Tim Medis UMM Jangkau Wilayah Terpencil Malalak Pasca Bencana

TVRINews, Malang Akses terbatas dan medan berat tidak menghalangi langkah tim medis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menjangkau warga terdampak bencana di Jorong Limau Badak, Nagari Malalak, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Misi pelayanan kesehatan ini terlaksana berkat dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), sebagai bagian dari upaya pemulihan kesehatan masyarakat di wilayah yang terisolasi. Sebanyak 10 tenaga kesehatan diterjunkan, terdiri dari dokter umum dan perawat Rumah Sakit UMM, dokter muda Fakultas Kedokteran UMM, dokter spesialis penyakit dalam, serta tenaga psikososial dari Universitas Brawijaya. Kolaborasi lintas perguruan tinggi ini dilakukan untuk memastikan pelayanan medis yang komprehensif bagi warga. Dalam pelayanan tersebut, sekitar 130 warga mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan. Keluhan yang paling banyak ditemui adalah penyakit kulit akibat kondisi lingkungan yang kurang higienis pascabencana, disusul kasus tekanan darah tinggi. Keterbatasan fasilitas kesehatan di sekitar lokasi turut memperparah kondisi kesehatan warga. Perjalanan menuju lokasi pelayanan bukan tanpa hambatan. Longsor menyebabkan jalur utama tidak dapat dilalui kendaraan roda empat. Tim harus melanjutkan perjalanan menggunakan sepeda motor dan berjalan kaki sejauh tujuh kilometer untuk mencapai lokasi pelayanan. Dokter Umum RS UMM, dr. Wildan Firmansyah, menyatakan bahwa tantangan medan tidak mengurangi semangat tim dalam menjalankan tugas kemanusiaan. “Kami menghadapi medan yang cukup berat, namun pelayanan kesehatan bagi masyarakat tetap menjadi prioritas utama,” ujarnya. Kegiatan ini mencerminkan peran aktif UMM dalam pengabdian kepada masyarakat serta kontribusi nyata perguruan tinggi dalam membantu penanganan dampak bencana di daerah terpencil.

Tim Medis UMM Terobos Medan Sulit Layani Warga Malalak

Jnews.KabupatenMalang – Tim medis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menembus medan terjal dan wilayah terisolasi untuk memberikan layanan kesehatan bagi warga di Jorong Limau Badak, Nagari Malalak, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, pada 18 Desember lalu. Kegiatan kemanusiaan ini terlaksana berkat dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Sebanyak 10 personel diterjunkan dalam misi tersebut. Tim terdiri atas satu dokter umum dan satu perawat dari Rumah Sakit UMM, lima dokter muda dari Fakultas Kedokteran UMM, serta satu dokter spesialis penyakit dalam dan satu personel tim psikososial dari Universitas Brawijaya. Kolaborasi lintas institusi ini menjadi upaya memastikan layanan kesehatan tetap menjangkau wilayah terdampak bencana. Selama pelayanan berlangsung, tim menangani sekitar 130 pasien dengan berbagai keluhan kesehatan. Penyakit kulit seperti gatal-gatal menjadi keluhan terbanyak, disusul hipertensi atau tekanan darah tinggi. Kondisi lingkungan pascabencana dan keterbatasan akses layanan medis dinilai turut memengaruhi meningkatnya gangguan kesehatan warga. Akses menuju lokasi pelayanan menjadi tantangan tersendiri. Jalur utama tidak dapat dilalui kendaraan roda empat akibat longsor. Tim harus melanjutkan perjalanan menggunakan sepeda motor, kemudian berjalan kaki sekitar tujuh kilometer dari titik parkir kendaraan menuju pos pelayanan. Dokter Umum RS UMM, dr. Wildan Firmansyah, M.H., mengatakan keterbatasan akses tidak menyurutkan komitmen tim. “Medan yang kami lalui cukup berat, namun dengan dukungan pendanaan dari Kemendiktisaintek, kegiatan ini dapat berjalan optimal. Prioritas kami adalah memastikan masyarakat tetap memperoleh layanan kesehatan yang layak,” ujarnya. Tim medis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menembus medan terjal dan wilayah terisolasi untuk memberikan layanan kesehatan bagi warga di Jorong Limau Badak, Nagari Malalak, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, pada 18 Desember lalu. Program ini menjadi wujud komitmen UMM dalam pengabdian kepada masyarakat sekaligus mendukung penanganan dampak bencana di daerah terpencil. (*/ARM)

FK UMM Serahkan Ribuan Obat kepada Dinkes Agam untuk Penanganan Pasca Banjir

Agroredaksi.com-Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) menyerahkan ribuan obat-obatan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Agam, Sumatra Barat, guna memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat pascabencana banjir. Penyerahan bantuan tersebut dilaksanakan pada Rabu, 18 Desember, sebagai bentuk kepedulian FK UMM terhadap kondisi kesehatan warga di wilayah terdampak bencana. Salah satu perwakilan FK UMM, Tri Wulandari, A.Md.Farm, menjelaskan bahwa bantuan obat-obatan ini difokuskan pada penyakit yang paling banyak dialami masyarakat pascabanjir. “Kebutuhan terbanyak di daerah terdampak adalah penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), common cold dan pemyakit kulit. Oleh karena itu, obat yang kami bawa sebagian besar berkaitan dengan penyakit tersebut,” ujarnya. Ia menambahkan, jenis obat yang disalurkan meliputi obat flu dan batuk, obat penurun demam, berbagai vitamin, obat topikal, serta alat kesehatan penunjang seperti alat cek darah. Seluruh obat tersebut berasal dari FK UMM dan telah disiapkan sesuai dengan kebutuhan di lapangan. “Kami berupaya memastikan obat-obatan yang diserahkan benar-benar relevan dengan kondisi kesehatan masyarakat pascabencana,” kata Tri. Lebih lanjut, Tri Wulandari menyampaikan bahwa obat-obatan tersebut akan didistribusikan ke daerah-daerah yang membutuhkan dengan prioritas wilayah yang membutuhkan. “Distribusi dilakukan secara bertahap dan terkoordinasi oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Agam,” jelasnya Menurutnya, proses distribusi juga melibatkan tenaga kesehatan di lapangan untuk memantau kebutuhan riil masyarakat serta menyesuaikan jumlah dan jenis obat yang disalurkan ke setiap posko. “Dengan mekanisme ini, kami berharap tidak terjadi kekurangan obat dan pelayanan kesehatan pascabencana dapat berjalan secara optimal,” ungkapnya. Penyerahan bantuan ini merupakan proses serah terima resmi antara FK UMM dan Dinas Kesehatan Kabupaten Agam dalam rangka memastikan ketersediaan obat-obatan pascabencana banjir di Sumatra Barat. Tri berharap bantuan tersebut dapat membantu masyarakat segera pulih. “Kami berharap setelah bantuan ini sampai, masyarakat bisa sehat kembali, bangkit, dan kembali berdaya untuk membangun desa mereka,” tutupnya.(Hms/sfl)

Humas UMM Bawa Pulang Dua Penghargaan Anugerah Diktisaintek 2025

KLIKMU.CO – Prestasi demi prestasi terus diraih Humas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Terbaru, Humas UMM kembali membawa pulang dua penghargaan dalam ajang Anugerah Diktisaintek 2025 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI, Jumat (19/12/2025). Pada ajang tersebut, Humas UMM meraih silver medal kategori pengelolaan laman serta bronze medal kategori pengelolaan media sosial. Capaian ini menegaskan konsistensi kinerja Humas UMM dalam pengelolaan komunikasi publik di bidang pendidikan tinggi. Kepala Humas UMM Maharina Novia Zahro MIkom menyampaikan rasa syukur dan bangganya atas capaian tersebut. Menurutnya, penghargaan ini menjadi bukti konsistensi performa Humas UMM dalam menyebarkan informasi pendidikan tinggi, termasuk berbagai program Kampus Berdampak. “Kami sangat bersyukur atas penghargaan ini. Setiap tahun Humas UMM selalu berhasil meraih penghargaan dalam Anugerah Diktisaintek. Bahkan pada tahun ini, kami kembali mempertahankan dua raihan penghargaan sekaligus,” ujarnya. Maharina menilai, penghargaan tersebut merupakan bentuk pengakuan pemerintah atas kinerja Humas UMM, khususnya dalam menyuarakan berbagai program universitas yang sejalan dengan kebijakan Kemdiktisaintek. Keberhasilan ini, lanjutnya, juga tidak lepas dari strategi publikasi yang dilakukan secara terukur dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Kami berupaya menghadirkan konten yang dapat diterima masyarakat luas. Misalnya, konten yang relevan dengan tren generasi muda seperti Gen Z melalui platform Instagram dan TikTok. Di sisi lain, kami juga rutin merilis berita bernuansa ilmiah dan berdampak dengan kemasan yang tetap menarik,” jelasnya. Tim Humas UMM, lanjut Maharina, juga aktif mempromosikan berbagai program berdampak yang dijalankan universitas. Salah satu keunikan UMM adalah keberadaan Direktorat Saintek yang menjadi wadah inovasi dan penelitian terhilirisasi. Berbagai inovasi dan program pengabdian pun lahir, tidak hanya di Jawa, tetapi juga di berbagai wilayah lain di Indonesia. Terbaru, melalui Program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M), UMM berupaya turut mengatasi persoalan stunting dan kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Timur. “Direktorat Saintek ini menjadi katalisator yang mempercepat UMM untuk terus memberi dampak bagi masyarakat. Kolaborasi dengan berbagai pihak kami lakukan untuk menebar kebermanfaatan. Program-program inilah yang senantiasa kami sebarkan melalui berbagai kanal media,” tambahnya. Ia menegaskan, capaian ini menjadi motivasi bagi Humas UMM untuk terus meningkatkan kualitas kinerja, menyebarkan informasi positif, serta berkontribusi dalam membangun negeri agar semakin berdampak bagi Indonesia. (Wildan/AS)

Kisah Azhar, Mahasiswa PAI UMM yang Tempa Kompetensi di CoE Manajemen Sekolah Islam

Program Center of Excellence (CoE) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memberikan pengalaman praktis bagi mahasiswa lintas fakultas. Salah satunya dirasakan oleh M. Azhar Iman Sofyan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Agama Islam, angkatan 2022, yang mengikuti CoE Manajemen Sekolah Islam Unggul. Program CoE ini berlangsung sejak Agustus hingga 11 Desember 2025, dengan penempatan di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah 26 Bojonegoro. Selama magang, Azhar sapaan akrabnya difokuskan pada pengembangan program dan penguatan manajemen sekolah. Setelah kegiatan di sekolah selesai hingga siang hari, peserta melanjutkan dengan penyusunan laporan dan pembahasan program di penginapan. Ia menjelaskan bahwa program magang CoE yang dijalani memiliki aktivitas yang cukup padat dan berfokus pada penguatan manajemen lembaga pendidikan. “Kegiatan magang dilakukan mulai Senin sampai Kamis, bahkan kadang hingga Sabtu. Kami datang langsung ke sekolah untuk berdiskusi dengan guru dan pihak yang terkait, mencari tahu permasalahan yang ada, karena fokusnya bukan pada pengajaran langsung, tetapi pada manajemen sekolah,” jelasnya. Setelah mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi sekolah, peserta CoE bersama pihak sekolah merumuskan solusi secara kolaboratif. Menurut Azhar, solusi tersebut diharapkan dapat menjadi nilai tambah bagi sekolah agar semakin diminati masyarakat. “Dari solusi itu kami susun program yang bisa menarik minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sana. Itu menjadi tujuan utama kegiatan kami,” tambahnya. Mengikuti CoE menjadi pengalaman yang berkesan bagi Azhar. Ia mengaku tertarik bergabung karena program ini dirancang untuk membantu mahasiswa lulus dalam waktu 3,5 tahun. “Salah satu alasan utama saya ikut CoE adalah target kelulusan yang jelas. Kami benar-benar dibimbing mulai dari penyusunan tugas akhir, seminar proposal, sampai seminar hasil, semuanya sudah terjadwal,” ungkapnya. Selain percepatan kelulusan, pengalaman dunia kerja menjadi nilai tambah yang signifikan. “Di CoE ini saya mendapatkan pengalaman yang sebelumnya belum pernah saya rasakan, mulai dari relasi, pengetahuan, sampai gambaran nyata dunia kerja,” katanya. Ke depan, Azhar berharap dapat segera menyelesaikan tugas akhirnya dan lulus tepat waktu. Ia juga ingin pengalaman magangnya memberikan manfaat nyata bagi sekolah tempat ia ditempatkan. “Saya merasa passion saya memang di dunia pendidikan. Ke depannya ingin tetap bermanfaat sebagai guru atau di bidang manajemen pendidikan,” ujarnya. Menurut Azhar, pengalaman mengikuti CoE menjadi bekal penting sebelum lulus. “Di sini saya benar-benar merasakan output yang nyata. Apa yang dipelajari relevan dengan dunia kerja nanti, baik sebagai guru maupun di bidang manajemen sumber daya manusia pendidikan,” tutupnya. (Abim/Faq)   Penulis: Bima Chusnul Triwibowo | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Salurkan Hygiene Kit untuk Penyintas Banjir dan Longsor di Kabupaten Agam

Di tengah lumpur dan sisa genangan banjir yang belum sepenuhnya surut, bantuan terus mengalir bagi warga terdampak bencana banjir dan longsor di Kabupaten Agam. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menunjukkan kepeduliannya dengan menyalurkan bantuan hygiene kit guna membantu para penyintas menjaga kebersihan dan kesehatan diri. Bantuan hygiene kit tersebut disalurkan pada 19 Desember lalu melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam dan diterima langsung oleh Bupati Agam, Ir. H. Benni Warlis, M.M. Penyaluran ini merupakan bagian dari program respon bencana UMM terhadap musibah banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat, khususnya Kabupaten Agam. Sebelumnya, UMM juga telah menyalurkan ratusan hygiene kit ke beberapa wilayah terdampak banjir dan longsor di Kabupaten Agam sejak 8 Desember lalu. Terbaru, tim kampus putih juga menyalurkan bantuan tersebut langsung kepada para warga daerah maninjau pada 21 Desember. Hygiene kit tersebut berisi perlengkapan dasar kebersihan, seperti sabun, handuk, serta alat-alat kebersihan lainnya yang sangat dibutuhkan oleh warga di pengungsian. Bupati Agam, Ir. H. Benni Warlis, M.M., menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya kepada UMM atas bantuan yang diberikan. Ia mengatakan bahwa hygiene kit tersebut nantinya akan didistribusikan ke daerah-daerah yang terdampak paling parah. Menurutnya, bantuan ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat, terutama dalam kondisi darurat pascabencana. “Kami mengucapkan terima kasih kepada UMM atas kepeduliannya. Bantuan ini akan segera disalurkan kepada warga yang membutuhkan,” ujarnya. Dalam program respon bencana ini, UMM berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) untuk membantu penanganan bencana di Sumatera Barat. Sepanjang bulan ini, UMM mengirimkan puluhan relawan untuk terjun langsung ke lapangan, mulai dari dokter umum, perawat, apoteker Rumah Sakit UMM, dokter muda Fakultas Kedokteran UMM, hingga Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) UMM. Ketua Pos Koordinasi Relawan UMM, Indra Ferry, menjelaskan bahwa penyaluran hygiene kit tersebut bertujuan untuk memberikan fasilitas dasar kebersihan bagi warga terdampak agar tetap dapat menjaga kebersihan diri secara layak di tengah keterbatasan pascabencana. Menurutnya, banjir dan longsor tidak hanya merusak rumah serta infrastruktur, tetapi juga berdampak langsung pada kondisi kesehatan masyarakat, terutama bagi mereka yang harus tinggal di pengungsian dengan akses air bersih yang terbatas. Ia menegaskan bahwa lingkungan yang lembap, kotor, dan bercampur lumpur sangat rentan memicu berbagai penyakit, khususnya penyakit kulit seperti gatal-gatal, infeksi, dan iritasi. Oleh karena itu, ketersediaan hygiene kit menjadi kebutuhan mendesak bagi para penyintas agar mereka dapat membersihkan diri secara rutin dan menjaga kesehatan tubuh. Terakhir, Dosen Akuakultur UMM itu berharap agar bantuan yang disalurkan UMM ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat terdampak. Ia juga berharap kehadiran relawan dan bantuan kemanusiaan ini dapat memberikan dukungan moral bagi para penyintas yang tengah berjuang memulihkan kondisi pascabencana. “Kami berharap bantuan ini dapat membantu menjaga kesehatan dan meringankan beban para penyintas banjir dan longsor,” tuturnya.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman