ON MIPA-PT 2018 Media Pembentukan Kohesi Sosial Mahasiswa

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat kehormatan karena terpilih sebagai tuan rumah penyelenggaraan Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi (ON MIPA-PT) 2018. Acara ini merupakan perhelatan akbar Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Dirjen Belmawa Kemenristekdikti RI) yang diselenggarakan setiap tahunnya. ON MIPA-PT digelar sebagai bagian dari upaya mempersiapkan mahasiswa untuk meningkatkan daya saing bangsa melalui peningkatan kualitas bidang MIPA. Digelar sejak 2009, olimpiade ini meliputi bidang Matematika, Kimia dan Fisika dan Biologi. Sekertaris Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Prof Rina Indriastuti SE MS menyampaikan, pada gelaran ON MIPA 2018 terdapat 256 dari 85 perguruan tinggi  swasta dan negeri. Jumlah ini lebih banyak dari tahun sebelumnya. Rina Indriastuti juga menyampaikan, tidak hanya sekedar lomba, olimpiade kali ini diharapkan dapat menjadi ajang silaturahmi untuk melahirkan tenun kebangsaan. Peserta diharapkan tidak hanya dapat bersaing, namun juga mengambil banyak hal positif untuk dibawa pulang ke kampus masing-masing. “Jadi ada semacam penyatuan dan kohesi sosialnya menjadi lebih baik. Lesson learned mereka akan dibawa kembali lagi ke kampus, ini bisa menularkan kepada teman-temannya yang belum bisa ikut disini,”tambah Rina. Menjadi tempat penyelenggaraan acara, UMM  yang baru saja meraih Juara I pada kategori Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI) Konter Robot Indonesia (KRI) Regional IV ini, telah mempersiapkan fasilitas terbaik yang dimiliki untuk acara yang digelar mulai Jumat-Senin (4-7/5) ini. Dipilihnya UMM sebagi tempat penyelenggaraan acara diakui Rina bukan tanpa alasan. Menurutnya, iklim kampus termasuk seperti yang ada di UMM dapat memberikan banyak dampak positif bagi peserta ON MIPA. “Sebetulnya kalau olimpiade itu lebih baik di kampus hanya kadang-kadang kita juga mencari formatnya. Saya punya keyakinan di kampus itu hasilnya lebih baik contohnya saja dari perguruan Kampus UMM ini. Mereka bisa kenal kampus lain, ini lebih,”tambahnya. Menyiapkan fasilitas terbaiknya, Rektor UMM Fauzan menyampaikan bahwa pihaknya telah mempersiapkan berbagai sarana dan prasarana sesuai dnegan standart yang diharuskan. “Sarana prasarana sudah kita siapkan semua sesuai dengan standart. Upaya ini dalam rangka untuk meminimalisasi problem-problem yang akan timbul,”pungkasnya. (ani/gan/sil)

FEB UMM Ajak Wujudkan Ketahanan Pangan Melalui Maksimalisasi Sumber Daya Maritim

Sejumlah masalah di berbagai sektor dihadapi pemerintah Indonesia dalam mewujudkan pembangunan bangsa, salah satunya yakni masalah pangan. Bagaimana tidak, ketika jumlah populasi penduduk bumi semakin meningkat, luas lahan justru semakin sempit tergerus oleh pembangunan infrastruktur. Salah satu akibatnya, produksi pangan pun juga semakin berkurang. Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) Dr. Widayat, MM mengatakan, di tengah pesatnya pembangunan bangsa masalah  ketahanan pangan menjadi isu yang masih sering diperdebatkan. Ia juga menyampaikan, selama ini kebijakan pemerintah dinilai cenderung berasentris. “Kita sebagai next generation dari bangsa ini harus merubah orientasi tersebut, membangun ketahanan pangan yang tidak hanya berfokus pada swasembada beras,” ujarnya. Sementara itu, Prof. Dr. Laode Masihu Kamaluddin M.Sc Guru Besar FEB UMM menyampaikan, idealnya bumi hanya mampu menampung 3 sampai 4 milyar penduduk. Namun pada tahun 2017 jumlah populasi penduduk bumi sudah mencapai 8 milyar. “Dan lahan juga semakin banyak yang digunakan sebagai bangunan,” tandasnya pada kuliah tamu yang diadakan oleh Program Studi Ilmu ekonomi  dan Studi Pembangunan (IESP) di Aula BAU, Rabu (2/5). Selain penyempitan lahan, masalah mendasar yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah di bidang pangan adalah tingginya tingkat ketergantungan Indonesia pada produk impor  terutama benih holtikultura dan pakan ternak. “Saat ini,   beberapa bahan pangan seperti  beras, daging sapi, gula, gandum, bawang putih kedelai, dan garam masih harus diimpor dari luar,” tambahnya. Salah satu solusi dari permasalahan tersebut adalah pengembangan pedesaan sebagai upaya memakmurkan masyarakat pedesaan dengan memanfaatkan sumber daya alam, khususnya sumber daya maritim dan agraris sehingga hasil-hasil pertanian tersebut menjadi produk industri utama di tengah masyarakat. “Tidak akan mandiri suatu bangsa jika pangannya masih dikuasai negara lain”, ujar Prof Laode menandaskan.

Robot DOME UMM Sabet Juara I Regional IV Kontes Robot Indonesia 2018

  Pada pertandingan penyisihan di Wilayah Regional IV yang terdiri dari Jawa bagian timur, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua, DOME yang memiliki tingkat akurasi tinggi dan kecepatan stabil keluar sebagai Juara I pada kategori Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI). Keunggulan ini membuat robot canggih tersebut berhasil menggeser 32 peserta lain dari berbagai universitas. Selanjutnya, Robotika UMM tengah menyiapkan diri untuk berlaga di tingkat nasional. Menyambut even berikutnya, banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh Robotika UMM, salah satunya meningkatkan kecepatan dan keakuratan DOME. Ketua Tim Alfan Achmadillah Fauzi menyatakan walaupun DOME telah pada posisi aman untuk maju ke tingkat nasional, masih banyak hasil evaluasi yang harus diselesaikan. “DOME memang sudah aman akan maju ke nasional, tapi kita tidak bisa bersantai. Justru dengan semakin ketatnya kompetisi, kita harus semakin kompak,” tegas mahasiswa Teknik Elektro tesebut. Setelah melewati tiga tahapan dalam KRI 2018 Regional IV, Robotika UMM akan berlaga bersama 24 tim lainnya di tingkat nasional pada Juli mendatang. Pembina Lembaga Semi Otonom (LSO) Robotika UMM Nur Alif Mardiyah mengaku bahwa Robotika UMM sudah sangat prima dan siap untuk melenggang ke nasional. “Walaupun sudah memperoleh juara tapi kita masih harus menyiapkan diri, karena jalan masih panjang untuk meraih prestasi lebih gemilang,” jelasnya. Keluar sebagai Juara I pada kompetisi ini, UMM berhasil mengungguli dua universitas negeri  yakni Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) di Peringkat II dan Universitas Brawijaya (UB) di Peringkat III. Selain berlomba pada kategori KRPAI, pada kompetisi tahun ini UMM juga mengeluarkan tim untuk berlaga pada kategori Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Beroda. (nis/ sil)

Gelar Expo Kewirausahaan, Mahasiswa FEB UMM Kampanyekan Percaya Diri Jadi Pengusaha

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelengarakan Pameran Produk Kreatif dan Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) bertajuk “ Let’s Start by Entrepreneur” di Area Dome UMM, (3/5). Acara ini digelar sebagai langkah menumbuhkan jiwa entrepreneurship sejak dini mahasiswa FEB UMM. “Mengembangkan jiwa entrepreneur harus mulai sejak dini,” ujar Wakil Rektor I Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si  Kamis (03/05). Expo produk ini merupakan kolaborasi Program Studi Managemen, Akuntasi dan Ekonomi Studi Pembangunan (ESP) FEB. Pameran diikuti peserta sebanyak 21 kelas dan 205 kelompok wirausaha mahasiswa. Tidak hanya sebagai jalan untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan mahasiswa, melalui acara ini FEB juga ingin memupuk rasa percaya diri mahasiswa untuk menjadi wirausahawan yang sukses. Ketua pelaksana Expo Kewirausahaan Sulfian menegasakan, pameran ini juga sebagai ajang mahasiswa untuk menampilkan produk inovasi mereka setelah mengampu mata kuliah Kewirausahaan. ”Acara ini merupakan bentuk praktik nyata dari mata kuliah kewirausahaan,”ujar mahasiswa Program Studi Manajemen tersebut.

Rayakan Hardiknas, Ratusan Siswa SD Kuliah di UMM

  Mengusung tema Penguatan Karakter dan Kebudayaan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2018 dengan cara unik. Bekerjasama dengan Jawa Pos Radar Malang, UMM merayakan Hardiknas 2018 dengan menghadirkan kurang lebih 460 siswa sekolah dasar (SD) di Malang Raya untuk menikmati pengalaman belajar di perguruan tinggi. Kegiatan dikemas menarik  dalam bentuk eksplorasi kampus. Seluruh peserta diajak mengikuti upacara peringatan Hardiknas bersama seluruh civitas akademika UMM. Pada momen ini, setiap perwakilan sekolah mendapat kesempatan untuk disematkan toga oleh Rektor UMM Fauzan. Mereka lalu berkunjung ke beberapa laboratorium yang ada di UMM dan merasakan pengalaman diajar oleh profesor, diantaranya Laboratorium Jalan Raya, Laboratorium Drama, Laboratorium Terpadu Pertanian dan Peternakan, Laboratorium Ilmu Komunikasi,  Laboratorium Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPA IPTEK), Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), dan Panel Surya. Selain memperingati Hardiknas, acara ini juga digelar sebagai bentuk tanggungjawab UMM untuk memupuk mimpi dan cita-cita generasi muda Indonesia yang merupakan para calon pemimpin bangsa. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Sidik Sunaryo pada pembukaan upacara menyampaikan bahwa ia berharap, acara ini dapat memberikan semangat kepada anak-anak untuk terus melanjutkan pendidikan hingga tingkat tertinggi. Ia pun mengapresiasi semangat para siswa yang datang ke UMM. “Saya ucapkan selamat kepada adik-adik SD yang hari ini turut serta merayakan Hardiknas di Kampus Putih,” jelasnya. Ratusan siswa SD berbondong-bondong mengunjungi satu laboratorium ke laboratorium lainnya. Salah seorang guru pendamping dari SD Kristen Petra Feri Ferdiansyah mengaku sangat mengapresiasi kegiatan ini. Baginya UMM merupakan kampus yang sangat menjunjung tinggi makna perbedaan kebudayaan sesuai dengan semangat perayaan Hardiknas 2018. “Saya sebagai perwakilan dari sekolah non-muslim sangat senang dan mengapresiasi kegiatan ini. Ini merupakan bukti nyata bahwa UMM sangat menjunjung tinggi perbedaan,” tegasnya. Tidak hanya menyajikan wisata mengelilingi UMM, agenda bertajuk Kids on Campus ini juga menghadirkan Mobil KaCa di tengah waktu peserta menunggu giliran masuk ke dalam setiap laboratorium.  Syaqif Jalaludin Ahmad salah satu siswa dari SD As-Salam mengaku sangat senang saat diajak berkunjung ke Laboratorium Terpadu Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM. “Tadi ke pabrik roti dan nata de coco, belajar buat roti tapi gagal. Tapi gak masalah saya senang sekarang bisa buat roti di pabrik,” kata siswa kelas lima ini. Acara ditutup dengan gelaran wisuda bagi seluruh siswa-siswi sekolah dasar. Setiap siswa disematkan gordon layaknya wisudawan universitas sebagai tanda mereka telah lulus kuliah satu hari di UMM. (nis/ sil)

Di UMM, Kemendikbud Sosialisasikan Kebijakan Pendidikan Keluarga

MENYIKAPI berkembangnya kecanggihan teknologi, maraknya kasus kekerasan pada anak, dan makin menyebarnya peredaran narkoba di lingkungan pelajar mendorong Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) susun program utama pelibatan keluarga di satuan pendidikan. Program utama ini lantas disosialisasikan pada berbagai elemen di auditorium hotel UMM Inn, Rabu (24/5). Program utama pelibatan keluarga di satuan pendidikan tersebut di antaranya anjuran orang tua untuk mengantar anak di hari pertama sekolah. Hal ini, menurut Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga Dirjen PAUD dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud, Dr Sukiman MPd adalah hal yang penting untuk membangun kepercayaan anak dan memotivasi anak lebih semangat belajar. Di depan 150 peserta seminar, Sukiman lalu menyanyikan lagu Hari Pertama Masuk Sekolah. “Hari ini hari pertamaku, hari pertama ke sekolah, senangnya hatiku diantar ayah ibu, pergi berangkat ke sekolah, senangnya hatiku bertemu teman baru, guru baru, tentulah ramah, ayo ke sekolah, ayo ke sekolah,” demikian lirik yang dinyanyikan Sukiman diikuti oleh peserta. Program utama lainnya yaitu pertemuan orangtua siswa minimal 2 kali tiap semester untuk membahas perkembangan dan kendala anak di sekolah, adanya pendidikan parenting oleh paguyuban wali murid, mendatangkan alumni sekolah untuk memberi motivasi saat pembinaan upacara bendera, dan mengadakan pameran karya dan pentas seni di akhir tahun. Peran keterlibatan keluarga, lanjut Sukiman, penting digalakkan karena akan menimbulkan dampak psotif yang besar pada anak. “Akan meningkatkan keinginan anak untuk melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi,” tutur Sukiman. Anak yang enggan melanjutkan sekolah, meski secara finansial tergolong cukup, bisa jadi disebabkan oleh kurangnya keterlibatan orang tua secara emosi. “Jadi, faktor kemiskinan itu sejatinya bukan faktor utama. Anak dari keluarga kurang sejahtera juga bisa memiliki motivasi belajar dan prestasi yang tinggi bila orang tua terlibat,” tegas Sukiman. Sementara itu, staff bidang pendidikan Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE KK) yang juga istri Mendikbud, Suryan Widati, SE MSA Ak mengungkapkan miris menyaksikan kasus yang muncul di kalangan pelajar, baik pelajar yang mulai mengenal narkoba, kekerasan, bahkan pornografi. Di antara penyebab munculnya kasus-kasus ini adalah anak yang mulai mengenal gawai dan orang-orang yang eksis di media sosial dan menyebarkan nilai-nilai kurang positif pada masyarakat, khususnya pelajar, yang lantas dijuluki artis. “Masalah yang muncul pada anak bukan menjadi tanggung jawab sekolah semata. Kesinambungan orang tua, sekolah, dan masyarakat adalah mutlak,” tegas Widati. Oleh karenanya, menjadi hal yang urgen untuk diperhatikan mengenai kegiatan anak sepulang sekolah sebelum sampai di rumah. “Komunikasi antara orang tua dengan guru kelas wajib dijaga untuk memantau anak-anak kita,” pesan Widati. 150 peserta yang hadir yakni para stakeholder di dunia pendidikan, baik secara langsung maupun tak langsung. Di antaranya, kepala PAUD, kepala sekolah TK, SMP, dan SMA se-kota Malang, lurah, camat, PKK, Aisyiyah, dan dinas pendidikan. Selain Sukiman dan Widati, pemateri di sesi kedua yakni Staff Khusus Kemendikbud Nasrullah S Sos MSi dan dekan Fakultas Psikologi yang juga psikolog perkembangan anak Dr Iswinarti MSi. (ich/han)

UMM, Kampus Wisata Berwawasan Global

SUASANA Kota Malang, Jawa Timur, yang sejuk memikat mahasiswa dari berbagai daerah dan negara kuliah di kota ini. Daya tarik ini pula yang menginspirasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membangun kampus bernuansa rekreatif, atau edupark. Konsep kampus wisata diharapkan dapat membuat pikiran penghuninya fresh, sehingga lebih cemerlang dalam melahirkan ide-ide kreatif. Suasana yang segar dan menyehatkan, menurut Rektor UMM Fauzan, merupakan perwujudan UMM sebagai kampus green and cleanyang dicanangkan di semua lini. Hal ini, kata Fauzan,turutdidukung topografi UMM yang unik dan menarik, yang bisa membuat penghuninya merasa nyamandan terinspirasi. Bagaimana tidak, memasuki gerbang kampus UMM, mahasiswaakan disuguhi pemandangan yang indah, alamiah dan menyegarkan. Dari kejauhan, tampak pegunungan Panderman dan gunung Arjuno mengitari kampus. “Viewini menjadi spot foto yang sangat digandrungi mahasiswa,” kata Fauzan. Di depan gedung kuliah utama, terdapat danau kampus yang indah, dikelilingi gazebo-gazebo yang menjadi tempat favorit mahasiswa untuk belajar bersama, atau sekedar melepas lelah. Mahasiswa juga bisa mengitari kampus dengan sepeda pancal yang disediakan di sejumlah titik. Bergerak ke arah Barat, melewati gedung bundar UMM Dome, saat ini tengah dibangun jalan yang akan menghubungkan dengan salah satu unit usahaUMM paling ikonik, yaitu Taman Sengkaling UMM. Sementara ke arah Timur, terdapat stadion UMM berdampingan dengan kawasan konservasi tumbuhan langka Arboretum. Lebih dari itu, Wakil Rektor II UMM Nazaruddin Malik menjelaskan, kampus ini turut memanfaatkan keindahan alam untuk pengembangan akademik. Nazar mencontohkan sungai Brantas yang membelah kampus ini. “Aliran sungaiBrantas inikita manfaatkan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) sehingga bisa menghemat beban biaya listrik hingga 25 persen,” terang Nazar. Selain itu, di UMM, mahasiswa tak hanya bisa menikmati, tapi juga sekaligus mempelajari ratusan pohon yang berada di lingkungan kampus. Dengan aplikasi Finding A Tree yang bisa diunduh di PlayStore android, mahasiswa bisa mengenali masing-masing jenis tumbuhan via barcode. Kampus ini, kata Nazar, setidaknya memiliki 41 jenis tanaman, termasuk di antaranya palem, tabepuya, dan cemara. Atmosfer Internasional Nuansa itu tak hanya memikat mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, namun juga dari beragam negara. Wakil Rektor I UMM Syamsul Arifin menguraikan, pada penerimaan mahasiswa baru tahun 2016 saja, UMM menerima 188 mahasiswa asing yang berasal dari 18 negara, yaitu Australia, Chile, China, Jepang, Jerman, Kamboja, Korea Selatan, Polandia, Rumania, Sierra Leone, Singapura, Slovenia, Spanyol, Sudan, Thailand, Timor Leste, Uzbekistan, dan Vietnam. Mahasiswa UMM juga dapat memperluas pergaulan internasional melalui program-program kemitraan yang dibangun kampus ini. Misalnya setiap semester, lanjut Syamsul, mahasiswa UMM berkesempatan menjadi buddy atau partner bagi mahasiswa asing untuk melakukan proyek bersama. Misalnya melalui program Learning Express (LEx) bermitra dengan Singapore Polytechnic dan Kanazawa Institute of Technology (KIT) Jepang. Para buddy terbaik selanjutnya dikirim ke Jepang dan Singapura untuk melanjutkan proyek di sana. LEx merupakan salah satu program yang dibiayai Tamasek Foundation. Selain itu mahasiswa juga dapat memanfaatkan kerjasama internasional UMM untuk studi singkat di luar negeri. Misalnya kemitraan UMM dengan konsorsium Erasmus Mundus dan Erasmus+ yang terdiri dari 54 universitas di 19 negara Asia dan Eropa. Melalui beasiswa Erasmus, mahasiswa UMM dapat belajar selama 6 bulan hingga satu tahun di salah satu kampus di Eropa. Kesempatan summer camp di Cina, kursus bahasa Mandarin dan beasiswa master dan doktor dari Confucius Institute juga bisa diperoleh mahasiswa UMM. Syamsul menambahkan, UMM juga bermitra dengan Australian Consortium for In-Country Indonesia Studies (ACICIS) yang beranggotakan 22 universitas ternama di Australia dan Sakura Foundation untuk memberi kesempatan mengikuti Sakura Science Program ke Jepang selama dua pekan. UMM bahkan saat ini memiliki corner-corner hasil kerjasama dengan pemerintah di sejumlah negara, di antaranya American Corner, Saudi Arabian Corner, Thailand Corner, dan China Corner. Corner-corner yang terletak di Perpustakaan UMM ini menjadi pusat informasi, pengembangan wawasan, sekaligus wadah bagi mahasiswa UMM yang ingin studi di negara-negara tersebut. UMM juga memiliki UMM Corner di Thailand, sebagai pusat informasi tentang UMM dan Indonesia. Dalam waktu dekat,UMM Corner juga akan dibuka di sejumlah negara lain.Sementara untuk memfasilitasi mahasiswa asing yang kuliah di UMM, terdapat unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), agar sebelum kuliah reguler, mahasiswa asing sudah fasih berbahasa Indonesia. (ich/han)

Mahasiswa UMM Desain Jembatan Penghubung Kampung Jodipan-Kesatrian

MAHASISWA Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali ikut “membangun” Kota Malang. Setelah Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ) sukses menyedot perhatian khalayak dan meningkatkan perekonomian warga sekitar, UMM kembali bekerjasama dengan Pemerintah Kota Malang dan produsen cat tembok Decofresh membangun jembatan penghubung Kampung Jodipan dan Kampung Kesatrian. Jika sebelumnya, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM menjadi penggagas KWJ, kali ini giliran mahasiswa dari Jurusan Tehnik Sipil yang unjuk gigi dalam mendesain jembatan. “Ada potensi kampung sebelah Jodipan, yaitu Kampung Kesatrian dikembangkan juga. Maka dibutuhkan sarana untuk menghubungkan keduanya,” ujar Kepala Humas UMM, Rina Wahyu Setyaningrum, Rabu (10/5). Mengusung konsep jembatan kaca sebagai penerapan nilai estetikanya, jembatan sepanjang 25 meter tersebut akan membentang di atas Sungai Brantas. Menggunakan fondasi beton bertulang, peletakkan beton cor, serta kontruksi baja castella, jembatan tersebut sengaja dirancang bagi para pejalan kaki. Memiliki lebar 1,5 meter, baik warga maupun pengunjung kedua kampung tersebut dipastikan merasa nyaman melaluinya meski harus saling berpapasan. “Jadi orang masih merasa longgar,” tambah Rina. Mulai dibangun pada April 2017 lalu, pengerjaan jembatan yang didesain oleh Aji Pangestu dan Khairul Ahmad, tim perancang jembatan dari Mahasiswa Teknik Sipil UMM tersebut rencananya akan selesai dalam dua bulan masa pengerjaan. “Peletakkan batu pertama sudah dilakukan. Rencananya dalam dua bulan pengerjaannya selesai,” tambah Rina. Lebih lanjut Rina menyampaikan, ide pembangunan jembatan gantung Kampung Jodipan-Kampung kesatrian muncul saat Kampung Jodipan terus mengalami perkembangan yang pesat. Melihat hal tersebut, Rekktor UMM, Fauzan berinisiatif untuk mengembangkan juga Kampung Kesatrian di seberang sungai. Untuk itu, Fauzan menugaskan tim untuk mendesain jembatan tersebut. “Awalnya ada tiga desain. Setelah presentasi ke Bapak Walikota Abah Anton, dipilih satu itu yang kemudian digunakan sampai sekarang,” tambah Rina. Setelah final memilih desain jembatan, selanjutnya penanganan pembangunan jembatan Jodipan-Kesatrian diserahkan pengerjaannya pada pihak pemerintah Kota Malang. Berbagai komunikasi dibangun, termasuk dengan Balai Besar Sungai Provinsi, dan Jasa Tirta. “Setelah berbagai proses itu izinnya keluar,” tutupnya. (sil/han)

Follow Up Mata Kuliah Penyutradaraan, Mahasiwa Pentaskan Drama

  PROGRAM Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar pementasan drama sebagai tugas akhir mata kuliah Penyutradaraan selama sepekan, Ahad-Jumat (21-25/5) di area parkir depan lapangan basket. Ketua pelaksana kegiatan, Eko Andrianto Saputra mengatakan ada enam tema yang diangkat dalam pementasan drama ini. Keenamnya lalu ditelurkan dalam beberapa judul karya, di antaranya Dukun-dukunan, Barabah, Mega-mega, Pamit, dan Bila Malam Bertambah Malam. Karya ‘Pamit’ yang dipentaskan Rabu (24/5) salah satunya, ialah karya yang diambil dari naskah RT Nol RW Nol karya penyair legendaris Indonesia, Iwan Simatupang. Ada enam kelompok dari tiga kelas yang melakukan pementasan. Tiap kelompok terdiri dari 20 orang. Selain pementasan drama, pada Jumat (2/6) juga digelar Malang Penganugerahan untuk mengumumkan pemenang kategori aktor dan aktris terbaik, setting terbaik, ilustrasi terbaik, dan pemeran pendukung terbaik. Kesulitan yang paling berarti menurut Eko yakni tenaga dan pikiran, karena harus bekerja ekstra keras untuk menyusun properti dan pengaturan cahaya karena pementasan dilakukan di luar ruangan (outdoor). Tak hanya itu, panitia juga mesti pintar mencari cara agar suara terdengar padat dan jelas meski aktor dan aktris berperan tanpa menggunakan mikrofon. Meskipun begitu, menurut mahasiswa semester 6 ini, melalui pementasan drama ini, mahasiswa PBSI lebih mengenal secara lekat dengan teman yang berbeda kelas. “Kalau biasanya hanya sekedar mengenal, kali ini kita lebih memahami karakter masing-masing teman selama bekerja sama menyusun penyelenggaraan pementasan ini,” ujarnya. Meski digelar di area parkir dan duduk beralaskan karpet saja, tapi menonton tampak memadati area yang disediakan. Bahkan, tak cuma mahasiswa PBSI, penonton juga datang dari mahasiswa jurusan lain dan kalangan umum. (ich/han)

Ini Tiga Strategi UMM Perluas Kemitraan Internasional

  MERASAKAN atmosfer internasional adalah salah satu keunggulan menjadi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selain lantaran banyaknya mahasiswa asing dan event berskala internasional, mahasiswa UMM juga dimanjakan dengan banyaknya peluang beasiswa luar negeri dan prestasi internasional yang bisa diraih. Menurut Rektor UMM Fauzan, kuatnya nuansa internasional itu tak terjadi begitu saja. Ada proses panjang di balik itu, di antaranya yaitu ikhtiar memperkuat mutu akademik dan memperluas jejaring kerjasama. “Saat ini kita telah bekerjasama dengan lebih dari 130 institusi dan universitas dari 37 negara,” terangnya. Asisten Rektor Koordinator Bidang (Askorbid) Kerjasama Luar Negeri Soeparto menjelaskan, luasnya kemitraan itu karena UMM menerapkan tiga strategi internasionalisasi, yaitu waterfall strategy (strategi air terjun), wheel strategy (strategi melingkar), dan sprinkler strategy (strategi percikan). “Pada strategi air terjun, mitra pertama kami menghubungkan pada mitra kedua, lalu mitra kedua pada mitra ketiga dan seterusnya. Contohnya adalah kerjasama UMM dengan Auckland University of Technology (AUT) yang menghubungkan kami pada The Association of Southeast Asian Institutions of Higher Learning (ASAIHL), lalu dari ASAIHL kami bermitra dengan Chulalongkorn University,” papar Soeparto. Sedangkan strategi melingkar yaitu jejaring berbasis konsorsium, misalnya keterlibatan UMM dalam konsorsium Erasmus+ yang terdiri dari 54 universitas di 19 negara Asia dan Eropa serta konsorsium Australian Consortium for In-Country Indonesia Studies (ACICIS) yang beranggotakan 22 universitas ternama di Australia. Adapun strategi percikan yaitu penjajakan langsung yang dilakukan UMM pada institusi di luar negeri. Tak heran, kacakapan dalam mengelola jejaring ini membuat UMM seringkali dipercaya menjadi tuan rumah dalam sejumlah event internasional. Terakhir, pekan lalu (8-11/5), UMM dipercaya mengelola International Gathering mahasiwa program Darmasiswa RI yang diikuti 540 mahasiswa asing dari 78 negara. Sementara itu Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi menerangkan, mahasiswa UMM juga dapat memperluas pergaulan internasional melalui program-program kemitraan yang dibangun kampus ini. Misalnya setiap semester, lanjut Syamsul, mahasiswa UMM berkesempatan menjadi buddy atau partner bagi mahasiswa asing untuk melakukan proyek bersama. Sebagai contoh melalui program Learning Express (LEx) bermitra dengan Singapore Polytechnic dan Kanazawa Institute of Technology (KIT) Jepang. Para buddy terbaik selanjutnya dikirim ke Jepang dan Singapura untuk melanjutkan proyek di sana dengan beasiswa dari Tamasek Foundation. Selain itu mahasiswa juga dapat memanfaatkan kerjasama internasional UMM untuk studi singkat di luar negeri. Misalnya melalui kemitraan UMM dengan konsorsium Erasmus+, mahasiswa UMM dapat belajar selama enam bulan hingga satu tahun di salah satu kampus di Eropa. Kesempatan summer camp di China, kursus bahasa Mandarin dan beasiswa master dan doktor dari Confucius Institute juga bisa diperoleh mahasiswa UMM. Atmosfer internasional itu memotivasi mahasiswa UMM untuk berprestasi di kancah internasional. Seperti halnya yang baru saja diraih tim robot UMM yang berjaya di kontes robot internasional di Amerika Serikat dengan menjadi juara satu dan dua serta poster terbaik kategori robot berkaki, mengalahkan para finalis dari Kanada, Tiongkok, Israel, Portugal, Uni Emirat Arab, dan tuan rumah Amerika Serikat. (can/han)