July 11, 2026, oleh Humas Universitas

pom.go.id Malang, Jawa Timur – Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan orasi ilmiah pada wisuda Diploma, Sarjana, dan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (9/7/2026). Dalam pidatonya, ia menekankan pentingnya sinergi antara neurosains, inovasi farmasi, dan kepemimpinan regulasi sebagai fondasi hilirisasi riset dan penguatan daya saing bangsa.

Kepala BPOM menyoroti perkembangan global di bidang bioteknologi dan farmasi, termasuk tren paten produk biologis, terapi gen, dan obat berbasis sel. Menurutnya, era living medicine menuntut regulasi yang adaptif, berbasis sains, dan mampu mengikuti kemajuan teknologi. BPOM telah menetapkan pedoman evaluasi produk terapi lanjut melalui Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2025 tentang Pedoman Penilaian Produk Terapi Advanced, termasuk sertifikasi good manufacturing practices (GMP) dan pengawasan digital monitoring efek samping obat melalui e-MESO.

Kepala BPOM menegaskan bahwa peran BPOM bukan hanya menjaga perlindungan publik, tetapi juga membuka jalan bagi investasi obat dan makanan. Pasar global manufaktur ATMP diperkirakan meningkat dari USD41,46 miliar (setara sekitar Rp697,73 triliun) pada tahun 2026 menjadi USD86,76 miliar (setara sekitar Rp1.460 triliun) pada tahun 2031, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 15,91%.

“Data tersebut menunjukkan bahwa ATMP [advanced therapy medicinal products] mengalami pertumbuhan yang dinamis dan semakin cepat di seluruh dunia. Perkembangan ini menegaskan pentingnya kesiapan regulasi yang kuat dan adaptif untuk melindungi kesehatan masyarakat, sekaligus memastikan akses yang aman, efektif, dan efisien terhadap terapi inovatif,” jelasnya.

Dalam konteks hilirisasi riset, ia menekankan pentingnya kolaborasi triple helix antara akademisi (academia), industri (business), dan pemerintah (government) atau Sinergi ABG. BPOM telah menjalin 186 kerja sama dengan perguruan tinggi serta mendampingi dari tahap riset hingga perizinan untuk produk inovatif seperti Vaksin Merah Putih, Insulin Detemir, dan terapi sel punca. Sinergi ini diyakini mampu memperkuat ekosistem inovasi nasional sekaligus mendorong peningkatan daya saing global.

BPOM juga memperkuat good regulatory practices (GRP), kolaborasi regional dan global, serta digitalisasi pengawasan. Terlebih dengan telah diakuinya Indonesia kini sebagai WHO-Listed Authority (WLA) untuk vaksin, yang mencerminkan kepercayaan internasional terhadap kapabilitas regulasi nasional. “Status WLA harus dipertahankan melalui kinerja konsisten dan perbaikan berkelanjutan,” tegasnya.

Kepala BPOM menambahkan bahwa era baru kesehatan berbasis biologi adaptif, seperti terapi gen dan sel, menuntut regulasi yang mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan pengawasan berbasis risiko dan bukti, BPOM ingin memastikan bahwa inovasi dapat segera dihilirisasikan menjadi produk nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Untuk mewujudkan mimpi besar, kita perlu kapasitas bermimpi yang besar, ketekunan, dan keyakinan dalam mencapainya,” pungkas Taruna, menutup orasi ilmiah dengan pesan inspiratif bagi generasi muda.

Sementara itu, Rektor UMM Nazaruddin Malik, dalam sambutannya, menekankan bahwa kehadiran Kepala BPOM pada momen wisuda tersebut diharapkan semakin memperkuat UMM dalam mengembangkan inovasinya ke arah bisnis yang lebih menjanjikan. Kolaborasi pihak kampus bersama pemerintah dalam hal ini sangat penting dalam mewujudkan kualitas aneka produk pangan dan obat yang teruji, baik dari mutu dan kehalalannya.

“Ke depan, UMM akan dilandasi tiga fondasi utama yang kami sebut excellent solution center, yaitu pengembangan service excellence hubindustrial and business partnership, serta menjadikan kampus ini sebagai talent incubator pool,” terangnya.