Dosen HI UMM Ulas Ketegangan AS-Venezuela

Reportasemalang – Konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela tidak dapat dipahami secara sederhana. Ketegangan kedua negara ini melibatkan beragam lapisan, mulai dari ideologi, politik, ekonomi, hingga kepentingan geopolitik global. Hal tersebut disampaikan Azza Bimantara, M.A., Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), saat mengulas dinamika hubungan AS–Venezuela yang kembali memanas dalam beberapa waktu terakhir. Azza menjelaskan bahwa akar konflik dapat ditelusuri sejak era kepemimpinan Hugo Chávez yang terpilih sebagai Presiden Venezuela pada 1998. Chávez menerapkan kebijakan ekonomi sosialis, salah satunya melalui nasionalisasi sektor minyak yang sebelumnya dikuasai perusahaan asing. “Kebijakan ini secara ideologis bertolak belakang dengan model ekonomi Amerika Serikat yang neoliberal dan sangat mengedepankan kepentingan perusahaan multinasional,” jelasnya. Hasil nasionalisasi minyak tersebut kemudian dialokasikan untuk kebijakan populis, seperti pengentasan kemiskinan serta peningkatan akses layanan kesehatan dan pendidikan. Namun, langkah ini justru membuat Venezuela dipandang sebagai ancaman ideologis oleh Amerika Serikat. “Sejak saat itu, Venezuela mulai diantagonisasi melalui berbagai tekanan, mulai dari pemboikotan hingga pembatasan akses ekonomi internasional,” ujarnya. Kompleksitas konflik semakin meningkat ketika Venezuela menjalin hubungan erat dengan Kuba, serta kekuatan besar lain seperti Tiongkok dan Rusia. Menurut Azza, kedekatan ini dipersepsikan Amerika Serikat sebagai ancaman geopolitik, terutama mengingat Venezuela memiliki cadangan minyak yang sangat besar. “Venezuela merupakan negara dengan cadangan energi strategis. Kedekatannya dengan Tiongkok dan Rusia jelas dipandang mengganggu kepentingan Amerika Serikat,” katanya. Tekanan politik Amerika Serikat terus berlanjut hingga era kepemimpinan Nicolás Maduro. Maduro dinilai melanjutkan, bahkan memperkuat, kebijakan Chávez dengan gaya kepemimpinan yang lebih otoriter. Dukungan Barat terhadap oposisi Venezuela, termasuk Maria Corina Machado, turut memperuncing konflik. “Dukungan terbuka Amerika Serikat terhadap oposisi menunjukkan adanya upaya perubahan rezim yang semakin nyata,” ungkap Azza. Dari perspektif energi, Azza menegaskan bahwa minyak menjadi faktor kunci dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa keamanan energi merupakan fondasi utama stabilitas ekonomi AS. “Amerika Serikat belajar dari krisis minyak 1970-an bahwa ketergantungan energi harus dikendalikan. Karena itu, akses terhadap minyak Venezuela menjadi kepentingan strategis,” jelasnya. Ia juga menyinggung pernyataan Presiden AS pasca penangkapan Nicolás Maduro yang secara terbuka menyampaikan keinginan untuk mengelola minyak Venezuela. Terkait dampaknya bagi Indonesia, Azza menilai belum terlihat efek signifikan dalam jangka pendek. “Hingga saat ini belum ada perubahan besar dalam tata kelola sektor energi Venezuela. Pertamina juga memastikan bahwa operasi migas di Venezuela masih berjalan normal,” katanya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dampak jangka panjang tetap perlu dicermati seiring dinamika konflik yang terus berkembang. Azza menutup dengan menekankan pentingnya konflik ini sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa Hubungan Internasional. “Kasus Amerika Serikat dan Venezuela menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak pernah lepas dari kepentingan ekonomi dan energi. Ini menjadi peluang besar bagi mahasiswa HI untuk mengkaji isu global secara lebih komprehensif,” pungkasnya(*)
Dosen HI UMM Ungkap Akar Ketegangan AS-Venezuela dan Dampak Bagi Indonesia

MALANG (SurabayaPost.id) – Konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela tidak dapat dipahami secara sederhana. Ketegangan kedua negara ini melibatkan beragam lapisan, mulai dari ideologi, politik, ekonomi, hingga kepentingan geopolitik global. Hal tersebut disampaikan Azza Bimantara, M.A., Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), saat mengulas dinamika hubungan AS–Venezuela yang kembali memanas dalam beberapa waktu terakhir. Azza menjelaskan bahwa akar konflik dapat ditelusuri sejak era kepemimpinan Hugo Chávez yang terpilih sebagai Presiden Venezuela pada 1998. Chávez menerapkan kebijakan ekonomi sosialis, salah satunya melalui nasionalisasi sektor minyak yang sebelumnya dikuasai perusahaan asing. “Kebijakan ini secara ideologis bertolak belakang dengan model ekonomi Amerika Serikat yang neoliberal dan sangat mengedepankan kepentingan perusahaan multinasional,” jelas Azza, Sabtu (17/1/2026). Hasil nasionalisasi minyak tersebut kemudian dialokasikan untuk kebijakan populis, seperti pengentasan kemiskinan serta peningkatan akses layanan kesehatan dan pendidikan. Namun, langkah ini justru membuat Venezuela dipandang sebagai ancaman ideologis oleh Amerika Serikat. “Sejak saat itu, Venezuela mulai diantagonisasi melalui berbagai tekanan, mulai dari pemboikotan hingga pembatasan akses ekonomi internasional,” ujarnya. Kompleksitas konflik semakin meningkat ketika Venezuela menjalin hubungan erat dengan Kuba, serta kekuatan besar lain seperti Tiongkok dan Rusia. Menurut Azza, kedekatan ini dipersepsikan Amerika Serikat sebagai ancaman geopolitik, terutama mengingat Venezuela memiliki cadangan minyak yang sangat besar. “Venezuela merupakan negara dengan cadangan energi strategis. Kedekatannya dengan Tiongkok dan Rusia jelas dipandang mengganggu kepentingan Amerika Serikat,” katanya. Tekanan politik Amerika Serikat terus berlanjut hingga era kepemimpinan Nicolás Maduro. Maduro dinilai melanjutkan, bahkan memperkuat, kebijakan Chávez dengan gaya kepemimpinan yang lebih otoriter. Dukungan Barat terhadap oposisi Venezuela, termasuk Maria Corina Machado, turut memperuncing konflik. “Dukungan terbuka Amerika Serikat terhadap oposisi menunjukkan adanya upaya perubahan rezim yang semakin nyata,” ungkap Azza. Dari perspektif energi, Azza menegaskan bahwa minyak menjadi faktor kunci dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa keamanan energi merupakan fondasi utama stabilitas ekonomi AS. “Amerika Serikat belajar dari krisis minyak 1970-an bahwa ketergantungan energi harus dikendalikan. Karena itu, akses terhadap minyak Venezuela menjadi kepentingan strategis,” jelasnya. Terkait dampaknya bagi Indonesia, Azza menilai belum terlihat efek signifikan dalam jangka pendek. “Hingga saat ini belum ada perubahan besar dalam tata kelola sektor energi Venezuela. Pertamina juga memastikan bahwa operasi migas di Venezuela masih berjalan normal,” katanya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dampak jangka panjang tetap perlu dicermati seiring dinamika konflik yang terus berkembang. Azza menutup dengan menekankan pentingnya konflik ini sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa Hubungan Internasional. “Kasus Amerika Serikat dan Venezuela menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak pernah lepas dari kepentingan ekonomi dan energi. Ini menjadi peluang besar bagi mahasiswa HI untuk mengkaji isu global secara lebih komprehensif,” pungkasnya. (**).
Erasmus+ Jadi Pintu Globalisasi Kampus, Mahasiswa dan Dosen UMM Siap Berlaga di Kancah Internasional 17 January 2026 1:57 pm Uki Pendidikan 0

MALANG (SurabayaPost.id) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui International Relations Office (IRO) menggelar kegiatan Pre-Departure Orientation bagi mahasiswa dan dosen penerima program Erasmus+ di GKB 4 Lantai 1 pada Kamis (15/1/2026), sebagai bagian dari persiapan mobilitas internasional. Kegiatan ini diikuti oleh lima mahasiswa UMM penerima student mobility serta empat dosen penerima teaching mobility yang akan menjalani aktivitas akademik di sejumlah perguruan tinggi mitra di Eropa. Program Erasmus+ merupakan program mobilitas internasional yang didanai penuh oleh Uni Eropa (UE) dan berfokus pada bidang pendidikan, pelatihan, kepemudaan, serta olahraga. Kepala IRO UMM, Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP, menjelaskan bahwa proses seleksi peserta Erasmus+ dilaksanakan secara bertahap dan ketat. “Kami ingin memastikan mahasiswa dan dosen yang berangkat benar-benar siap, baik secara akademik maupun kultural, sehingga mampu beradaptasi dengan baik dan membawa nama baik Universitas Muhammadiyah Malang di kampus tujuan,” ujarnya, Sabtu (17/1/2026). UMM memiliki 14 mitra aktif Erasmus yang mencakup skema outbound dan inbound, dengan pendanaan sepenuhnya berada di bawah kewenangan Uni Eropa. Kampus putih juga terus mengembangkan strategi internasionalisasi melalui penguatan kelas internasional, mikro kredensial, dan pembelajaran daring lintas negara. Prof. Akhsanul In’am, Ph.D. menekankan bahwa mobilitas internasional merupakan bagian dari strategi besar UMM dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing global. “Kami berharap para peserta dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin, tidak hanya untuk belajar dan mengajar, tetapi juga untuk membangun jejaring internasional serta membawa pulang praktik-praktik baik yang dapat dikembangkan di UMM,” ungkapnya. Dengan dukungan institusi yang kuat, UMM siap mencetak lulusan berwawasan global, berdaya saing tinggi, dan tetap berakar pada nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan. (lil).
Agribisnis UMM Siap Cetak Eksportir Muda Handal Hingga Tembus Pasar Mancanegara

Merespons tingginya permintaan pasar global yang kerap terkendala minimnya SDM andal, Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperkuat ‘pabrik’ pencetak eksportir mudanya. Memasuki persiapan tahun 2026, UMM memastikan Kelas Center of Excellence (CoE) Profesional Ekspor Agribisnis akan diisi dengan kurikulum yang langsung menghadirkan para praktisi ekspor dunia. Inisiatif ini hadir sebagai respons strategis atas besarnya potensi agribisnis Indonesia. Saat ini, Indonesia tercatat sebagai salah satu eksportir utama di Asia Tenggara untuk komoditas unggulan seperti kopi, rempah, minyak nabati, hingga pangan olahan. Sayangnya, besarnya peluang ini kerap terbentur kendala teknis. Banyak pelaku usaha kesulitan dalam dokumentasi perdagangan, pemenuhan standar mutu, logistik, hingga segmentasi pasar. Di sisi lain, ketersediaan tenaga kerja terampil yang benar-benar memahami ekosistem ekspor agrokompleks masih sangat minim. Ketua Prodi Agribisnis UMM, M. Zul Mazwan, M.Sc., menegaskan bahwa pembukaan CoE pada 2026 adalah bukti konsistensi kampus dalam menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan realitas industri ekspor. “Kami tidak hanya mengajarkan teori pengembangan komoditas atau pemasaran semata, tetapi menempatkan mahasiswa langsung pada konteks rantai nilai global (global value chain). Di sini, mereka belajar langsung dari grantor industri yang sehari-hari berhadapan dengan buyer luar negeri,” ujar Zul CoE Ekspor edisi 2026 ini akan menawarkan kurikulum komprehensif yang memadukan tiga elemen vital: pembelajaran akademik berbasis analisis, pelatihan praktis oleh pelaku ekspor, dan analisis penetrasi pasar internasional. Melalui skema ini, mahasiswa ditargetkan menguasai seluruh alur ekspor, mulai dari memetakan potensi komoditas, standardisasi produk, aspek legalitas, hingga teknis pengiriman. Untuk menjamin kualitas lulusan, Agribisnis UMM menggandeng mitra dari Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) yang telah memiliki jam terbang tinggi di pasar Eropa, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Para praktisi dari sektor pangan olahan, kopi, hortikultura, dan turunan komoditas agro lainnya dijadwalkan hadir sebagai pengajar tamu sepanjang semester. Zul menambahkan, era agribisnis masa depan menuntut SDM yang peka terhadap isu-isu global modern. “Generasi eksportir muda ini tidak boleh hanya mengandalkan intuisi bisnis. Mereka harus menguasai riset pasar, strategi negosiasi, sertifikasi, hingga manajemen risiko global. Lebih jauh lagi, mereka harus paham tren ketertelusuran produk (traceability), keberlanjutan (sustainability), isu karbon, serta preferensi konsumen di tiap kawasan,” tambahnya. Kini, CoE Agribisnis UMM menjadi salah satu program primadona karena menawarkan output karier yang jelas. Program ini diproyeksikan mampu membantu perusahaan agro berekspansi ke pasar internasional melalui tenaga kerja andal, atau mendorong mahasiswa menjadi eksportir mandiri lewat inkubasi bisnis kampus. Dengan persiapan yang matang, tahun 2026 diprediksi menjadi momentum penting bagi angkatan keempat CoE ini untuk berperan aktif dalam transformasi ekspor agribisnis Indonesia. (faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Gelar Pentas Teater, Pahami Artistik Sutradara
Kehilangan Rasa Memanusiakan Manusia
Malang dan Paradoks Kota Kreatif
Menakar Arah Bangsa Menuju 2045, PSIB UMM Dorong Refleksi Kritis Indonesia Emas Admin JSN Admin JSN

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Ketika awal tahun kerap dimaknai sebagai sekadar jeda rutinitas dan perayaan seremonial, Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru memilih jalur berbeda. Awal 2026 dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk menakar arah masa depan bangsa melalui diskusi bertajuk “Refleksi Awal Tahun: Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045”, yang digelar di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar, Senin (12/1/2026). Forum ini menjadi ruang refleksi kritis terhadap visi besar Indonesia Emas 2045 yang selama ini kerap digaungkan dalam wacana politik. Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., menegaskan bahwa pemilihan waktu di awal tahun bukan tanpa alasan. Menurutnya, refleksi sejak dini merupakan langkah proaktif untuk menawarkan inovasi dan koreksi arah pembangunan. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan. Ia adalah visi besar yang harus diuji secara akademik dan ditopang fondasi ilmiah yang kuat. Diskusi ini tidak berhenti pada wacana, tetapi akan kami rumuskan menjadi book chapter yang dapat menjadi rujukan kebijakan bagi pemerintah dalam mengambil langkah strategis,” tegas Prof. Gonda. Diskusi kian menghangat saat Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PWM Jawa Timur, Luthfi J. Kurniawan, menyampaikan peringatan keras terkait bonus demografi. Ia menyebut, peluang besar tersebut dapat berubah menjadi ancaman serius jika tidak diiringi pembangunan sumber daya manusia dan sektor kesehatan yang memadai. “Bonus demografi bukan jaminan otomatis menuju negara maju. Jika pendidikan dan kesehatan diabaikan, justru akan menjadi bencana pembangunan. Indonesia Emas 2045 hanya bisa dicapai dengan tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas SDM, bukan sekadar jumlah penduduk usia produktif,” ujarnya. Kekhawatiran itu diperkuat oleh paparan Abdus Salam, M.Si., pakar sosiologi politik UMM. Ia mengajak peserta melihat sisi gelap pembangunan yang kerap luput dari jargon kemajuan, yakni kemiskinan struktural. Menurutnya, persoalan ini masih nyata dan berlapis, mulai dari sektor agraria hingga wilayah perkotaan. “Kita menghadapi kemiskinan agraria ketika petani kehilangan akses lahan, serta kemiskinan urban akibat struktur industri yang lemah sehingga masyarakat bergantung pada sektor informal. Ini pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan jika Indonesia benar-benar ingin melangkah menuju kemajuan,” paparnya. Diskusi yang dihadiri puluhan peserta dari berbagai latar belakang—mulai dari aktivis mahasiswa, akademisi, hingga pegiat literasi—ditutup dengan komitmen bersama untuk terus mengawal isu-isu strategis kebangsaan. PSIB UMM berharap gagasan kritis yang lahir dari forum ini dapat menjadi kontribusi nyata dalam merumuskan peta jalan Indonesia menuju masa depan yang adil, berkelanjutan, dan berkemajuan. (ANS)
UMM Cetak Garda Depan Penggerak Ekosistem Halal Nasional

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Upaya membangun industri halal nasional tidak bisa dilakukan secara parsial. Dengan indeks literasi ekonomi syariah Indonesia yang masih berada di bawah 50 persen, dibutuhkan sinergi lintas sektor sekaligus penguatan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tampil progresif dengan menjadikan mahasiswa sebagai garda terdepan penggerak ekosistem halal. Melalui Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal), UMM secara konsisten mengintegrasikan kompetensi halal ke dalam kurikulum lintas program studi. Mulai dari Teknologi Pangan, Agribisnis, Ekonomi Syariah, hingga Fakultas Hukum, mahasiswa dibekali pemahaman dan keterampilan halal yang aplikatif serta relevan dengan kebutuhan industri. Ketua PS P3 Halal UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP, menegaskan bahwa industri halal bertumpu pada empat pilar utama, yakni produk barang dan jasa, infrastruktur, SDM, serta dukungan regulasi pemerintah. Karena itu, penguatan kompetensi halal di bangku kuliah menjadi investasi strategis bagi masa depan lulusan. “Kompetensi halal saat ini membuka peluang karier yang sangat luas. Salah satunya dalam mendukung program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Dapur-dapur MBG bukan hanya membutuhkan ahli gizi, tetapi juga SDM yang memahami dan mampu menjamin kehalalan proses produksinya,” ujar Prof. Elfi kepada tim Humas UMM, 12 Januari 2026 lalu. Ia mencontohkan keberhasilan Iffi Amalia, S.T.P., alumni Teknologi Pangan UMM yang setelah hampir dua tahun magang di tim halal UMM, kini dipercaya menjadi Ahli Gizi dapur MBG di Banyuwangi. Keunggulannya terletak pada keahlian ganda, yakni pemahaman gizi sekaligus sertifikasi halal. PS P3 Halal UMM sendiri tercatat sebagai pusat kajian pangan aman halal pertama di Indonesia sejak berdiri pada 2008. Melalui program Pendamping Proses Produk Halal (P3H), mahasiswa diterjunkan langsung mendampingi pelaku UMKM dalam proses sertifikasi halal. “Mahasiswa mendapatkan empat manfaat sekaligus. Pertama, kompetensi teknis halal. Kedua, konversi nilai A tanpa harus mengikuti UAS jika berhasil meloloskan sertifikat halal UMKM. Ketiga, percepatan kelulusan karena laporan pendampingan dapat dijadikan skripsi. Keempat, ini menjadi amal jariyah karena membantu UMKM mendapatkan sertifikasi halal secara gratis,” jelas Prof. Elfi. Dampak program ini terbukti nyata. Dalam waktu hanya empat minggu, dari 90 mahasiswa yang terlibat, sebanyak 14 mahasiswa berhasil menuntaskan tugas terstruktur dan mengawal terbitnya sertifikat halal bagi sejumlah produk, seperti Minuman Bu Neneng (Sengkaling), Bumbu Pecel Bu Romlah (Singosari), hingga Dimsum Littlebite. “Mahasiswa adalah agent of change. Dengan bekal kompetensi halal ini, mereka tidak hanya siap terjun ke dunia kerja, tetapi juga mampu menjadi penggerak gaya hidup halal yang inklusif di tengah masyarakat,” pungkasnya. (ANS)
Melalui Praktik Laboratorium KeSD-an, PGSD UMM Perkuat Karakter dan Kepemimpinan Mahasiswa Calon Guru SD

Malang, JurnalPost.com — Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Kursus Mahir Dasar (KMD) Kepramukaan sebagai luaran Mata Kuliah Praktik Laboratorium KeSD-an bagi mahasiswa PGSD angkatan 2023. Kegiatan KMD ini diikuti oleh 110 mahasiswa dengan rincian 87 golongan siaga dan 23 golongan penggalang, serta dilatih dengan 25 pelatih maupun tenaga administrasi Kwarcab Kabupaten Malang Kegiatan KMD resmi dibuka pada 26 Desember 2025 bertempat di Aula Teknik GKB 3 UMM Kampus III, dan dibuka oleh Kaprodi PGSD UMM, Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd. Pembukaan ini menandai dimulainya rangkaian pendidikan dan pelatihan kepramukaan yang terintegrasi dengan pembelajaran praktik di Laboratorium KeSD-an. Pelaksanaan KMD terbagi dalam dua tahap, yaitu diklat ruang pada 26–28 Desember 2025 dan diklat lapang pada 29–31 Desember 2025. Seluruh rangkaian diklat lapang sekaligus upacara penutupan dilaksanakan di Lapangan Olahraga Taman Rekreasi Sengkaling, guna memberikan pengalaman kepramukaan yang aplikatif dan kontekstual bagi mahasiswa calon guru sekolah dasar. Kepala Pusdiklatcab Indarkila Kabupaten Malang, Kak Hj. Mamik Sumarni, S.Pd., menyampaikan bahwa “KMD merupakan tahapan penting dalam membekali calon pembina Pramuka dengan kompetensi kepemimpinan, keterampilan kepramukaan, serta nilai-nilai karakter yang relevan dengan dunia pendidikan dasar.” Upacara penutupan KMD dilaksanakan pada 31 Desember 2025, Kepala Laboratorium KeSD-an PGSD UMM, Ima Wahyu Putri Utami, M.Pd. Dalam amanatnya, disampaikan bahwa “KMD sebagai praktik Laboratorium KeSD-an diharapkan mampu memperkuat karakter, kemandirian, dan kesiapan mahasiswa PGSD sebagai calon guru sekaligus pembina Pramuka di sekolah dasar.” Kegiatan ini berada di bawah pendampingan dosen pengampu mata kuliah Kepramukaan PGSD UMM, yakni Tyas Deviana, M.Pd. dan Bustanol Arifin, M.Pd., yang secara intensif mengawal proses pendidikan dan pelatihan agar selaras dengan capaian pembelajaran lulusan PGSD. “Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Muhammadiyah Malang melaksanakan Kursus Mahir Dasar (KMD), sebagai bentuk kursus dan uji kompetensi sebagai Pembina Pramuka. Kegiatan KMD ini merupakan bentuk pengejawantahan ujian akhir pada mata kuliah praktik Kepramukaan.” Imbuh Tyas Melalui pelaksanaan KMD sebagai luaran Mata Kuliah Praktik Laboratorium KeSD-an, Prodi PGSD UMM menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi kepramukaan, kepemimpinan, dan karakter kebangsaan yang kuat.