July 10, 2026, oleh

MAKLUMAT – Perkembangan Artificial Intelligence dan kebijaksanaan manusia menjadi isu yang tak bisa lagi dipisahkan di tengah pesatnya kemajuan teknologi global. Kecerdasan buatan (AI) memang mampu mempercepat inovasi di berbagai bidang, tetapi tanpa kendali manusia yang memiliki empati dan kebijaksanaan, teknologi tersebut justru berpotensi menghadirkan ancaman baru.
Pesan itu disampaikan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., MD., Ph.D., saat menyampaikan orasi ilmiah dalam Wisuda ke-122 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Hall Dome UMM, Kamis (9/7).
Dalam orasi bertajuk Synergizing Breakthrough of Neuroscience and Pharmaceutical Innovation with Regulatory Leadership, Taruna menegaskan bahwa Artificial Intelligence dan kebijaksanaan manusia harus berjalan beriringan agar kemajuan teknologi benar-benar memberi manfaat bagi peradaban.
Menurutnya, AI merupakan hasil sintesis kemampuan otak manusia yang luar biasa. Namun, kecerdasan buatan hanya bekerja berdasarkan algoritma sehingga tidak memiliki kemampuan memahami nilai-nilai kemanusiaan.
“AI bukan hanya untuk menolong kita, tapi juga bisa membahayakan masa depan dan mengancam keberlangsungan umat manusia sebagai khalifah. Karena itu AI harus dikontrol oleh manusia yang memiliki kapasitas emosional dan wisdom,” tegas Taruna.
Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi tidak boleh hanya mengejar kecepatan inovasi. Regulasi, etika, dan kepemimpinan manusia tetap menjadi faktor utama agar pemanfaatan AI tidak keluar dari tujuan kemanusiaan.
Selain membahas AI, Taruna juga menyoroti lompatan inovasi di bidang bioteknologi dan farmasi. Menurutnya, dunia kesehatan kini memasuki era living therapy, yaitu terapi menggunakan sel hidup yang berpotensi mengobati berbagai penyakit genetik hingga kerusakan saraf akibat stroke.
Untuk mempercepat lahirnya inovasi tersebut, BPOM mengembangkan model kolaborasi Academia, Business, Government (ABG). Skema ini menghubungkan hasil riset perguruan tinggi, kemampuan industri, dan dukungan regulasi pemerintah agar inovasi kesehatan dapat segera dimanfaatkan masyarakat.
“Kami memadukan 187 universitas terbaik di Indonesia dengan sekitar 50 ribu industri besar untuk melakukan transfer teknologi dan saling melengkapi. Salah satu hasilnya adalah riset vaksin mRNA pertama di dunia untuk demam berdarah,” jelas pakar neurosains tersebut.
Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi mampu berkembang menjadi produk inovatif yang memiliki dampak ekonomi maupun sosial.
Pada kesempatan yang sama, Dewan Pakar Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Lincolin Arsyad, mengapresiasi langkah UMM yang dinilai berhasil memadukan pengembangan ilmu pengetahuan dengan dunia usaha.
Menurutnya, UMM menjadi salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah yang mampu mengembangkan ekosistem akademik sekaligus praktik bisnis tanpa meninggalkan kualitas pendidikan.
“Saya salut dengan seluruh civitas akademika UMM. Tidak banyak perguruan tinggi Muhammadiyah yang mampu berkembang pesat dengan memadukan tempat belajar sains sekaligus tempat mempraktikkan ilmu seperti UMM,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik menegaskan kampus yang dipimpinnya terus melakukan transformasi untuk menjawab tantangan era digital melalui pengembangan Center of Excellence (CoE) dan penguatan kompetensi digital mahasiswa.
Ke depan, UMM akan membangun tiga pilar utama, yakni Service Excellence Hub, Industrial and Business Partnership, serta Talent Incubator Pool sebagai fondasi pengembangan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perubahan teknologi.
Menurut Nazaruddin, kolaborasi dengan berbagai lembaga, termasuk BPOM, menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem inovasi yang mampu menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat.
Momentum wisuda, lanjutnya, bukan sekadar seremoni akademik, melainkan awal bagi para lulusan untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan dalam menghadapi tantangan zaman.
Pesan yang mengemuka dari forum tersebut pun jelas: kemajuan teknologi hanya akan membawa manfaat apabila Artificial Intelligence dan kebijaksanaan manusia berjalan seimbang. Di tengah percepatan inovasi digital, empati, etika, dan kebijaksanaan tetap menjadi fondasi utama agar AI benar-benar menjadi alat untuk memajukan peradaban, bukan sebaliknya.