Akademisi UMM Soroti Krisis Keadilan Hukum di Forum Internasional Reformasi Hukum

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM – Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar 2nd International Student Course on Law Reform 2026 bertajuk When Law Fails: Justice, Governance, and Legal Resilience in a Global Era di Aula BAU UMM, Sabtu (24/1/2026). Forum internasional ini menjadi ruang diskusi akademik lintas negara untuk membahas tantangan keadilan, tata kelola, dan ketahanan hukum di era global. Dosen FH UMM, Cekli Setya Pratiwi, S.H., LL.M., M.CL., Ph.D., menilai menurunnya kepercayaan publik terhadap hukum mencerminkan persoalan struktural dalam sistem penegakan hukum Indonesia. Ia menyoroti masih maraknya pelanggaran hak asasi manusia, pembatasan kebebasan berekspresi, serta konflik agraria yang kerap baru ditangani serius setelah mendapat sorotan luas dari publik dan media. “Jika sebuah perkara baru bergerak setelah viral, itu menunjukkan adanya jarak antara norma hukum dan rasa keadilan masyarakat. Hukum seharusnya bekerja melindungi tanpa harus menunggu tekanan publik,” ujarnya. Menurut Cekli, Indonesia sejatinya memiliki kerangka hukum yang relatif lengkap, baik nasional maupun internasional. Namun, dalam praktiknya penegakan hukum masih rentan dipengaruhi kepentingan ekonomi dan politik, sehingga melahirkan ketimpangan akses keadilan, khususnya bagi kelompok rentan. Ia menekankan perlunya reformasi hukum yang tidak berhenti pada kepatuhan prosedural, tetapi berorientasi pada keadilan substantif. Reformasi tersebut, kata dia, harus diarahkan pada penguatan institusi hukum, independensi peradilan, serta tata kelola yang berkeadaban. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai ruang kritis dalam merespons krisis keadilan dan supremasi hukum. Forum internasional ini diharapkan mampu membangun kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya integritas, keberanian moral, dan tanggung jawab sosial dalam profesi hukum. “Supremasi hukum hanya dapat terwujud melalui peradilan yang independen, media yang bebas, dan warga negara yang terinformasi serta berpartisipasi aktif. Tanpa akuntabilitas dan transparansi, hukum berisiko kehilangan maknanya sebagai instrumen keadilan,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, UMM menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pendidikan hukum yang kritis dan transformatif, sekaligus melahirkan generasi sarjana hukum yang peka terhadap persoalan keadilan dan mampu berkontribusi dalam reformasi hukum berkelanjutan. (raf) Sumber: Rilis Berita UMM

Cerita Melani, Mahasiswa Gen Z UMM yang Nekat Buka Bisnis di Tengah Padatnya Jadwal Kuliah

Di tengah jadwal kuliah yang padat dan tuntutan akademik sebagai mahasiswa semester tujuh, Melani Rahma Putri justru mengambil langkah yang tak biasa bagi kebanyakan mahasiswa seusianya. Mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022 ini nekat merintis bisnis apotek 24 jam, sembari tetap menjalani perannya sebagai mahasiswa aktif. Keputusan tersebut bukan tanpa tantangan. Di saat sebagian besar mahasiswa Gen Z masih berfokus menyelesaikan studi, Melani harus membagi waktu antara perkuliahan, praktikum, dan tanggung jawab mengelola usaha. Namun baginya, dunia akademik dan bisnis justru bisa berjalan beriringan. Apotek yang mulai beroperasi sejak September 2025 itu hadir dengan konsep pelayanan komprehensif dan humanis. Tak hanya melayani penjualan obat, apotek ini juga aktif melakukan edukasi kesehatan, penyuluhan ke desa-desa, hingga menyediakan layanan cek kesehatan gratis bagi masyarakat. Mulai dari pemeriksaan gula darah, asam urat, kolesterol, hingga tekanan darah, semuanya dapat diakses tanpa dipungut biaya. Mahasiswa asal Kalimantan Selatan itu mengungkapkan bahwa ketertarikannya pada dunia farmasi telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah. Ia merupakan lulusan SMK Farmasi yang kemudian melanjutkan pendidikan S1 Farmasi di UMM. Latar belakang tersebut menjadi bekal kuat sekaligus alasan di balik keberaniannya membuka apotek di usia muda. “Sejak awal memang ingin punya apotek. Dari SMK sampai kuliah saya berada di jalur farmasi, jadi ini bukan keputusan yang tiba-tiba,” ujarnya. Dalam pengelolaan usaha, Melani berperan sebagai Pemilik Sarana Apotek (PSA), sementara tanggung jawab kefarmasian dijalankan oleh dua apoteker resmi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh layanan berjalan sesuai regulasi dan standar profesi. “Kami selalu mengedepankan konsultasi sebelum pemberian obat. Pasien ditanya dulu kondisinya, riwayat obatnya, lalu kami jelaskan cara penggunaan dan penyimpanan agar tidak terjadi medication error,” jelasnya. Kesibukan mengelola apotek tak membuat Melani berhenti berkontribusi langsung ke masyarakat. Bersama timnya, ia rutin terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan, mulai dari acara RT, desa, hingga kegiatan warga, sambil membuka layanan cek kesehatan gratis sebagai bentuk pengabdian. “Kami sering ikut kegiatan warga. Di sana kami adakan cek gula darah, asam urat, kolesterol, dan tekanan darah gratis. Ini bagian dari edukasi supaya masyarakat lebih peduli pada kesehatan,” tuturnya. Mengikuti karakter Gen Z yang akrab dengan teknologi, apotek ini juga memanfaatkan media sosial seperti TikTok dan Instagram sebagai sarana edukasi sekaligus promosi. Layanan pemesanan obat daring pun terhubung langsung ke WhatsApp, lengkap dengan fasilitas antar obat gratis untuk pelanggan dalam radius dua kilometer. Dalam pengelolaan sumber daya manusia, Melani juga memberdayakan generasi muda dengan merekrut pegawai dari kalangan Gen Z. Selain memiliki latar belakang farmasi, para pegawai dilibatkan aktif dalam pembuatan konten edukasi sebagai bagian dari strategi branding. Melalui pengalamannya, Melani berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani melangkah, meski di tengah kesibukan kuliah. “Jangan takut memulai. Ilmu yang kita pelajari di bangku kuliah seharusnya bisa memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” pungkasnya.(*rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Dianggap Kasih Sayang, Ternyata Kekerasan, Pakar UMM Bongkar Pola Child Grooming

Kasus child grooming yang kembali mencuat ke ruang publik menegaskan bahwa kekerasan terhadap anak tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasat mata. Kekerasan ini kerap bekerja melalui manipulasi emosional yang disamarkan sebagai perhatian dan kasih sayang. Di tengah sorotan media dan perdebatan warganet, pemahaman keliru tentang posisi korban masih menguat, mulai dari penghakiman hingga anggapan bahwa kekerasan terjadi atas dasar “kesepakatan”. Menanggapi situasi tersebut, dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ratih Eka Pertiwi, S.Psi., M.Psi., Psikolog. menegaskan bahwa child grooming merupakan persoalan serius yang sering luput dikenali karena berlangsung secara perlahan, sistematis, dan melibatkan relasi kuasa yang timpang. “Pelaku sering dipersepsikan sebagai sosok yang baik, peduli, dan penuh perhatian. Akibatnya, korban merasa nyaman bahkan membela pelaku karena terbentuk emotional attachment yang kuat, mirip dengan Stockholm syndrome,” ujar Ratih kepada Tim Humas UMM, 26 Januari lalu. Ia menjelaskan bahwa fase awal grooming kerap diabaikan karena tidak menunjukkan kekerasan fisik secara langsung. Banyak kasus baru dipahami sebagai kekerasan ketika sudah terjadi pelecehan seksual, padahal manipulasi emosional telah berlangsung jauh sebelumnya dan meninggalkan dampak psikologis yang serius bagi korban. “Proses grooming itu tidak kasat mata, ketika kekerasan baru diakui setelah ada kontak fisik, berarti kita sudah terlambat melindungi anak,” tegasnya. Menurut Ratih, relasi kuasa menjadi elemen kunci dalam praktik child grooming, terutama ketika pelaku memiliki usia lebih tua, posisi sosial lebih tinggi, atau popularitas tertentu. Ketimpangan ini kerap berujung pada praktik victim blaming, di mana korban justru disalahkan atas kekerasan yang dialaminya. Kondisi tersebut semakin menyempitkan ruang aman bagi korban untuk berbicara dan mencari pertolongan. “Ketika korban disalahkan atau dianggap ikut berperan, itu adalah bentuk victim blaming yang sangat merugikan dan justru memperparah trauma psikologis korban,” ujarnya. Ia menambahkan, tanda-tanda child grooming dapat dikenali melalui perubahan emosi dan perilaku anak, seperti menarik diri dari lingkungan sosial, perubahan suasana hati yang ekstrem, serta kecenderungan menyimpan rahasia dari keluarga. Di era digital, risiko ini semakin besar karena pelaku dapat menjangkau anak melalui media sosial, gim daring, dan berbagai platform komunikasi lainnya. “Jika anak diminta merahasiakan hubungan atau dibuat merasa bersalah saat menolak permintaan orang dewasa, itu sudah merupakan alarm serius yang tidak boleh diabaikan,” tandas Ratih. Sebagai penutup, Ratih menekankan bahwa pencegahan child grooming membutuhkan kesadaran kolektif melalui relasi keluarga yang hangat, komunikasi terbuka, pendidikan seksual yang sesuai usia, serta pengawasan aktif terhadap aktivitas digital anak. Menurutnya, perlindungan anak tidak cukup hanya mengandalkan regulasi, tetapi juga keberanian masyarakat untuk mengkritisi relasi yang tampak normal namun berpotensi membahayakan. (vin/wil)   Penulis: Vivi Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

KKN Tematik UMM 2026, Kampung Budaya Polowijen Jadi Pusat Revitalisasi Budaya Digital

JATIMTIMES –  Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menguatkan peran Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2026. Sebanyak 500 mahasiswa diterjunkan ke 15 titik lokasi KKN yang tersebar di sejumlah wilayah, terdiri dari 10 KKN reguler dan 5 KKN tematik. Salah satu lokasi strategis yang menjadi fokus KKN tematik adalah Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang. Kawasan ini dipilih sebagai lokus revitalisasi budaya berbasis digital yang mengintegrasikan pelestarian tradisi dengan pemanfaatan teknologi. Kehadiran mahasiswa KKN Tematik UMM di Kampung Budaya Polowijen disambut langsung oleh penggagas kampung budaya, Isa Wahyudi atau Ki Demang, bersama para pelaku seni dan budaya Kota Malang. Sejumlah tokoh budaya turut hadir, di antaranya dalang Wayang Suket Syamsul Subakri atau Mbah Karjo, Ketua Umum Perempuan Bersanggul Nusantara Sany Repriandini, pegiat Upcycle Art Suli Sulaihah, serta sejarawan Malang Arik Susilowaty. Dosen pendamping KKN Kelompok 14 Kampung Budaya Polowijen, Dr. Daroe Iswatiningsih, menjelaskan bahwa fokus utama pengabdian masyarakat kali ini adalah transformasi nilai-nilai budaya lokal melalui media seni dan teknologi digital. Menurutnya, Kampung Budaya Polowijen memiliki kekayaan budaya yang sangat potensial untuk dikembangkan secara berkelanjutan. “Kampung Budaya Polowijen menyimpan beragam ekspresi seni, mulai dari topeng, tari tradisional, batik, gerabah, wayang, anyaman, pawon, hingga tradisi lisan. Kekayaan ini sangat memungkinkan untuk didigitalisasikan agar transformasi budaya tidak berhenti di tingkat lokal, tetapi mampu menjangkau ruang global,” ujar Daroe, yang juga menjabat Kepala Pusat Studi Kebudayaan UMM. Melalui KKN Tematik ini, program pengabdian yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada pelestarian budaya, tetapi juga penguatan kemandirian sosial, ekonomi, lingkungan, serta kesehatan masyarakat. Tradisi lokal seperti Megengan, Nyadran, budaya Patrol, hingga festival seni kembali dihidupkan sebagai ruang spiritual, ekspresi budaya, sekaligus sarana regenerasi pelaku seni lintas generasi. Di sisi lain, transformasi digital menjadi elemen penting dalam pelaksanaan KKN. Mahasiswa terlibat dalam digitalisasi aset budaya melalui katalog berbasis barcode, penguatan publikasi media sosial, pengembangan storytelling budaya, produksi podcast, hingga penyusunan e-book sebagai arsip pengetahuan dan media edukasi digital. Upaya ini diharapkan mampu memperluas promosi Kampung Budaya Polowijen hingga tingkat nasional bahkan global. Aspek penguatan ekonomi kreatif dan kepedulian lingkungan juga mendapat perhatian khusus. Warga didorong mengolah limbah melalui konsep upcycle yang dikemas dengan identitas Kampung Budaya Polowijen. Selain itu, urban farming berbasis tanaman obat dan jamu dikembangkan untuk menghasilkan produk ramah lingkungan bernilai ekonomi. Program literasi, perbaikan infrastruktur kampung, aksi sosial, serta pendampingan Posyandu balita dan lansia turut melengkapi rangkaian kegiatan. Ki Demang berharap kolaborasi antara UMM dan masyarakat Kampung Budaya Polowijen dapat menjadi jembatan kuat dalam upaya revitalisasi budaya lokal yang berakar pada tradisi, namun tetap adaptif terhadap perkembangan zaman. “Mahasiswa tidak hanya datang menjalankan program, tetapi menjadi mitra masyarakat dalam merawat, mengembangkan, dan mempromosikan budaya lokal. Inilah bentuk pengabdian yang berdampak dan berkelanjutan,” tegasnya. Melalui pendekatan multidimensi tersebut, Kampung Budaya Polowijen kian menegaskan diri sebagai ruang hidup kebudayaan yang berdaya, berkelanjutan, dan mampu beradaptasi di era digital tanpa kehilangan akar tradisi yang menjadi identitas utamanya.

FKIP UMM Dorong Pembelajaran Mendalam bagi Guru Muhammadiyah di Kabupaten Malang

Mediapribumi.id, Sumenep — Guru memiliki posisi strategis dalam mencerdaskan kehidupan umat sekaligus membangun peradaban yang berkemajuan. Kesadaran tersebut menjadi ruh dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang digelar Tim Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Forum Guru Muhammadiyah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang di SMK Muhammadiyah 8 Pakis. Minggu (25/01/2026). Kegiatan ini mengusung tema Pembelajaran Mendalam sebagai upaya menghadirkan proses belajar yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga menumbuhkan daya pikir kritis, refleksi, serta pemaknaan nilai dalam pembelajaran. Dalam pemaparannya, Gigit Mujianto, menegaskan bahwa pembelajaran mendalam menuntut perubahan paradigma guru dalam mengajar. Guru tidak lagi sekadar menjadi penyampai materi, melainkan fasilitator yang mendorong siswa aktif memahami, mengaitkan pengetahuan dengan konteks kehidupan, serta merefleksikannya secara kritis. “Pembelajaran yang bermakna akan melahirkan peserta didik yang unggul secara intelektual sekaligus memiliki kepekaan sosial dan karakter yang kuat,” katanya. Senada dengan itu, Arif Setiawan, menekankan pentingnya perencanaan pembelajaran yang jelas, terarah, dan melibatkan siswa secara aktif. Ia menyampaikan bahwa guru Muhammadiyah memikul tanggung jawab moral untuk menghadirkan pembelajaran yang mencerahkan, membebaskan, serta relevan dengan tantangan zaman. “Pembelajaran mendalam dapat diwujudkan melalui desain aktivitas belajar yang kontekstual dan asesmen yang tidak hanya mengukur hasil akhir, tetapi juga proses belajar siswa,” ujarnya. Sementara itu, Zukrufurrohma, mengajak para guru untuk terus melakukan refleksi terhadap praktik pembelajaran di kelas. Ia menekankan bahwa nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan dapat diintegrasikan secara alami dalam setiap mata pelajaran. “Sehingga pembelajaran tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan kesadaran nilai peserta didik,” tuturnya. Antusiasme peserta terlihat dari jalannya diskusi yang berlangsung aktif dan reflektif. Para guru berbagi pengalaman pembelajaran di sekolah masing-masing, sekaligus mengemukakan tantangan yang dihadapi dalam menerapkan pembelajaran yang bermakna.

Mahasiswi Lompat dari Jembatan Suhat, Krisis Kesehatan Mental Kembali Menghantui Kota Malang

LENSAWARTA Malang, – Upaya bunuh diri kembali melibatkan kalangan mahasiswa di Kota Malang. Seorang mahasiswi berinisial TA (25) dilaporkan melompat dari Jembatan Soekarno-Hatta (Suhat) pada Senin (19/1/2026) dini hari. Peristiwa ini menambah deretan kasus serupa dan menegaskan alarm krisis kesehatan mental di kota yang dikenal sebagai kota pendidikan tersebut. Korban ditemukan di dasar Sungai Brantas dengan kedalaman sekitar 12 meter, tepatnya di wilayah Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru. Meski mengalami patah tulang pada tangan kanan, korban masih dalam kondisi bernapas dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang untuk mendapatkan perawatan medis. Kepala Polsek Lowokwaru, Kompol Anang Tri Hananta, membenarkan kejadian tersebut. Berdasarkan keterangan saksi, korban sempat terlihat mondar-mandir dengan gelagat gelisah di sekitar jembatan sebelum akhirnya terjatuh sekitar pukul 00.30 WIB. “Saksi pengemudi ojek daring melihat korban terjatuh dari atas jembatan dan segera melaporkan ke polisi serta relawan. Petugas langsung mengevakuasi korban ke rumah sakit,” katanya, Minggu (25/1/2026). Dari hasil penelusuran, motif percobaan bunuh diri ini diduga kuat berkaitan dengan tekanan akademik. Beberapa jam sebelum kejadian, korban mengirimkan pesan kepada adiknya yang berisi permintaan maaf karena merasa telah merepotkan keluarga, terutama terkait skripsi yang belum terselesaikan. Kasus TA bukan peristiwa tunggal. Jembatan Soekarno-Hatta dan Jembatan Tunggulmas tercatat berulang kali menjadi lokasi percobaan maupun aksi bunuh diri mahasiswa. Pada November 2025, seorang mahasiswa berinisial NFR (25) ditemukan meninggal di Jembatan Suhat. Sementara pada Juli 2024, mahasiswa lain berinisial AHM (19) selamat setelah mencoba mengakhiri hidup di lokasi yang sama. Rentetan serupa juga terjadi di Jembatan Tunggulmas. April 2025, mahasiswa BGS (20) asal Jakarta Timur ditemukan meninggal, disusul sebulan kemudian oleh perempuan muda berinisial A (20). Kompol Anang memetakan sejumlah faktor dominan yang melatarbelakangi kasus-kasus tersebut. “Motif yang sering muncul antara lain kuliah yang tidak kunjung selesai, ancaman drop out, gagal ujian, masalah asmara, konflik keluarga, hingga jeratan pinjaman daring,” jelasnya. Sosiolog Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Luluk Dwi Kumalasari, menilai fenomena ini sebagai dampak tekanan struktural yang dihadapi Generasi Z, terutama di lingkungan pendidikan tinggi. Menurutnya, tuntutan akademik yang tinggi kerap tidak diimbangi dengan dukungan emosional yang memadai. “Ekspektasi keluarga sering kali sangat besar karena biaya kuliah yang mahal. Nilai menjadi tolok ukur utama, sementara proses dan kondisi psikologis mahasiswa kerap terabaikan,” kata Luluk. Sementara itu, Ketua Program Studi Magister Psikologi UIN Malang, Dr. Novia Solichah, menegaskan bahwa keinginan mengakhiri hidup bukanlah keputusan spontan, melainkan puncak dari akumulasi tekanan psikologis dan depresi. “Secara fisik seseorang bisa tampak baik-baik saja, tetapi secara psikis mengalami luka yang serius. Keinginan bunuh diri adalah salah satu simptom depresi,” ujarnya. Merespons kejadian yang terus berulang, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyatakan bahwa Pemkot Malang akan menggeser fokus penanganan dari sekadar solusi fisik menuju pendekatan kesehatan mental. “Pagar jembatan sudah ada. Tapi yang perlu diselesaikan adalah akarnya. Tanpa menyentuh persoalan mental, kasus seperti ini akan terus berulang,” katanya.

15 Universitas dengan Fakultas Pendidikan Terbaik, Ada 3 PTS

KOMPAS.com – Bagi calon mahasiswa yang ingin kuliah di Fakultas Pendidikan, bisa memilih kampus berdasarkan pemeringkatan internasional Times Higher Education (THE) World University Rankings (WUR) by Subject 2026 atau THE WUR by Subject 2026. Ada sejumlah perguruan tinggi negeri yang berhasil masuk dalam pemeringkatan education studies atau Fakultas Pendidikan THE WUR by Subject 2026. Indikator penilaian THE WUR sangat komprehensif, mencakup aspek pengajaran, lingkungan riset, dampak sitasi, international outlook, hingga pendapatan industri. Dilansir dari laman resminya, Minggu (26/1/2026) peringkat universitas dunia dari Times Higher Education berdasarkan Bidang Studi 2026 mengungkapkan universitas-universitas terbaik di dunia untuk studi pendidikan. Education studies THE WUR by Subject 2026 ini menilai kinerja di tiga disiplin inti: studi pendidikan, pelatihan guru, dan studi akademis di bidang pendidikan. 15 universitas dengan bidang pendidikan terbaik Tahun ini, Times Higher Education telah mengevaluasi 830 universitas dari 88 negara dan wilayah, menggunakan 18 indikator kinerja tepercaya dan ketat yang sama seperti peringkat universitas dunia Times Higher Education 2026, yang dikalibrasi ulang agar sesuai dengan bidang studi pendidikan. Berikut kampus dengan Fakultas Pendidikan terbaik versi THE WUR by Subject 2026. 1. Universits Negeri Yogyakarta (UNY) Peringkat global: 201-500 2. Universitas Negeri Malang (UM) Peringkat global: 301-400 3. Universitas Negeri Padang (UNP) Peringkat global: 301-400 4. Universitas Sebelas Maret (UNS) Peringkat global: 301-400 5. Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Peringkat global: 401-500 6. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Peringkat global: 401-500  7. Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Peringkat global: 601-800 8. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Peringkat global: 601-800 9. Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Peringkat global: 601-800 10. Universitas Negeri Semarang (Unnes) Peringkat global: 601-800 11. Universitas Sriwijaya (Unsri) Peringkat global: 601-800 12. Universitas Syiah Kuala Peringkat global: 601-800 13. Universitas Brawijaya (UB) Peringkat global: 601-800 14. Universitas Jember (Unej) Peringkat global: +801 15. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Peringkat global: +801. Peringkat global: +801 Demikian informasi mengenai universitas dengan Fakultas Pendidikan terbaik di Indonesia versi THE WUR by Subject 2026 yang bisa dijadikan referensi bagi para calon mahasiswa yang mau kuliah tahun ini.

Langkah Ikhlas Relawan Muhammadiyah Jatim, Merajut Kembali Mimpi Anak-Anak di Puing Banjir Aceh

Aceh Tamiang, kartanusa – Di tengah hamparan lumpur yang masih menyelimuti Desa Sunting, sekelompok relawan dari Jawa Timur tampak sibuk menghidupkan suasana di bawah tenda sederhana. Mereka tergabung dalam Relawan Kemanusiaan Muhammadiyah Jawa Timur yang terdiri dari; MDMC Jawa Timur, Lazismu Jatim, hingga para akademisi dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Jum’at (23/1/2026). Kehadiran mereka di garis depan bencana banjir bandang Kabupaten Aceh Tamiang ini mendapat apresiasi menyentuh dari Ketua Umum TP PKK Pusat, Tri Suswati Tito Karnavian. “Terima kasih MDMC Jawa Timur sudah mendidik anak-anak di tempat korban bencana alam di Desa Sunting.” Ujar Tri Suswati dengan haru saat meninjau langsung sekolah darurat tersebut. Urgensi kehadiran para relawan ini diperkuat oleh data riset lapangan yang menunjukkan skala dampak bencana yang sangat luas, di mana tercatat 438 KK terdampak di dua desa dampingan dengan rincian 203 KK di Desa Serba dan 235 KK di Desa Sunting. Selain itu, di antara ribuan penyintas tersebut, terdapat kelompok rentan yang membutuhkan pendampingan ekstra, yakni 96 jiwa balita dan 108 jiwa lansia. Dukungan moril juga datang dari Sekretaris II TP PKK Pusat, Susana Harijani, SH., M.Si., yang turut mendampingi kunjungan tersebut. “Dari kami tentu saja menyemangati kerja baik, kerja amalnya, semoga mendapat balasan pahala dari Tuhan Yang Maha Esa. Terima kasih semangatnya.” Ujar Susana saat berbincang dengan para relawan di lokasi posko. “Sektor pendidikan menjadi titik paling kritis yang disentuh oleh para relawan asal Jawa Timur ini. Riset lapangan mencatat kerusakan masif pada 5 unit fasilitas pendidikan, di mana 1 unit MI Swasta di Dusun Tanjung mengalami rusak berat dengan kondisi atap roboh total, sementara fasilitas pendidikan lainnya mengalami rusak sedang hingga sarana belajarnya hanyut.” Ujar Yusuf Dwipa Wijaya salah satu relawan. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa mengingat gedung Sekolah yang ada saat ini tertutup material lumpur tebal, kehadiran 7 tenaga pendidik sukarela dari Muhammadiyah menjadi jaminan bahwa anak-anak tidak kehilangan waktu belajar. “Walaupun kondisi cuaca ekstrem dan debu pekat membatasi waktu belajar hanya dua jam sehari, keberadaan sekolah darurat ini memastikan rutinitas anak-anak tetap terjaga di tengah masa pemulihan.” Ungkapnya. Ia juga mengatakan bahwa komitmen kolektif ini terus diperkuat melalui pemenuhan infrastruktur darurat yang berbasis pada kebutuhan nyata siswa, seperti pengadaan 200 paket school kit, meja lipat, dan tikar guna menunjang kelayakan aktivitas belajar. “Selain pendidikan, sinergi ini juga mencakup layanan kesehatan rutin untuk mengantisipasi meluasnya penyakit ISPA dan penyakit kulit yang mulai melanda pengungsi.” Pungkasnya. Melalui kolaborasi antara Lazismu Jatim, MDMC, dan unsur PTMA, para relawan membuktikan bahwa pendekatan kemanusiaan yang tulus dan berbasis data mampu menjadi energi baru bagi masyarakat Aceh Tamiang untuk bangkit dan merajut kembali mimpi mereka yang sempat terendam banjir. (Yusuf).

Siswa MPLB-AKL SMK Mugas Dapat Pembekalan Prodi Manajemen FEB UMM

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) mengelar sosialisasi di SMK Muhammadiyah 3 Singosari (SMK Mugas). Hal ini dijelaskan Waka Humas dan Kerjasama Industri SMK Mugas, Sunarti Mariana Khunti, S.Pd, sosialisasi tersebut untuk memperkuat wawasan BMW (Bekarja Melanjutkan (pendidikan) Wirausaha). Menurut Sunarti kegiatan sosialisasi tersebut  di-ikuti siswa  kelas XII jurusan Manajemen Perkantoran Layanan Bisnis (MPLB 1) dan MPLB 2, serta siswa kelas XII jurusan Akuntansi Keuangan Lembaga (AKL), tanggal 20 Januari 2026, di aula lantai 2 SMK Muhammdiyah 3 Singosari. Foto bersama dengan tim Prodi Manajemen FEB UMM. Sunarti mengungkapkan kegiatan yang berkerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prodi Manajemen UMM, untuk memberikan wawasan sekolah lanjutan kepada siswa kelas XII. Kaitannyan dengan target lulusan yaitu BMW. Kunjungan sekaligus kegiatan sosialisasi ini diharapkan dapat menambah pengetahuan siswa bagaimana jika lulus bekerja dan apa saja yang perlu disiapkan, strategi wirausaha, serta melanjutkan pendidikan yang perlu dipilih program studi mana yang prospektif. (humas/don)