July 1, 2026, oleh Humas Universitas

Chandra Aditya Nugraha, alumnus Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM angkatan 2016, resmi terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (PP HIKMAHBUDHI) periode 2025–2028. (Humas UMM/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Chandra Aditya Nugraha, alumnus Program Studi Kesejahteraan Sosial (Kesos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2016, resmi terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (PP HIKMAHBUDHI) periode 2025–2028. Capaian ini menegaskan bahwa kampus berlatar belakang Islam mampu mencetak pemimpin nasional yang berdaya saing tanpa memandang latar belakang agama maupun keyakinan.

Chandra menjelaskan, pencapaiannya saat ini merupakan buah dari proses panjang yang telah dirintis sejak bergabung dengan HIKMAHBUDHI dan Asosiasi Kesejahteraan Sosial Jawa Timur pada 2015.

“Organisasi itu prosesnya panjang. Saya memulai dari anggota, kemudian menjadi pengurus cabang, hingga akhirnya dipercaya menjadi ketua cabang. Setelah lulus dari UMM pada 2020, saya mengabdikan diri sebagai pengurus pusat di Jakarta sambil melanjutkan studi,” ungkapnya kepada Humas UMM, Kamis (26/6/2026).

Dalam perjalanannya menuju kursi kepemimpinan tertinggi pada proses pencalonan tahun 2024, ia dihadapkan pada berbagai dinamika yang menguji kedewasaan kepemimpinannya, terutama dalam mengelola konflik internal agar tidak memecah belah organisasi.

“Saat proses pemilihan, itu menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Dari situ saya belajar memanajemen konflik agar organisasi tetap solid,” jelasnya.

Sebagai mahasiswa non-Muslim yang menempuh pendidikan di institusi Islam, Chandra menilai Kampus Putih UMM telah memberinya ruang belajar nyata tentang esensi kebinekaan dengan memberikan hak yang setara kepada seluruh sivitas akademika.

“Saya bangga dengan UMM. Kampus ini menerapkan nilai keberagaman secara nyata. UMM tidak mengharuskan mahasiswanya beragama Islam atau berasal dari Muhammadiyah. Semua orang bisa belajar dan berkembang bersama,” tuturnya.

Bagi Chandra, UMM merupakan miniatur Indonesia yang berhasil mengimplementasikan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Di kampus ini, mahasiswa dari berbagai daerah, etnis, dan keyakinan dapat berbaur serta memperoleh fasilitas dan hak pendidikan yang sama. Kebebasan dan toleransi itulah yang turut membentuk perspektif kepemimpinannya hingga mampu berkiprah di tingkat nasional.

Terkait tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, Chandra menilai rasa khawatir dan overthinking mengenai masa depan merupakan hal yang wajar. Namun, ia mendorong mahasiswa untuk berani mengambil risiko demi memperjuangkan cita-cita dan tujuan hidup.

“Hidup yang tidak pernah dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan. Jadi, jangan takut tentang besok akan menjadi apa. Fokuslah pada apa yang teman-teman minati dan cintai hari ini. Dari situlah jalan akan terbuka,” tegasnya.

Kisah perjalanan Chandra menjadi bukti bahwa lingkungan pendidikan yang menjunjung tinggi toleransi, dipadukan dengan keberanian untuk terus berproses, mampu melahirkan pemimpin yang tangguh. Nilai-nilai inklusivitas yang diperolehnya di Kampus Putih UMM diharapkan tidak hanya membawa kemajuan bagi organisasi yang dipimpinnya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk berani bermimpi besar, terus berkarya, dan mengambil langkah nyata bagi masa depan bangsa.

(Faqih/AS)