat memilih tempat bekerja, Gen Z cenderung mempertimbangkan berbagai aspek lain yang berkaitan dengan kualitas hidup dan pengembangan diri.
Fleksibilitas jam kerja, keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan (work-life balance), kesehatan mental, hingga hubungan yang sehat antara atasan dan bawahan menjadi faktor yang semakin diperhatikan.
“Kini mereka tidak hanya bertanya soal besaran gaji, tetapi juga apakah pekerjaan tersebut memberikan kesempatan berkembang, memiliki makna, dan membuat mereka merasa dihargai sebagai individu seutuhnya. Bahkan, banyak yang bersedia menerima gaji lebih rendah jika lingkungan kerjanya sehat dan tidak toksik,” jelasnya.
Ia menilai perusahaan perlu segera menyesuaikan strategi pengelolaan sumber daya manusia agar mampu mempertahankan talenta muda yang potensial. Salah satu langkah penting adalah membangun komunikasi yang lebih terbuka antara pimpinan dan karyawan.
Menurut Kenny, masih terdapat kesenjangan antara gaya kepemimpinan yang mengedepankan hierarki dan senioritas dengan karakter Gen Z yang lebih menyukai transparansi, kolaborasi, dan keterlibatan aktif dalam proses kerja.
“Perusahaan yang berhasil mempertahankan talenta Gen Z bukanlah yang sekadar menawarkan gaji tertinggi, tetapi yang mampu mendengarkan kebutuhan karyawannya secara proaktif. Perusahaan harus bisa menciptakan lingkungan kerja yang menghargai manusia sebagai aset utama melalui survei kepuasan maupun kanal dialog yang aman,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa fenomena Gen Z yang sering berpindah pekerjaan seharusnya tidak dipandang sebagai kelemahan semata. Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menjadi masukan bagi dunia industri untuk melakukan penyesuaian terhadap budaya kerja yang berkembang.
Menurutnya, kolaborasi antara perusahaan yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan generasi muda dan pekerja yang terus meningkatkan kompetensi akan menciptakan ekosistem kerja yang lebih produktif, inovatif, dan berkelanjutan di masa mendatang.