July 9, 2026, oleh

Malang – Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Dzulfikar Ahmad Tawalla, mengajak lulusan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk siap menghadapi perubahan dunia kerja yang dipicu perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Menurutnya, penguasaan teknologi, kompetensi global, dan karakter yang kuat menjadi bekal utama agar mampu bersaing di tingkat internasional.
Pesan tersebut disampaikan Dzulfikar saat memberikan orasi ilmiah dalam Wisuda Universitas Muhammadiyah Malang yang dihadiri ribuan wisudawan, sivitas akademika, serta sejumlah pejabat dan tokoh nasional.
“Dunia yang dihadapi lulusan hari ini berbeda secara total dibandingkan satu hingga dua dekade lalu. Karena itu, kemampuan beradaptasi menjadi kunci agar tetap relevan di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat,” kata Dzulfikar di UMM, Selasa 7 Juli 2026.
Ia mengatakan, perkembangan AI telah mengubah pola kerja di berbagai sektor sekaligus melahirkan tantangan dan peluang baru. Karena itu, lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik, tetapi juga harus memiliki daya lenting (resilience), kreativitas, fleksibilitas, dan kemauan belajar sepanjang hayat.
Menurut Dzulfikar, Indonesia memiliki peluang besar untuk menempatkan tenaga kerja terampil di pasar global. Sejumlah negara maju saat ini menghadapi fenomena aging population yang mendorong meningkatnya kebutuhan tenaga kerja usia produktif, sementara Indonesia sedang menikmati bonus demografi.
Ia mengungkapkan, pada 2025 terdapat sekitar 1,2 juta permintaan tenaga kerja dari berbagai negara. Namun, Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 296 ribu kebutuhan tersebut.
“Ini menjadi peluang besar yang harus dijawab dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguasaan kompetensi, serta kemampuan berbahasa asing agar lulusan Indonesia mampu bersaing di pasar kerja internasional,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Dzulfikar juga mengapresiasi langkah Universitas Muhammadiyah Malang yang mengembangkan Migrant Center sebagai wadah menyiapkan lulusan yang siap memasuki pasar kerja global. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun sumber daya manusia yang unggul melalui peningkatan kompetensi, pendampingan karier, dan penguatan jejaring internasional.
Di akhir orasinya, Dzulfikar mengingatkan bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga karakter, moralitas, dan integritas.
Mengutip filosofi Al-Khawarizmi, ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan merupakan kekuatan, sementara karakter menjadi nilai yang menentukan kualitas seseorang.
“Sebanyak apa pun prestasi yang diraih, semuanya akan kehilangan arti tanpa karakter yang baik. Karena itu, jadilah lulusan yang unggul dalam ilmu pengetahuan sekaligus kuat dalam akhlak dan integritas,” pungkasnya.
Turut hadir dalam acara tersebut Rektor Universitas Muhammadiyah Malang beserta jajaran pimpinan universitas, Ketua Badan Pembina Harian UMM, Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji Prof. Dr. Muhadjir Effendy, Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri Dwi Setiawan Susanto, Direktur Jenderal Pemberdayaan Muh Fachri, Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Jawa Timur, pimpinan Persyarikatan Muhammadiyah, serta ribuan wisudawan dan orang tua peserta wisuda.*