March 6, 2026, oleh

MALANG, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran kini menjadi sorotan dunia karena potensi dampaknya yang meluas hingga ke sektor ekonomi global. Persaingan yang berakar pada masalah keamanan eksistensial ini diprediksi akan terus berlanjut dan memicu ketidakpastian stabilitas energi.
Pakar Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana P., M.Hub.Int, Ph.D (cand)., menjelaskan bahwa konflik ini sulit dipadamkan karena kedua belah pihak merasa keberadaan lawan adalah ancaman bagi kelangsungan hidup negara masing-masing.
“Persoalan keamanannya sudah pada level eksistensial. Iran adalah ancaman bagi Israel, begitu pula sebaliknya. Selama salah satu pihak merasa eksistensinya terancam oleh kehadiran pihak lain, konflik ini akan terus ada,” ujar Dion Maulana, Kamis 5 Maret 2026.
Menurut Dion, kebuntuan diplomasi nuklir antara Washington dan Teheran menjadi bensin yang memperparah situasi. Iran dianggap mengancam sekutu AS di Timur Tengah serta basis-basis militer Amerika di kawasan tersebut. Hal ini memicu tindakan-tindakan militer yang berisiko tinggi.
Dampak yang paling nyata dan berbahaya saat ini adalah ancaman terhadap jalur energi dunia di Selat Hormuz. Jika jalur distribusi minyak paling vital ini benar-benar ditutup secara permanen akibat perang, guncangan ekonomi global tidak akan terhindarkan.
“Terganggunya distribusi energi internasional melalui Selat Hormuz akan memicu lonjakan harga minyak dunia. Bagi Indonesia, ini berarti ancaman inflasi dan krisis energi yang harus segera diantisipasi,” tambahnya.
Meski situasi memanas, Dion meminta masyarakat untuk tetap tenang dan kritis terhadap informasi yang beredar. Ia menekankan bahwa klaim mengenai pecahnya Perang Dunia Ketiga masih terlalu dini dan membutuhkan verifikasi kompleks terkait keterlibatan negara besar seperti Rusia atau China.
“Proses menuju perang global sangat kompleks. Publik harus melakukan cek dan ricek terhadap informasi yang beredar agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan yang memicu kepanikan massal,” pungkasnya.(edr)