July 11, 2026, oleh Humas Universitas

ilustrasi

Tagar.co – Ada alasan mengapa sepak bola disebut olahraga paling populer di dunia. Tidak semata-mata soal pemain seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, atau Kylian Mbappé.

Bukan pula karena jutaan orang rela begadang hanya demi menonton bola yang biasanya bergulir selama 90 menit.

Alasannya sangat sederhana. Sepak bola itu sebuah drama. Kalau hidup sedang terasa membosankan, nyalakan televisi saat ada pertandingan besar.

Lihat setelah dua jam. Muncul harapan, mimpi hancur, pahlawan berubah jadi pesakitan, dan wasit mendadak menjadi orang yang paling dibenci sedunia. Piala Dunia 2026 juga menyajikan paket lengkap itu.

Salah satu laga yang memancing perdebatan adalah pertandingan Argentina melawan Mesir di babak 16 besar.

Pertandingan berjalan sengit. Mesir memberikan perlawanan yang tidak disangka banyak orang. Namun setelah beberapa keputusan penting wasit dan Video Assistant Referee (VAR), arah pertandingan berubah.

Argentina akhirnya keluar sebagai pemenang (3-2). Juara bertahan tahun 2022 itu sempat tertinggal 0-2 dengan waktu tersisa 20 menit. Tetapi semua kemudian berubah. Kesebelasan Argentina menang.

Masalahnya bukan sekadar siapa yang menang. Yang ramai justru siapa yang merasa dirugikan.

Pelatih tim nasional Mesir, Hossam Hassan, bereaksi keras. Ia mempertanyakan beberapa keputusan wasit Francois Letexier yang dianggap mengubah jalannya pertandingan.

Baca Juga:  Maroko Menang Adu Penalti 3-2 atas Belanda, Saibari Jadi Penentu

Pendukung Mesir pun memenuhi media sosial dengan berbagai potongan video yang mereka anggap sebagai bukti ketidakadilan.

Ingat, wasit Francois Letexier juga pernah memimpin laga play-off  Olimpiade Paris 2024 (Timnas U23 Indonesia Vs Guinea).

Waktu itu, kepemimpinan Letexier memicu kritik luas dengan sejumlah keputusan kontroversial juga.

Sebaliknya, pendukung Argentina menganggap semua keputusan itu masih berada dalam koridor aturan permainan. Sampai hari ini, perdebatan itu tetap hidup sebagai kontroversi.

Antara Stadion dan TPS, Rasanya Sama

Lucunya, suasana seperti itu terasa sangat akrab bagi orang Indonesia. Kita seperti pernah menonton pertandingan semacam ini bukan di stadion. Melainkan di panggung politik.

Politik Indonesia sebenarnya mirip pertandingan sepak bola. Namun ada bedanya. Coba lihat perbedaan seragamnya.

Di stadion, orang memakai jersey. Dalam politik orang mungkin memakai batik atau jas. Di stadion, suporter berteriak memuji pemain. Di politik, pendukung membuat tagar, video pendek, dan perang komentar.

Lalu, di stadion wasit meniup peluit. Di politik, peluitnya bisa berbentuk keputusan lembaga. Misalnya ada aturan baru, putusan pengadilan, atau kebijakan yang mendadak mengubah arah pertandingan.

Ingat keputusan kontroversial Mahkamah Konstitusi (MK)? Ada keputusannya yang membuka jalan bagi Gibran Rakabuming Raka menjadi wakil presiden (2024).

Putusan yang diketok Oktober 2023 bernomor 90/PUU-XXI/2023 mengubah syarat batas usia calon presiden dan wakil presiden menjadi minimal 40 tahun atau pernah/sedang menduduki jabatan yang dipilih melalui pemilihan umum termasuk pemilihan kepala daerah.

Lalu muncullah kalimat yang selalu hadir setiap selesai Pemilu. “Kami menang.” Di sisi lain muncul kalimat yang tidak kalah terkenal. “Kami dicurangi.”

Kalimat itu rasanya seperti  soundtrack demokrasi Indonesia. Setiap Pemilu selalu ada pihak yang puas. Selalu ada pihak yang kecewa.

Tak terkecuali ada yang merasa pertandingan berjalan normal. Selalu ada pula yang merasa ada pemain yang memperoleh perlakuan istimewa.

Pemilu 2019 misalnya, berakhir dengan sengketa di MK setelah muncul tuduhan kecurangan dari pihak yang kalah. Pada Pemilu 2024, ruang publik kembali dipenuhi perdebatan mengenai netralitas aparat, dan penggunaan fasilitas negara.

Sekali lagi jangan lupakan  putusan kontroversial MK terkait syarat pencalonan wakil presiden itu.

Memang, tidak semua tuduhan itu terbukti di pengadilan. Namun perdebatan tersebut menunjukkan bahwa dalam politik, rasa adil sering kali sama pentingnya dengan hasil akhir.

Orang biasanya lebih mudah menerima kekalahan daripada menerima perasaan bahwa pertandingan tidak berjalan setara.

Uang Menentukan Kursi VIP

Ada satu pemain yang hampir tidak pernah masuk daftar susunan pemain, tetapi pengaruhnya luar biasa besar. Namanya uang.

Di sepak bola modern, uang bisa membeli pemain terbaik. Bisa membangun stadion megah. Bisa menghadirkan pelatih kelas dunia.

Bahkan sejarah juga mencatat adanya skandal pengaturan pertandingan. Misalnya, Calciopoli di Italia (2006) yang menunjukkan bagaimana upaya memengaruhi kompetisi pernah benar-benar terjadi.

Juventus, AC Milan, Lazioa dan Fiorentina terkena sanksi degradasi dan pengurangan poin.

Politik juga mengenal logika yang sama. Tidak ada kampanye yang hidup dari tepuk tangan. Apa itu? Baliho, iklan, media sosial, survei, relawan semua membutuhkan biaya. Bahkan secangkir kopi dalam rapat pemenangan pun ada yang membayar.

Baca Juga:  Maroko dan Mesir Menjaga Martabat Afrika di 16 Besar Piala Dunia 2026

Oleh karena itu, jangan heran kalau politik sering terasa seperti kompetisi yang dimenangkan bukan hanya oleh ide, tetapi juga oleh kemampuan menggerakkan sumber daya. Di sinilah demokrasi menghadapi ujian terbesarnya.

Apakah rakyat memilih karena gagasan? Atau karena pencitraan yang terus-menerus diputar seperti iklan sebelum pertandingan dimulai?

Ironisnya, penonton sepak bola biasanya lebih kritis daripada pemilih. Kalau wasit keliru, tayangan ulang langsung dicari. Kalau VAR dianggap salah, cuplikannya beredar dalam hitungan menit.

Saat menyangkut politik, kita kadang justru malas memeriksa fakta. Cukup membaca judul, lalu merasa paling benar. Cukup melihat video 30 detik, lalu menganggap sudah memahami persoalan negara.

Padahal demokrasi tidak bisa hidup dari perasaan semata. Ia membutuhkan warga yang mau berpikir. Juga mau mau bertanya. Tak terbuai dengan sorak sorai.

Pada akhirnya, sepak bola mengajarkan sesuatu yang sederhana. Tidak semua pertandingan akan berakhir tanpa kontroversi. Akan selalu ada keputusan yang diperdebatkan. Selalu ada pihak yang pulang sambil menggerutu.

Namun pertandingan tetap selesai dan sejarah akan mencatat bukan hanya siapa pemenangnya, melainkan bagaimana kemenangan itu diraih.

Politik Indonesia juga seharusnya demikian. Menang memang penting. Tetapi menang dengan cara yang dipercaya publik jauh lebih penting.

Sebab trofi bisa dipajang di lemari. Jabatan bisa berakhir setelah masa bakti. Namun kepercayaan masyarakat, sekali hilang, sering kali jauh lebih sulit direbut kembali daripada mencetak gol di menit ke-90.