July 20, 2026, oleh

Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman menyampaikan materi tentang pembentukan mental wirausaha kepada peserta Studentpreneur Bootcamp 2026 di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang. (Humas UMM/Klikmu.co)
KLIKMU.CO — Menteri Pertanian Republik Indonesia Andi Amran Sulaiman memberikan pandangan bisnis yang out of the box kepada ratusan mahasiswa dalam pembukaan Studentpreneur Bootcamp 2026 di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (17/7/2026). Dalam kegiatan yang diinisiasi Muhammadiyah Center for Entrepreneurship and Business Incubator (MCEBI) tersebut, Amran menegaskan bahwa kerugian merupakan guru terbaik bagi seorang pengusaha muda, melampaui teori keuntungan instan yang dipelajari di bangku kuliah.
“Tidak diajari di kampus seluruh dunia untung. Satu tambah satu dua, dua tambah dua empat. Semua untung, indah. Tidak seindah dengan kenyataan. Jadi harus diajari rugi. Yang mengajari rugi adalah lapangan,” tegasnya.
“Kalau Anda terbiasa terlatih rugi lima tahun, sepuluh tahun, itu pada titik tak menentu, begitu untung, itu Anda untung sampai anak cucumu. Dan guru terbaikmu adalah rugi,” ujarnya.
Rektor UMM Nazaruddin Malik menyambut baik paparan tersebut sebagai bekal penting untuk melahirkan wirausahawan tangguh dari lingkungan kampus. Menurutnya, mental tahan banting dan etos kerja keras menjadi modal penting dalam mencetak kader yang mampu berkontribusi di sektor ketahanan pangan dan energi.
“Ini nanti akan menjadi modal penting bagi Muhammadiyah untuk terus menanamkan tekad kuat melahirkan entrepreneur-entrepreneur baru bagi bangsa melalui program-program inkubasi,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Ketua MCEBI Endang Rudiatin menjelaskan bahwa ratusan peserta tidak hanya dikader untuk mencari keuntungan, tetapi juga menjadi pengusaha yang beretika dan berlandaskan nilai-nilai agama. Ia menambahkan, MCEBI berkomitmen mencetak wirausahawan yang mampu menjaga keberlanjutan lingkungan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak lagi terjebak pada mentalitas serba instan atau sekadar book smart. Mereka didorong untuk berani memulai dari bawah, mengesampingkan gengsi, serta menjadikan kerugian sebagai proses pembelajaran untuk membangun karakter, relasi, dan bisnis yang mampu bertahan lintas generasi. (Faqih/AS)