July 22, 2026, oleh

Mahasiswa angkatan 2024 Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuat inovasi terbarukan untuk ternak. “Mulzymix”, inovasi pakan khusus burung puyuh petelur berbasis multienzim ini dirancang secara khusus sebagai solusi konkret bagi industri peternakan lokal. Tujuannya adalah untuk menekan biaya operasional peternak yang kian melambung, sekaligus mendongkrak kualitas serapan nutrisi dan produktivitas telur pada burung puyuh.
Kehadiran inovasi pakan ini berawal dari observasi mahasiswa terhadap tantangan sektor peternakan dalam menyediakan suplai pangan hewani yang bernutrisi tinggi namun tetap terjangkau. Salah satu perwakilan tim, Daffa Haikal Alfarizie, menjelaskan bahwa optimalisasi nutrisi pada pakan unggas merupakan fondasi utama keberhasilan panen para peternak skala menengah.
“Pengembangan produk ini murni berangkat dari kesadaran tim akan pentingnya peran sektor peternakan dalam mendukung ketersediaan pangan hewani yang terjangkau, aman, dan bergizi bagi masyarakat luas,” ujarnya 21 Juli lalu pada Humas UMM.
Tidak seperti pakan unggas komersial pada umumnya yang bersifat multifungsi, Mulzymix diformulasikan secara sangat spesifik dengan takaran yang pas. Formulasi ini dirancang menyesuaikan sistem pencernaan burung puyuh petelur, sehingga tidak direkomendasikan untuk jenis unggas lainnya demi menjaga efektivitas. Daffa menegaskan bahwa spesifikasi ini dilakukan agar nutrisi yang terserap oleh tubuh puyuh benar-benar maksimal dan tepat sasaran.
“Produk pakan ini dibuat secara khusus untuk burung puyuh petelur karena takaran komposisi multienzim dan kadarnya itu telah disesuaikan secara saintifik dengan kebutuhan fisiologis burung petelur,” jelasnya.
Keunggulan paling menonjol dari Mulzymix terletak pada perpaduan tujuh jenis enzim penunjang. Enzim-enzim ini dipadukan dengan ragam vitamin esensial yang sangat dibutuhkan oleh ternak. Ia merinci bahwa perpaduan nutrisi kompleks tersebut diracik secara terukur guna mempercepat proses metabolisme pencernaan unggas dan menjaga imunitas dari berbagai ancaman penyakit.
“Multienzim yang kami rekayasa ini terdiri dari tujuh enzim esensial. Yakni selulase, xilanase, glukanase, amilase, pektinase, fitase, dan lipase. Selain itu, dalam racikannya juga ada penambahan vitamin A, vitamin D3, vitamin E, serta kelengkapan multivitamin lainnya untuk memastikan kesehatan puyuh tetap prima,” tambahnya.
Proses peracikan hingga produksi pakan dilakukan melalui kolaborasi intensif bersama dosen pembimbing selama masa perkuliahan di UMM. Berbekal pengalaman praktis tim dan pendampingan akademik yang komprehensif, evaluasi ketat terkait efisiensi harga bahan baku terus dilakukan. Tim meyakini produk ini memiliki prospek komersial yang menjanjikan, dengan rencana pemasaran awal dalam kemasan praktis satu kilogram seharga estimasi Rp20 ribu.
Sementara itu, dosen pendamping, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P., IPU., menyampaikan apresiasi mendalam sekaligus rasa bangganya atas dedikasi mahasiswa dalam menginovasikan pakan ternak yang berkualitas. “Ini adalah bukti nyata bahwa mahasiswa kita mampu menerjemahkan teori dari ruang kelas menjadi solusi aplikatif yang menjawab keresahan langsung para peternak di lapangan,” ungkapnya.
Terakhir, ia meyakini bahwa semangat hilirisasi riset semacam ini akan menjadi pemicu bagi mahasiswa Kampus Putih lainnya untuk terus berinovasi, merespons tantangan zaman, dan berkontribusi secara konkret dalam menguatkan ketahanan pangan nasional melalui sektor peternakan yang mandiri dan tangguh.(*rik/faq)
Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman