August 26, 2025, oleh Humas Universitas

Di era di mana kesadaran akan lingkungan semakin meningkat, tren fesyen juga turut berevolusi. Kebutuhan akan produk ramah lingkungan menjadi salah satu pemicu utama. Melihat potensi ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program Studi Peternakan mengadakan pelatihan Ecoprint, sebuah teknik mencetak motif dari bahan alami langsung ke media kain atau kulit.

Kegiatan ini menyasar siswa dan guru pendamping dari sekolah-sekolah menengah atas (SMA) berbagai kota dan kabupaten. Mulai dari Batu, Malang, Pasuruan, dan lainnya. Pelatihan yang bertema Ecoprint Training: The Art of Nature ini dipandu langsung oleh pakar di bidangnya, Prof. Dr. Ir. Wehandaka Pancapalaga, M.Kes., IPM.

“Tujuannya untuk membekali peserta dengan keterampilan membuat syal bermotif alami menggunakan teknik Ecoprint menggabungkan seni, kreativitas, dan keberlanjutan lingkungan,” terangnya.

Ia menjelaskan bahwa ecoprint merupakan jawaban atas tren fesyen berkelanjutan, di mana motif yang dihasilkan unik dan tidak dapat diduplikasi 100%. Selain itu, ia juga membuka peluang pasar yang luas, baik untuk penggunaan pribadi maupun komersial.

Dalam pelatihannya, Wehandaka tidak hanya mengenalkan teknik dasar, tetapi juga melatih peserta untuk memilih bahan alami yang tepat, menghasilkan karya berkualitas tinggi, dan mendorong mereka untuk mengembangkan usaha kreatif berbasis Ecoprint. Ia menjelaskan bahwa tanaman dengan aroma tajam atau yang meninggalkan warna saat digosok adalah indikasi kuat sebagai pewarna alami yang bisa digunakan.

Selain itu, digunakan pula zat bernama mordan yang berfungsi sebagai pengikat warna agar tidak mudah pudar. “Keberhasilan pewarnaan alami pada syal salah satunya ditentukan oleh ketepatan jenis mordan dan proses mordanting yang dipilih,” ujarnya.

Antusiasme peserta begitu terasa, salah satunya Qorinah Isimah Ramadhani, siswi kelas 10 di SMAN 1 Batu. Ia mengaku sangat tertarik mengikuti pelatihan ini karena pernah gagal dalam proyek Ecoprint di SMP. Baginya, kegiatan ini sangat seru dan menyenangkan. Ia juga terkesan dengan metode yang diajarkan, yaitu Ecoprint dikukus yang berbeda dari metode palu yang pernah ia coba sebelumnya.

“Aku paling suka bagian menyusun daunnya karena benar-benar sesuai imajinasi,” ungkap gadis yang akrab disapa Rinrin ini.

Ia juga merasa tantangan utama justru saat menata daun karena memerlukan kreativitas tinggi. Ia harus memutar otak agar susunan daunnya menjadi menarik. Namun, hal ini tidak mengurangi semangatnya. Menurutnya, manfaat dari pelatihan ini sangat besar. Pertama, menambah skill untuk memanfaatkan barang-barang di sekitar dari alam. Kedua, upaya untuk berkontribusi melestarikan alam karena mengurangi penggunaan pewarna sintetis. (din/wil)