June 23, 2026, oleh Humas Universitas

Program Pendampingan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) oleh Maharesigana UMM. (Foto: Istimewa)

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Maharesigana secara nyata terus membuktikan diri sebagai kampus yang berdampak langsung bagi masyarakat. Kali ini, UMM membekali lebih dari 100 warga SD Muhammadiyah 08 Dau, Kabupaten Malang, dengan program pendampingan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) pada Jumat (19/6). Langkah strategis ini difokuskan untuk membangun kapasitas sekolah sekaligus menanamkan budaya sadar bencana sejak usia dini.

Pemilihan jenjang sekolah dasar dinilai sangat krusial karena pembentukan karakter mitigasi bencana jauh lebih efektif ditanamkan pada usia anak-anak. Melibatkan jajaran siswa, guru, hingga tenaga kependidikan, para relawan Maharesigana memberikan pelatihan intensif untuk menghadapi situasi darurat, khususnya ancaman gempa bumi. Melalui pendekatan yang menyenangkan dan edukatif, peserta diajak langsung melakukan simulasi. Anak-anak diajarkan cara berlindung yang benar saat gempa, teknik membaca jalur evakuasi secara cepat, hingga langkah taktis untuk mengelola kepanikan agar tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain di sekitar.

Ketua Umum Maharesigana UMM, Indra Fery, menjelaskan bahwa pendampingan SPAB ini tidak sekadar berfokus pada transfer pengetahuan teoritis semata, melainkan dirancang khusus untuk menanamkan nilai kepedulian dan kesiapsiagaan permanen sebagai bagian integral dari karakter generasi masa depan.

“Pendampingan SPAB yang kami lakukan merupakan bentuk dukungan nyata terhadap implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program SPAB. Regulasi tersebut menegaskan bahwa sekolah wajib membangun sistem penanggulangan terintegrasi. Edukasi dan simulasi sejak usia dini ini menjadi langkah penting untuk mencetak generasi tangguh yang siap merespons berbagai potensi risiko bencana di lingkungannya,” tegas Indra.

Indra juga menambahkan bahwa keterlibatan para mahasiswa dalam program kemanusiaan ini pada dasarnya adalah sarana pembelajaran empiris untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai sosiologis dan kemanusiaan yang selama ini mereka peroleh selama proses perkuliahan.

“Mahasiswa tidak hanya dituntut belajar di dalam ruang kelas. Mereka diwajibkan hadir langsung di tengah masyarakat, peka mengidentifikasi kebutuhan warga, merumuskan solusi komunikasi yang tepat, dan berkontribusi aktif dalam agenda pengurangan risiko bencana. Inilah esensi dan bentuk nyata dari sistem pembelajaran yang berdampak,” tambahnya.

Antusiasme yang tinggi terlihat jelas selama pelaksanaan acara. Salah seorang guru SD Muhammadiyah 08 Dau mengakui bahwa kegiatan simulasi kebencanaan dari UMM tersebut sukses memberikan pengalaman baru sekaligus pemahaman esensial bagi siswa mengenai prosedur evakuasi diri.

“Anak-anak luar biasa antusias mengikuti setiap tahapan simulasi. Mereka tidak hanya pasif mendengar penjelasan fasilitator, tetapi juga proaktif mempraktikkan secara langsung prosedur penyelamatan saat terjadi gempa bumi. Ilmu ini tentu sangat penting untuk membangun kesiapan fisik dan mental mereka apabila bencana darurat benar-benar terjadi,” ungkapnya.

Di tengah tingginya ancaman dan potensi bencana di wilayah Indonesia, investasi pada sektor edukasi mitigasi sejak dini merupakan sebuah keharusan mutlak. Kiprah Maharesigana dalam program SPAB ini menegaskan kembali komitmen berkelanjutan UMM untuk mencetak lulusan sekaligus agen perubahan yang tak hanya unggul secara akademis, namun sigap menghadirkan kontribusi humanis dan solusi konkret demi menjaga keselamatan masyarakat luas.(faq)

 

Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman