KKN Tematik UMM 2026, Kampung Budaya Polowijen Jadi Lokus Revitalisasi Budaya Berbasis Digital

KLIKTIMES.COM | MALANG– Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2026. Sebanyak 500 mahasiswa diterjunkan ke 15 titik lokasi KKN yang tersebar di berbagai wilayah, terdiri atas 10 KKN reguler dan 5 KKN tematik. Salah satu lokasi strategis yang menjadi lokus KKN tematik adalah Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang. Kehadiran mahasiswa KKN Tematik UMM di Kampung Budaya Polowijen disambut langsung oleh penggagas kampung budaya tersebut, Isa Wahyudi atau yang akrab disapa Ki Demang, bersama para pelaku seni dan budaya Kota Malang. Turut hadir dalam penerimaan tersebut sejumlah tokoh budaya, di antaranya Syamsul Subakri (Mbah Karjo) dalang Wayang Suket, Sany Repriandini Ketua Umum Perempuan Bersanggul Nusantara, Mamik Dwi Purwaningsih penyiar budaya RRI, Suli Sulaihah pelaku Upcycle Art, serta Arik Susilowaty sejarawan Malang. Dosen pendamping KKN Kelompok 14 Kampung Budaya Polowijen, Dr. Daroe Iswatiningsih, menegaskan bahwa fokus utama pengabdian masyarakat kali ini adalah revitalisasi budaya melalui proses transformasi nilai-nilai budaya lokal dengan memanfaatkan media seni dan teknologi digital. Menurutnya, Kampung Budaya Polowijen memiliki kekayaan budaya yang sangat potensial untuk dikembangkan secara lebih luas. “Kampung Budaya Polowijen ini kaya akan karya seni seperti topeng, tari tradisional, batik, gerabah, wayang, anyaman, pawon, dan berbagai ekspresi budaya lainnya. Kekayaan ini sangat memungkinkan untuk didigitalisasikan, sehingga proses transformasi budaya tidak berhenti di tingkat lokal, tetapi mampu menembus ruang global,” ungkap Daroe, yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Kebudayaan UMM. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2026. (HO/KLIKTIMES.COM) Melalui KKN Tematik ini, Kampung Budaya Polowijen menjalankan program terpadu yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian budaya, tetapi juga pada penguatan kemandirian sosial, ekonomi, lingkungan, dan kesehatan masyarakat. Tradisi-tradisi lokal seperti Megengan, Nyadran, budaya Patrol, serta festival seni kembali diuri-uri dan dihidupkan sebagai ruang spiritual, ekspresi budaya, sekaligus sarana regenerasi pelaku seni lintas generasi. Di sisi lain, transformasi digital menjadi bagian penting dari program pengabdian. Mahasiswa KKN terlibat dalam digitalisasi aset budaya melalui katalog berbasis barcode, penguatan publikasi media sosial, pengembangan storytelling budaya, produksi podcast, hingga penyusunan e-book sebagai arsip pengetahuan dan media edukasi digital. Upaya ini diharapkan mampu memperluas jangkauan promosi Kampung Budaya Polowijen hingga ke tingkat nasional dan global. Penguatan ekonomi kreatif dan kepedulian lingkungan juga menjadi perhatian utama. Warga didorong untuk mengolah limbah melalui konsep upcycle yang dikemas dengan identitas Kampung Budaya Polowijen, urbam farming yang berbasis tanaman obat obatan dan jamu sehingga menghasilkan produk ramah lingkungan bernilai ekonomi. Program literasi, perbaikan infrastruktur kampung, aksi sosial kemasyarakatan, serta pendampingan Posyandu balita dan lansia turut melengkapi rangkaian kegiatan pengabdian. Ki Demang, yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kota Malang, berharap program KKN Tematik UMM ini mampu menjadi jembatan yang kuat antara perguruan tinggi dan masyarakat. Menurutnya, kolaborasi ini penting untuk merealisasikan revitalisasi budaya lokal yang berakar pada tradisi, namun tetap adaptif terhadap perkembangan zaman. “Mahasiswa hadir bukan hanya untuk menjalankan program, tetapi menjadi mitra masyarakat dalam merawat, mengembangkan, dan mempromosikan budaya lokal. Inilah bentuk nyata pengabdian yang berdampak dan berkelanjutan,” ujar Ki Demang. Melalui pendekatan multidimensi ini, Kampung Budaya Polowijen menegaskan posisinya sebagai ruang hidup kebudayaan yang berdaya, berkelanjutan, dan mampu beradaptasi di era digital tanpa kehilangan akar tradisi yang menjadi identitas utamanya.
Angkat Isu Menstruasi, Riset Mahasiswa UMM Tembus Jurnal Internasional Scopus Q2

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Rintan Rikawati, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM, berhasil menembus jurnal internasional bereputasi Scopus Q2 melalui penelitian yang mengangkat isu kesehatan perempuan, khususnya strategi coping dalam menghadapi perubahan pramenstruasi. Capaian ini terbilang istimewa, mengingat publikasi di jurnal bereputasi internasional bukan hal yang mudah, terlebih bagi mahasiswa strata satu. Penelitian Rintan dinilai memiliki kebaruan sekaligus relevansi tinggi karena mengulas topik menstruasi yang kerap dianggap sepele, padahal berdampak signifikan terhadap kondisi fisik dan psikologis perempuan. Rintan menjelaskan, penelitiannya berfokus pada bagaimana perempuan mengelola perubahan emosi, fisik, dan psikologis menjelang menstruasi melalui berbagai mekanisme coping. Menurutnya, respons perempuan terhadap fase pramenstruasi sangat beragam dan dipengaruhi oleh banyak faktor, baik internal maupun eksternal. “Setiap perempuan memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi perubahan pramenstruasi. Ada yang lebih mudah mengelola emosinya, ada juga yang membutuhkan dukungan lebih besar dari lingkungan sekitar,” ujar Rintan kepada tim Humas UMM, Kamis (22/1/2026). Ketertarikan Rintan terhadap topik ini berawal dari pengalaman pribadinya yang sering mengalami perubahan suasana hati menjelang menstruasi. Dari pengalaman tersebut, muncul dorongan untuk memahami lebih dalam bagaimana perempuan dapat mengelola kondisi emosional dan fisik secara sehat dan efektif. “Saya juga mengalami perubahan emosi menjelang menstruasi. Dari situ muncul keinginan untuk memahami apakah ada cara yang lebih sehat dan efektif untuk mengelola kondisi tersebut,” ungkapnya. Penelitian berjudul “Translation and Validation of the Premenstrual Change Coping Inventory in Indonesian Version” ini melibatkan 321 responden perempuan Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan menerapkan strategi coping dengan menyibukkan diri melalui aktivitas positif, seperti berkumpul bersama teman atau berbagi cerita. “Dari hasil penelitian, komunikasi dan dukungan sosial terbukti menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga kestabilan emosi perempuan menjelang menstruasi,” jelas Rintan. Selain itu, riset ini juga menegaskan pentingnya kesadaran diri terhadap kondisi tubuh. Perempuan yang memahami siklus menstruasinya cenderung lebih siap secara mental dalam menghadapi perubahan pramenstruasi dan mampu menerapkan strategi coping secara lebih cepat, seperti mengatur aktivitas atau memperbanyak waktu istirahat. Rintan juga menemukan bahwa lingkungan memiliki peran besar dalam keberhasilan strategi coping tersebut. Dukungan keluarga, teman, dan lingkungan kampus membuat perempuan merasa lebih aman dan nyaman saat menghadapi fase pramenstruasi. Sebaliknya, kurangnya pemahaman dan stigma justru dapat memperburuk kondisi emosional. “Lingkungan yang suportif sangat membantu perempuan untuk tidak merasa sendirian. Sebaliknya, stigma atau anggapan berlebihan justru bisa memperparah tekanan emosional,” katanya. Melalui riset ini, Rintan menyoroti masih adanya kesenjangan pemahaman masyarakat terkait kesehatan reproduksi perempuan. Ia menilai perubahan emosi saat pramenstruasi merupakan kondisi alami yang perlu dipahami dan dikelola, bukan diabaikan. “Perubahan emosi menjelang menstruasi itu wajar. Yang penting adalah bagaimana perempuan memahami dan mengelolanya, bukan memendam atau mengabaikannya,” tegasnya. Ia berharap hasil penelitiannya dapat menjadi dasar pengembangan edukasi kesehatan reproduksi yang lebih komprehensif, tidak hanya menekankan aspek biologis, tetapi juga psikologis dan sosial. Sementara itu, dosen pembimbing Rintan, Henny Dwi Susanti, MKep., Sp.Kep.Mat., PhD, menjelaskan bahwa penelitian ini sejak awal memang dirancang agar tidak berhenti sebagai skripsi semata. “Kami mendorong mahasiswa untuk memahami metodologi penelitian secara mendalam, konsisten dengan kaidah ilmiah, dan siap menerima masukan, termasuk dari reviewer internasional,” ujarnya. Menurut Henny, penelitian ini memiliki implikasi langsung bagi praktik keperawatan, khususnya dalam pelayanan kesehatan reproduksi perempuan. Dengan instrumen yang telah tervalidasi, perawat dapat lebih mudah mengidentifikasi pola coping perempuan dan menyusun intervensi keperawatan yang lebih tepat sasaran. Ia berharap capaian ini dapat menjadi pijakan bagi pengembangan riset lanjutan serta mendorong semakin banyak mahasiswa UMM berani mengangkat isu-isu kesehatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. (Ans)
Dosen UMM Ingatkan Risiko Finansial di Balik Tren Pembayaran QRIS

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM – Kemudahan transaksi nontunai melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dinilai membawa konsekuensi tersendiri bagi perilaku keuangan generasi muda. Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, M.M., menilai penggunaan QRIS berpotensi menurunkan kesadaran finansial, khususnya di kalangan mahasiswa. Menurut Rifqi, sistem pembayaran digital menciptakan ilusi pengeluaran yang tidak terasa. Berbeda dengan transaksi tunai yang menghadirkan sensasi kehilangan uang secara nyata, pembayaran digital berlangsung cepat dan minim hambatan psikologis. Kondisi tersebut membuat pengguna cenderung lebih impulsif dalam berbelanja. “Ketika menggunakan uang fisik, seseorang merasakan langsung uangnya berkurang. Pada pembayaran digital, proses yang instan membuat rasa kehilangan itu nyaris tidak muncul,” ujarnya, Senin (19/1/2026). Ia menjelaskan, kebiasaan ini sering memicu fenomena latte factor, yakni pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali dan dianggap sepele, namun berdampak signifikan terhadap kondisi keuangan dalam jangka panjang. Pengeluaran seperti kopi, jajanan, atau belanja impulsif harian berpotensi menggerus tabungan tanpa disadari. Di sisi lain, Rifqi mengakui bahwa QRIS memiliki sejumlah keunggulan, seperti kemudahan transaksi, pencatatan otomatis, serta efisiensi waktu. Namun, kelemahan utamanya terletak pada lemahnya kontrol diri pengguna, terutama ketika dihadapkan pada promo cashback dan diskon. “Promo dirancang untuk membentuk kebiasaan belanja berulang. Konsumen terdorong membeli bukan karena kebutuhan, tetapi karena merasa sedang mendapat keuntungan,” jelasnya. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat membentuk mentalitas keuangan yang tidak disiplin. Nilai uang menjadi abstrak dan sulit dikontrol, sehingga risiko defisit anggaran meningkat meskipun saldo digital masih terlihat aman. Sebagai langkah pencegahan, Rifqi menyarankan agar pengguna membatasi penggunaan aplikasi pembayaran digital. Salah satunya dengan menggunakan satu aplikasi khusus untuk transaksi harian agar pengeluaran lebih mudah dipantau dan dievaluasi. “Biasakan mengecek rekap pengeluaran bulanan. Dengan begitu, pengeluaran kecil yang sering tidak terasa bisa dikendalikan dan tujuan keuangan tetap terjaga,” pungkasnya. Ia menegaskan bahwa teknologi pembayaran digital tetap dapat dimanfaatkan secara optimal, asalkan diiringi dengan perencanaan dan kesadaran finansial yang baik. (raf) Sumber: Rilis Berita UMM
Ribuan Mahasiswa PPG UMM Dikukuhkan, Siap Menggerakkan Transformasi Pendidikan Nasional

pwmu.co –Sebanyak 3.016 mahasiswa Profesi Guru Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi dikukuhkan dan disumpah (22/1/2026).Ribuan mahasiswa yang hadir secara luring maupun daring itu merupakan bagian dari program PPG Dalam Jabatan bagi Guru Madrasah Mata Pelajaran Umum Batch II Kementerian Agama Tahun 2025. Kegiatan ini sekaligus menjadi komitmen UMM untuk mencetak guru-guru profesional yang unggul. “Mutu pendidikan madrasah tidak ditentukan oleh kurikulum semata, melainkan oleh sejauh mana negara memastikan guru-gurunya berdiri sebagai profesi yang diakui, berkompetensi, dan berkelanjutan,” tegas Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama RI, Dr. Fesal Musaad, M.Pd., dalam paparannya. Menurutnya, peningkatan mutu pendidikan nasional harus dimulai dari penguatan profesionalisme guru madrasah melalui peningkatan kualifikasi, sertifikasi, dan kompetensi yang terintegrasi. Sebab guru merupakan penentu utama keberhasilan pembelajaran dan kualitas lulusan. Sehingga tanpa guru yang kompeten, sejahtera, dan memiliki kepastian status profesional, cita-cita melahirkan generasi Indonesia yang kompetitif dan berakhlak mulia tidak akan tercapai secara optimal. “Peserta didik tidak mungkin mencapai kompetensi tinggi apabila gurunya berkompetensi rendah. Guru adalah kunci dan ujung tombak pembelajaran, sehingga upaya sertifikasi, PPG dalam jabatan, serta penguatan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian harus dipahami sebagai ikhtiar negara dalam menjamin mutu pendidikan madrasah,” ujarnya. Tonggak profesionalisme guru madrasah juga ditegaskan oleh Ketua Program PPG FKIP UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M. Ia memandang pengambilan sumpah profesi sebagai fase penting dalam perjalanan pendidik, karena PPG dalam jabatan tidak sekadar proses administratif memperoleh sertifikat pendidik, melainkan bentuk pengakuan resmi atas dedikasi, kompetensi, dan komitmen guru dalam meningkatkan kualitas diri serta mutu pendidikan nasional. “Menjadi pendidik profesional bukan hanya tentang memiliki sertifikat, melainkan komitmen untuk terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan diri. Apalagi profesionalisme menuntut penguasaan kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan profesional secara utuh yang telah bapak dan ibu buktikan melalui Program PPG dalam Jabatan,” ujarnya. Ia juga menyoroti perubahan lanskap pendidikan di era digital yang menempatkan guru pada tuntutan baru untuk mampu mengintegrasikan teknologi secara bijak dan bermakna. Mengingat peserta didik merupakan generasi digital yang tumbuh bersama teknologi, pembelajaran harus dirancang lebih kontekstual dan menarik tanpa menghilangkan nilai keteladanan dan peran guru sebagai pusat pembelajaran. “Di tengah derasnya arus digitalisasi, peran guru sebagai inspirator dan pembentuk karakter justru semakin penting, dan pendidikan inklusif harus menjadi komitmen bersama karena setiap anak berhak memperoleh pendidikan yang berkualitas demi terwujudnya generasi emas Indonesia 2045 yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga mulia dalam karakter,” tegasnya. Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menempatkan pengambilan sumpah profesi guru madrasah sebagai momentum strategis dalam meneguhkan pilihan karier pendidik. Ia juga menegaskan bahwa pendidikan madrasah merupakan bagian integral dari kultur pendidikan bangsa Indonesia dan tidak lagi dapat diposisikan sebagai entitas yang terpisah dari pendidikan umum. Melainkan satu kesatuan strategis dalam sistem pendidikan nasional. “Pendidikan madrasah dan pendidikan umum bukan lagi sebuah dikotomi, tetapi tatanan pendidikan yang menyatu untuk melahirkan manusia Indonesia yang berkarakter, dan yang paling penting adalah bagaimana bapak-ibu merawat niat untuk terus memberikan yang terbaik demi tercapainya cita-cita mulia pendidikan,” ujarnya. Pengukuhan dan pengambilan sumpah profesi guru PPG dalam jabatan ini pada akhirnya tidak hanya menandai berakhirnya satu tahap pendidikan profesi. Namun juga membuka babak tanggung jawab baru bagi para guru madrasah mata pelajaran umum untuk menjadi pendidik profesional di era digital, yang berkomitmen pada nilai inklusi, penguasaan kompetensi abad ke-21, dan pengabdian berkelanjutan dalam membangun Generasi Emas Indonesia 2045.(*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim
Inovasi Terbarukan oleh Mahasiswa Teknik Industri UMM untuk UMKM, Petani, hingga Tunanetra

pwmu.co –Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Industrial Engineering Expo (IE EXPO) 2026 sebagai ajang pameran karya dan inovasi mahasiswa pada Rabu (22/1/2026).Bertempat di GKB 4 lantai 9 UMM, kegiatan ini menjadi ruang apresiasi atas capaian pembelajaran mahasiswa yang terintegrasi antara riset, perancangan sistem, hingga pengembangan produk aplikatif. Pada IE EXPO 2026 menampilkan puluhan karya mahasiswa yang berasal dari mata kuliah Perancangan Sistem Terpadu (PST) dan Perancangan dan Pengembangan Produk (P3). Mulai dari alat untuk membantu para Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) seperti ekstraksi buah, roaster kopi, serta alat yang membantu para petani padi dalam mengeringkan gabah tanpa harus menjemur di bawah sinar matahari. Menariknya, juga ada alat yang dapat membantu tunanetra dalam mengetahui area sekitar dengan memberi getaran berdasarkan sensor. Ketua Program Studi Teknik Industri UMM, Dr. Dana Marsetiya Utama, M.T., menjelaskan bahwa IE EXPO 2026 menampilkan total 74 produk mahasiswa. Rinciannya, sebanyak 47 produk berasal dari mata kuliah Perancangan Sistem Terpadu dan 27 produk dari Perancangan dan Pengembangan Produk. “Poster dan produk terbaik akan kami daftarkan Hak Kekayaan Intelektualnya, khususnya hak cipta desain industri. Dengan begitu, karya mahasiswa tidak berhenti sebagai tugas kuliah, tetapi memiliki nilai lanjut dan perlindungan hukum,” jelas Dana. Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa hasil pengembangan produk dari mata kuliah P3 dan PST juga dapat dilanjutkan sebagai topik skripsi mahasiswa. Skema ini dirancang agar mahasiswa tidak memulai penelitian dari nol, melainkan mengembangkan kajian yang telah dirancang. Dengan demikian, kesinambungan antara pembelajaran, riset, dan inovasi dapat terbangun secara lebih terarah dan berkelanjutan. Sementara itu, Wakil Dekan I Fakultas Teknik UMM, Dr. Machmud Effendy, M.Eng., menegaskan bahwa seluruh produk yang dipamerkan merupakan hasil nyata dari proses pembelajaran komprehensif di ruang kelas. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut menghasilkan produk, tetapi juga membangun cara berpikir sistematis dan terintegrasi lintas disiplin ilmu. “Melalui proses ini, mahasiswa dilatih untuk mengenali kebutuhan pengguna, menyusun konsep, mengembangkan desain, hingga melakukan evaluasi kinerja produk secara menyeluruh. Tahapan tersebut membentuk pola pikir mahasiswa agar lebih sistematis, kritis, dan berorientasi pada solusi nyata,” ungkap Effendy. Ia menambahkan bahwa IE EXPO sejalan dengan visi Fakultas Teknik UMM. Untuk mencetak lulusan yang inovatif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan dunia usaha serta di kawasan berbasis industri. Melalui pameran ini, mahasiswa tidak hanya dinilai dari aspek akademik semata. Namun juga diberi ruang untuk berbagi pengetahuan, menerima masukan profesional dari reviewer, serta membangun kepercayaan diri sebagai calon praktisi dan profesional di bidang teknik industri. Melalui IE EXPO 2026, Program Studi Teknik Industri UMM berharap pameran karya mahasiswa dapat menjadi ruang pembelajaran kontekstual, jembatan kolaborasi dengan dunia industri, serta wahana pembentukan karakter mahasiswa yang siap terjun sebagai profesional di bidang teknik industri.(*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim
KKN Berdampak UMM 2026: Rektor Tekankan Solusi Nyata Bangun Desa Berbasis SDGs MALANG –

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menegaskan komitmennya dalam membangun desa secara berkelanjutan melalui program KKN Berdampak 2026. Bukan sekadar rutinitas akademik, KKN kali ini dirancang sebagai solusi konkret atas persoalan desa dengan pendekatan jangka panjang berbasis Sustainable Development Goals (SDGs). Hal tersebut ditandai dengan pelepasan 500 mahasiswa peserta KKN Berdampak 2026 oleh Rektor UMM pada Sabtu (24/1). Para mahasiswa tersebut akan diterjunkan di 17 kecamatan di wilayah Malang Raya dengan target intervensi pembangunan desa hingga sepuluh tahun ke depan. Program KKN Berdampak UMM secara khusus difokuskan pada tiga pilar utama SDGs, yakni Pendidikan Berkualitas (SDGs 4), Kehidupan Sehat dan Sejahtera (SDGs 3), serta Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (SDGs 17). Ketiga pilar ini diposisikan sebagai fondasi untuk mewujudkan desa yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan. Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMM, Ir. Iis Siti Aisyah, MT., PhD., IPM, menjelaskan bahwa KKN Berdampak 2026 dirancang dengan pendekatan strategis berbasis data dan pemetaan partisipatif. Prinsip kemitraan menjadi kunci utama dalam menentukan lokasi dan program pengabdian. “Kami tidak sekadar menempatkan mahasiswa, tetapi membangun sinergi. Karena itu, kami berkoordinasi intensif dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), serta pemerintah desa setempat untuk memetakan potensi dan persoalan riil yang ada,” ujarnya. Hasil pemetaan tersebut kemudian menjadi dasar bagi mahasiswa dalam merancang program yang tepat sasaran. Pada sektor pendidikan, mahasiswa berperan aktif dalam pendampingan sekolah dan madrasah, penguatan kurikulum pesantren, serta pelatihan literasi digital bagi guru dan siswa guna mendukung terwujudnya pendidikan yang inklusif dan berkualitas. Sementara itu, pada aspek kesehatan dan kesejahteraan, mahasiswa didorong terlibat langsung dalam penyuluhan kesehatan masyarakat, perbaikan sanitasi lingkungan, hingga pendampingan ekonomi bagi pelaku UMKM desa. Penerapan teknologi tepat guna juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menekankan pentingnya dampak nyata dari kehadiran mahasiswa KKN di tengah masyarakat. Ia mendorong mahasiswa untuk mampu mentransformasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah menjadi solusi praktis yang relevan dengan kebutuhan warga desa. “Kehadiran mahasiswa tidak hanya untuk menggugurkan kewajiban akademik, tetapi harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang visioner, menyatukan pemikiran akademis dengan realitas yang dirasakan masyarakat,” tegasnya. Melalui KKN Berdampak 2026, UMM berharap pengabdian mahasiswa tidak berhenti pada program sesaat, melainkan menjadi bagian dari proses pembangunan desa yang berkelanjutan dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Ans
Penelitian Mahasiswa UMM Angkat Tentang Menstruasi Hingga Tembus Publikasi Scopus

MALANG – Rintan Rikawati, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menorehkan prestasi yang membanggakan. Penelitiannya yang berjudul “Translation and Validation of the Premenstrual Change Coping Inventory in Indonesian Version” berhasil lolos Scopus Q2, jurnal internasional yang tidak mudah untuk dicapai oleh mahasiswa. Penelitian ini mengkaji mengenai isu strategi coping perempuan dalam menghadapi perubahan pramenstruasi, dimana biasanya topik ini sering dianggap sepele namun memiliki dampak yang besar bagi kesehatan fisik dan psikologis perempuan. Ia pun memfokuskan penelitiannya pada cara perempuan dalam mengelola perubahan fisik, emosi, dan psikologis menjelang menstruasi melalui berbagai mekanisme coping. Menurut Rintan, respons setiap perempuan berbeda ketika menghadapi fase pramenstruasi. “Ada perempuan yang lebih mudah mengelola emosinya, ada juga yang membutuhkan dukungan lebih besar dari lingkungan sekitar,” ujar Rintan pada tim humas UMM (22/1/2026). Penelitian ini didasari oleh pengalaman pribadinya saat mengalami perubahan suasana hati menjelang menstruasi. Dimana hal tersebut mendorongnya untuk memahami lebih lanjut mengenai bagaimana cara mengelola fisik dan emosi perempuan secara sehat ketika masa menstruasi. Penelitian ini melibatkan 321 responden perempuan Indonesia. Dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak perempuan menerapkan strategi coping dengan menyibukkan diri melalui kegiatan positif. Dukungan keluarga, teman, dan lingkungan sekitar juga turut berpengaruh terhadap fase pramenstruasi. Sebaliknya, kurangnya pemahaman dari lingkungan sekitar justru dapat memperburuk kondisi emosional. “Dari hasil penelitian, komunikasi dan dukungan sosial terbukti menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga kestabilan emosi perempuan menjelang menstruasi,” ujarnya. Penelitian ini juga menyoroti terkait kesadaran diri perempuan terhadap kondisi tubuhnya. Perempuan yang memahami siklus menstruasinya akan cenderung siap untuk menghadapi fase pramenstruasi. “Perempuan yang mengenal tubuhnya sendiri biasanya lebih cepat menyadari tanda-tanda perubahan emosi. Mereka kemudian bisa langsung menerapkan strategi coping, seperti mengatur aktivitas atau memperbanyak istirahat,” tambahnya. Terakhir, Rintan juga menyoroti terkait masih adanya kesenjangan pemahaman terkait kesehatan reproduksi, terutama di kalangan perempuan awam. Masih banyak perempuan yang belum menyadari bahwa perubahan emosi saat masa pramenstruasi adalah kondisi wajar dan alami. Rintan berharap penelitiannya dapat dikembangkan lebih jauh lagi serta menjadi dasar edukasi reproduksi yang lebih komprehensif. Menurutnya, edukasi tidak hanya perlu menekankan aspek biologis menstruasi, tetapi juga aspek psikologis dan sosial. Sementara itu, dosen pembimbing Rintan, Henny Dwi Susanti, MKep., Sp.Kep.Mat., PhD, menjelaskan bahwa sejak awal penelitian ini memang dirancang tidak berhenti sebagai skripsi semata. “Kami mendorong mahasiswa untuk memahami metodologi penelitian secara mendalam, konsisten dengan kaidah ilmiah, dan siap menerima masukan, termasuk dari reviewer internasional,” jelas Henny. Ia menegaskan bahwa penelitian ini memiliki implikasi langsung bagi praktik keperawatan, khususnya dalam pelayanan kesehatan reproduksi perempuan. Henny berharap hasil penelitian ini dapat menjadi pijakan bagi pengembangan riset lanjutan, baik dalam konteks pendidikan keperawatan maupun pelayanan kesehatan reproduksi di Indonesia.(*)
Dosen UMM Soroti Efek QRIS, Pengeluaran Kecil Bisa Jadi Masalah Besar

Berbekal kemudahan dalam satu genggaman, sistem pembayaran nontunai QRIS kini menjadi primadona di kalangan mahasiswa Gen Z. Namun, di balik kepraktisan tersebut, tersimpan risiko finansial berupa ilusi digital yang sering kali tidak kasat mata bagi para penggunanya. Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, M.M., menyoroti fenomena ini sebagai pemicu utama terkikisnya kesadaran finansial anak muda. Rifqi sapaan akrabnya menjelaskan, bahwa secara psikologis, bertransaksi dengan QRIS terasa sangat berbeda dibandingkan dengan mengeluarkan lembaran uang fisik dari dompet. Saat menggunakan uang tunai, seseorang akan merasakan sensasi “kehilangan” yang nyata karena fisik uang benar-benar berpindah tangan dan terlihat berkurang. Sebaliknya, pembayaran digital membuat hambatan psikologis untuk belanja menjadi sangat rendah karena prosesnya yang terlalu instan. Kondisi inilah yang memicu munculnya latte factor, yaitu pengeluaran kecil rutin seperti kopi atau jajanan yang sering dianggap remeh namun berdampak signifikan pada tabungan di akhir bulan. “Secara psikologis, ketika kita mengeluarkan uang fisik, ada sensasi kehilangan yang benar-benar terasa. Namun saat menggunakan QRIS, perasaan itu cenderung memudar karena prosesnya sangat singkat, cukup klik, scan, lalu transaksi selesai,” ungkapnya pada tim humas UMM pada 19 Januari lalu. Sistem QRIS sejatinya memiliki keuntungan besar, seperti kemudahan transaksi tanpa perlu repot membawa uang kembalian dan pencatatan otomatis di aplikasi. Namun, kekurangannya terletak pada kontrol diri yang sering kali melemah akibat iming-iming promo cashback. Ia menjelaskan bahwa promo tersebut merupakan strategi bisnis untuk membentuk kebiasaan belanja yang berkelanjutan (repeat order). Konsumen yang semula tidak butuh, akhirnya terdorong membeli hanya karena merasa mendapatkan diskon, padahal secara jangka panjang justru perusahaanlah yang paling diuntungkan. “Dalam jangka panjang, perilaku konsumtif naik karena terbentuk kebiasaan baru, yang semula bukan kebutuhan menjadi keinginan karena adanya promo, sehingga akhirnya terjadi repeat order secara terus-menerus,” jelasnya. Bahaya jangka panjang dari ilusi saldo digital ini adalah mentalitas keuangan yang menjadi tidak disiplin karena nilai uang terasa lebih abstrak. Tanpa adanya evaluasi berkala, terkhusus Gen Z berisiko mengalami defisit anggaran karena merasa saldonya masih mencukupi padahal pengeluaran harian sudah melampaui batas yang ditentukan. Sebagai langkah antisipasi hal itu, Rifqi menyarankan penggunaan satu aplikasi khusus untuk pembayaran harian. Supaya mempermudah rekapitulasi dan evaluasi pengeluaran bulanan. “Gunakan satu aplikasi khusus untuk transaksi QRIS, lalu biasakan mengecek rekap pengeluaran bulanan agar tujuan keuangan jangka panjang tetap terjaga dan tabungan tidak habis oleh pengeluaran kecil yang sering tidak terasa,” pungkasnya. Strategi ini diharapkan mampu membantu mahasiswa tetap menikmati kemudahan teknologi tanpa harus kehilangan kendali atas kondisi finansial mereka. Dengan perencanaan yang matang, Gen Z tetap bisa menjalani gaya hidup cashless yang bijak sekaligus aman dari jebakan konsumerisme berlebih. (ali) Penilis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Bukan Hanya di Indonesia, UMM Beri Kontribusi Nyata Melalui KKN di Malaysia

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam memperluas pengabdian masyarakat ke ranah internasional melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional. Program ini menjadi langkah strategis UMM dalam memperluas kontribusi akademik dan sosial ke ranah global. Pelepasan mahasiswa KKN Internasional ke Penang, Malaysia dilaksanakan pada Selasa, (20/01/2026) bertempat di ruang inovasi bidang 4 UMM. Sebanyak empat mahasiswa terpilih secara resmi dilepas dan dijadwalkan berangkat pada Rabu, (21/01/2026). Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., dalam sambutannya menegaskan bahwa KKN Internasional bukan sekadar kegiatan pengabdian lintas negara, melainkan bagian dari strategi internasionalisasi UMM yang berbasis nilai dan kebermanfaatan nyata. Menurutnya, mahasiswa yang diberangkatkan membawa tanggung jawab besar sebagai representasi institusi di ruang global. “KKN Internasional ini menjadi pintu awal bagi UMM untuk menghadirkan pengabdian masyarakat yang tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga relevan secara internasional. Mahasiswa diharapkan mampu menunjukkan keunggulan akademik, kepekaan sosial, serta nilai-nilai kemuhammadiyahan dalam konteks lintas budaya,” ungkapnya. Salis sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan KKN Internasional ini, kampus putih menggandeng PERMAI Malaysia (Persatuan Masyarakat Indonesia di Malaysia) sebagai mitranya. Menurutnya, kerja sama dengan PERMAI Malaysia dipilih karena adanya karakter komunitas yang unik. Ia menilai, meskipun secara kewarganegaraan mereka telah berasimilasi sebagai warga Malaysia. Namun ikatan kultural dan emosional dengan Indonesia masih sangat kuat, sehingga menjadi ruang yang tepat bagi mahasiswa UMM untuk menjalankan pengabdian berbasis lintas budaya. Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMM, Prof. Dr. Ir. Sutawi, MP., menuturkan bahwa program KKN Internasional ini pertama kali yang diinisiasi oleh LPPM sebagai bentuk pengembangan skema pengabdian berbasis internasional. Kemudian difasilitasi oleh Bidang Kerja Sama di bawah koordinasi Wakil Rektor IV. Pada periode 2025–2026, UMM akan secara khusus memfokuskan penguatan jejaring pengabdian di kawasan ASEAN, seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura. “Kami memulai dari kawasan terdekat agar model pengabdian ini matang dan terukur. Jika program perdana ini berjalan dengan baik dan memberikan dampak nyata, maka ke depan jejaring pengabdian UMM akan diperluas hingga ke luar kawasan ASEAN,” jelasnya. Sementara itu, Kepala Divisi Pengabdian LPPM UMM, Dr. Arina Restian, M.Pd., menyampaikan bahwa mahasiswa KKN Internasional tidak hanya menjalankan kegiatan sosial, tetapi juga dituntut menghasilkan luaran akademik yang konkret dan berkelanjutan. Luaran tersebut mencakup penyusunan buku sejarah diplomasi Malaysia berbasis komunitas, pengajuan Hak Kekayaan Intelektual dari riset fenomena sosial, serta publikasi artikel. “Kami mendorong mahasiswa untuk menjadikan KKN Internasional sebagai ruang integrasi antara pengabdian, riset, dan publikasi. Dengan begitu, pengalaman lintas budaya yang mereka peroleh dapat memberikan kontribusi akademik yang nyata bagi universitas dan masyarakat,” tuturnya. Ke depannya, UMM berharap jumlah peserta KKN Internasional dapat terus meningkat seiring dengan meluasnya jejaring mitra luar negeri. Program ini diharapkan menjadi salah satu program unggulan pengabdian internasional UMM yang berkelanjutan dan berorientasi pada solusi nyata.(ali) Penulis; Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Rumah Baca dan Ponpes Internasional AMF Wujudkan Masjid Ramah Anak

Indonesiandaily.com – Rumah Baca Cerdas Institute Abdul Malik Fadjar (RBC Institute AMF) bersama Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (AMF) mewujudkan masjid yang ramah anak. Mereka menjadikan masjid tak hanya menjadi tempat salat, tetapi juga ruang belajar yang ramah anak. Yakni melalui kegiatan literasi dan pembinaan akhlak. Fokus utama kegiatan tersebut diarahkan pada pembentukan akhlak dan adab sebagai fondasi pendidikan sejak dini. Seluruh rangkaian aktivitas dikemas secara sederhana dan menyenangkan agar mudah diterima anak-anak. Dengan metode yang meliputi kegiatan berkisah, bermain, permainan edukatif, serta berbagai aktivitas kreatif yang disesuaikan dengan usia dan karakter peserta. Pemilihan lokasi Masjid sebagai pusat peradaban dan ruang pendidikan yang ramah anak, mengingat fenomena anak-anak yang rajin datang ke masjid saat kecil namun cenderung menjauh ketika beranjak dewasa. Oleh karena itu, kegiatan ini dirancang untuk menjaga kedekatan anak dengan masjid sejak usia dini. Koordinator Program RBC Institute Abdul Malik Fadjar, Manda Danastri, menegaskan bahwa kehadiran literasi di masjid menjadi ikhtiar penting untuk menyeimbangkan perkembangan anak di tengah arus digital. “Anak-anak hari ini sangat dekat dengan gawai. Karena itu, masjid perlu dihadirkan sebagai ruang alternatif yang menyenangkan, aman, dan mendidik,” ungkap Manda. Diantaranya melalui literasi dan pembinaan akhlak, dengan harapan, anak-anak merasa bahwa masjid adalah rumah belajar yang ramah bagi mereka. Ia menambahkan, kolaborasi antara ibu-ibu masjid dan pelajar IPM menjadi kekuatan utama dalam program ini. Menurutnya, gerakan literasi akan lebih berdampak jika dilakukan bersama. Ketika masjid, komunitas, dan pelajar bergerak bersama, pembinaan akhlak dan budaya baca anak dapat tumbuh secara berkelanjutan. Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) PPI-AMF, Azhar Izzudin, mengatakan keterlibatan IPM merupakan bentuk kontribusi pelajar dalam kegiatan sosial dan pendidikan masyarakat. “Kami datang ke sini sebagai relawan untuk membantu kegiatan rutin masjid. Kami bekerja sama dengan RBC melalui mobil baca, mendampingi adik-adik membaca buku, mengenalkan gambar, dan bermain bersama,” ujarnya. Ia menambahkan, momen yang paling berkesan bagi relawan adalah saat mendampingi anak-anak membaca buku. Ada beberapa anak yang meminta dibacakan buku dan bertanya tentang gambarnya. Dari situ mereka belajar mengenali karakter anak-anak. Melalui kolaborasi ibu-ibu Masjid Baiturrahmah, RBC Institute Abdul Malik Fadjar, dan IPM PPI-AMF tingkat ranting, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan positif, minat literasi, serta kedekatan anak-anak dengan masjid secara berkelanjutan