Pakar Literasi Lingkungan, Ekologi dan Guru Besar Biologi di UMM Ungkap Fakta Lapangan dan Riset Ilmiah Pagerungan Kecil

Jakarta (ANTARA) – Merespon sorotan public tentang wilayah Pagerungan Kecil yang disandingkan dengan peran Kangean Energy Indonesia (KEI) dan dinilai negatif, dibantah oleh pakar literasi lingkungan dan ekologi, serta guru besar Biologi dan Ilmu Lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam tudingan tersebut menyebutkan bahwa aktivitas eksplorasi gas bumi yang lakukan oleh Kangean Energy Indonesia di wilayah Kepulauan Sapeken, Sumenep, Jawa Timur, telah merusak lingkungan. Dua pakar lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyatakan, bahwa tudingan tersebut tidak berdasar dan tidak sesuai dengan fakta lapangan serta hasil penelitian ilmiah. Dua akademisi tersebut, yakni Dr. Husamah, merupakan putra daerah pagerungan kecil yang saat ini berprofesi sebagai Dosen UMM, sekaligus pakar literasi lingkungan dan ekologi, serta Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si, selaku guru besar Biologi dan Ilmu Lingkungan, mengaku telah melakukan penelitian ekstensif selama lebih dari 10 tahun di wilayah Pagerungan Besar, Pagerungan Kecil, dan sekitarnya. “Kerusakan ekosistem laut di wilayah tersebut bukan disebabkan oleh aktivitas KEI, melainkan oleh praktik penangkapan ikan merusak seperti penggunaan bom ikan, racun potasium, dan pengambilan terumbu karang oleh masyarakat,” ungkap Dr. Husamah dalam keterangan tertulis. Ia menilai, justru sebaliknya, KEI selama ini berperan aktif dalam kegiatan konservasi dan edukasi masyarakat, termasuk mendorong alih profesi dari pemburu hiu menjadi pembudidaya rumput laut dan teripang. Langkah ini didokumentasikan dalam berbagai jurnal ilmiah internasional yang menyoroti transformasi sosial-ekologis masyarakat pesisir di Sapeken. Tak hanya itu, sebagian masyarakat juga kerap mengambil karang dan rataan terumbu sebagai bahan bangunan, serta mencari kerang abalone (“mata tujuh”) dengan cara merusak struktur karang. Melihat fenomena ini, KEI justru hadir sebagai mitra konservasi bersama masyarakat. “Kami menyaksikan sendiri, KEI menginisiasi edukasi dan penguatan komunitas, khususnya pemuda dan karang taruna, untuk pelestarian terumbu karang. KEI menyadari pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga ekosistem laut,” ungkap Dr. Husamah. Prof. Abdulkadir menambahkan, KEI juga terlibat dalam program restorasi mangrove dan pelestarian spesies lokal. Data observasi terbaru (2024–2025) mencatat kehadiran berbagai jenis burung, termasuk spesies langka seperti Elang Laut Perut Putih dan Cendet Madura di area sekitar tambang. “Jika terjadi kerusakan ekologis masif akibat tambang, spesies-spesies tersebut mustahil bertahan. Ini bukti bahwa KEI mengedepankan prinsip keberlanjutan,” ujarnya. Selain menjaga biodiversitas, KEI turut mendampingi desa tertinggal seperti Pagerungan Kecil dalam menyediakan akses energi melalui perbaikan pasokan listrik, yang sebelumnya hanya menyala lima jam per hari. Soal mengurai mitos dan informasi keliru, Pakar UMM juga meluruskan isu mengenai berkurangnya tangkapan ikan dan jarak melaut yang semakin jauh. Menurutnya, fenomena ini lebih disebabkan oleh kerusakan ekosistem akibat ulah manusia, kapal penangkap besar dari luar daerah, dan eksploitasi padang lamun. “Bukan karena aktivitas KEI,” Ungakapnya dengan tegas. Dengan landasan riset dan observasi panjang, keduanya menegaskan bahwa narasi negatif terhadap KEI tidak didasarkan pada data ilmiah. “Kami berharap publik dan media tidak terjebak pada asumsi. KEI telah membuktikan komitmen terhadap lingkungan dan pemberdayaan masyarakat melalui kerja nyata,” paparnya. Kemudian, langkah ini diperkuat melalui pendekatan riset yang telah dipublikasikan dalam jurnal internasional: From Shark Hunter to Seaweed and Sea-Cucumber Cultivator: A Phenomenology Study at Sapeken Islands, Indonesia, di American Journal of Humanities and Social Sciences, Vol. 2 No. 10, hlm. 119–124. “Dalam riset tersebut, dijelaskan transformasi sosial-ekologis masyarakat Sapeken, dari pemburu hiu demi siripnya menjadi pelaku akuakultur berkelanjutan” jelasnya. Selanjutnya, potensi budidaya teripang (Holothuroidea) menjadi fokus utama. KEI bersama akademisi UMM juga menerbitkan riset: Community structure, diversity, and distribution patterns of sea cucumber in the coral reef area of Sapeken Islands (AACL Bioflux, Vol. 13 No. 4, 2020) “Penelitian ini menekankan pentingnya menjaga karang dan mangrove, sebagai habitat kunci dari spesies teripang yang bernilai ekonomis tinggi dan mendukung keberlanjutan mata pencaharian masyarakat,” ujarnya. Tidak sampai disitu, dalam rangkaian penelitian ekologis tahun 2024, Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto mencatat keberadaan beragam spesies burung yang masih hidup lestari di wilayah tambang dan sekitarnya, diantaranya: Burung Kecil dan Sedang: • Pleci Belukar (Zosterops flavus) – 62 ekor • Seriti (Collocalia vestita) – 224 ekor • Cendet Madura (Lanius vittatus) – 10 ekor (endemik dan hampir punah) • Tekukur (Spilopelia chinensis) – 72 ekor • Gagak hutan (Corvus enca) – 19 ekor • Kacer dan Kucica Hitam – masih ditemukan dalam jumlah terbatas Burung Paruh Panjang dan Besar: • Gajahan Besar (Numenius arquata) – 28 ekor (dilindungi) • Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster) – 3 ekor • Kuntul Karang dan Cangak Abu – populasi stabil “Jika lingkungan rusak total, spesies-spesies ini akan lenyap lebih cepat. Fakta keberadaan mereka merupakan bukti keutuhan ekosistem yang dijaga,” tukas Prof. Rahardjanto. Pewarta: PR Wire Editor: PR Wire Copyright © ANTARA 2026

Panggung Jadi Ruang Belajar, Mahasiswa BSI Modern UMM Pentaskan Dua Lakon Sarat Konflik

Tipu daya yang menyisakan luka dan kesetiaan yang diuji oleh waktu bertemu di atas satu panggung. Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghidupkan dua lakon kontras yang menggugah emosi penonton melalui pementasan teater selama dua hari, 11–12 Januari 2026, di Lorong Masjid AR Fachruddin UMM. Pertunjukan ini merupakan luaran mata kuliah Penyutradaraan yang menampilkan dua naskah dalam dua hari berturut-turut. Hari pertama menghadirkan “Lakon Elegi Musim Panas” karya Chandra Kudapawarna, disusul hari kedua dengan “Orang Kasar” karya Anton Chekov saduran W.S. Rendra. Keduanya menjadi ruang eksplorasi penyutradaraan, keaktoran, dan pembacaan teks drama oleh mahasiswa. Pada hari pertama, “Lakon Elegi Musim Panas” mengisahkan Nikolas, seorang lelaki yang menjalin perselingkuhan dengan seorang perempuan demi menguasai hartanya. Perselingkuhan tersebut merupakan bagian dari rencana yang ia susun bersama istrinya. Tanpa disadari, perempuan yang menjadi selingkuhannya mengalami kebangkrutan dan keterpurukan batin setelah mengetahui bahwa hubungan yang ia jalani hanyalah manipulasi. Lakon ini dibangun dengan suasana emosional yang intens, menonjolkan pengkhianatan, tipu daya, dan kehancuran perasaan. Hari kedua menampilkan “Orang Kasar” dengan nuansa yang lebih dinamis dan penuh ironi. Lakon ini berkisah tentang seorang nyonya yang setia pada mendiang suaminya dengan memilih hidup dalam balutan pakaian serba hitam. Konflik muncul ketika Bilal, sahabat mendiang suaminya, datang menagih utang lama dan menolak pergi sebelum utang tersebut dilunasi. Kehadiran Bilal justru menumbuhkan perasaan cinta, sementara sang nyonya berada dalam dilema antara perasaan baru dan kesetiaannya. Adegan-adegan komikal yang dibangun dari gengsi dan kecanggungan dua tokoh membuat penonton dibuat greget hingga akhir pertunjukan. Dr. Hari Sunaryo, M.Si., selaku pembina mata kuliah penyutradaraan menilai pementasan ini menjadi ruang belajar penting bagi mahasiswa dalam memahami tanggung jawab artistik seorang sutradara. Ia menyebut bahwa kedua naskah memiliki tantangan tersendiri yang menuntut kepekaan dan kedewasaan dalam mengolah adegan. “Saya yang mendampingi adik-adik ini berproses sejak awal membatin bahwa naskah ini memiliki banyak jebakan, terutama pada adegan-adegan yang terlibat. Jika tidak seksama sebagai sutradara dan pelaku, ada banyak hal yang bisa masuk dalam wilayah sensor. Karena itu, penting untuk tetap mengusung nilai-nilai. Sutradara dan UMM memiliki filter yang lebih presisi. Semua ini menjadi pelajaran berharga ketika menyutradarai—sebagai pribadi yang memiliki kehidupan sekaligus penjaga kehidupan,” ujarnya. Sementara itu, Kepala Prodi BSI Modern UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd., mengapresiasi proses panjang yang dijalani mahasiswa selama produksi. Menurutnya, dinamika suka dan duka selama latihan justru memperkuat kualitas permainan aktor di atas panggung. Ia juga berharap pementasan teater mahasiswa dapat menjangkau audiens yang lebih luas melalui publikasi yang lebih masif, karena pertunjukan semacam ini sayang jika dilewatkan dan memiliki nilai penting sebagai bekal mahasiswa ketika lulus, khususnya dalam dunia kerja yang berkaitan dengan akting dan keaktoran. “Banyak proses yang mereka jalani selama produksi, ada suka dan dukanya. Namun, mereka mampu membawakan adegan demi adegan dengan baik sehingga imajinasi penonton dibuat sulit menebak alur ceritanya. Plot twist yang dihadirkan bahkan memancing reaksi jengkel penonton, dan itu artinya para aktor berhasil menyesuaikan diri dalam mendalami setiap perannya,” tuturnya. Melalui dua lakon dengan konflik yang kontras, pertunjukan ini menegaskan bahwa panggung teater di UMM tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, tetapi juga ruang pembelajaran yang membentuk kepekaan dan profesionalitas mahasiswa. Perbedaan pendekatan penyutradaraan dan keaktoran pada masing-masing lakon menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam membaca konflik serta mengolah emosi di atas panggung. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi artistik dan profesional setelah lulus.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Ulas Klasterisasi Perguruan Tinggi, Wamendiktisaintek Dorong Penguatan Nilai Civitas Akademika UMM

Kesinambungan nilai dan budaya organisasi kampus menjadi fondasi utama dalam menghadapi dinamika. Hal tersebut ditegaskan oleh Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., selaku Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), saat memberikan pengarahan kepada jajaran UMM di Aula BAU, Sabtu (10/1). Fauzan menekankan bahwa kekuatan institusi pendidikan tinggi tidak semata bertumpu pada kebijakan formal, tetapi juga pada proses kesinambungan nilai lintas generasi. Proses tersebut menjaga spirit, etos kerja, dan cara beraktivitas sivitas akademika agar tetap selaras dengan cita-cita institusi. “Proses sambung cerita dan sambung nilai inilah yang menjadi kekuatan fundamental kampus dalam menghadapi perubahan dan persaingan perguruan tinggi,” ujarnya. Ia juga menyinggung kebijakan klasterisasi perguruan tinggi yang diterapkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dalam kebijakan tersebut, UMM masuk dalam klaster mandiri. Ke depan, perguruan tinggi swasta pada klaster ini akan diarahkan menjadi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) unggul mandiri, dengan kewenangan yang lebih luas dalam pengelolaan program studi serta akreditasi. Kebijakan ini diharapkan mampu mempercepat transformasi dan meningkatkan daya saing PTS yang telah mapan secara tata kelola. “Program khusus untuk PTS klaster mandiri sedang kami desain agar ke depan memiliki kewenangan yang lebih luwes dan berdampak,” jelasnya. Selain itu, Fauzan mengapresiasi iklim akademik dan corporate culture UMM yang dinilainya kondusif, stabil, dan minim konflik. Menurutnya, budaya kampus yang nyaman dan kolaboratif justru menjadi pembeda utama dibandingkan banyak perguruan tinggi lain, baik negeri maupun swasta. Pendekatan tersebut sejalan dengan karakter UMM yang lebih menekankan substansi dan keberlanjutan, bukan sekadar pencapaian simbolik. Dalam kesempatan yang sama, ia menegaskan bahwa program studi merupakan mesin utama perguruan tinggi. Ketua program studi diposisikan sebagai pemimpin akademik yang bertanggung jawab atas keberlanjutan keilmuan, relevansi, serta dampak keilmuan bagi masyarakat. Ia pun mendorong perubahan cara pandang kampus, dari sekadar tempat transfer ilmu menjadi institusi pemberi solusi, sejalan dengan agenda pendidikan tinggi berdampak yang tengah digencarkan pemerintah. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa arahan yang disampaikan Sekretaris BPH sekaligus Wamendiktisaintek itu menjadi penguat langkah strategis UMM dalam menjaga konsistensi nilai, budaya kerja, dan mutu tata kelola kampus. Ia menegaskan komitmen UMM untuk terus beradaptasi dengan kebijakan nasional tanpa meninggalkan karakter dan identitas institusi. “UMM akan terus menjaga budaya kampus yang sehat, inklusif, dan produktif, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai institusi yang memberi dampak nyata bagi masyarakat. Arahan ini menjadi pengingat bagi kami untuk terus bergerak maju dengan pijakan nilai yang kuat,” pungkasnya.(*alg/faq)   Penulis: Musthofa Ahmad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Dari Hygiene Kit hingga Bersih-Bersih Sekolah, Ini Aksi Nyata UMM Berbagi Pulihkan Aceh Tamiang

Komitmen kemanusiaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program “UMM Berbagi untuk Negeri” terus bergulir secara masif di wilayah terdampak bencana Sumatera. Memasuki tahap ketiga, Kampus Putih tidak sekadar mengirimkan bantuan logistik, melainkan menerjunkan tim ahli yang terdiri dari dosen dan teknisi untuk memimpin percepatan pemulihan pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang sejak awal Januari 2026. Fokus utama tim kali ini adalah menghidupkan kembali denyut nadi pendidikan yang sempat lumpuh total akibat banjir bandang. Langkah konkret terlihat di Kecamatan Bandar Pusaka, di mana tim UMM Berbagi berjibaku membersihkan endapan lumpur tebal yang menimbun ruang-ruang kelas di Madrasah Aliyah (MA) Al Hikmah dan Raudhatul Athfal (RA) Darul Muta’allimin, Desa Sunting. Ir. Ary Bakhtiar, M.Si., IPM., ASEAN Eng., Koordinator UMM Berbagi untuk Negeri, menegaskan bahwa normalisasi fasilitas pendidikan menjadi prioritas utama timnya. Ia menggambarkan kondisi lapangan yang cukup berat, di mana material sisa banjir membuat aktivitas belajar mengajar mustahil dilakukan tanpa intervensi alat dan tenaga yang memadai. “Tim kami langsung bergerak cepat membersihkan lumpur pekat yang memenuhi ruang kelas di MA Al Hikmah dan RA Darul Muta’allimin. Target kami jelas, agar anak-anak bisa segera kembali bersekolah dengan aman dan nyaman. Selain pembersihan fisik, kami juga mendistribusikan paket hygiene kit kepada para guru dan siswa di Dusun Anggrek. Ini adalah pendekatan komprehensif; kami perbaiki fisiknya, sekaligus kami jaga kesehatan warga sekolahnya,” jelas Ary. Berbeda dengan gelombang sebelumnya yang didominasi oleh semangat juang mahasiswa dalam fase tanggap darurat, penerjunan tahap ketiga ini membawa misi spesifik rehabilitasi dan rekonstruksi. Eka Kadarpa Utama Dewayani, MM., salah satu relawan sekaligus dosen UMM dalam tim tersebut, menjelaskan perubahan strategi ini. Menurutnya, komposisi tim yang diisi oleh jajaran dosen dan tenaga ahli disesuaikan dengan kebutuhan lapangan yang kini bergeser ke arah pemulihan infrastruktur vital dan manajemen posko. “Berdasarkan hasil asesmen lapangan terakhir, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah sektor WASH (Water, Sanitation, and Hygiene) serta pendampingan psikososial. Oleh karena itu, tim tahap ketiga ini memiliki tugas spesifik untuk pengelolaan logistik, perbaikan sarana air bersih, hingga trauma healing. Kami ingin memastikan sistem pendukung kehidupan di sini kembali berfungsi,” ungkap Eka. Pergeseran fokus wilayah operasi ini juga merupakan respons cepat atas mandat Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Timur. Sumber daya yang sebelumnya terkonsentrasi di Langkat, Sumatera Utara, kini digeser penuh ke Aceh Tamiang mengingat eskalasi kebutuhan penanganan yang lebih intensif di wilayah tersebut. Aksi nyata ini mempertegas posisi UMM sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya hadir saat sorotan kamera tertuju pada bencana, namun tetap setia mengawal hingga fase pemulihan. Melalui sinergi antara pembersihan sarana pendidikan, bantuan kesehatan, dan dukungan psikososial, UMM Berbagi berupaya memastikan masyarakat Aceh Tamiang, khususnya generasi mudanya, dapat segera bangkit dan menatap masa depan kembali. (faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Bikin Inovasi COLARIX, Mahasiswa UMM Sabet Emas PKMM Kategori Karsa Cipta

Berangkat dari kepekaan terhadap persoalan nyata di sektor peternakan, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan kapasitasnya sebagai inovator muda di tingkat nasional. Melalui ajang Penghargaan Kreativitas Mahasiswa Muhammadiyah (PKMM) yang digelar pada November 2025, dua mahasiswa Program Studi Informatika UMM sukses menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih medali emas kategori PKMM-KC (Karsa Cipta). Dua mahasiswa tersebut adalah Putri Nayla Sabri dan Nisrina Nurhafihah yang berhasil mengungguli peserta lain berkat inovasi teknologi bertajuk COLARIX, sebuah perangkat cerdas untuk pemantauan kesehatan ternak. Capaian ini menegaskan peran mahasiswa UMM sebagai generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif menghadirkan solusi berbasis teknologi atas persoalan riil di masyarakat. Putri Nayla Sabri menjelaskan bahwa PKMM merupakan wadah strategis bagi mahasiswa Muhammadiyah untuk mengembangkan gagasan inovatif berbasis riset dan kebutuhan nyata. Menurutnya, skema kompetisi ini memiliki kemiripan dengan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tingkat nasional, namun diselenggarakan secara khusus oleh Muhammadiyah sebagai ruang aktualisasi intelektual mahasiswa. Mahasiswa asal Wamena tersebut menuturkan bahwa timnya mengangkat isu serius di sektor peternakan, yakni penyakit mulut dan kuku (PMK). Penyakit ini berdampak signifikan terhadap kesehatan ternak sekaligus menimbulkan kerugian ekonomi bagi peternak. Berdasarkan data kasus, PMK tercatat menginfeksi lebih dari 14.000 ekor ternak dalam rentang Desember 2024 hingga Januari 2025, sehingga dinilai sebagai persoalan mendesak yang membutuhkan pendekatan inovatif dan berbasis teknologi. Berangkat dari permasalahan tersebut, tim kemudian mengembangkan COLARIX, sebuah smart collar berbasis Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI) yang berfungsi memantau kondisi sapi pasca infeksi PMK secara otomatis dan real time. Perangkat ini mengintegrasikan kamera ESP32-CAM, sensor suhu DS18B20, serta sensor gerak MPU6050. Data yang diperoleh kemudian diproses menggunakan algoritma MobileNet dan Dempster-Shafer Theory, sebelum ditampilkan dalam sebuah dashboard pemantauan kesehatan ternak. “COLARIX ini merupakan smart collar berbasis IoT dan AI yang digunakan untuk memonitoring kondisi sapi pasca infeksi penyakit mulut dan kuku,” ujar Putri. Dalam proses pengembangannya, tim mengakui masih menghadapi sejumlah keterbatasan. Riset dilakukan dalam waktu relatif singkat, kurang dari dua minggu, dan produk yang dihasilkan masih berada pada tahap prototipe fungsional awal tanpa uji lapangan. Meski demikian, Putri menegaskan bahwa fokus utama tim adalah memastikan kelayakan teknis serta landasan ilmiah alat sebagai pijakan pengembangan lanjutan. Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan pihak kampus. Tim memperoleh pendampingan dari dosen pembimbing, fasilitasi akademik, hingga ruang pengembangan ide di lingkungan Program Studi Informatika UMM. Dukungan tersebut menjadi faktor penting yang mendorong mahasiswa berani berinovasi dan berkompetisi di tingkat nasional. Sementara itu, Zamah Sari, S.T., M.T., Dosen Fakultas Teknik Program Studi Informatika sekaligus dosen pembina tim PKMM-KC UMM, menilai inovasi COLARIX memiliki keunggulan pada sistem pemantauan real time dan non-invasif, penggunaan multi-sensor yang meningkatkan akurasi, serta biaya produksi yang relatif terjangkau sehingga berpotensi diterapkan di peternakan komunal. Sebagai penutup, Ia berpesan kepada mahasiswa UMM agar tidak ragu memulai ide dan berinovasi meskipun belum sempurna. Menurutnya, inovasi bernilai lahir dari keberanian mengangkat masalah nyata dan kemauan untuk terus belajar. Prestasi ini menjadi bukti konsistensi UMM dalam melahirkan mahasiswa yang peka terhadap persoalan sosial dan mampu menghadirkan solusi berbasis teknologi bagi masyarakat. (bim/faq)   Penulis: Bima Chusnul Tribowo | Editor; Faqih Ahmad Wafir Rahman

Mahasiswi PAI UMM Torehkan Prestasi Multitalenta, dari Juara Stand Up Comedy hingga Founder Bisnis

pwmu.co –Latar belakang sebagai mahasiswi Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak menghalangi Umi Khabibah untuk berprestasi di berbagai bidang. Mahasiswi angkatan 2023 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini sukses menorehkan prestasi nasional dengan meraih Juara Harapan 1 Stand Up Comedy pada ajang KMI Expo 2025.Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa lingkungan akademik UMM mendorong lahirnya mahasiswa multitalenta yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Melalui dunia komedi tunggal, Umi tidak hanya tampil menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan kritis dengan pendekatan komunikasi yang cerdas dan membumi. Bagi Umi, kemampuan public speaking bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan bagian dari tanggung jawab moral dalam menyampaikan nilai-nilai kebaikan kepada masyarakat. Ia menilai, latar belakang keilmuan PAI justru memberi kekuatan tersendiri dalam membangun komunikasi yang beretika dan berlandaskan ilmu. “Kalau lulusan PAI tidak mahir bicara, panggung dakwah bisa diisi oleh orang yang keliru. Sekarang banyak yang pintar bicara, tetapi tidak memiliki kompetensi keilmuan. Di sinilah pentingnya mahasiswa PAI menguasai komunikasi,” tegasnya. Selama menempuh studi di UMM, Umi aktif mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri. Ia tercatat sebagai anggota UKM MTQ, aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), serta pernah dipercaya menjadi Ambassador I’am Women Indonesia 2023. Berbagai pengalaman tersebut menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan dan komunikasi yang membentuk kepercayaan dirinya. “Justru dari organisasi saya belajar banyak, mulai dari mengelola tim, menyampaikan gagasan, hingga memahami perbedaan karakter,” ujarnya. Ia juga memanfaatkan forum presentasi kelas sebagai sarana melatih kemampuan membaca audiens dan strategi komunikasi yang tepat. Tak berhenti di situ, Umi juga menapaki dunia wirausaha. Ia kini menjabat sebagai CEO Speak Minds Academy, lembaga kursus komunikasi profesional dengan sepuluh kelas spesialisasi. Ia mengantongi sejumlah sertifikasi nasional, seperti Certified Public Speaker (CPS), neuro linguistic programming (NLP), serta sertifikasi penyiar TV level 3 KKNI. Umi Khabibah saat membuka jualannya. Foto: Hassan/PWMU.CO Selain itu, bisnis rintisannya, Tale Gifts and Co, berhasil lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dan dikonversi menjadi nilai mata kuliah melalui kebijakan akademik UMM. Di bidang sosial, Umi mendirikan Komunitas Santri Putri Khawla Benazir sebagai wadah pemberdayaan santri putri. Komunitas ini rutin menggelar workshop untuk membangun kepercayaan diri santri, khususnya dalam bidang menulis dan public speaking. “Saya sering melihat santri minder ketika masuk dunia kampus. Padahal potensi mereka besar. Komunitas ini ingin menegaskan bahwa santri juga bisa tampil percaya diri dan berprestasi,” jelasnya. Menutup kisahnya, Umi berpesan agar mahasiswa berani membangun portofolio sejak dini dan memanfaatkan seluruh fasilitas kampus. Menurutnya, masa kuliah adalah fase terbaik untuk belajar, bereksplorasi, dan menempa diri. “Selama masih mahasiswa, kita punya banyak akses dan dukungan. Jangan takut mencoba, karena banyak peluang berharga justru hanya datang saat kita masih kuliah,” pungkasnya. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Azrohal Hasan

Masa Depan Tatanan Internasional

TIMES JATIM, MALANG – Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan ke Venezuela dan menangkap presiden Nicolás Maduro pada 3 Januari lalu. Sejatinya, apapun alasan yang menjadi klaim justifikasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh militer AS jelas telah melanggar prinsip dasar hukum internasional dan hubungan internasional, yakni kedaulatan. Seorang presiden yang sedang menjabat ditangkap oleh negara lain melalui kekuatan militer, tanpa mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa, tanpa proses ekstradisi, dan tanpa persetujuan negara berdaulat yang bersangkutan adalah titik di mana dunia harus bertanya, apakah prinsip kedaulatan negara masih diyakini atau hanya menjadi slogan yang digunakan secara selektif oleh negara kuat? Sejak Perjanjian Westphalia 1648, sistem internasional dibangun di atas satu asumsi kunci bahwa setiap negara berdaulat atas wilayah dan pemerintahannya, dan tidak ada otoritas yang lebih tinggi dari negara itu sendiri dalam urusan domestik. Prinsip ini kemudian dilembagakan dalam Piagam PBB, terutama Pasal 2 ayat 4, yang melarang penggunaan kekuatan terhadap integritas teritorial dan kemerdekaan politik negara lain. Norma ini bukan hiasan moral, melainkan menjadi penyangga utama stabilitas global. Trump berargumen bahwa serangan militer ke Venezuela dan penangkapan Maduro adalah penegakan hukum. Maduro dituduh terlibat dalam kejahatan narkotika transnasional dan narco-terrorism, dan karenanya harus diseret ke pengadilan. Tuduhan ini telah lama diajukan AS meski terus dibantah oleh otoritas Venezuela. Tetapi, sekalipun alasannya demikian, ketika dakwaan pidana ingin ditegakkan dengan jet tempur, pasukan khusus, dan serangan lintas batas, maka yang bekerja bukan law enforcement, melainkan use of force. Masalahnya adalah, hukum internasional tidak pernah memberi ruang bagi suatu negara untuk menegakkan hukum domestiknya dengan menyerbu negara lain. Perkecualian untuk dua kondisi yang sangat terbatas, yaitu dengan mandat Dewan Keamanan PBB atau pembelaan diri (self defense) dari serangan bersenjata yang nyata dan segera. Tanpa dua hal itu, klaim yang disampaikan Trump tidak dapat diterima. Karena itu, tindakan unilateral AS itu jelas adalah pelanggaran kedaulatan dan secara terang melanggar hukum internasional. Reaksi dunia terhadap tindakan AS tersebut paling tidak mempertegas bahwa norma kedaulatan harus tetap menjadi prinsip yang kuat dalam politik global. Misalnya, pemerintah Rusia menyatakan bahwa tindakan tersebut adalah pelanggaran yang tidak dapat diterima terhadap kedaulatan Venezuela. Pemerintah China juga memberikan kecaman keras atas langkah tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional yang mengancam perdamaian dan keamanan kawasan. Sementara Uni Eropa menyerukan agar semua pihak menghormati Piagam PBB dan mencari penyelesaian melalui dialog, bukan militeristik. Demikian pula reaksi kecaman dari banyak negara lain. Bahaya bagi Tatanan Internasional Pertanyaannya kemudian, apa arti semua ini bagi tatanan internasional? Paling tidak, ada tiga bahaya utama. Pertama, tindakan ini bisa menjadi preseden berbahaya, karena jika kekuatan besar dapat mengintervensi negara lain secara sepihak dengan alasan hukum domestik, maka prinsip yang selama ini mendasari hubungan antarnegara, yakni saling menghormati dan menghargai kedaulatan, akan tergerus. Lalu lintas kekuatan militer akan kembali menjadi alat utama politik luar negeri, bukan diplomasi atau pengadilan internasional. Pada akhirnya, kita dapat membayangkan bagaimana dinamika politik global di masa depan jika tindakan sepihak semacam ini terus dipertontonkan oleh negara besar, utamanya AS. Kedua, tindakan AS ini akan semakin menciptakan dua standar dalam sistem internasional. Satu untuk negara kuat yang bisa menggunakan kekuatannya untuk menegakkan klaim hukumnya, satu lagi untuk negara lemah yang dibiarkan menghadapi konfrontasi langsung. Ketimpangan semacam ini mengikis legitimasi institusi global seperti PBB dan menjadikan aturan dan norma global yang selama ini dipelihara terlihat sebagai pilihan, bukan kewajiban. Pada akhirnya, kita juga bisa membayangkan bagaimana dinamika hubungan internasional ke depan. Ketiga, lebih berbahaya lagi, tindakan AS ini mengubah kedaulatan menjadi konsep bersyarat. Maksudnya, kedaulatan tidak lagi melekat pada status kenegaraan, tetapi pada posisi politik sebuah rezim dalam struktur kekuasaan global. Negara yang dianggap nakal, otoriter, mengganggu stabilitas, dan istilah lain yang disematkan, dapat diperlakukan sebagai ruang kosong normatif, wilayah di mana intervensi bisa dibenarkan atas nama moral, hukum, atau keamanan. Jika norma kedaulatan runtuh demi alasan sepihak, maka ini merupakan kemunduran dalam proses politik global yang telah dibangun selama beberapa dekade terakhir. Oleh karena itu, penangkapan Nicolás Maduro bukan hanya tentang Venezuela, bukan hanya tentang AS, dan bahkan bukan semata tentang narkotika ataupun ladang minyak. Tetapi ini tentang masa depan dunia yang sedang bergerak menuju tatanan global yang brutal. *** *) Oleh : Najamuddin Khairur Rijal, Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.

Siswa SMAN 1 Kutorejo Antusias Kenal Dunia Kampus Lewat Program MBTS UMM

www.majelistabligh.id –Mahasiswa Program Studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar program Mahasiswa Back To School (MBTS), sebuah agenda rutin tahunan yang bertujuan mengenalkan dunia perguruan tinggi kepada siswa sekolah menengah. Kegiatan MBTS kali ini dilaksanakan pada Senin (5/1/2026) di SMAN 1 Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, dan diikuti oleh siswa-siswi kelas XII. Sejumlah mahasiswa dari Program Studi Sosiologi UMM terlibat langsung dalam kegiatan sosialisasi tersebut. Program “Kembali ke Sekolah” ini dirancang untuk memberikan gambaran utuh tentang Program Studi Sosiologi UMM, mulai dari bidang keilmuan, proses pembelajaran, hingga peluang karier lulusannya. Para mahasiswa menyampaikan materi secara komunikatif dan dialogis, sehingga mudah dipahami oleh para siswa. Melalui MBTS, mahasiswa Sosiologi UMM tidak hanya berbagi informasi kampus, tetapi juga menanamkan semangat belajar dan kesadaran akan pentingnya pendidikan tinggi sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan. Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Kutorejo, Nur Itwati, S.Pd., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Malang, khususnya Program Studi Sosiologi, atas terselenggaranya kegiatan MBTS di sekolahnya. Menurutnya, kegiatan ini menjadi langkah positif dalam membuka wawasan siswa mengenai dunia perguruan tinggi serta membantu mereka mengenal berbagai pilihan program studi yang relevan dengan perkembangan sosial masyarakat saat ini. Ia berharap, melalui sosialisasi ini, para siswa memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang ilmu sosiologi, baik dari sisi akademik, prospek kerja, maupun peran strategisnya dalam memahami dan menyelesaikan persoalan sosial di tengah masyarakat. “Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat untuk memotivasi siswa agar melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dan mempersiapkan masa depan akademik mereka dengan lebih matang,” pungkasnya. (Muchamad Noval Dwi Prasetyo)

Dosen Keperawatan UMM Tekankan Pencegahan Dini Hadapi Cuaca Ekstrem 2026

Malangpariwara.com – Cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi pada awal 2026 dinilai tidak hanya berdampak pada kondisi lingkungan, tetapi juga berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Perubahan suhu, curah hujan tinggi, dan peningkatan kelembapan memengaruhi kemampuan tubuh dalam beradaptasi. Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ns. Zaqqi Ubaidillah, M.Kep., Sp.Kep.MB., menyebut kondisi tersebut sebagai stresor lingkungan. Di mana yang meningkatkan gangguan pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan, terutama pada kelompok rentan. “Cuaca ekstrem tidak bisa dipandang hanya sebagai perubahan cuaca semata, tetapi harus dilihat sebagai risiko kesehatan populasi. Ketika tubuh terus-menerus terpapar stres lingkungan dan tidak mampu beradaptasi secara optimal, maka kerentanan terhadap penyakit akan meningkat. Karena itu, respons kesehatan harus bersifat promotif dan preventif, bukan sekadar reaktif ketika sakit sudah terjadi,” ujar Zaqqi. Cuaca Ekstrem Picu Stres Kronik Ia menambahkan, cuaca ekstrem dapat memicu stres fisiologis kronik yang berdampak pada penurunan daya tahan tubuh. Suhu dingin dan kelembapan tinggi berpotensi melemahkan pertahanan mukosa saluran pernapasan. Sementara suhu panas ekstrem meningkatkan kehilangan cairan dan elektrolit. Kondisi ini dapat menimbulkan kelelahan fisiologis, gangguan termoregulasi, penurunan toleransi aktivitas, hingga meningkatnya risiko infeksi. “Penurunan daya tahan tubuh sebenarnya bukan semata-mata disebabkan oleh cuaca. Tetapi karena tubuh gagal mempertahankan homeostasis secara optimal. Ketika keseimbangan ini terganggu dalam waktu lama, maka tubuh menjadi lebih mudah terserang penyakit,” jelasnya. Langkah Pencegahan Dalam menghadapi kondisi tersebut, pendekatan keperawatan menekankan pencegahan primer. Melalui perubahan perilaku hidup bersih dan sehat, pemenuhan nutrisi seimbang, serta kecukupan cairan tubuh. Asupan protein, vitamin, dan mineral berperan penting dalam mendukung sistem imun, sementara suplemen hanya bersifat pendukung dan tidak dapat menggantikan pola makan sehat. Kebutuhan cairan juga perlu diperhatikan karena dalam cuaca ekstrem tubuh cenderung kehilangan cairan lebih cepat meski rasa haus tidak selalu muncul. Dosen Keperawatan UMM, Ns. Zaqqi Ubaidillah, M.Kep., Sp.Kep.MB. (Ist) “Langkah-langkah sederhana seperti mencuci tangan secara konsisten. Memastikan keamanan makanan dan air minum, menjaga asupan gizi. Serta memenuhi kebutuhan cairan sekitar 2–2,5 liter per hari untuk orang dewasa merupakan bentuk pencegahan yang sangat efektif. Upaya ini jauh lebih baik dibandingkan menunggu sakit lalu berobat,” kata Zaqqi. Zaqqi juga menyoroti kerentanan kelompok anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis. Serta pekerja lapangan yang memiliki kapasitas adaptasi fisiologis dan psikososial lebih rendah. Perlindungan terhadap kelompok ini membutuhkan dukungan keluarga dan komunitas. Melalui pengawasan kesehatan, pengaturan aktivitas harian, pemenuhan nutrisi, serta lingkungan yang aman dan mendukung. Gencarkan Kesehatan Mental Selain itu, kesehatan mental dinilai memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan tubuh. “Stres dan kecemasan akibat cuaca ekstrem dapat meningkatkan hormon stres yang berdampak pada penurunan imunitas. Karena itu, menjaga kesehatan mental adalah bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kesehatan fisik. Ketahanan kesehatan tidak dibangun saat krisis, tetapi melalui kebiasaan hidup sehat yang konsisten dan adaptif terhadap perubahan lingkungan,” pungkasnya. Terakhir, Ia berharap masyarakat semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan kesehatan menghadapi cuaca ekstrem. Tidak hanya dengan kewaspadaan individu, tetapi juga melalui penguatan peran keluarga, komunitas, dan fasilitas layanan kesehatan. Menurutnya, sinergi antara edukasi kesehatan yang berkelanjutan, kebijakan yang responsif, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci dalam menekan dampak kesehatan akibat perubahan iklim. Dengan upaya preventif yang konsisten dan berbasis ilmu pengetahuan. Ia optimistis masyarakat dapat tetap menjaga ketahanan kesehatan dan kualitas hidup meski di tengah tantangan cuaca ekstrem yang semakin kompleks. (Djoko W)

Maharesigana UMM Mengembalikan Senyum Anak-anak Penyintas Bencana

www.majelistabligh.id – Kehadiran Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi angin segar bagi pemulihan kondisi psikologis warga terdampak. Senyum anak-anak di Desa Sekoci, Dusun Sukaramai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, kembali ceria setelah mereka mendapatkan pendampingan psikososial pascabanjir. Tim Maharesigana UMM sudah turun ke lokasi bencana sejak Desember 2025 lalu, melaksanakan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) bagi anak-anak dan penyintas banjir. Kegiatan ini bertujuan membantu mereka mengatasi trauma serta mengembalikan rasa aman dan percaya diri setelah bencana melanda wilayah tersebut. Salah satu anggota tim Maharesigana, Fadilla Azzahra, mengungkapkan bahwa pendampingan psikososial menjadi kebutuhan penting setelah bencana, terutama bagi anak-anak. “Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terdampak secara psikologis. Melalui kegiatan bermain dan interaksi positif, kami berupaya membantu mereka mengekspresikan perasaan serta kembali merasa aman,” ujar Fadilla. Layanan Dukungan Psikososial ini dilakukan melalui berbagai distract activity seperti bermain bersama, bernyanyi, dan kegiatan kreatif lainnya. Selain itu, relawan juga memberikan psikoedukasi kepada orang tua dan penyintas tentang cara berdamai dengan bencana serta teknik relaksasi sederhana untuk mengurangi kecemasan dan stres pascatrauma. Sebanyak 47 anak mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Mereka didampingi oleh tiga ibu dan sepuluh guru setempat yang turut membantu menciptakan suasana aman dan mendukung selama proses pendampingan berlangsung. Para orang tua mengaku senang dan mengapresiasi kehadiran relawan karena kegiatan ini dinilai mampu menghibur anak-anak sekaligus memberikan edukasi yang bermanfaat. Salah satu warga menyampaikan bahwa sebelum adanya pendampingan, anak-anak masih sering menunjukkan tanda-tanda trauma. “Awalnya mereka mudah takut dan gelisah setelah banjir. Sekarang terlihat lebih ceria dan berani,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa edukasi yang diberikan kepada orang tua dan guru sangat membantu dalam mendampingi anak-anak pascabencana. Selama masa bencana, aktivitas anak-anak sempat terhambat. Proses belajar terganggu akibat buku hanyut, listrik padam, dan jaringan internet terputus. Bahkan, sebagian anak harus membantu orang tua membersihkan rumah dari lumpur dan sisa material banjir. Melalui kegiatan Layanan Dukungan Psikososial ini, harapannya bahwa anak-anak terdampak banjir dapat kembali pulih secara emosional, mengurangi kecemasan, serta membangun ketahanan psikologis agar mampu menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih tenang dan percaya diri. (*/tim)