Unik dan Kreatif! KKN UMM Kolaborasikan Patrol Sahur dengan Kesenian Tradisional di Kampung Budaya Polowijen

INDOZONE.ID – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) membuat inisiatif kreatif Sahur On The Road (SOTR) di Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang. Alih-alih menggunakan pengeras suara atau musik modern, warga dibangunkan oleh kehadiran sosok penari Topeng Malangan yang melangkah anggun menyusuri gang-gang sempit pemukiman. Kegiatan yang berlangsung pada 20 Februari 2026 ini sengaja menggabungkan tradisi patrol sahur dengan sentuhan kesenian lokal untuk memberikan pengalaman yang berbeda bagi masyarakat. Iringan ritme kayu kentongan yang dipukul secara konsisten menjadi musik utama yang mengiringi gerak tari, menciptakan atmosfer sahur yang tidak hanya hidup, tetapi juga sarat akan makna budaya. Penggagas Kampung Budaya Polowijen, yang akrab disapa Ki Demang, memberikan apresiasi tinggi terhadap aksi tersebut. “Kegiatan ini menjadi pengalaman baru bagi warga. Selama ini belum pernah ada keliling kampung membangunkan sahur dengan iringan penari topeng seperti ini,” tuturnya. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa KKN UMM ini adalah bentuk nyata kepedulian generasi muda terhadap identitas lokal. Ki Demang menekankan bahwa budaya harus terus dihadirkan dalam ruang-ruang nyata agar tidak sekadar menjadi tontonan seremonial yang mulai terlupakan. Setelah berkeliling kampung, puncak acara berlanjut dengan pertunjukan Tari Topeng Malangan di sebuah lokasi yang disebut warga sebagai Pawon. Gerakan tari yang kuat dan berkarakter menjadi daya tarik utama sekaligus ruang edukasi bagi pemuda setempat mengenai warisan leluhur mereka. “Tari Topeng Malangan bukan hanya tontonan, tetapi warisan leluhur yang menyimpan nilai karakter dan jati diri masyarakat Malang. Begitu juga kentongan, bukan sekadar dipukul untuk membangunkan sahur, tetapi alat komunikasi warga yang memiliki makna sosial,” papar Ki Demang.
Ribuan mahasiswa UMM atasi persoalan desa pada KKN berdampak 2026

Komitmen menghadirkan pengabdian mahasiswa yang berdampak nyata terus diperkuat oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kampus inovasi yang mandiri dan berdampak, yang menempatkan kolaborasi ilmu pengetahuan, pemberdayaan masyarakat, serta solusi berkelanjutan sebagai bagian dari identitas pengembangan tridarma perguruan tinggi. Melalui semangat tersebut, UMM terus mendorong lahirnya program-program pengabdian yang tidak hanya responsif terhadap kebutuhan masyarakat, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan nyata dalam jangka panjang melalui inovasi mahasiswa. Tidak lagi sekadar menjalankan aktivitas rutin di desa, mahasiswa didorong menghasilkan karya inovatif serta solusi konkret atas berbagai persoalan masyarakat, mulai dari sektor pertanian, pariwisata, pendidikan hingga pemberdayaan sosial lintas negara. Hal tersebut terlihat dalam pameran produk dan inovasi mahasiswa KKN pada 25 Februari lalu yang menjadi rangkaian akhir program pengabdian tahun ini. Sebanyak 450 mahasiswa yang tergabung dalam 17 kelompok mempresentasikan berbagai hasil program yang lahir dari proses pendampingan langsung bersama masyarakat, termasuk satu kelompok yang menjalankan pengabdian internasional di Malaysia. Berbagai inovasi dan solusi nyata bagi masyarakat hadir melalui program KKN UMM, mulai dari optimalisasi sistem irigasi untuk membantu petani meningkatkan efisiensi distribusi air sekaligus menjaga produktivitas lahan melalui edukasi pengelolaan sumber daya air berbasis partisipasi warga. Di sektor pariwisata, mahasiswa turut menguatkan kembali eksistensi Kampung Warna-Warni Jodipan melalui pelatihan komunikasi bahasa asing dan pelayanan wisata bagi warga agar lebih siap menerima wisatawan mancanegara serta membuka peluang ekonomi baru. Pengabdian juga menjangkau tingkat internasional melalui pendampingan pendidikan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia (PMI) di Penang, Malaysia. Dengan membantu akses belajar, penguatan literasi dasar, motivasi pendidikan, hingga pelaksanaan kegiatan sosial kemasyarakatan sebagai wujud solidaritas dan pengabdian lintas negara. Wakil Rektor IV UMM, Prof. Dr. Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa konsep KKN Berdampak menjadi arah utama pengabdian mahasiswa setelah kampus kembali menghidupkan model KKN berbasis tinggal bersama masyarakat pascapandemi. “Program KKN harus memberi kontribusi yang tidak mungkin ada kalau mahasiswa itu tidak hadir. Jadi bukan sekadar kegiatan rutin seperti mengajar atau menjadi panitia kegiatan masyarakat, tetapi harus menghadirkan sesuatu yang baru,” ujarnya. Menurutnya, mahasiswa didorong menghadirkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat, baik melalui teknologi tepat guna, pengembangan metode pendidikan, hingga penguatan ekonomi lokal. Dampak program juga harus terukur sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Selain berdampak, keberlanjutan menjadi prinsip utama pelaksanaan KKN UMM. Kampus mulai menyusun data dasar sebagai baseline pengembangan desa agar program mahasiswa tidak berhenti setelah masa pengabdian selesai. “Minimal tiga sampai lima tahun ke depan kita ingin melihat perubahan nyata di lokasi KKN. Mahasiswa berikutnya tidak lagi memulai dari nol, tetapi melanjutkan solusi yang sudah dirintis sebelumnya,” tambahnya. Apresiasi juga datang dari pemerintah daerah. Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Malang, Dr. Ir. Ricky Meinardi, S.T., M.T., menyebut program KKN Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai model pengabdian yang mampu menghadirkan inovasi berkelanjutan. “Mahasiswa tidak hanya menjalankan program saja, tetapi memberikan berbagai inovasi yang positif dan solusi terhadap permasalahan di desa. Kami berharap kontribusi ini dapat terus berlanjut dan semakin berkembang di tahun-tahun mendatang,” ungkapnya. Ia juga berharap sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah semakin diperkuat agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas. “Kolaborasi antara pemerintah daerah dengan perguruan tinggi seperti UMM ini sangat penting. Harapannya kerja sama ini terus terjalin sehingga inovasi mahasiswa benar-benar mampu memberikan sumbangsih nyata, tidak hanya bagi masyarakat desa, tetapi juga bagi pembangunan Kabupaten Malang secara keseluruhan,” pungkasnya.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Mahasiswa KKN UMM Edukasi Siswa SDN 1 Bandungrejo, Usung Tema Cegah Bullying, Intoleransi, dan Bijak Bermedia Sejak Dini

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Mahasiswa KKN Kelompok 2 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi bidang pengabdian masyarakat di SD Negeri 01 Bandungrejo, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Pelaksanaan KKN UMM tersebut dijelaskan Koordinator KKN Kelompok 2 UMM, Ahmad Safandi, kemarin. Menurut Ahmad Safandi program kerja KKN Kelompok 2 UMM dilaksanakan Senin (9/2) 2026 hingga Jumat (13/2) 2026. Kegiatan ini difokuskan pada Sosialisasi Anti Bullying dan Intoleransi, sekaligus pendampingan berbagai aktivitas sekolah. Program kerja ini mengusung tema “Bersama Kita Saling Menghargai: Cegah Bullying, Intoleransi, dan Bijak Bermedia Sejak Dini.” Suasana penyampaian materi oleh mahasiswa KKN kelompok 2 UMM kepada siswa SDN 01 Bandungrejo, Bantur. Ahmad Safandi menjelaskan bahwa KKN kelompok 2 UMM ini terdiri dari 26 mahasiswa di bawah arahan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Yaris Adhial Fajrin, SH, MH. Program kerja tersebut dirancang sebagai langkah preventif dalam membangun karakter siswa agar memiliki sikap empati, toleransi, serta bijak dalam bersosial dan bermedia digital. Selama dua hari tersebut, kata Ahmad Safandi, mahasiswa KKN UMM melaksanakan sosialisasi inti Senin-Selasa (9-10/2) 2026. Pada hari pertama, mahasiswa KKN menyampaikan materi tentang bahaya bullying melalui pendekatan ceramah interaktif yang diselingi simulasi drama. Drama tersebut menggambarkan situasi perundungan di lingkungan sekolah beserta dampaknya terhadap korban. Sehingga siswa dapat memahami konsekuensi nyata dari perilaku tersebut. Suasana diskusi interaktif antara siswa SDN 01 Bandungrejo dengan mahasiswa KKN UMM. Menariknya, siswa SDN 01 Bandungrejo juga diajak berdiskusi dan refleksi bersama. Para siswa terlihat aktif menyampaikan pendapat dan pengalaman mereka, menunjukkan tingginya antusiasme terhadap materi yang diberikan. Pada hari kedua, materi membahas tentang intoleransi dan pentingnya menghargai perbedaan. Melalui diskusi kelompok (FGD), siswa diajak memahami bahwa perbedaan fisik, latar belakang keluarga, maupun kebiasaan bukanlah alasan untuk saling merendahkan. Mahasiswa KKN UMM juga menekankan pentingnya penggunaan media sosial secara bijak untuk mencegah cyber bullying sejak dini. Program kerja dilanjutkan tanggal (11-12/2) 2026, tambah Ahmad Safandi mahasiswa KKN UMM membantu kegiatan belajar mengajar di kelas. Mahasiswa mendampingi guru dalam proses pembelajaran serta memberikan motivasi kepada siswa. Bahkan mahasiswa KKN UMM ikut membantu pelaksanaan try out bagi siswa kelas VI. Mahasiswa KKN UMM membantu siswa melaksanakan try out ujian. Pendampingan tersebut dilakukan untuk memastikan kegiatan berjalan tertib dan lancar, sekaligus memberikan dukungan moral bagi siswa yang sedang mempersiapkan diri menghadapi ujian. Kontribusi lainnya, Ahmad Safandi mengungkapkan mahasiswa KKN UMM (13/2) 2026 mengantarkan serta mendampingi siswa mengikuti lomba paskibra di SMP Negeri 1 Pagak. Pendampingan ini menjadi wujud perhatian terhadap pengembangan bakat dan kedisiplinan siswa di luar kegiatan akademik. Kehadiran mahasiswa KKN UMM memberikan semangat tambahan bagi peserta lomba, sekaligus membantu kelancaran akomodasi selama kegiatan berlangsung. Akhir dari program kerja KKN UMM, dikatakan Ahmad Safandi Adalah penyerahan plakat dan cinderamata kepada Kepala SDN Bandungrejo 1 Bantur, Bapak Gatot Santoso. Hal ini sebagai tanda terima kasih dan kenang-kenangan, mahasiswa KKN Kelompok 2 UMM telah dizinkan berpartisipasi dalam edukasi tematik di SDN 01 Bandungrejo Bantur. Sementara itu, Kepala SD Negeri 01 Bandungrejo, Bapak Gatot Santoso dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas dedikasi mahasiswa selama satu pekan penuh. Program kerja KKN UMM memberikan nilai edukatif yang sangat berarti bagi siswa. “Kami merasakan manfaat yang besar dari kehadiran adik-adik mahasiswa KKN. Materi yang disampaikan sangat relevan dengan kebutuhan siswa saat ini. Semoga nilai-nilai tentang saling menghargai dan menjauhi perundungan benar-benar tertanam dalam diri anak-anak kami. Terima kasih atas kerja sama, bantuan pembelajaran, serta pendampingan siswa dalam kegiatan lomba di SMPN 1 Pagak,” tuturnya. (penulis: faisal muqorrobin)
Bikin Inovasi Cegah Komplikasi Kehamilan, Tim UMM Sabet Juara di Panggung Internasional

Langit Kuala Lumpur menjadi saksi langkah berani sekaligus bukti bahwa inovasi anak bangsa mampu bersaing di panggung dunia. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi internasional melalui gagasan riset berbasis teknologi kesehatan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Sebagai Kampus Inovasi, Mandiri, dan Berdampak, UMM terus menunjukkan komitmennya dalam melahirkan generasi unggul yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi persoalan global. Komitmen tersebut kembali terbukti melalui raihan Silver Medal kategori Health pada ajang 2nd International Student Competition (ISC) 2026 yang diselenggarakan di Universiti Putra Malaysia (UPM), Kuala Lumpur, Malaysia. Kompetisi ilmiah internasional yang digelar oleh Centre for Entrepreneurial Development and Graduate Marketability (CEM) UPM pada 14–15 Februari 2026 ini menjadi wadah kolaborasi riset dan inovasi kewirausahaan mahasiswa dari berbagai negara. Sebanyak 100 tim finalis dari delapan negara berhasil melaju ke babak akhir, yakni Indonesia, Malaysia, Kazakhstan, Nigeria, Suriah, Brunei Darussalam, Somalia, dan Thailand. Ketua tim UMM, Vera Miftakul Rahma Kamal, mahasiswa Program Studi Kedokteran, menjelaskan bahwa kompetisi tersebut melalui proses seleksi yang ketat. “International Student Competition atau ISC merupakan kompetisi ilmiah internasional yang dimulai dari seleksi abstrak, dilanjutkan pengiriman paper lengkap, hingga presentasi final secara langsung di hadapan dewan juri,” ujarnya. Tim UMM terdiri atas empat mahasiswa lintas disiplin ilmu, yakni Vera Miftakul Rahma Kamali (Kedokteran), Wildan Hidayatullah (Farmasi), Hawa Restu Dwinanta (Pendidikan Bahasa Inggris), serta Khoirul Umar (Ilmu Komunikasi). Mereka dibimbing oleh dr. Desy Andari, M.Biomed. Kolaborasi multidisipliner tersebut menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan inovasi yang tidak hanya kuat secara konsep ilmiah, tetapi juga matang dari sisi komunikasi, implementasi, hingga keberlanjutan. Pada kategori Health, tim menghadirkan inovasi “NEOSENTIA: Real Time Maternal Risk Detection and Prevention through Multilingual AI Guardian Driven System.” “Aplikasi ini kami rancang sebagai pendamping ibu hamil berbasis artificial intelligence yang terhubung langsung dengan tenaga kesehatan serta menggunakan pendekatan data ilmiah,” jelas Rahma sapaan akrabnya. NEOSENTIA merupakan sistem deteksi risiko maternal berbasis AI yang bersifat non-invasif dan dirancang untuk mendukung pemantauan mandiri selama masa kehamilan secara proaktif. Platform ini mengintegrasikan data perangkat wearable, laporan gejala dari pengguna, serta rekam medis elektronik sehingga mampu melakukan analisis risiko secara berkelanjutan. Melalui sistem tersebut, potensi komplikasi kehamilan dapat terdeteksi lebih dini sehingga tenaga kesehatan dapat memberikan intervensi secara tepat waktu. Desain multibahasa yang diusung juga memperluas akses penggunaan di berbagai wilayah dan latar belakang pengguna. Selain itu, sistem berbasis website memungkinkan tenaga medis memantau kondisi pasien secara terintegrasi dan real time. Inovasi ini dinilai relevan dengan upaya peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak, terutama dalam menekan risiko komplikasi kehamilan melalui pendekatan teknologi preventif. Bagi Rahma, pengalaman tampil di forum internasional memberikan pembelajaran penting tentang makna kompetisi yang sesungguhnya. “Kami belajar bahwa kompetisi bukan sekadar soal gengsi atau kemenangan, tetapi tentang keberanian keluar dari zona nyaman, bertukar perspektif dengan mahasiswa dunia, dan terus berkembang,” katanya. Di sisi lain, dosen pembimbing dr. Desy Andari, M.Biomed., menilai capaian tersebut menjadi bukti kesiapan mahasiswa UMM bersaing secara global sekaligus menunjukkan kualitas ekosistem akademik yang mendukung lahirnya inovasi berdampak. Ia berharap inovasi NEOSENTIA dapat terus dikembangkan menuju tahap implementasi nyata di layanan kesehatan serta dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional. Prestasi ini semakin memperkuat posisi kampus putih sebagai kampus inovasi, mandiri, dan berdampak yang konsisten mendorong kolaborasi lintas disiplin, riset aplikatif, serta keberanian mahasiswa untuk tampil dan memberi kontribusi nyata di level internasional. Melalui dukungan ekosistem pembelajaran yang adaptif dan berbasis solusi, UMM terus melahirkan inovator muda yang membawa gagasan lokal menuju manfaat global. (ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Diplomasi Tak Selalu Politik, Alumnus UMM Bangun Citra Indonesia Lewat Seni di Amerika Latin

Dari ruang kelas menuju panggung diplomasi internasional, perjalanan Noegroho Darmo Samodra membuktikan bahwa keberanian mengambil peluang dapat membuka jalan menuju karier global. Alumni Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2013 itu kini dipercaya mengemban tugas sebagai Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Quito, Ekuador. Kiprahnya menjadi salah satu gambaran nyata bagaimana UMM sebagai kampus inovasi, mandiri, dan berdampak terus melahirkan lulusan yang mampu berkontribusi di level internasional. Lingkungan akademik yang mendorong mahasiswa aktif berorganisasi, berpikir kritis, serta berani mencoba peluang baru menjadi bekal penting dalam perjalanan kariernya. Karier internasionalnya bermula pada 2020 ketika ia memberanikan diri mengikuti seleksi pegawai setempat di lingkungan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Berbekal kemampuan bahasa Spanyol, ia mengirimkan curriculum vitae dan mengikuti seluruh tahapan seleksi hingga akhirnya diterima dan ditempatkan di KBRI Santiago, Chile. Di sana, ia bertugas pada Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya dengan tanggung jawab mengelola informasi diplomatik sekaligus memperkuat citra Indonesia melalui pendekatan budaya dan pendidikan. Berbagai kegiatan diplomasi pun ia tangani, mulai dari konser gamelan, pertunjukan seni tari, hingga kolaborasi kerja sama antarperguruan tinggi Indonesia dan Amerika Latin. “Diplomasi tidak selalu berbicara soal politik. Lewat seni dan budaya, masyarakat bisa mengenal Indonesia lebih dekat. Dari situ hubungan antarnegara menjadi lebih hangat,” jelasnya 22 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Sejak masa kuliah, Noegroho menceritakan bahwa ia aktif mengembangkan kapasitas kepemimpinan melalui organisasi kemahasiswaan. Ia pernah menjabat sebagai Koordinator Olahraga, Seni, dan Budaya di BEM FISIP UMM sebelum dipercaya menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di BEM Universitas. “Pengalaman organisasi di kampus sangat membentuk cara saya bekerja sekarang. Saya belajar mengelola tim, berkomunikasi dengan banyak pihak, dan menghadapi berbagai tantangan,” ujarnya. Menurutnya, tantangan dunia kerja jauh berbeda dibanding masa kuliah. Jika tugas akademik berdampak pada individu, maka pekerjaan diplomatik membawa tanggung jawab yang lebih luas. “Setiap keputusan dalam pekerjaan bisa berdampak pada institusi bahkan negara. Karena itu saya belajar disiplin mengatur waktu antara pekerjaan, olahraga, dan istirahat,” katanya. Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah keterlibatan dalam proyek film kontemporer lintas negara yang menggunakan gamelan Indonesia sebagai soundtrack. Ia bahkan turut memainkan gamelan bersama musisi asal Chile. “Rasanya bangga ketika budaya Indonesia hadir dalam karya seni internasional. Di situ saya merasa benar-benar membawa identitas Indonesia,” kenangnya. Ia pun berpesan kepada generasi muda agar tidak takut mencoba peluang. “Membangun karier memang tidak mudah. Tapi kalau ada kesempatan, jalani saja. Kita tidak pernah tahu jalan ke depan seperti apa. Yang penting ikhtiar dulu,” tutupnya.(rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Faqih Ahmad Wafir Rahman
Dulu Aktivis UMM, Begini Kisah Mantan Menhan Timor-Leste Pulang ke Kampus Putih Rampungkan Doktoral

Perjalanan akademik Julio Tomas Pinto seolah kembali ke titik awal. Setelah lama berkecimpung di dunia politik dan pemerintahan Timor-Leste, ia kembali ke bangku kampus tempat masa mudanya ditempa, yakni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Di kampus itulah ia akhirnya meraih gelar doktor melalui riset tentang transformasi militer negaranya. Bagi Julio, UMM bukan sekadar tempat belajar. Ia menyebut kampus di Kota Malang itu sebagai rumah kedua yang membentuk perjalanan intelektual dan kepemimpinannya. “Saya sudah tahu tradisi akademik di kampus ini, jadi tidak ada alasan untuk tidak memilih UMM,” ujarnya 14 Februari lalu saat gala dinner dengan pimpinan UMM. Julio pertama kali datang ke Malang pada 1993 sebagai mahasiswa Ilmu Pemerintahan. Di masa itu, ia dikenal aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi. Aktivitas organisasi tersebut menjadi ruang belajar politik sekaligus kepemimpinan yang kelak membawanya masuk ke pemerintahan Timor-Leste. Setelah lulus pada 1998, Julio melanjutkan studi Magister Ilmu Politik di Universitas Indonesia. Minatnya pada isu pertahanan dan keamanan semakin kuat seiring perjalanan bangsanya menuju negara merdeka. Ia kemudian terlibat langsung dalam pemerintahan dan pernah dipercaya menjadi Menteri Muda Pertahanan. Kini ia juga menjabat penasihat Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta serta anggota Dewan Tinggi Pertahanan dan Keamanan. Meski aktif di dunia politik, Julio tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia akademik. Ia mengajar di beberapa universitas dan menulis sejumlah buku mengenai keamanan nasional serta hubungan sipil–militer. Kerinduan untuk kembali belajar akhirnya membawanya pulang ke UMM. Ia memilih menempuh program doktoral dengan fokus pada sosiologi militer di bawah bimbingan Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Julio ingin meneliti perjalanan militer negaranya sendiri, terutama transformasi pasukan gerilya FALINTIL menjadi angkatan bersenjata nasional Falintil–Forças de Defesa de Timor-Leste (F-FDTL). “Saya kembali ke UMM karena sudah mengenal kultur akademiknya. Selain itu, saya memang tertarik meneliti sosiologi militer dan ingin belajar langsung dari pak Muhadjir Effendy,” kata Julio. Dalam penelitiannya, ia menyoroti bagaimana profesionalisme militer dibangun dalam konteks negara kecil yang baru keluar dari konflik. Menurutnya, profesionalisme militer tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga merupakan praktik sosial yang dipengaruhi sejarah, budaya, serta relasi kekuasaan. “Tidak ada model transformasi profesionalisme militer yang tunggal. Negara kecil pascakonflik seperti Timor-Leste memiliki caranya sendiri dalam membangun tentara nasional,” jelasnya. Dari riset tersebut, Julio merumuskan konsep professionalismo militar híbrido, yakni model profesionalisme militer yang memadukan dimensi historis, politik, institusional, hingga relasi internasional. Selama penelitian, ia mengaku relatif mudah memperoleh data karena memiliki kedekatan dengan banyak tokoh penting di negaranya, termasuk Perdana Menteri Xanana Gusmão. Ujian doktornya di Malang pun terasa istimewa. Sejumlah pejabat tinggi Timor-Leste hadir menyaksikan sidang promosi tersebut. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan terhadap kontribusi akademik yang diharapkan bermanfaat bagi negara tersebut. Bagi Julio, gelar doktor bukan sekadar pencapaian pribadi. Ia berharap penelitian tersebut dapat memberikan kontribusi nyata bagi penguatan profesionalisme militer serta kebijakan keamanan di Timor-Leste. “Secara teoritik riset ini memperkaya kajian sosiologi militer, dan secara praktis bisa membantu reformasi sektor keamanan yang lebih sesuai dengan konteks sosial dan sejarah negara kami,” tutupnya.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Sensasi Berbuka di Atas Kapal Pesiar, Kapal Garden Hotel Malang by UMM Luncurkan “Ramadhan – Feast of Harmony

Berbuka puasa serasa berada di atas kapal pesiar menjadi daya tarik utama yang ditawarkan salah satu unit bisnis Universitas Muhammadiyah Malang, yakni Kapal Garden Hotel Malang by Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Ramadhan tahun ini. Hotel tersebut telah resmi meluncurkan menu buka puasa terbarunya dalam tajuk “Ramadhan – Feast of Harmony”. Mengusung konsep soft launching dan test food menu iftar. Acara ini dihadiri perwakilan instansi, mitra perbankan, pemerintah setempat, media, serta influencer yang turut menyaksikan dan mencicipi langsung sajian yang ditawarkan. Konsep kapal pesiar yang diangkat bukan sekadar dekorasi tematik. Secara arsitektural, Kapal Garden Hotel memang dirancang menyerupai kapal besar, sehingga identitas tersebut menjadi kekuatan utama dalam membangun pengalaman ruang bagi pengunjung. Sensasi berbuka di kapal pesiar semakin terasa karena kegiatan iftar dilangsungkan di area rooftop hotel. Dari ketinggian tersebut, tamu dapat menikmati panorama sekitar sembari merasakan hembusan angin yang cukup kencang, menciptakan suasana yang imersif layaknya berada di dek kapal. Penataan meja, tata cahaya, hingga alur penyajian menu dirancang selaras dengan konsep tersebut agar pengalaman berbuka tidak hanya soal rasa, tetapi juga atmosfer. Menu yang dihadirkan memadukan cita rasa lokal, nusantara, dan Timur Tengah. Sajian pembuka terdiri atas kurma, infus water, es dawet dengan santan premium, serta kolak pisang yang identik dengan Ramadan. Hidangan utama meliputi nasi putih, sup merah khas Surabaya, ayam bakar bumbu hitam berbahan kluwek khas Madura, bakso Malang, hingga mie ayam berkuah segar. Sentuhan Timur Tengah dihadirkan melalui signature Arus Briyani serta aneka gorengan dengan cocolan petis. Seluruh hidangan diperkenalkan melalui sesi live cooking bersama Chef Kusman yang menjelaskan bahan, teknik pengolahan, serta karakter rasa kepada para tamu undangan. Dalam sambutannya, Manager Kapal Garden Hotel Malang, Teguh Hadi Saputro, menyampaikan bahwa peluncuran menu iftar ini merupakan bagian dari komitmen hotel sebagai unit bisnis UMM untuk terus berinovasi dalam layanan hospitality. Ia menegaskan bahwa Ramadan menjadi momentum penting untuk menghadirkan pengalaman berbuka yang tidak hanya berorientasi pada sajian kuliner, tetapi juga pada nilai kebersamaan dan harmoni. Kehadiran para tamu undangan dinilainya sebagai bentuk dukungan strategis dalam memperkenalkan identitas Kapal Garden yang unik kepada masyarakat Malang Raya. “Pada Rabu, 11 Februari 2026 lalu, kami meluncurkan menu iftar dengan tema Ramadhan Feast of Harmony. Konsep ini kami angkat karena hotel kami memang berbentuk kapal, sehingga kami ingin menghadirkan pengalaman berbuka layaknya berada di kapal pesiar, terlebih lokasinya di rooftop yang memberikan suasana dan angin yang khas. Kami berharap momentum ini menjadi awal kolaborasi yang semakin baik, serta menjadikan Kapal Garden sebagai pilihan utama untuk berbuka puasa bersama keluarga, kolega, maupun komunitas,” ujarnya. Salah satu peserta yang hadir, Vivin Dwi Oktavia, mengaku konsep tersebut memberikan pengalaman berbeda dibandingkan tempat berbuka puasa lainnya di Malang. Menurutnya, perpaduan suasana rooftop dan bentuk bangunan yang menyerupai kapal menghadirkan kesan eksklusif sekaligus nyaman. “Menurut saya ini menarik sekali, karena belum ada di Malang yang konsepnya seperti makan di kapal pesiar. Tempatnya di rooftop, jadi anginnya terasa dan suasananya benar-benar berbeda. Makanannya juga enak dari awal sampai akhir. Yang paling saya suka mie ayamnya, karena kuahnya segar dan pas setelah seharian berpuasa,” ungkapnya. Melalui peluncuran “Ramadhan – Feast of Harmony” ini, Kapal Garden Hotel Malang menegaskan upayanya dalam mengintegrasikan identitas arsitektural dengan inovasi layanan kuliner. Dengan konsep tematik yang kuat serta pengalaman ruang yang khas, program iftar tersebut diharapkan mampu menjadi salah satu destinasi berbuka puasa yang berkesan di Malang Raya pada Ramadan tahun ini.(vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Solusi Sampah dari Kampus, Mesin Karya Dosen dan Mahasiswa Olah Limbah Harian

Sebagai kampus inovasi yang mandiri dan berdampak di tengah meningkatnya persoalan sampah dan krisis lingkungan, Universitas Muhammadiyah Malang menghadirkan langkah konkret melalui pembangunan sistem pengolahan sampah terpadu di Tempat Penampungan Sementara (TPS) kampus. Inisiatif ini tidak hanya menjadi upaya menjawab tantangan pengelolaan limbah, tetapi juga memperkuat komitmen kampus terhadap pembangunan berkelanjutan, target Sustainable Development Goals (SDGs), serta mendukung indikator penilaian UI GreenMetric World University Rankings. Program tersebut menghasilkan tiga unit mesin pengolahan sampah yang dirancang, diproduksi, dan diinstalasi secara terintegrasi oleh tim internal kampus. Berdasarkan laporan kegiatan, kampus putih dengan populasi sekitar 35.000 warga akademik menghasilkan sekitar 1,2 ton sampah setiap hari. Sampah tersebut terdiri atas plastik sebesar 45 persen atau sekitar 540 kilogram per hari, limbah organik terkontaminasi plastik sebanyak 360 kilogram (30 persen), serta limbah ranting mencapai 300 kilogram atau 25 persen. Sebelum proyek berjalan, TPS UMM hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan tanpa teknologi pengolahan, sehingga sebagian besar sampah masih bergantung pada proses pengangkutan keluar kampus. Ketua pelaksana proyek, Ir, Iis Siti Aisyah, ST., MT., PhD., IPM, mengatakan pembangunan sistem tersebut berawal dari kebutuhan kampus untuk menunjukkan pengelolaan lingkungan yang terukur dalam proses evaluasi GreenMetric. “Awalnya tim GreenMetric membutuhkan bukti bahwa kampus memiliki sistem pengolahan sampah yang nyata untuk mendukung akreditasi dan pemeringkatan lingkungan,” ujarnya 21 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Proyek ini dikerjakan oleh Professional Center Teknik Mesin (PROCENTM) UMM yakni unit profesional di bawah Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik yang biasa menangani proyek rekayasa industri, sertifikasi internasional, hingga kerja sama strategis dengan berbagai lembaga. Seluruh proses mulai dari desain teknik, manufaktur, hingga instalasi dilakukan oleh tim internal yang melibatkan dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa melalui skema pembelajaran berbasis proyek. “Semua desain kami kerjakan sendiri bersama tim Teknik Mesin. Unit ini memang dibentuk untuk mengerjakan proyek profesional sekaligus menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa agar terlibat langsung dalam pekerjaan industri,” kata Iis. Tiga alat utama yang dipasang meliputi mesin pencacah plastik berkapasitas 100–250 kilogram per jam yang mampu menghasilkan serpihan berukuran 5–10 milimeter untuk meningkatkan nilai jual limbah botol plastik, mesin pencacah ranting berkapasitas hingga 300–500 kilogram per jam yang menghasilkan serbuk biomassa sebagai bahan media tanam atau kompos, serta alat pemisah sampah organik berbasis sensor inframerah dengan efisiensi pemilahan mencapai 90–92 persen. Sistem tersebut dirancang sebagai alur pengolahan terpadu. Sampah campuran dari kantin maupun aktivitas kampus dapat dimasukkan langsung bersama kantong plastiknya ke mesin pemilah. Plastik ringan akan terlempar ke bagian belakang, sementara sisa makanan dan limbah organik mengalir ke bagian depan untuk proses lanjutan. Lebih jauh, Iis menjelaskan bahwa tim perancang menyiapkan konsep pengembangan menuju zero waste. Limbah organik cair direncanakan dialirkan secara gravitasi menuju toren fermentasi karena posisi TPS berada di area lereng, sehingga tidak membutuhkan pompa tambahan. “Kami ingin sistem ini benar-benar zero waste. Limbah organik nantinya bisa difermentasi menjadi biogas. Tekanan gasnya bisa diteliti mahasiswa, bahkan dimanfaatkan sebagai bahan bakar insinerator kecil,” jelasnya. Ke depan, sistem pengolahan sampah terpadu ini diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas teknis, tetapi juga pusat edukasi lingkungan dan inovasi riset berkelanjutan. Optimalisasi operasional, peningkatan pasokan sampah organik, serta keterlibatan mahasiswa dalam penelitian biogas dan daur ulang diyakini mampu mendorong lahirnya solusi baru berbasis teknologi tepat guna. Dengan pengembangan berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor, fasilitas ini berpotensi menjadi model pengelolaan sampah kampus yang mandiri, efisien, sekaligus menginspirasi institusi pendidikan lain untuk bergerak menuju masa depan yang lebih hijau dan minim limbah.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
UMM Sulap SOTR Jadi Ajang Pelestarian Budaya Malang, Bukan Sekadar Bangunkan Sahur

pwmu.co – Suara kentongan yang saling bersahutan memecah keheningan dini hari di Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang.Di sela irama kayu yang dipukul ritmis, seorang penari Topeng Malangan berjalan menyusuri gang-gang kampung untuk membangunkan warga sahur dengan cara yang unik. Inilah konsep berbeda Sahur On The Road (SOTR) yang digagas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada 20 Februari 2026. Berbeda dari patroli sahur yang lazim menggunakan pengeras suara atau konvoi kendaraan, UMM memadukannya dengan unsur budaya lokal. Kentongan dijadikan alat utama, sementara penari Topeng Malangan tampil sebagai representasi identitas kampung. Kolaborasi ini menghadirkan suasana sahur yang lebih semarak sekaligus sarat nilai tradisi. Penggagas Kampung Budaya Polowijen, yang dikenal sebagai Ki Demang, menyebut kegiatan tersebut sebagai pengalaman baru bagi warga. Ia mengungkapkan bahwa baru kali ini sahur dibangunkan dengan iringan penari topeng berkeliling kampung. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar memeriahkan Ramadan, tetapi juga bentuk kepedulian mahasiswa terhadap pelestarian identitas budaya. Tradisi, kata dia, perlu dihadirkan dalam ruang-ruang aktual agar tetap hidup dan tidak berhenti sebagai seremoni semata. Usai berkeliling, acara dilanjutkan dengan pertunjukan Tari Topeng Malangan di titik kampung yang disebut Pawon. Tarian dengan karakter topeng yang kuat tersebut menjadi puncak rangkaian kegiatan sekaligus sarana edukasi budaya bagi mahasiswa dan generasi muda. Ki Demang menegaskan bahwa Tari Topeng Malangan merupakan warisan leluhur yang mengandung nilai karakter dan jati diri masyarakat Malang. Begitu pula kentongan yang memiliki fungsi sosial sebagai alat komunikasi warga. Ketika keduanya dipadukan dalam patroli sahur, menurutnya, tercipta kontribusi bermakna bagi pelestarian budaya. Sementara itu, Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom, menjelaskan bahwa konsep SOTR tahun ini memang dirancang sebagai kolaborasi sosial dan kultural. Mahasiswa KKN diarahkan untuk membangun kedekatan dengan masyarakat berbasis kearifan lokal, tidak sekadar menjalankan kegiatan berbagi. Ia menambahkan, pengangkatan Tari Topeng dalam momentum sahur tidak hanya mempertegas identitas budaya, tetapi juga menghadirkan pengalaman spiritual yang menyatu dengan tradisi. Kentongan dimaknai sebagai simbol solidaritas, sedangkan tari topeng merepresentasikan warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat. Kegiatan kemudian ditutup dengan sahur bersama yang didukung Hotel Kapal Garden dan Sengkaling Kuliner. Mahasiswa dan warga duduk bersama menikmati hidangan, menciptakan suasana hangat penuh kebersamaan. Momen tersebut menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah personal, melainkan juga ajang mempererat hubungan sosial. Melalui inisiatif ini, UMM menunjukkan bahwa gerakan sosial mahasiswa dapat berjalan selaras dengan upaya pelestarian budaya. Patroli sahur tidak lagi sekadar tradisi membangunkan warga, tetapi menjadi medium menjaga identitas lokal. Di Polowijen, bunyi kentongan dan gerak topeng bukan hanya simbol, melainkan denyut kebersamaan yang kembali dihidupkan.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim
Mau Daftar Beasiswa Prestasi UMM 2026? Cek Syarat Resminya

RADAR MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang merupakan Perguruan Tinggi Swasta di Indonesia yang berdiri sejak 1964 saat masih menjadi cabang dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, tetapi setelah berdiri sendiri Universitas Muhammadiyah Malang berdiri pada tanggal 1 Juli 1968. Kampus utama Universitas Muhammadiyah Malang terletak di Kota Malang, tepatnya berlokasi di Jl. Raya Tlogomas No. 246, Malang. Universitas Muhammadiyah Malang selalu memiliki banyak peminat setiap tahunnya, memungkinkan akibat penawaran yang diberikan Universitas Muhammadiyah Malang mengenai kombinasi antara kualitas pengajaran dan reputasi yang baik. Universitas Muhammadiyah Malang merupakan salah satu kampus swasta terbaik dengan akreditasi A. Penawaran yang diberikan banyak menarik pendaftar setiap tahunnya. Perguruan Tinggi Swasta pada umumnya memiliki biaya yang lebih mahal dibandingkan Perguruan Tinggi Negeri, tetapi dengan penawaran yang diberikan Universitas Muhammadiyah Malang banyak calon mahasiswa yang berminat untuk melanjutkan studi di Universitas Muhammadiyah Malang. Di sisi lainnya, banyak calon mahasiswa yang ingin melanjutkan studi di Perguruan Tinggi Swasta tetapi terkendala biaya. Mahasiswa tidak perlu risau soal biaya. Universitas Muhammadiyah Malang menawarkan beberapa program beasiswa. Program beasiswa dapat membantu mengurangi beban finansial, meningkatkan aksesibilitas pendidikan tinggi, serta mendukung pemerataan kesempatan belajar bagi mahasiswa berprestasi atau kurang mampu secara ekonomi. Universitas Muhammadiyah Malang menawarkan program beasiswa, salah satunya beasiswa prestasi. Jalur prestasi dibuka untuk semua fakultas kecuali Fakultas Kedokteran dan Farmasi. Beasiswa jalur prestasi yang diselenggarakan terdiri dari dua jalur, yaitu prestasi akademik yang diperuntukkan kepada siswa yang memiliki nilai rata-rata rapor 80 untuk semua program studi, kecuali Psikologi yang memiliki minimal 8,5 sejak semester 1–5. Selain itu, jalur prestasi lainnya merupakan jalur prestasi yang diperuntukkan kepada mahasiswa yang memiliki prestasi di bidang olahraga, seni, karya ilmiah, pengurus organisasi, keagamaan, serta influencer. Untuk mengetahui pendaftaran, simak syarat yang telah ditentukan oleh Universitas Muhammadiyah Malang. Informasi ini dilansir melalui website resmi UMM melalui laman pmb.umm.ac.id: Syarat Pendaftaran Jalur Beasiswa Prestasi Akademik dan Nonakademik Terdapat 6 syarat yang harus dipenuhi calon pendaftar beasiswa prestasi akademik dan nonakademik Universitas Muhammadiyah Malang. Calon pendaftar mengunggah foto nilai rapor semester 1–5 menjadi 1 file dalam bentuk PDF bagi beasiswa prestasi akademik. Fotokopi piagam maupun sertifikat yang dimiliki dengan minimal tingkat kota atau kabupaten yang telah dilegalisasi oleh kepala sekolah atau pengurus daerah/klub, syarat tersebut diperuntukkan kepada pendaftar jalur nonakademik. Surat keterangan dokter bahwa tidak memiliki riwayat buta warna bagi program studi Biologi, Matematika, dan PGSD. Khusus program studi D3 Ilmu Keperawatan dan Fisioterapi memiliki persyaratan antara lain tinggi badan laki-laki minimal 155 cm dan perempuan 150 cm serta tidak memiliki riwayat tuna fisik. Hasil seleksi jalur prestasi akademik dan nonakademik dapat dilihat melalui laman online.umm.ac.id secara berkala setelah proses validasi dari tim seleksi. Menjalani tes kesehatan di Rumah Sakit UMM atau menunjukkan hasil tes kesehatan dari Rumah Sakit Pemerintah Daerah setempat atau Rumah Sakit Muhammadiyah. Biaya bukanlah faktor utama untuk gagal melanjutkan ke perguruan tinggi. Banyak perguruan tinggi negeri maupun swasta menyediakan program beasiswa, salah satunya Universitas Muhammadiyah Malang. Universitas Muhammadiyah Malang menyediakan program beasiswa untuk membantu calon mahasiswa yang terkendala biaya dan memiliki prestasi untuk tetap melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.