July 10, 2026, oleh Humas Universitas

Puluhan mahasiswa internasional penerima beasiswa The International Asia Scholarship (TIAS), Kemitraan Negara Berkembang (KNB), dan SUMMIT Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi menyelesaikan Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). (Nanan Humas)

Puluhan mahasiswa internasional penerima beasiswa The International Asia Scholarship (TIAS), Kemitraan Negara Berkembang (KNB), dan SUMMIT Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi menyelesaikan Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Closing Ceremony yang digelar di Aula GKB IV Kampus Putih UMM pada Kamis (9/7) ini, menandai selesainya masa pembekalan bahasa dan budaya sebelum mereka terjun langsung memulai studi di program studi masing-masing.

Selama satu tahun penuh, para mahasiswa asing ini tidak hanya digembleng terkait tata bahasa dan komunikasi, tetapi juga diajak menyelami kebiasaan serta nilai-nilai kehidupan masyarakat Indonesia. Hasil dari inkubasi budaya tersebut tercermin kuat dalam acara penutupan yang berlangsung hangat. Para mahasiswa secara apik menampilkan pertunjukan alat musik tradisional angklung, pembacaan puisi, hingga penyampaian kesan pesan menggunakan bahasa Indonesia yang fasih. Pengalaman belajar yang komprehensif ini dirancang sebagai bekal krusial bagi mereka untuk beradaptasi dengan ritme pergaulan sosial dan lingkungan akademik di UMM.

Kepala UPT BIPA UMM, Riski Lestiono, M.A., Ph.D., menegaskan bahwa kelulusan dari Program BIPA ini bukanlah batas akhir dari proses belajar, melainkan fondasi utama untuk mengikuti perkuliahan reguler. Ia menjelaskan, penguasaan bahasa dan pemahaman budaya lokal yang telah dikuasai akan menjadi alat bantu adaptasi yang vital. Lebih jauh, bekal ini diharapkan terus melekat dan bermanfaat ketika mereka telah lulus dan kembali ke negara asalnya kelak.

“Selama satu tahun ini Anda tidak hanya belajar bahasa Indonesia, tetapi juga memasuki budaya lokal. Ketika kembali ke negara asal, ini bukan akhir dari perjalanan belajar Anda. Justru ini adalah permulaan untuk menjadi duta bahasa Indonesia dan duta Indonesia di negara masing-masing. Ceritakan kepada masyarakat di negara Anda tentang Indonesia dan terus kembangkan kemampuan bahasa Indonesia yang telah diperoleh di UMM,” ujarnya.

Dampak positif dan mendalam dari program ini dirasakan secara langsung oleh para peserta, salah satunya adalah Hamdan Cheloh, mahasiswa asal Thailand. Ia menuturkan bahwa BIPA memberikannya pengalaman belajar berharga yang melampaui sekadar penguasaan kosakata dan keterampilan menulis. Baginya, program ini telah membuka wawasan baru tentang pentingnya merawat nilai toleransi dan bagaimana berkolaborasi lintas budaya dengan individu dari berbagai negara.

“Saya sangat bersyukur dan senang bisa mengikuti Program BIPA di UMM selama satu tahun. Saya belajar bukan hanya tentang bahasa Indonesia, tetapi juga memahami budaya Indonesia, toleransi, dan bagaimana bekerja sama dengan banyak orang. Terima kasih kepada seluruh pengajar BIPA yang selalu sabar membimbing. Saya juga bangga melihat teman-teman internasional yang kini dapat berbicara bahasa Indonesia karena kami menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Hamdan.

Keberhasilan penyelenggaraan Program BIPA ini menjadi bukti konkret komitmen UMM dalam memberikan pengalaman pendidikan inklusif bertaraf internasional. Kampus Putih membuktikan diri tidak sekadar sebagai tempat untuk menimba ilmu secara akademis, tetapi juga menjadi wadah yang membentuk kesiapan sosial dan budaya bagi setiap pelajarnya. Harapannya, para lulusan BIPA ini kelak tidak hanya sukses meraih gelar sarjana, melainkan juga bertransformasi menjadi jembatan diplomasi budaya yang mampu memperkenalkan wajah ramah dan keberagaman Indonesia ke kancah global.(*vin/faq)

 

Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman