July 11, 2026, oleh
KOMPAS.ID-Kabar mengenai suhu dingin yang disebut-sebut mencapai di bawah nol derajat celsius di Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, ramai beredar di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Dalam foto dan video yang beredar, tampak kristal es menempel di rerumputan hingga mengubah hamparan yang semula hijau menjadi keputihan. Meski udara terasa sangat dingin, wisatawan justru menikmatinya. Dengan mengenakan jaket, penutup kepala, syal, dan sepatu, mereka bersuka ria di atas hamparan embun es. Mereka berjalan dari satu titik ke titik lain seolah tak terganggu oleh kondisi tersebut. Munculnya embun es di kawasan yang berada pada ketinggian 2.000-2.150 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu tidak hanya terlihat di rerumputan, tetapi juga pada benda lain, seperti atap rumah dan kendaraan yang terparkir di halaman. ”Sebetulnya embun es bergantung pada kondisi cuaca. Waktunya tidak bisa diprediksi. Jika suhu dinginnya ekstrem, otomatis akan muncul embun es. Itu embun es, lho ya, bukan salju,” ujar Aji (43), warga Garung, Wonosobo, yang berjarak sekitar 13 kilometer dari Dieng, Jumat (10/7/2026). Bagi warga Wonosobo dan Banjarnegara pada umumnya, lanjut Aji saat dihubungi melalui sambungan telepon, embun es biasanya muncul ketika udara benar-benar ekstrem, bukan sekadar dingin biasa. Fenomena itu lazim terjadi pada Juli hingga Agustus. Di luar musim kemarau, embun es juga dapat muncul pada musim hujan, terutama sekitar Desember. Bahkan, durasinya bisa lebih lama karena matahari tidak segera menampakkan diri. ”Kalau saat kemarau, waktunya biasanya lebih singkat. Sekitar pukul 08.00-09.00 sudah hilang karena terkena sinar matahari,” ujarnya. Tak hanya di Wonosobo, penampakan embun es juga terjadi di kawasan Bromo Tengger Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang, Jawa Timur. Masyarakat setempat menyebut fenomena tersebut sebagai embun upas. Pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menyatakan, fenomena itu lazim muncul ketika suhu udara cukup dingin, berkisar 5-9 derajat celsius. Embun upas dapat dijumpai sebelum matahari terbit dan segera menghilang ketika matahari mulai meninggi. Dinginnya suhu udara dalam beberapa hari terakhir tidak hanya dirasakan masyarakat yang tinggal di kawasan dengan ketinggian sekitar 2.000 mdpl. Mereka yang berada di wilayah dengan elevasi lebih rendah juga merasakan hal serupa meski tidak menjumpai embun yang membeku seperti di Dieng dan Bromo. Di Jawa Timur, berdasarkan unggahan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur di Instagram untuk periode pengamatan 7 Juli pukul 07.01 WIB hingga 8 Juli pukul 07.00 WIB, terdapat lima daerah dengan suhu terendah. Kelima daerah tersebut ialah Bromo dengan suhu 6 derajat celsius, Pasuruan 14,2 derajat celsius, Kota Batu 16,1 derajat celsius, Nganjuk 17 derajat celsius, dan Bondowoso 17,7 derajat celsius. Adapun temperatur di daerah lain lebih hangat. Suhu tertinggi tercatat di Pulau Bawean, Gresik, yakni 27 derajat celsius, disusul Ketapang, Banyuwangi, 26,7 derajat celsius, dan Sampang 25,8 derajat celsius. Prakirawan yang bertugas di BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Retno Wulandari, mengatakan, penurunan suhu udara merupakan kondisi normal saat puncak musim kemarau. Jika pada musim hujan langit dipenuhi awan, saat kemarau tutupan awan berkurang sehingga langit tampak cerah dan terik pada siang hari. ”Bediding merupakan fenomena normal pada musim kemarau, apalagi menjelang puncaknya. Hal itu wajar karena saat kemarau tutupan awan minim sehingga radiasi matahari tinggi pada siang hari. Pada malam hari, panas tersebut dipancarkan kembali ke atmosfer,” ujarnya. Jika tidak ada awan yang menghalangi, radiasi panas akan terus dipancarkan ke atmosfer. Sebaliknya, jika terdapat awan, radiasi itu dipantulkan kembali ke permukaan bumi sehingga udara terasa lebih hangat. ”Radiasi itu, kan, panas. Kalau panasnya cepat hilang, udara akan dingin. Kalau kondisi berawan, kita tidak akan terasa dingin, tetapi gerah karena radiasi panas dipantulkan lagi oleh awan ke bumi. Kalau tidak ada awan, panas akan terus dilepaskan ke atmosfer,” ucapnya. Selain itu, pada musim kemarau angin yang dominan bertiup ialah monsun Australia yang bersifat kering dan dingin. Di Malang, suhu terendah yang pernah tercatat mencapai 11 derajat celsius pada Agustus 1994. Adapun di daerah yang memiliki elevasi lebih tinggi suhunya dipastikan lebih rendah. Lalu, apa sebenarnya dampak suhu dingin terhadap tubuh manusia? Secara terpisah, dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang, Zaqqi Ubaidillah, mengatakan, cuaca dingin dapat memengaruhi sistem pernapasan. Saat udara dingin, silia atau rambut halus pada saluran pernapasan bagian atas mengalami penurunan fungsi. Masalahnya, selain silia, mukus juga menjadi lebih kering. Kondisi itu meningkatkan kerentanan tubuh terhadap virus. ”Silia, kan, bisa mementalkan (benda) ke atas sehingga dapat mencegah virus terakumulasi. Termasuk mukus kita, di situ ada makrofag atau sistem imun. Saat mukus kering dan silianya kurang aktif, tubuh lebih mudah terkena paparan virus. Karena itu, saat bediding, banyak orang terkena flu,” ujarnya. Selain saluran pernapasan, udara yang sangat dingin juga menyebabkan pembuluh darah perifer menyempit sehingga kaki sering terasa ngilu. Bagi penderita asam urat, keluhan tersebut biasanya akan lebih terasa. Selain itu, udara dingin juga membuat kulit menjadi lebih kering. Oleh karena itu, selain mengenakan pakaian hangat, lanjut Zaqqi, seseorang juga perlu memperbanyak asupan cairan saat cuaca dingin. Pada kondisi tersebut, sistem saraf, terutama saraf simpatis, membuat seseorang lebih sering buang air kecil. Hal itu kerap tidak disadari. Banyak orang menganggap bahwa saat udara dingin mereka tidak perlu banyak minum. ”Persoalan di udara dingin dan panas sebenarnya sama saja. Untuk mengantisipasinya, mereka tetap butuh banyak minum. Ini penting, bukan hanya bagi mereka yang melakukan perjalanan dari daerah dingin ke daerah panas, tetapi juga sebaliknya,” jelasnya. Selain mencegah dehidrasi, konsumsi cairan yang cukup membuat mukus tidak mengering sehingga dapat mengurangi risiko terjadinya infeksi saluran pernapasan akut.:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://cdn-dam.kompas.id/photo/ori/2019/06/25/84328b03-527d-46bb-a87e-80b1afb41009.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://cdn-dam.kompas.id/photo/ori/2019/06/30/3dd68894-b442-4561-b510-27c993600b0c.jpg)
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2025/07/15/2e1e15dcd56cfecbf9ba3a544a4fb424-WhatsApp_Image_2025_07_15_at_8.43.13_AM.jpeg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://cdn-dam.kompas.id/photo/ori/2020/08/06/4233b647-5e8d-475c-83de-11f178f2ad94.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/06/04/fd207875-2d45-42d4-ba0f-6b0a7ec78afc_jpg.jpg)