April 17, 2026, oleh Humas Universitas

Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Dra. Frida Kusumastuti, M.Si, saat Dialog Malang Menyapa bertema Kartini Era Digital, di studio Pro1 RRI Malang, Kamis, 16 April 2026. (Foto: RRI/Pro1)

RRI.CO.ID, Malang – Tingginya penetrasi internet di Indonesia belum sepenuhnya diimbangi dengan kemampuan literasi digital masyarakat. Kondisi ini ditandai dengan masih maraknya penyebaran hoaks, terutama di media sosial dan grup percakapan.

Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Dra. Frida Kusumastuti, MSi mengungkapkan penetrasi internet di Indonesia mencapai 82 persen, artinya sekitar 220 juta dari sekitar 280 juta penduduk Indonesia sudah mengakses dan menggunakan internet. Sementara tingkat literasi digital di Indonesia masih berada pada kategori sedang, dengan skor sekitar 3,5 dari 5 pada tahun 2025.

Salah satu bukti literasi digital yang masih kategori sedang dan belum merata adalah masih maraknya hoaks (berita bohong).

“Masih tingginya angka hoaks menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis masyarakat perlu terus ditingkatkan,” ujarnya dalam program Dialog Malang Menyapa, Kamis 16 April 2026.

Ia menjelaskan, salah satu penyebab maraknya hoaks adalah kebiasaan masyarakat yang langsung membagikan informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Padahal, dalam praktiknya masyarakat tidak hanya berperan sebagai konsumen informasi, tetapi juga sebagai produsen dan penyebar pesan (prosumer).

Menurut Frida, perempuan memiliki posisi penting dalam konteks ini karena aktivitasnya yang tinggi di media sosial. Oleh karena itu, perempuan didorong untuk berperan sebagai penyaring informasi atau gatekeeper sebelum menyebarkan pesan.

“Perempuan harus berani menjadi filter. Jika ada informasi yang meragukan, perlu diverifikasi terlebih dahulu sebelum disebarkan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai pesan yang bersifat provokatif dan memicu kepanikan, karena hal tersebut sering menjadi ciri informasi yang tidak benar.

Selain itu, pesan yang bersifat pribadi atau sensitif sebaiknya dibahas dalam ruang terbatas, seperti pesan langsung atau grup tertutup, guna menghindari penyebaran informasi yang tidak semestinya.

Anggota Japelidi (Jaringan Pegiat Literasi Digital) Indonesia tersebut menambahkan, peningkatan literasi digital dapat dilakukan dengan terus belajar mengikuti perkembangan teknologi serta memahami pola komunikasi generasi muda, seperti generasi Z dan Alpha.

Dengan meningkatnya kesadaran dan kemampuan literasi digital, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi di era digital. (Annisa)