June 23, 2026, oleh Humas Universitas

Kegiatan Kersani mahasiswa UMM beri edukasi sejarah Kerajaan Singhsari. (Foto: Istimewa)

Detik.com Malang – Belajar sejarah sering kali identik dengan menghafal tahun dan membaca buku teks yang tebal. Namun, suasana berbeda terlihat di Museum Singhasari, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Ratusan siswa tampak antusias menjelajahi ruang pameran, memanah secara virtual, hingga mencicipi jajanan pasar tradisional.

Suasana seru ini merupakan bagian dari KERSANI (Kenali Sejarah di Museum Singhasari), sebuah kegiatan edukatif interaktif yang diinisiasi oleh mahasiswa Praktikum Public Relations 3 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan pihak museum.

Mengusung kampanye Singhasari Hits Different Stories’, kegiatan itu diikuti 21 sekolah yang berbatasan langsung dengan area museum, terdiri dari 13 Sekolah Dasar (SD) dan 8 Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Ketua Pelaksana Kersani Syakila Dewi Mujizatul mengungkapkan, program ini sengaja dirancang untuk mendobrak stigma bahwa belajar sejarah itu membosankan.

Pihaknya ingin memberikan pengalaman langsung yang melibatkan seluruh indra para peserta.

“Kalau di program KERSANI, kami berusaha bikin belajar sejarah jadi lebih seru dan tidak cuma fokus pada teori. Peserta diajak mengenal sejarah lewat pengalaman langsung, seperti main permainan tradisional, mencoba makanan tradisional, dan ikut tour museum yang dikemas dengan diskusi bareng teman satu kelompok,” ujar Syakila Dewi kepada detikJatim, Senin (22/6/2026).

Saat tur, lanjut Syakila, peserta bisa melihat arca dan berbagai benda bersejarah secara langsung sambil mendengarkan penjelasan dari edukator museum.

Salah satu daya tarik utama dalam kegiatan ini adalah MUSTAKA, sebuah wahana yang menggabungkan unsur sejarah lokal dengan kecanggihan teknologi modern. Melalui MUSTAKA, para siswa ditantang untuk bermain gim interaktif menggunakan teknologi sensor gerak.

“KERSANI juga menggabungkan sejarah dengan teknologi lewat program MUSTAKA. MUSTAKA adalah permainan interaktif yang mengajak peserta berperan sebagai tokoh Ken Arok dan Ken Dedes dalam aktivitas memanah,” beber Syakila.

Menurut Syakila, dengan bantuan teknologi sensor gerak, peserta bisa mengikuti gerakan yang ditampilkan di layar animasi sehingga pengalaman belajar sejarah terasa lebih seru, aktif, dan menyenangkan.

“Walaupun dikemas dalam bentuk permainan, peserta tetap bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang Ken Arok dan Ken Dedes dengan cara yang lebih interaktif dan mudah dipahami,” tambah Syakila.

Tidak seperti kunjungan museum konvensional di mana peserta hanya datang dan mendengarkan, KERSANI menerapkan sistem Kartu Misi. Konsep ini mewajibkan siswa dan guru pendamping mengeksplorasi koleksi museum dalam format kelompok.

Uniknya, anggota kelompok sengaja diacak dari sekolah yang berbeda untuk melatih kemampuan bersosialisasi dan kerja sama mereka.

Sebelum misi dimulai, para peserta terlebih dahulu diperkenalkan dengan website resmi Museum Singhasari yang baru diluncurkan.

Baca juga:
Massa Demo di Malang Sampaikan 9 Tuntutan
Situs ini memuat informasi secara menyeluruh mengenai Kerajaan Singhasari yang dirancang agar bisa diadopsi menjadi media pembelajaran interaktif pada mata pelajaran IPAS di tingkat SD dan IPS di tingkat SMP.

Sementara para siswa asyik menuntaskan misi dan menjajal stan MUSTAKA, para guru pendamping berkumpul di pendopo museum untuk mengikuti sesi berbagi (sharing session) mengenai optimalisasi museum sebagai ruang belajar alternatif.

Inovasi yang dibawa oleh para mahasiswa UMM ini mendapat respons positif dari pihak pengelola.

Kepala Museum Singhasari mengaku sangat puas dengan konsep matang yang disajikan sejak awal mula ide ini digulirkan.

“Saya mengikuti proses kegiatan ini sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Hasilnya sangat baik dan menunjukkan bahwa belajar sejarah dapat dilakukan dengan cara yang lebih menarik serta mudah diterima oleh siswa,” tegas Kepala Museum Singhasari Yossy Indra Hardyanto, terpisah.

Apresiasi senada juga datang dari struktur pemerintahan setempat. Pemerintah Kecamatan Singosari yang diwakili oleh Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial dan Kepemudaan, Abid RH, menilai bahwa kegiatan semacam ini krusial untuk menjaga kelestarian identitas daerah di mata generasi muda.

“Kami menyambut baik kegiatan KERSANI karena membantu mengenalkan kembali sejarah Singhasari kepada generasi muda melalui pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan,” pungkasnya.