July 1, 2026, oleh

KLIKMU.CO – Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN) Prof Dr Ir Johni Jonatan Numberi MEng IPM ASEAN Eng menegaskan bahwa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki keunggulan sebagai institusi pendidikan yang secara konkret telah merespons krisis energi global melalui penerapan Energi Baru Terbarukan (EBT) sejak 2007. Hal itu disampaikannya dalam Diskusi Publik bertajuk Arah Kebijakan Energi Menuju Net Zero Emission melalui Pembangkit Energi Baru Terbarukan di Ruang Sidang Senat UMM, Kamis (25/6/2026).
“Di satu sisi, UMM sudah melakukan praktik-praktik energi baru terbarukan, yaitu dengan adanya PLTMH di kampus UMM maupun PLTS. Ini memberikan kontribusi nyata. Selain pembelajaran di ruang kelas yang sesuai dengan kurikulum, hal-hal yang berkaitan dengan praktik bidang energi baru terbarukan sudah benar-benar dilaksanakan sebagai laboratorium hidup,” tegasnya.
Kunjungan DEN ke Kampus Putih dilatarbelakangi urgensi penguatan ketahanan energi nasional di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia. Saat ini, produksi minyak bumi terus menurun, sementara impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) jenis gasoline meningkat. Tantangan pemenuhan energi primer tersebut diperberat oleh masih rendahnya tingkat pemanfaatan EBT secara nasional.
Numberi menjelaskan bahwa pemerintah menargetkan puncak emisi tercapai pada 2035 dan dekarbonisasi menuju Net Zero Emission (NZE) sebesar 129 juta ton CO2e pada 2060. Untuk mendukung kedaulatan dan swasembada energi, bauran energi primer dari EBT ditargetkan meningkat signifikan hingga mencapai 70–72 persen pada 2060.
Lebih lanjut, ia menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membantu penyelesaian persoalan elektrifikasi masyarakat melalui pelaksanaan tridarma. Salah satunya ditunjukkan melalui inovasi desalinasi air laut yang dikembangkan dosen dan mahasiswa UMM di Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurutnya, pemanfaatan energi surya untuk menghasilkan air bersih di wilayah dengan rasio elektrifikasi yang masih rendah merupakan bentuk pengabdian yang patut diapresiasi.
“Tadi dari hasil presentasi, saya lihat beberapa kegiatan sudah dilakukan oleh teman-teman di UMM. Misalnya, desalinasi air laut menjadi air tawar (air bersih) di NTT dengan memanfaatkan energi surya atau matahari sebagai sumber pembangkitnya. Nah, ini adalah wujud pengabdian dan penelitian yang bagus, yang diterapkan langsung ke masyarakat,” ungkapnya.
Menurut Numberi, sinergi dan kolaborasi strategis antara pemerintah dan perguruan tinggi seperti UMM menjadi kunci dalam mempercepat transisi energi hijau di Indonesia. Melalui riset terapan dan program pengabdian kepada masyarakat, kemandirian energi nasional serta pencapaian target bebas emisi karbon tidak lagi sekadar menjadi wacana, melainkan masa depan yang sedang dibangun bersama demi kesejahteraan generasi mendatang.
(Faqih/AS)