July 8, 2026, oleh Humas Universitas

Wakil Menteri (Wamen) Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Dzulfikar Ahmad Tawalla (berjas almamater merah UMM) didampingi Penasehat Khusus Presiden Bidang Haji, Muhadjir Effendy (dua dari kanan) saat meninjau UMM Migrant Center di kawasan GKB 5 kampus UMM di Malang, Jawa Timur, Selasa (7/7/2026) ANTARA/HO-UMM

Malang (ANTARA) – Wakil Menteri (Wamen) Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Dzulfikar Ahmad Tawalla mengemukakan  migrant center yang dimiliki Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merupakan yang terlengkap diantara 24 migrant center yang ada di tanah air.

“Dari 24 migrant center yang ada di Indonesia, infrastruktur milik UMM merupakan yang paling siap, komprehensif dan lengkap dengan kurikulum next level,” kata Dzulfikar di sela peresmian UMM Migrant Center di area GKB 5 kampus UMM di Malang, Selasa.

Wamen P2MI mengemukakan, dari berbagai migrant center yang ia datangi, UMM Migrant Center menjadi salah satu dari perguruan tinggi swasta (PTS) paling lengkap, besar, dan komprehensif. “Saya beserta tim sangat terbantu dengan hadirnya UMM Migrant Center ini,” ujarnya.

Ia mengapresiasi kelengkapan fasilitas, termasuk ketersediaan kelas bahasa Jepang spesifik hingga level N3 dan N4. Fasilitas itu dinilai krusial untuk membantu kementerian mengejar target peningkatan keterampilan, bagi 40.000 pekerja migran tahun ini, dan 500.000 orang secara bertahap hingga 2029.

Dzulfikar mengatakan keunggulan utama UMM dibandingkan pusat pelatihan lain, yakni keberhasilan menjalin jejaring korespondensi langsung ke Jepang yang sudah berjalan, bukan sekadar rintisan. Oleh karena itu, sistem komprehensif yang telah terbangun di UMM akan diduplikasi oleh kementerian untuk diterapkan pada pusat-pusat pelatihan lainnya di seluruh daerah.

“Kita berharap UMM menjadi penopang utama dari kesuksesan program direktif dari Bapak Presiden. Ini yang sudah existing dan sisanya kita upgrade lagi supaya sampai ke visa engineer,” tambahnya.

Pengarusutamaan migrasi yang aman dan tersistem ini juga menjadi strategi pemerintah untuk menghapus citra negatif pekerja migran Indonesia, yang selama ini kerap ditimbulkan oleh pekerja ilegal.

Dzulfikar meyakini pekerja migran yang prosedural dan memiliki orientasi pra-pemberangkatan yang matang selalu mendapatkan apresiasi tinggi dari negara pengguna.

Fasilitas Migrant Center UMM ini diproyeksikan menjadi proyek percontohan dan pilar utama program direktif Presiden dalam penyiapan tenaga kerja luar negeri yang kompeten dan prosedural.

Sementara itu, Rektor UMM, Prof Dr Nazaruddin Malik memaparkan pendirian migrant center merupakan respons visioner kampus terhadap dinamika perubahan global.

Pusat kajian transdisiplin ini dirancang untuk menghadapi era Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity (VUCA) dan Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible (BANI), yang mensyaratkan perpaduan ketat antara keilmuan akademis dan praktik.

“Hal ini memerlukan upaya-upaya pengembangan diri melalui tempaan pengalaman langsung di lapangan, pendidikan karakter, pembentukan disiplin, manajemen waktu, dan penguatan ketangguhan mental,” ujarnya.

Ia mengatakan kehadiran migrant center ini menjadi wujud nyata komitmen kampus putih dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Prestasi sejati bagi institusi pendidikan pada akhirnya bukanlah sekadar deretan trofi, melainkan kemampuan alumninya untuk memenangkan ujian kehidupan.

“Melalui fasilitas ini diharapkan mampu memberikan kontribusi sebesar-besarnya bagi kemajuan bangsa, bekerja secara profesional di kancah global, serta mengharumkan nama baik Indonesia,” kata Nazaruddin.