April 15, 2026, oleh Humas Universitas

Aplikasi Deteksi Anemia Berbasis AI, Cukup Kamera HP Tanpa Jarum Suntik

MAKLUMAT – Inovasi di bidang kesehatan terus berkembang seiring kemajuan teknologi digital. Kini, aplikasi deteksi anemia berbasis kecerdasan buatan (AI) hadir sebagai solusi praktis untuk memantau kadar hemoglobin tanpa perlu tes darah.

Terobosan ini dikembangkan oleh Lailis Syafa’ah, dosen vokasi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui teknologi ini, masyarakat dapat melakukan deteksi anemia secara mandiri hanya dengan memanfaatkan kamera smartphone.

Lailis menjelaskan, aplikasi deteksi anemia tersebut dirancang untuk menjawab kendala klasik masyarakat yang enggan melakukan pemeriksaan kesehatan karena harus melalui prosedur pengambilan darah.

Sokongan Kecerdasan Buatan

“Selama ini banyak orang menunda pemeriksaan karena harus datang ke fasilitas kesehatan dan menjalani tes darah. Padahal deteksi dini sangat penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius,” ujarnya.

Secara teknis, aplikasi ini bekerja dengan memanfaatkan citra konjungtiva atau selaput lendir pada mata. Pengguna cukup memotret bagian mata menggunakan kamera ponsel, kemudian sistem AI akan menganalisis tingkat kecerahan dan warna untuk memperkirakan kadar hemoglobin (Hb).

Hasil analisis tersebut kemudian diklasifikasikan menjadi estimasi kondisi anemia. Dengan demikian, proses yang sebelumnya harus dilakukan di laboratorium kini dapat dilakukan secara cepat hanya melalui perangkat pribadi.

Baca Juga  PLN Nusantara Power Bawa Inovasi Energi Hijau ke Panggung Dunia

Keakuratan Teknologi Kesehatan

Pengembangan aplikasi deteksi anemia ini tidak dilakukan secara individu. Lailis menggandeng tim lintas disiplin dari lingkungan vokasi UMM, termasuk dosen dan mahasiswa, untuk memastikan sistem yang dibangun memiliki akurasi dan keandalan yang baik.

“Ini bukan sekadar aplikasi biasa, tetapi sistem yang mampu menerjemahkan data visual menjadi informasi medis. Dibutuhkan pemodelan yang presisi agar hasilnya tetap akurat untuk berbagai kondisi pengguna,” jelasnya.

Riset ini sendiri berawal dari studi doktoral Lailis yang berfokus pada pemodelan kesehatan berbasis citra. Seiring pengembangannya, sistem terus dilatih menggunakan pendekatan machine learning agar mampu mengenali pola hubungan antara kondisi mata dan kadar hemoglobin.

Tingkatkan Kesadaran Masyarakat

Saat ini, tingkat akurasi aplikasi deteksi anemia tersebut telah mencapai sekitar 80 persen. Angka ini dinilai cukup menjanjikan untuk tahap pengembangan, sekaligus membuka peluang untuk pemanfaatan lebih luas di masyarakat.

Ke depan, aplikasi ini diharapkan menjadi alat deteksi mandiri yang bisa digunakan sehari-hari, terutama bagi kelompok yang membutuhkan pemantauan rutin seperti ibu hamil.

“Harapannya, masyarakat bisa lebih sadar untuk memeriksa kesehatannya sendiri. Deteksi dini tidak harus selalu ke rumah sakit, tetapi bisa dimulai dari rumah dengan teknologi yang mudah diakses,” pungkasnya.