July 24, 2026, oleh Humas Universitas

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengirimkan 10 mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan ke Desa Probur, Kecamatan Alor Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. (Foto dokumentasi umm)

Tagar.co – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menembus perbukitan di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk memberantas stunting dan menghapus mitos gizi yang masih berkembang di masyarakat.

Ketimpangan informasi kesehatan serta keterbatasan ekonomi di pelosok Nusantara mendorong Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengirimkan 10 mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) ke Desa Probur, Kecamatan Alor Barat Daya, Kabupaten Alor.

Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Gentaskin atau Gerakan NTT Tuntas Stunting dan Kemiskinan Ekstrem berlangsung pada Juli hingga September 2026. Melalui program tersebut, mahasiswa menjalankan misi menekan angka stunting dan kemiskinan ekstrem untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Timur tahun 2025 menunjukkan Kabupaten Alor memiliki prevalensi balita stunting sebesar 22,59 persen. Persentase tersebut setara dengan 2.888 balita. Sebanyak 705 balita masuk kategori sangat pendek, sedangkan 2.184 balita berada pada kategori pendek.

Mitos Gizi dan Kemiskinan Menjadi Tantangan

Koordinator sekaligus peserta KKN Tematik Gentaskin Batch 2 Fikes UMM, Tristan Gilang Antoro, menjelaskan, hasil pemetaan awal menunjukkan mayoritas warga bekerja sebagai petani kemiri dan porang. Namun pekerjaan tersebut bersifat musiman sehingga pendapatan masyarakat tidak menentu.

Selain persoalan ekonomi, masyarakat juga masih memegang kuat mitos mengenai asupan gizi anak. Kondisi itu membuat pengetahuan medis sulit diterima dan berdampak pada tingginya angka stunting di Desa Probur.

“Mayoritas masyarakat di sini masih sangat minim informasi medis dan lebih memercayai budaya setempat terkait asupan gizi anak. Ditambah lagi, faktor kemiskinan akibat penghasilan bertani yang tidak menentu menjadi pemicu utama tingginya angka stunting,” ujar Tristan.

Menjawab tantangan tersebut, tim KKN UMM menggandeng Puskesmas setempat untuk menjalankan berbagai upaya pencegahan. Mahasiswa mendampingi kegiatan posyandu secara intensif sekaligus membagikan selebaran berisi panduan pencegahan kekurangan gizi.

Selanjutnya, mahasiswa harus menghadapi medan yang tidak mudah. Mereka berjalan kaki sejauh sekitar tiga kilometer melintasi perbukitan demi mendata warga secara langsung.

Di sisi lain, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) UMM turut mendukung kelancaran program. DPL mengatur kebutuhan akomodasi sekaligus menyesuaikan jadwal ujian mahasiswa selama menjalankan pengabdian.

Tristan menegaskan keberhasilan program sangat bergantung pada kemampuan mahasiswa menghormati budaya masyarakat. Menurutnya, pendekatan yang tulus membuat warga lebih mudah menerima kehadiran mahasiswa.

“Pengabdian ini bukan sekadar menjalankan program kerja. Mahasiswa UMM harus melebur, menghargai budaya lokal, dan membangun pendekatan yang tulus hingga masyarakat menganggap delegasi Kampus Putih sebagai bagian dari keluarga mereka sendiri,” katanya.

Pengabdian yang Menguatkan Kepedulian Sosial

Kehadiran mahasiswa UMM mendapat sambutan hangat dari masyarakat Desa Probur. Hubungan itu terjalin melalui berbagai aktivitas sehari-hari bersama warga.

Mahasiswa ikut mencari kayu bakar di hutan. Mereka juga memanfaatkan fasilitas sanitasi milik warga selama berada di desa. Interaksi sederhana tersebut mampu menghapus perbedaan bahasa dan kebiasaan yang sebelumnya menjadi tantangan.

Pengalaman lintas budaya itu memperkuat kemampuan sosial mahasiswa. Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan komitmen UMM dalam mencetak lulusan yang tangguh dan mampu beradaptasi di berbagai lingkungan.

Menutup kegiatan, Tristan mengingatkan pentingnya kesiapan fisik dan mental bagi mahasiswa yang akan menjalankan pengabdian serupa. Menurutnya, proses berbaur dengan masyarakat menjadi bekal berharga yang tidak tergantikan.

“Bagi rekan-rekan mahasiswa yang kelak akan meneruskan langkah pengabdian ke sini, persiapkan fisik dan mental untuk berbaur. Kalian mungkin datang dengan keraguan, tetapi dipastikan akan pulang dengan air mata perpisahan,” pungkasnya.