UMM Buka Beasiswa Khusus Aktivis Kampus 2026, Resmi dan Bebas UKT!

inikata – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengambil langkah nyata untuk menghapus pandangan negatif yang selama ini melekat pada aktivis kampus. Banyak pihak selama ini menilai bahwa aktif berorganisasi hanya menghabiskan waktu dan berisiko menghambat masa studi mahasiswa. Untuk mematahkan anggapan tersebut, Kampus Putih berencana memberikan apresiasi tinggi bagi para penggerak organisasi. Bentuk dukungannya mencakup skema beasiswa khusus serta pengakuan resmi sebagai mahasiswa berprestasi. Transformasi Paradigma Aktivis Kampus Rencana besar ini disampaikan dalam forum Dialektika Kampus Putih yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM pada Sabtu (4/4/2026). Acara yang berlangsung di Convention Hall Sengkaling Kuliner ini menjadi momentum menggembirakan bagi ratusan fungsionaris organisasi mahasiswa. Wakil Rektor III UMM, Nur Subeki, menyatakan komitmen penuh universitas untuk mengubah cara pandang terhadap para aktivis. Ia menegaskan bahwa kontribusi mahasiswa di berbagai organisasi merupakan aset penting bagi reputasi universitas. Pihak kampus saat ini sedang menyempurnakan mekanisme pemberian beasiswa bagi mahasiswa yang aktif di ormawa. Tujuannya agar para aktivis tidak hanya unggul secara manajerial, tetapi juga mendapatkan dukungan finansial yang memadai. Cakupan organisasi mahasiswa yang menjadi perhatian dalam kebijakan ini antara lain: Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di tingkat universitas maupun fakultas. Senat Mahasiswa sebagai lembaga legislatif kampus. Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) yang fokus pada pengembangan program studi. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sebagai wadah minat dan bakat mahasiswa. Dukungan ini membuktikan bahwa peran aktif dalam organisasi kini setara dengan prestasi akademik lainnya. Mahasiswa akan merasa lebih dihargai karena dedikasi mereka mendapatkan tempat istimewa di mata pihak rektorat. Pendampingan dan Penguatan Kapasitas Selain bantuan finansial, UMM berkomitmen untuk memberikan fasilitas pendampingan secara berkelanjutan. Kampus akan mengawal setiap inisiatif, termasuk Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa). Pendampingan tersebut dimulai sejak tahap perencanaan program hingga pelaksanaan di lapangan. Upaya ini dilakukan agar setiap kegiatan yang dijalankan mahasiswa dapat berjalan efektif dan memberikan dampak nyata. Presiden Mahasiswa UMM, Wahyuddin Fahrurrijal, menyambut baik kebijakan strategis ini. Menurutnya, langkah tersebut merupakan solusi atas kegelisahan mahasiswa yang seringkali bingung membagi waktu antara akademik dan organisasi. Dampak positif yang diharapkan dari kebijakan baru ini meliputi: Meningkatnya minat mahasiswa untuk aktif dalam kegiatan organisasi. Berkurangnya kendala finansial bagi mahasiswa yang fokus mengabdi di kampus. Pengembangan soft skill kepemimpinan yang lebih terarah dan profesional. Meningkatnya integritas dan kemandirian mahasiswa sebelum terjun ke dunia kerja. Wahyuddin menambahkan bahwa organisasi memberikan kemampuan yang tidak diajarkan secara formal di ruang kelas. Beasiswa ini menjadi angin segar bagi pengurus organisasi untuk terus berkarya tanpa harus mengorbankan pendidikan mereka. Siti Aminah, salah satu perwakilan UKM, juga menyampaikan rasa syukurnya atas kebijakan tersebut. Ia merasa status “pejuang di balik layar” yang sering disematkan kepada aktivis kini telah mendapatkan validasi resmi. Kebijakan ini menjadi bukti bahwa UMM memandang prestasi secara luas dan inklusif. Prestasi tidak lagi hanya diukur dari angka-angka pada Kartu Hasil Studi (KHS), melainkan juga dari kepemimpinan dan dedikasi mahasiswa. Melalui dukungan penuh ini, para aktivis UMM diharapkan mampu bertransformasi menjadi pemimpin masa depan yang kompeten. Mereka dipersiapkan untuk lulus sebagai sarjana yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan keterampilan sosial.

Sejumlah Kepala Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Lamongan Antusias Ikuti Seminar Nasional Pendidikan Inklusi di UMM

MALANG lintasjatimnews – Sejumlah Kepala Sekolah dan Madrasah di bawah naungan Muhammadiyah Kabupaten Lamongan tampak antusias menghadiri “Seminar Nasional: Inovasi Literasi Akademik bagi Pendidikan Inklusi di Era Digital”. Acara bergengsi ini diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (23/5/2026), di Gedung GKB IV, Lantai 9. Kehadiran para pendidik dari Lamongan tersebut juga didampingi langsung oleh Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Lamongan, Muhammaf Said, S.Pd., M.Pf. Kehadiran peserta dari Lamongan yang didominasi peserta dari Cabang Muhammadiyah Paciran menunjukkan tingginya minat para praktisi pendidikan dalam mengembangkan kompetensi mereka, khususnya terkait isu inklusivitas dan transformasi digital. Seminar yang merupakan hasil kolaborasi antara Program Pascasarjana Prodi Psikologi UMM, Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jatim, serta Penerbit Erlangga ini, menghadirkan narasumber tingkat nasional. Sebagai pembicara kunci, hadir Moch. Abduh, MS.Ed., Ph.D., Staf Ahli Kemendikdasmen RI Bidang Teknologi Pendidikan, yang mewakili Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang berhalangan hadir. Selain Moch. Abduh, seminar ini juga diisi oleh Prof. Dr. Khozin, M.Si. yang membahas arah kebijakan penguatan layanan pendidikan inklusif di Jawa Timur, Prof. Ni’matuzahroh, S.Psi., M.Si., Ph.D. dengan materi sistem layanan digital berbasis ekosistem Muhammadiyah, serta Dr. Suharsiwi, S.Pd., M.Pd. yang menekankan pentingnya kolaborasi guru dan orang tua. Apresiasi Tinggi Peserta Salah satu peserta, Kepala Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) 16 Karangasem Paciran, Lamongan, Ni’ayah Arif, S.Pd. memberikan kesan positif terhadap penyelenggaraan acara tersebut. Ia mengungkapkan apresiasi yang tinggi atas materi-materi berbobot yang disampaikan oleh para pakar. “Materi yang disampaikan dari beberapa pemateri hebat sangat bermanfaat. “Saya mendapatkan wawasan baru tentang pentingnya pemanfaatan teknologi digital, serta bagaimana menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan ramah anak bagi semua siswa,” ujarnya. Baginya, seminar ini menjadi sumber inspirasi bagi para pendidik untuk terus berinovasi dalam pembelajaran agar mampu mengikuti perkembangan zaman. Ia merasa termotivasi untuk menciptakan suasana madrasah yang nyaman dan mengembirakan bagi murid saat hadir di sekolah. Harapan Keberlanjutan Program Kepala MIM 16 Karangasem juga menyampaikan pesan agar kegiatan semacam ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan karena dampaknya yang signifikan bagi dunia pendidikan. “Semakin banyak lahir ide, kolaborasi, serta inovasi demi terwujudnya pendidikan yang berkemajuan. Dengan cinta belajar, insyaallah pengalaman akan bertambah. Kemauan dan kemampuan menjadi modal utama untuk kemajuan,” tandasnya. Sementara itu, keikutsertaan Ketua Majelis Dikdasmen PDM Lamongan, dinilai sangat memotivasi bagi kepala-kepala madrasah yang hadir. Kehadirannya tidak hanya untuk mensukseskan acara, tetapi juga sebagai bentuk tholabul ilmi (mencari ilmu) bersama demi kemajuan pendidikan di Lamongan. Melalui forum ini, diharapkan terjadi sinergi kuat antara kebijakan pemerintah, inovasi teknologi, dan peran aktif masyarakat dalam mewujudkan pendidikan inklusif yang berkualitas di era digital, khususnya bagi jaringan pendidikan Muhammadiyah di Jawa Timur

Mengapa Lowokwaru dan Blimbing Selalu Jadi Incaran?

MALANG POST – Skemanya selalu sama: lengah sedikit, motor amblas. Atau, jempol terlalu lincah di layar ponsel, tabungan ludes dikuras penipu siber. Dua momok inilah—pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dan penipuan online—yang hingga hari ini masih merajai angka kriminalitas di Kota Malang. Kenyataan pahit mengenai situasi keamanan di Kota  Pendidikan ini dibongkar oleh KBO Satreskrim Polresta Malang Kota, IPDA Galih Mohamad Hamdan, dalam talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM pada Sabtu (23/5/2026) hari ini. Ipda Galih memetakan dua wilayah yang paling merah: Kecamatan Lowokwaru dan Kecamatan Blimbing. Dua daerah itu adalah magnet. Gudangnya mahasiswa dan perumahan padat. Sayangnya, bagi para pelaku kejahatan, dua wilayah ini juga merupakan ladang perburuan paling empuk. “Para pelaku ini sangat pintar membaca situasi. Mereka memanfaatkan kelengahan warga dan minimnya pengawasan di lingkungan permukiman,” ujar IPDA Galih. Kepolisian sebenarnya tidak tinggal diam. Sejumlah sindikat pencuri kendaraan lintas kota sudah berhasil digulung. Pelakunya dijebloskan ke sel. Namun, ibarat patah tumbuh hilang berganti, pelaku baru selalu muncul. Pendidikan Itulah mengapa Polresta Malang Kota kini mengubah strategi. Tidak hanya menunggu laporan di balik meja, polisi mulai gencar melakukan patroli malam, pemetaan wilayah rawan, hingga edukasi hukum ke tingkat rukun tetangga. “Kuncinya ada di kewaspadaan bersama. Polisi tidak bisa melototi setiap gang 24 jam. Masyarakat harus aktif lagi menjaga lingkungannya,” tegas Galih. Tuntutan Bergaya di Era Digital Mengapa kriminalitas jalanan tak pernah mati? Mengapa justru makin subur? Wakil Dekan II FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Luluk Dwi Kumalasari, yang juga hadir dalam diskusi tersebut, melihat ada pergeseran motivasi yang mengerikan. Kejahatan zaman sekarang sudah berevolusi. Semakin terorganisir. Mereka memanfaatkan kemudahan akses digital untuk melancarkan aksi tipu-tipu. Ada yang lebih membuat miris: pelakunya mulai banyak melibatkan usia remaja. Anak-anak muda. “Ini bukan lagi sekadar urusan perut atau faktor ekonomi klasik. Pola kejahatan saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan tekanan gaya hidup,” analisis Luluk. Anak muda zaman sekarang menghadapi tekanan sosial yang berbeda. Ada tuntutan untuk tampil modis. Tampil ada di media sosial. Ketika lingkungan pergaulan menuntut standar tinggi, sementara pendidikan dasar dan modal ekonomi tidak memadai, jalan pintas pun diambil. Moralitas dikesampingkan. Bagi Luluk, urusan ini sudah masuk fase lampu kuning. Mengatasinya tidak bisa lagi hanya mengandalkan borgol dan pistol polisi. “Harus ada kolaborasi total. Kampus, keluarga, aparat keamanan, dan masyarakat harus bersatu. Edukasi moral dan kesadaran hukum harus disuntikkan kembali ke kepala anak-anak muda kita. Pengawasan lingkungan juga jangan sampai kendor,” pungkas Luluk. Kota Malang ini terlalu indah untuk dinodai oleh ketakutan kehilangan sepeda motor di teras rumah sendiri. Panduan Kota & Daerah Polisi sudah memetakan wilayahnya, akademisi sudah membaca akarnya. Sekarang, tinggal bagaimana warga Malang merapatkan barisan di pos ronda dan menjaga jempolnya di dunia maya. (Nurul Fitriani/Ra Indrata)

Sineas Muda UMM Tampilkan Dua Film Pendek Penuh Pesan Sosial di Rumah Budaya Ratna

Malang, Tugumalang.id – Dukungan terhadap sineas muda Tanah Air kembali terlihat melalui acara pemutaran film bertajuk Kamisan: Warisan Abadi yang digelar di Rumah Budaya Ratna pada Rabu (21/5/2026). Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB tersebut menjadi ruang apresiasi karya bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang dalam praktikum Content Provider and Publisher. Dalam kegiatan tersebut, dua film pendek ditayangkan, yakni “Ater-Ater” karya Dwara Sinema dan “A Pain Thing: Gemurat Dalam Senyap” karya Javania Creative Noesantara. Kedua film hadir dengan tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan anak muda, mulai dari tradisi budaya hingga persoalan emosional yang sering dipendam sendiri. Film “Ater-Ater” Angkat Tradisi Jawa dan Nilai Kebersamaan Film pertama, “Ater-Ater”, ditulis oleh Zalva Alivia Yasmin dan terinspirasi dari pengalaman pribadinya. Film ini mengangkat tradisi Jawa ater-ater, yakni kebiasaan berbagi atau mengantarkan makanan kepada kerabat maupun tetangga sebagai bentuk menjaga hubungan sosial dan kebersamaan. Situs & Bangunan Bersejarah Cerita berfokus pada seorang perempuan yang pulang ke kampung halamannya, tetapi merasa enggan mengikuti tradisi tersebut. Pandangannya perlahan berubah setelah bertemu dengan seorang pemuda bernama Rangga. Dengan sentuhan romansa ringan, film ini menunjukkan bahwa ater-ater bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan bagian dari nilai kehidupan masyarakat yang mampu mempererat hubungan antarmanusia. Menariknya, karya tersebut awalnya dikembangkan dalam bentuk dokumenter sebelum akhirnya diadaptasi menjadi film pendek fiksi untuk kebutuhan praktikum kampus. “A Pain Thing: Gemurat Dalam Senyap” Soroti Kesehatan Mental Anak Muda Sementara itu, film kedua berjudul “A Pain Thing: Gemurat Dalam Senyap” mengangkat isu kesehatan mental dan pentingnya memiliki ruang untuk bercerita. Film ini berkisah tentang Rendra, seorang pelukis yang mengalami tekanan batin ketika menerima pesanan lukisan keluarga. Kegelisahan yang dipendam membuat hubungannya dengan sang kekasih, Putri, ikut terdampak karena Rendra memilih menutup diri. Konflik berkembang ketika Rendra akhirnya mengungkapkan bahwa dirinya merasa tidak mendapatkan pengakuan dari orang tuanya atas profesi yang dijalani. Namun, Putri mencoba meyakinkannya bahwa melukis tetap merupakan pekerjaan yang layak dan berarti. Dukungan tersebut membuat Rendra perlahan berani menyelesaikan pesanannya sekaligus membuka kembali komunikasi dengan keluarganya. Sutradara film “A Pain Thing: Gemurat Dalam Senyap”, Shaggil Mahara, mengatakan bahwa film tersebut lahir dari keresahan terhadap banyaknya orang yang tidak memiliki tempat untuk menceritakan luka dan masalahnya. “Tapi sejatinya manusia butuh tempat untuk bercerita,” kata Shaggil Mahara. Ia berharap film tersebut dapat diputar di lebih banyak tempat agar pesan yang dibawa bisa menjangkau masyarakat luas. Menurutnya, meningkatnya kasus menyakiti diri sendiri hingga mengakhiri hidup berkaitan dengan minimnya ruang aman untuk berbagi cerita dan emosi. Melalui film ini, penonton diharapkan lebih berani membuka diri kepada orang-orang terdekat dan terpercaya, karena bercerita dapat menjadi langkah awal untuk mencari solusi. Antusiasme Penonton Hidupkan Suasana Pemutaran Film Acara pemutaran film berlangsung meriah dengan antusiasme penonton yang memenuhi area Rumah Budaya Ratna. Selain sesi pemutaran film, panitia juga menghadirkan berbagai kegiatan interaktif seperti ice breaking, diskusi, dan tanya jawab bersama para pembuat film. Suasana semakin hangat ketika penonton mendapatkan konsumsi berupa ater-ater setelah penayangan film pertama, selaras dengan tema budaya yang diangkat. Kehadiran photobooth di area acara juga menjadi daya tarik tersendiri untuk mengabadikan momen bersama para pengunjung dan sineas muda yang terlibat. Acara pemutaran film ini tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga wadah apresiasi bagi karya sineas muda Tanah Air. Melalui tema-tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat, Kamisan: Warisan Abadi menunjukkan bahwa karya mahasiswa mampu menghadirkan pesan sosial dan budaya yang relevan. Kehadiran acara seperti ini diharapkan dapat terus mendukung perkembangan industri kreatif sekaligus membuka lebih banyak ruang bagi anak muda untuk berkarya dan menyampaikan cerita mereka kepada publik.

Bangun Kesadaran Ekologi Sejak Dini, Riset Dosen UMM Latih Siswa SD Kelola Sampah

MALANG POST – Ancaman krisis iklim dan darurat penumpukan sampah di Kabupaten Malang menuntut solusi berbasis riset yang komprehensif. Menjawab tantangan tersebut, Dosen sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Beti Istanti Suwandayani, S.Pd., M.Pd., memimpin riset edukasi ekologi. Panduan Kota & Daerah Sasarannya siswa Sekolah Dasar (SD). Bahkan sukses menyisihkan ribuan proposal dalam ajang pendanaan bergengsi tingkat nasional pada program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek ) yang diselenggarakan dan diberikan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Penelitian ini bermula dari analisis tajam Beti terhadap kondisi kelestarian lingkungan dan minimnya literasi ekologi pada anak usia dini. Ia menyoroti bagaimana volume sampah yang terus melonjak setiap tahun di Kabupaten Malang. Ternyata berbanding terbalik dengan penerapan edukasi sistematis di bangku sekolah dasar, sehingga menimbulkan ancaman bagi kesehatan masyarakat. “Sekarang ini produksi sampah di Kabupaten Malang terus meningkat dari tahun ke tahun. Sementara edukasi pengolahan sampah yang sistematis di sekolah dasar masih sangat minim. Karena itu, melalui riset ini, kami ingin memulai dari pendidikan dasar agar menjadi pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya. Panduan & Petunjuk Perjalanan Dalam desain penelitiannya, Beti tidak bekerja sendiri, melainkan menggandeng tim lintas disiplin dari program studi Matematika, Teknik Mesin, hingga Biologi. Riset ini mengaplikasikan metode living lab. Sebuah pendekatan saintifik yang tidak sekadar berfokus pada pemahaman teoretis. Tetapi memfasilitasi siswa mempraktikkan langsung proses memilah, mendaur ulang, hingga mengolah sampah menjadi produk bermanfaat. Menurutnya, inovasi metode riset ini merupakan wujud nyata langkah mitigasi krisis ekologi di sektor pendidikan. “Harapan kami, penelitian ini bisa berdampak jangka panjang untuk mengarahkan dan juga memberikan kontribusi nyata terhadap mitigasi climate change yang memang menjadi fokus kita bersama,” paparnya. Penelitian berskala besar yang turut melibatkan mahasiswa ini akan dijalankan selama satu tahun melalui delapan tahapan komprehensif, mulai dari analisis awal, pembuatan purwarupa, hingga diseminasi hasil. Didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Majelis Dikdasmen Kabupaten Malang, riset ini menjadikan tiga SD Muhammadiyah di Kepanjen, Karangploso, dan Tumpang sebagai pilot project. Capaian lolos pendanaan yang diraih tim peneliti UMM ini menjadi bukti kualitas riset di tengah seleksi yang sangat kompetitif. “Persaingan dalam program pendanaan ini sangat ketat, dari total 8.951 akun pendaftar, hanya 122 program yang dinyatakan lolos. Kami berharap luaran riset ini mampu meningkatkan keterampilan pengolahan sampah siswa secara terukur dan secara efektif membantu sekolah menekan timbunan sampah ke TPA,” ungkapnya. Riset ini semakin menegaskan posisi UMM sebagai kampus yang tidak hanya unggul dalam kajian teoretis, tetapi juga adaptif merumuskan produk penelitian untuk merespons isu global. Ke depannya, model penelitian pendidikan lingkungan berbasis living lab ini, diharapkan dapat direplikasi oleh berbagai institusi lain, guna mencetak generasi masa depan yang tanggap secara ekologis dan terbiasa dengan gaya hidup berkelanjutan.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi) Panduan Kota & Daerah

Sambut Gen 26, UTBK Kedokteran dan Farmasi UMM Padukan Pengamanan Ketat dan Fun Games

  pwmu.co – Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Fakultas Kedokteran dan Farmasi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun ini menghadirkan suasana berbeda.Jika biasanya ujian identik dengan ketegangan, UMM justru menghadirkan atmosfer yang lebih ramah dan menyenangkan bagi para peserta. Pada pelaksanaan UTBK yang digelar 21–23 Mei 2026 tersebut, Kampus Putih menyambut lebih dari 1.000 calon mahasiswa baru yang memperebutkan kursi Gen 26. Sambut Gen 26, UTBK Kedokteran dan Farmasi UMM Padukan Pengamanan Ketat dan Fun Games Salah satu daya tarik yang dihadirkan yakni keberadaan Mobil Kamis Membaca (KaCa), kendaraan edukasi multifungsi yang menyediakan berbagai bahan bacaan sekaligus area hiburan ringan bagi peserta usai mengikuti ujian. Kehadiran Mobil KaCa berhasil mencairkan suasana tegang para peserta melalui berbagai fun games dan aktivitas kreatif. Tingginya minat terhadap program studi kesehatan di UMM terlihat dari asal peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, terdapat peserta yang datang langsung dari Papua untuk mengikuti seleksi masuk Fakultas Kedokteran dan Farmasi UMM. Usai menyelesaikan ujian, peserta diajak bersantai di area Mobil KaCa melalui berbagai permainan berhadiah serta aktivitas kreatif seperti pembuatan konten media sosial. Kegiatan tersebut menjadi sarana melepas penat setelah peserta menjalani ujian dengan tingkat konsentrasi tinggi. Meski menghadirkan suasana yang menyenangkan di luar ruang ujian, UMM tetap menerapkan sistem pengamanan ketat selama proses UTBK berlangsung. Kepala Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UMM, Dr. Moh. Wahyu Kurniawan, M.Pd., menjelaskan bahwa tingginya jumlah peserta harus diimbangi dengan proses seleksi yang bersih dan adil. Pihak kampus menerapkan berbagai prosedur keamanan, mulai dari pengecekan menggunakan metal detector, larangan membawa alat komunikasi, hingga melibatkan aparat kepolisian setempat. “Pelaksanaan UTBK dengan pengawasan ketat ini sudah kami rutinkan sejak beberapa tahun lalu guna mengantisipasi pergerakan joki maupun bentuk kecurangan teknis lainnya. Di setiap ruangan, kami menyiagakan pengawas yang teliti serta teknisi yang sigap membantu peserta jika sewaktu-waktu terjadi kendala perangkat,” tegas Wahyu. Pelaksanaan UTBK yang tertib dan nyaman turut mendapat apresiasi dari para wali peserta. Salah satunya disampaikan Novi Damayanti, orang tua peserta yang mengaku terkesan dengan kesiapan fasilitas serta infrastruktur pendidikan kesehatan di UMM. Ia menilai gedung praktik mahasiswa kedokteran dan farmasi yang modern menjadi nilai tambah bagi calon mahasiswa. “Semoga anak saya bisa mendapatkan hasil maksimal, diterima di UMM, dan kelak menjadi generasi unggul di bidang kesehatan. Saya sangat yakin, dengan fasilitas semumpuni ini, UMM bisa mengantarkan anak saya menjadi tenaga medis profesional yang kiprahnya bermanfaat bagi masyarakat luas,” ungkap Novi. Melalui pelaksanaan UTBK ini, UMM menegaskan komitmennya dalam mencetak tenaga kesehatan yang kompeten, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan global. Calon mahasiswa Gen 26 yang nantinya lolos seleksi diharapkan mampu menjadi generasi yang berkontribusi bagi penyelesaian persoalan kesehatan di Indonesia maupun dunia internasional. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Gen Z UMKM Accelerator, UMM Latih Pelaku Usaha Muda Kuasai Pemasaran Digital

MAKLUMAT — Mahasiswa Program Magister Universitas Muhammadiyah Malang menggelar pelatihan manajemen media sosial bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) generasi Z di Kantor PWM Jawa Timur, Senin (18/5/2026). Kegiatan bertajuk “Gen Z UMKM Accelerator” tersebut menjadi upaya meningkatkan literasi digital sekaligus memperkuat kapasitas pemasaran usaha berbasis media sosial. Pelatihan diikuti puluhan pelaku UMKM muda dari berbagai bidang usaha. Dalam kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan materi mengenai pemanfaatan platform digital seperti Instagram, TikTok, hingga WhatsApp Business untuk mendukung promosi serta membangun citra usaha, dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Sekar Triantis B, Aan Hariyanto, Thierno Abdoulaye, Jariuh Bah, serta Nadaa Fitria Salwa. Sekar Triantis B dalam paparannya menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital menuntut pelaku UMKM mampu beradaptasi dengan pola pemasaran baru yang lebih dekat dengan generasi muda. Menurut dia, media sosial kini tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga sarana utama dalam memperluas pasar dan menjangkau konsumen secara lebih efektif. “Banyak UMKM memiliki produk yang bagus, tetapi belum mampu memaksimalkan promosi digital. Karena itu kami ingin memberikan pendampingan sederhana agar pelaku usaha, khususnya Gen Z, bisa lebih percaya diri memanfaatkan media sosial,” kata Sekar. Baca Juga  LPH-KHT Muhammadiyah Serahkan Sertifikat Halal kepada 130 UMKM di Tuban Senada, Aan Hariyanto mengajak para peserta untuk memahami pentingnya konsistensi dalam membuat konten, membangun interaksi dengan konsumen, hingga membaca tren digital yang berkembang di media sosial. “Muda-mudahan ini dapat membantu pelaku UMKM muda lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus meningkatkan daya saing usaha melalui strategi pemasaran digital yang kreatif dan inovatif,” harapnya. Selain penyampaian materi, peserta juga diajak melakukan praktik langsung membuat konsep konten promosi, teknik pengambilan gambar produk menggunakan telepon genggam, hingga strategi mengikuti tren digital guna meningkatkan daya tarik promosi. Antusiasme peserta terlihat saat sesi diskusi dan simulasi pembuatan konten berlangsung. Salah seorang peserta, Muhammad Bimo, mengaku memperoleh banyak wawasan baru mengenai strategi pemasaran digital yang relevan bagi pelaku usaha muda. “Pelatihan ini sangat bermanfaat karena kami jadi memahami cara membuat konten yang menarik dan sesuai tren media sosial. Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut agar UMKM muda semakin berkembang,” ucap Bimo.