June 27, 2026, oleh Humas Universitas

MALANG POST – Fasilitas publik yang dibangun dengan uang rakyat kembali menjadi korban syahwat tangan-tangan jahil. Kali ini sasarannya adalah Anjungan Air Minum gratis milik Perumda Tugu Tirta yang berlokasi di kawasan estetik Jalan Basuki Rahmat (Kayutangan Heritage), Kota Malang.

Fasilitas yang sejatinya disediakan untuk memanjakan warga dan wisatawan itu mendadak kotor, penuh coretan cat semprot yang merusak pemandangan.

Aksi vandalisme ini resmi dilaporkan oleh manajemen Perumda Tugu Tirta ke Polresta Malang Kota pada Minggu (21/6/2026) lalu. Tidak sekadar melapor, pihak BUMD tersebut juga menyodorkan barang bukti kuat berupa dokumentasi foto lokasi serta rekaman kamera pengawas (CCTV).

Referensi Geografis

Sengkarut penyakit sosial perkotaan ini dikupas tuntas dalam program talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM pada Jumat (26/6/2026) hari ini. Otoritas penegak hukum dan pakar sosial membedah motif di balik aksi pengrusakan tersebut.

KBO Reskrim Polresta Malang Kota, Ipda Galih Muhammad Hamdan, menegaskan bahwa pihaknya langsung bergerak cepat membentuk tim khusus untuk memburu pelaku. Rekaman CCTV di area Kayutangan kini sedang diteliti secara mendalam dengan meminta bantuan ahli digital dari Polda Jawa Timur.

“Dari rekaman CCTV, terlihat jelas ada dua orang terduga pelaku yang melakukan aksi vandalisme tersebut. Berdasarkan gerak-gerik dan ciri fisiknya, keduanya dipastikan berjenis kelamin laki-laki. Kami sedang mengunci identitas mereka,” ujar Ipda Galih.

Sepanjang tahun 2026 ini, Polresta Malang Kota mencatat baru menerima dua laporan resmi terkait vandalisme. Kasus pertama menyasar gerbong kereta api, dan kasus kedua merusak anjungan air minum ini.

Padahal, di sudut-sudut kota, pemandangan rolling door toko yang penuh coretan pilox adalah hal biasa, namun sayangnya mayoritas pemilik toko enggan melapor ke polisi.

Kejahatan & Keadilan

Catatan Kriminal 2025: Dari Siswa Hingga Pekerja Swasta

Ipda Galih mengingatkan, polisi tidak main-main dengan urusan estetika kota. Pada tahun 2025 lalu, korps baju cokelat ini sukses meringkus tiga pelaku vandalisme yang kerap beroperasi di jalur protokol Jalan Letjen Sutoyo dan Jalan Sunandar Priyo Sudarmo.

Latar belakang para pelaku ternyata sangat kontras. “Satu orang berstatus siswa, satu mahasiswa, dan satu lagi pekerja swasta. Mereka sengaja memilih lokasi yang tinggi aktivitas masyarakat agar coretan mereka dibaca banyak orang. Motifnya sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah yang tidak mereka sukai,” urai Galih.