July 10, 2026, oleh Humas Universitas

Peserta Bina Talenta Indonesia 2026, pelajar ikut mengembangkan prototipe Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berbasis IoT di UMM. (Foto: umm.ac.id.)

POJOKSATU.id – Inovasi di bidang energi terbarukan kembali lahir dari tangan generasi muda Indonesia. Kali ini datang dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Melalui ekosistem Energi Baru Terbarukan (EBT) yang dikembangkan UMM, para peserta Bina Talenta Indonesia (BTI) 2026 berhasil merancang prototipe Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berbasis Internet of Things (IoT).

Purwarupa tersebut dikembangkan sebagai solusi untuk membantu pemerataan akses listrik, khususnya di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Tidak hanya menghasilkan energi ramah lingkungan, teknologi ini juga dilengkapi sistem pemantauan digital yang mampu mendeteksi berbagai kondisi secara real-time.

Pengalaman tersebut diperoleh para pelajar saat mengikuti pemusatan BTI 2026 yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang pada 1-7 Juli 2026.

Program binaan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah itu mempertemukan peserta dengan dosen dan praktisi di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).

Belajar Langsung di Ekosistem Energi Terbarukan UMM

Salah satu peserta, Muhammad Luthfi Aziz, siswa kelas XII SMA Darul Ulum 1 Unggulan Peterongan, Jombang, mengaku memperoleh pengalaman baru selama mengikuti kegiatan tersebut.

Melalui kunjungan ke PLTMH binaan UMM di Sumber Maron, ia dapat melihat secara langsung bagaimana pembangkit listrik tenaga mikrohidro bekerja memanfaatkan aliran sungai sebagai sumber energi yang berkelanjutan.

Menurutnya, pengalaman tersebut membuka wawasan baru mengenai penerapan energi baru terbarukan yang selama ini hanya dipelajari melalui teori.

“Baru kali ini saya melihat kampus dengan penerapan EBT yang sangat maksimal. Para pakar dari UMM hadir selama workshop dan memberikan kami bekal keilmuan STEM yang nyata. Kegiatan ini untuk merancang prototipe kelistrikan bagi daerah terpencil,” kata Luthfi, Senin, 6 Juli 2026.

Pengalaman lapangan itu kemudian menjadi inspirasi bagi dirinya bersama tim untuk menghadirkan inovasi yang dapat menjawab kebutuhan energi masyarakat.

Lahirkan Prototipe PLTMH Berbasis IoT

Berbekal hasil observasi di lapangan, Luthfi dan tim merancang purwarupa Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dengan slogan “Airnya Ngalir, Energinya Hadir!”

Inovasi tersebut lahir sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan energi dunia, sementara penggunaan bahan bakar fosil masih mendominasi sistem energi.

Tim memilih memanfaatkan aliran sungai sebagai sumber energi utama karena dinilai lebih ramah lingkungan serta mampu menghasilkan listrik tanpa emisi sebesar pembangkit berbahan bakar fosil.

Tidak hanya mengembangkan sistem mekanik, mereka juga mengintegrasikan teknologi digital berbasis IoT agar pembangkit dapat beroperasi secara lebih efisien dan aman.

Mampu Pantau Debit Air hingga Potensi Bencana

Dalam prototipe tersebut, sensor berbasis Internet of Things dipasang untuk memantau berbagai parameter penting secara berkelanjutan.

Sistem mampu memonitor stabilitas listrik, mengukur debit air, hingga mendeteksi potensi banjir bandang yang dapat mengganggu operasional pembangkit.

Selain itu, teknologi tersebut juga dapat menganalisis kemungkinan gangguan pada instalasi sehingga kerusakan dapat diketahui lebih cepat.

“Sistem IoT ini memungkinkan kami memantau stabilitas listrik, debit air, hingga potensi bencana secara real-time dari jarak jauh.  Jadi, inovasi ini memberikan pemerataan akses listrik bagi masyarakat pedalaman, dan memastikan ekosistem alamnya tetap terjaga dengan aman,” ujar Luthfi.

Dengan kemampuan tersebut, purwarupa PLTMH berbasis IoT diharapkan dapat menjadi salah satu solusi penyediaan energi listrik di wilayah 3T.

UMM Dorong Pelajar Menghasilkan Solusi Nyata

Bagi UMM, keberhasilan peserta menghasilkan purwarupa bukan sekadar pencapaian dalam sebuah program pembinaan.

Ketua Pelaksana BTI UMM, Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd., mengatakan kampus berkomitmen menyediakan ruang belajar yang mampu mempertemukan teori dengan praktik secara langsung.

Menurutnya, pelajar membutuhkan ekosistem riset yang memungkinkan ide berkembang hingga menjadi inovasi yang dapat diterapkan di tengah masyarakat.

Karena itu, UMM membuka akses terhadap laboratorium, fasilitas energi terbarukan, serta pendampingan dosen selama proses pengembangan inovasi berlangsung.

“UMM selalu siap menjadi laboratorium hidup yang sesungguhnya bagi para pelajar.  Kami sangat berharap prototipe teknologi hijau karya peserta BTI ini dapat terus disempurnakan hingga tahap hilirisasi dan produksi nyata, sehingga kemandirian energi nasional benar-benar terwujud lewat tangan generasi penerus kita,” tegas Dyah.

Pengembangan prototipe PLTMH berbasis IoT menunjukkan bahwa inovasi tidak hanya lahir dari ruang laboratorium, tetapi juga berawal dari pengalaman langsung melihat persoalan di lapangan.

Melalui ekosistem Energi Baru Terbarukan yang dibangun UMM, para pelajar memperoleh kesempatan untuk menghubungkan pengetahuan STEM dengan kebutuhan nyata masyarakat, khususnya dalam penyediaan energi yang berkelanjutan.

Dari aliran sungai di Sumber Maron, para peserta BTI 2026 tidak hanya mempelajari cara kerja pembangkit listrik tenaga mikrohidro.

Peserta juga membawa pulang keyakinan bahwa teknologi sederhana yang dikembangkan dengan kreativitas dan kolaborasi mampu menjadi solusi bagi pemerataan energi nasional.

Dengan terus disempurnakan, inovasi tersebut berpotensi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama di daerah-daerah yang hingga kini masih menghadapi keterbatasan akses listrik.