July 9, 2026, oleh

kp2mi – MALANG, Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Dzulfikar Ahmad Tawalla meresmikan Migrant Center Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (7/7/2026).
Kehadiran pusat layanan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang mampu bersaing di pasar kerja internasional.
Peresmian dilakukan dalam rangkaian Wisuda Universitas Muhammadiyah Malang dan dihadiri Rektor UMM beserta jajaran pimpinan universitas, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, jajaran Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Jawa Timur, civitas akademika, serta ribuan wisudawan dan tamu undangan.
Dalam sambutannya, Wamen Dzulfikar menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mempersiapkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja global.
Menurut dia, Migrant Center di lingkungan kampus diharapkan menjadi pusat layanan yang menyediakan informasi, edukasi, pendampingan, hingga pengembangan kompetensi bagi mahasiswa dan alumni yang ingin berkarier di luar negeri melalui jalur yang aman, legal, dan sesuai ketentuan.
“Perguruan tinggi harus menjadi institusi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Migrant Center merupakan langkah strategis untuk menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi global sekaligus memastikan mereka memahami prosedur bekerja ke luar negeri secara aman dan terlindungi,” ujar Dzulfikar.
Ia menjelaskan, meningkatnya kebutuhan tenaga kerja terampil di berbagai negara akibat perubahan struktur demografi dunia menjadi peluang yang perlu dimanfaatkan Indonesia. Bonus demografi yang dimiliki saat ini, kata dia, harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui penguasaan kompetensi, sertifikasi profesi, kemampuan berbahasa asing, serta pemahaman mengenai tata kelola penempatan pekerja migran yang profesional.
Melalui Migrant Center, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia bersama Universitas Muhammadiyah Malang akan mengembangkan berbagai program kolaboratif. Program tersebut meliputi sosialisasi peluang kerja di luar negeri, layanan konsultasi karier internasional, pelatihan kesiapan kerja, peningkatan kompetensi bahasa asing, sertifikasi profesi, hingga edukasi mengenai migrasi yang aman.
Wamen Dzulfikar mengatakan, keberadaan Migrant Center juga diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan mitra internasional dalam mendukung penempatan pekerja migran Indonesia yang profesional, kompeten, dan memperoleh pelindungan sejak sebelum keberangkatan.
Menurutnya, penguatan ekosistem pelindungan pekerja migran tidak hanya dilakukan saat proses penempatan, tetapi harus dimulai sejak masa persiapan di bangku kuliah. Dengan pendekatan tersebut, lulusan perguruan tinggi memiliki peluang yang lebih besar untuk berkarier di tingkat internasional sekaligus meningkatkan daya saing sumber daya manusia Indonesia.
Peresmian Migrant Center Universitas Muhammadiyah Malang menjadi bagian dari komitmen Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia dalam memperluas kemitraan dengan perguruan tinggi di berbagai daerah. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat transformasi tata kelola pelindungan pekerja migran Indonesia yang lebih adaptif, profesional, dan berorientasi pada peningkatan kualitas talenta nasional.*