March 5, 2026, oleh

Malang, Beritasatu.com – Pengamat hubungan internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana, mengkritisi wacana Presiden Prabowo Subianto yang ingin memediasi negara-negara yang berperang. Dalam teori resolusi konflik, mediasi dinilai sulit dilakukan jika pertempuran masih berlangsung.
“Mediator itu hadir setelah kekerasan berhenti. Kalau pertempuran masih berjalan, secara teori resolusi konflik tidak rasional menawarkan mediasi,” ujarnya di Malang, Selasa (3/3/2026).
Dion juga mendorong evaluasi posisi diplomatik Indonesia di forum internasional Board of Peace (BoP) pascaserangan Iran. Ia menilai kredibilitas forum perdamaian harus tercermin dari tindakan nyata anggotanya.
“Indonesia harus mempertimbangkan untuk keluar dari Board of Peace. Bagaimana mungkin lembaga yang mengeklaim membawa perdamaian justru dipimpin negara yang menyerang pihak lain di tengah negosiasi? Itu tidak mencerminkan perdamaian,” kritiknya.
Menurut Dion, Indonesia perlu bersikap lebih tegas terhadap pelanggaran hukum internasional dan tidak sekadar mengikuti arus politik global.
Dion menjelaskan konflik Iran dan Israel sudah berada pada level ancaman eksistensial. Dalam konsep keamanan ontologis (ontological security), kedua negara sulit merasa aman selama pihak lawan dianggap ancaman utama.
“Iran itu ancaman bagi Israel, Israel juga ancaman bagi Iran. Selama kamu ada, aku tidak akan merasa aman. Jadi konflik seperti ini akan terus ada karena persoalan keamanannya sudah pada level eksistensial,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kebuntuan negosiasi nuklir Iran dengan Washington yang terjadi sejak tahun lalu, hingga akhirnya memicu serangan terhadap fasilitas pengembangan nuklir Iran.
Presiden Donald Trump, menurut Dion, mempertimbangkan isu pengayaan nuklir serta ancaman terhadap sekutu AS di Timur Tengah, terutama Israel dan pangkalan militer Amerika. Meski situasi memanas, Dion meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan konflik tersebut akan berujung pada Perang Dunia Ketiga.
“Banyak informasi yang beredar itu harus dicek dan ricek lagi. Tidak bisa langsung disimpulkan akan menjadi Perang Dunia Ketiga karena proses menuju ke sana itu sangat kompleks,” pungkasnya.
Dion menegaskan eskalasi konflik saat ini masih berada dalam kerangka rivalitas regional, meski dampaknya bisa meluas ke sektor energi, pangan, dan stabilitas ekonomi global.