January 13, 2026, oleh Humas Universitas

gurusiana.id, MALANG,- Tantangan digitalisasi yang kian masif mendorong lembaga pendidikan Islam untuk terus berbenah. Madrasah berasrama atau Islamic Boarding School (IBS), yang selama ini dikenal kuat dalam pembinaan akhlak dan pendalaman ilmu agama, kini dihadapkan pada tuntutan baru: menyiapkan generasi santri yang juga unggul dalam literasi teknologi. Isu strategis inilah yang menjadi fokus utama dalam ujian terbuka disertasi Arbain Nurdin di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Ujian terbuka tersebut digelar di Program Pascasarjana UMM dengan mengusung disertasi berjudul Model Kurikulum Islamic Boarding School Berbasis Teknologi di Padepokan Kiyai Mudrikah Kembang Kuning Pamekasan. Disertasi ini mendapat perhatian karena menawarkan model kurikulum pesantren yang berupaya menjembatani nilai-nilai keislaman dengan tuntutan kompetensi abad ke-21.

Dalam pemaparannya, Arbain menegaskan bahwa IBS memiliki peran vital dalam membentuk insan intelektual yang berakhlak mulia. Namun, realitas di lapangan menunjukkan masih banyak lembaga pendidikan Islam yang menghadapi kendala serius dalam merespons perkembangan zaman, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, resistensi terhadap perubahan, hingga minimnya infrastruktur teknologi.

“Pesantren tidak boleh terjebak pada romantisme masa lalu. Nilai tradisi harus tetap dijaga, tetapi cara dan instrumen pendidikan perlu menyesuaikan dengan konteks zaman,” ujar Arbain di hadapan tim penguji.

Menurut Arbain, kurikulum di madrasah berasrama selama ini cenderung fokus pada penguatan dimensi spiritual dan moral. Orientasi ini merupakan kekuatan utama pesantren. Namun, tanpa integrasi teknologi yang terencana, lulusan IBS berisiko tertinggal dalam persaingan global yang semakin kompetitif.

Disertasi ini menggarisbawahi bahwa teknologi sejatinya dapat menjadi sarana strategis untuk memperkuat proses pembelajaran, bukan sekadar pelengkap. Pemanfaatan learning management system, media digital, dan pembelajaran berbasis proyek terbukti mampu membuat proses belajar lebih dinamis, efektif, dan relevan dengan kebutuhan generasi muda.

“Integrasi teknologi bukan berarti menghilangkan identitas pesantren, melainkan memperkuatnya agar tetap kontekstual,” kata Arbain.

Penelitian Arbain mengambil studi kasus di Padepokan Kiyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan, sebuah lembaga IBS yang dinilai berhasil mengembangkan kurikulum berbasis teknologi secara sistematis. PKMKK berafiliasi dengan MTs Negeri 3 Pamekasan serta memperoleh rekomendasi dari Kementerian Agama.

PKMKK mengembangkan kurikulum yang relatif lengkap, mulai dari kurikulum boarding, kurikulum multimedia, kurikulum merdeka, hingga layanan pendidikan individual bagi santri berkebutuhan khusus yang terintegrasi dengan teknologi. Lingkungan pendidikan yang dibangun mendorong santri untuk tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga terampil dalam pemanfaatan teknologi digital.

Berbagai capaian santri menjadi bukti konkret keberhasilan model ini, antara lain kemampuan mengelola website lembaga serta memanfaatkan media sosial, termasuk TikTok, sebagai media pembelajaran dan dakwah yang kreatif.

Agar penelitian lebih terarah, Arbain menggunakan paradigma konstruktivisme dengan pendekatan kualitatif jenis studi kasus. Desain penelitian yang digunakan adalah single case embedded, dengan dua unit kajian utama, yakni model kurikulum IBS berbasis teknologi dan pengorganisasian kurikulum IBS berbasis teknologi.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggali secara mendalam proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kurikulum di PKMKK. Kurikulum dipahami bukan sekadar dokumen administratif, melainkan praktik pendidikan yang hidup dan dialami langsung oleh santri serta pendidik.

Salah satu temuan penting dalam disertasi ini adalah lahirnya Model Kurikulum Al-Muwahhid. Model ini dirancang dengan pendekatan holistik yang mengintegrasikan ilmu agama, sains, dan teknologi dalam satu kesatuan yang utuh, berlandaskan prinsip tauhid.

Menurut Arbain, seluruh cabang ilmu pengetahuan pada hakikatnya bersumber dari Allah SWT. Karena itu, tidak semestinya terjadi dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Kurikulum Al-Muwahhid berupaya menyatukan keduanya agar santri memiliki pandangan keilmuan yang integral.

Model ini ditopang oleh tujuh pilar pendidikan, yaitu: One Day One AyatOne Hadith One PresentationOne Week Three LanguagesOne Week Three ThemeOne Week Three FashlOne Activity One Paragraph, dan One Student One Laptop. Ketujuh pilar tersebut dirancang untuk membentuk santri yang kuat secara spiritual, cakap berkomunikasi, kritis dalam berpikir, serta melek teknologi.

Kurikulum Al-Muwahhid dibangun di atas empat fondasi utama, yakni filosofis, budaya masyarakat lokal, karakteristik santri, dan sejarah lembaga. Dengan fondasi ini, kurikulum diharapkan tidak tercerabut dari akar tradisi pesantren, sekaligus mampu menjawab tantangan zaman.

Tujuan kurikulum dirumuskan secara jelas, yaitu mencetak santri yang bertauhid dan beretika, serta unggul, inovatif, berdaya saing, dan santun dalam pemanfaatan teknologi. Setiap program pembelajaran dirancang dengan target berbasis teknologi, baik dari sisi materi, metode, maupun evaluasi.

PKMKK Pamekasan menegaskan komitmennya terhadap pendidikan berbasis teknologi. Proses pembelajaran menerapkan Project-Based Learning berbasis teknologi, sistem penugasan digital, serta evaluasi yang terintegrasi. Santri terbiasa menggunakan e-portofolio dan sistem i’lan berbasis teknologi sebagai bagian dari proses belajar.

Model ini dinilai mampu membekali santri dengan keterampilan abad ke-21, tanpa mengabaikan pembinaan akhlak dan spiritualitas. Kurikulum Al-Muwahhid yang digagas Arbain bukan sekadar inovasi teknis, melainkan sebuah visi pendidikan Islam masa depan yang berani dan visioner.

Disertasi ini juga mengungkap pengorganisasian kurikulum PKMKK yang dilakukan secara sistematis. Dalam dimensi vertikal, seluruh program kegiatan disusun berurutan, berkelanjutan, dan terintegrasi dari pagi hingga malam hari.

“Setiap langkah santri adalah bagian dari perjalanan pendidikan yang dirancang secara sadar dan terencana,” ujar Arbain.

Sementara dalam dimensi horizontal, pengorganisasian materi pelajaran mengacu pada prinsip ruang lingkup dan integrasi. Seluruh mata pelajaran yang terangkum dalam tujuh pilar pendidikan diatur agar saling terkait dan membentuk pengalaman belajar yang utuh. Model ini diklasifikasikan sebagai activity curriculum, di mana pembelajaran terjadi melalui aktivitas nyata dan pengalaman langsung.

Melalui ujian terbuka ini, Arbain berharap hasil penelitiannya dapat menjadi rujukan bagi pengembangan kurikulum IBS di berbagai daerah. Model Kurikulum Al-Muwahhid dinilai dapat diadaptasi oleh pesantren dan madrasah berasrama lain yang ingin bertransformasi secara digital tanpa kehilangan identitas keislamannya.

“Kami berharap lembaga pendidikan Islam dapat mengambil inspirasi dari PKMKK Pamekasan untuk memperkuat struktur kurikulum mereka,” ungkap Arbain.

Ia juga mendorong pemerintah agar mengambil peran lebih sentral melalui kebijakan yang mendukung pengembangan kurikulum IBS berbasis teknologi. Dukungan regulasi dan fasilitas dinilai penting untuk mempercepat lahirnya generasi unggul dari lembaga pendidikan keagamaan.

Dengan pendekatan yang mengintegrasikan nilai tauhid dan kemajuan teknologi, disertasi ini menjadi kontribusi penting dalam upaya memajukan pendidikan Islam agar tetap relevan, berkualitas, dan berdaya saing di tengah tantangan zaman.