July 6, 2026, oleh

Adalah Maghfira Alvarizma Haris atau yang akrab disapa Alfavira, alumnus Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), membuktikan bahwa mimpinya bisa ia perjuangkan. Kesabaran, kegigihan, bahkan keberanian untuk bangkit setelah berkali-kali mengalami kegagalan tidak pernah membuatnya menyerah hingga akhirnya berhasil menjadi finalis MasterChef Indonesia Season 13.
Kecintaannya terhadap dunia kuliner telah tumbuh sejak kecil. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Alfavira sudah menanamkan mimpi sederhananya untuk bisa berdiri di galeri MasterChef sebagai peserta.
“Sebenarnya aku memang dari kecil suka masak. Dari MasterChef season pertama aku masih SD, aku suka nonton. Dari situ aku berharap, suatu saat aku mau ikut MasterChef,” ungkapnya.
Perjuangan Alfavira dimulai sejak tahun 2019, saat masih berkuliah di UMM, Alfavira mulai memberanikan dirinya untuk mendaftar pada Season 6. Sayangnya, harapan tersebut pupus ketika namanya tak dipanggil untuk audisi. Alih-alih menyerah, ia kembali mencoba pada musim-musim berikutnya dan mengalami berbagai kegagalan.
Perjalanan panjang itu justru membentuk mental pantang menyerah dalam dirinya. Hingga pada Season 13, Alfavira memperoleh special invitation untuk mengikuti city audition di Jakarta. Kesempatan tersebut menjadi tanda bahwa perjuangannya mulai diperhitungkan.
“Sampai akhirnya di 2025 aku coba daftar lagi. Waktu itu justru aku sudah tidak seambisi sebelumnya. Aku cuma berpikir, coba saja dulu. Alhamdulillah ternyata rezekinya datang, aku dapat special invitation,” tuturnya.
Menariknya, saat kesempatan emas itu datang, Alfavira justru tengah disibukkan dengan kompetisi kuliner nasional The Salon Culinaire. Ia harus membagi fokus antara persiapan audisi MasterChef dan perlombaan tersebut. Di tengah padatnya persiapan, ia berhasil meraih Silver Medal pada ajang tersebut sekaligus lolos menjadi peserta MasterChef Indonesia Season 13.
Namun, di balik perjuangan itu, Alfavira sempat mengalami hal yang berat dihidupnya. Tepat sebelum mengikuti audisi, Alfavira harus kehilangan sosok yang selama ini menjadi pendukung terbesar dalam hidupnya, sang ayah. Namun, semangatnya tak pernah padam untuk tetap membanggakan sang ayah.
Selama menjadi mahasiswa, Alfavira aktif mengembangkan keterampilan kuliner hingga dipercaya menjadi pengajar di UMM Bakery. Ia melakukan riset dan pengembangan resep untuk diajarkan kepada karyawan dan mahasiswa magang.
Pengalaman tersebut semakin mengasah kompetensinya di dunia pastry sekaligus membangun rasa percaya diri untuk terus berkembang di industri kuliner. Kini, setelah perjuangan panjang yang dipenuhi kegagalan, penolakan, dan kehilangan, Alfavira berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu meraih mimpinya sekaligus mengembangkan sendiri usaha bakery miliknya.
Menutup kisahnya, Alfavira membagikan pesan sederhana bagi generasi muda yang tengah mengejar cita-cita.
“Ambil setiap kesempatan yang ada. Hasilnya baru akan kita tahu setelah semuanya terjadi. Jadi jangan takut untuk mencoba,” tutupnya.(rik/faq)
Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman