Kuliah Perdana PPG UMM Tegaskan Komitmen Pendidikan Inklusif dan Berkeadaban

Kuliah Perdana PPG UMM Tegaskan Komitmen Pendidikan Inklusif dan Berkeadaban MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengawali perkuliahan semester ini melalui Kuliah Perdana bertema “Kelas yang Menggembirakan: Menumbuhkan Pemahaman Literasi Keragaman melalui Kolaborasi Lintas Budaya.” Kegiatan yang diselenggarakan secara daring pada Sabtu (31/1/2026) tersebut menjadi langkah awal PPG UMM dalam menyiapkan calon guru yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap realitas keberagaman di ruang kelas. Kuliah perdana ini menghadirkan Budi H. Setiamarga, Ph.D., Program Advisor Institut Leimena, sebagai pemateri utama. Dalam paparannya, Budi mengulas tantangan pendidikan di tengah masyarakat yang semakin majemuk, baik dari aspek budaya, agama, maupun latar belakang sosial. Ia menegaskan bahwa kelas merupakan ruang perjumpaan yang dinamis, tempat peserta didik belajar mengenali, memahami, dan menyikapi perbedaan secara sadar serta konstruktif. Menurutnya, pembelajaran yang menggembirakan bukan berarti mengurangi kedalaman materi. Justru, proses belajar perlu dirancang sebagai ruang yang aman, inklusif, dan mendorong partisipasi aktif peserta didik. Pendekatan ini sejalan dengan konsep 3H (Head, Heart, Hand), yaitu pembelajaran yang mengembangkan kemampuan kognitif (head), menumbuhkan kesadaran nilai dan empati (heart), serta diwujudkan dalam tindakan nyata melalui kolaborasi dan praktik di kelas (hand). “Guru perlu membangun kelas yang memberi rasa aman bagi siswa untuk bertanya, berdialog, dan bekerja sama. Dari situlah pemahaman tentang keragaman dapat tumbuh secara alami,” jelasnya. Budi menambahkan, literasi keragaman tidak cukup disampaikan sebagai teori atau wacana normatif semata. Nilai-nilai tersebut harus dihadirkan melalui praktik pembelajaran, seperti kerja kelompok lintas latar belakang, diskusi reflektif, serta pengelolaan perbedaan dan konflik secara edukatif. Dengan pendekatan tersebut, peserta didik tidak hanya memahami adanya perbedaan, tetapi juga mampu menghargai dan menyikapinya secara dewasa. Sementara itu, Ketua Program Studi PPG UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M., menyampaikan bahwa kuliah perdana ini menjadi penanda arah pembelajaran PPG UMM ke depan. Ia menegaskan komitmen PPG UMM dalam mencetak guru profesional yang unggul secara pedagogik, sekaligus memiliki sensitivitas sosial dan wawasan kebangsaan yang kuat. Menurutnya, kelas yang menggembirakan merupakan prasyarat penting bagi tumbuhnya pemahaman peserta didik. Suasana belajar yang positif, aman, dan inklusif memungkinkan siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, berani menyampaikan pendapat, serta terbuka terhadap perbedaan. Dalam konteks tersebut, peran guru tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang membangun relasi dialogis dan menumbuhkan sikap saling menghargai di kelas. “Pembelajaran yang bermakna bukan semata soal penyampaian materi, melainkan bagaimana guru menciptakan suasana belajar yang memanusiakan, menghargai perbedaan, dan menumbuhkan rasa ingin tahu,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa kolaborasi lintas budaya merupakan kompetensi penting yang perlu dimiliki calon guru PPG. Melalui pembelajaran yang reflektif dan kontekstual, mahasiswa PPG UMM diharapkan mampu menerjemahkan nilai toleransi, dialog, dan kebinekaan ke dalam praktik pembelajaran di sekolah. Melalui kuliah perdana ini, PPG UMM menegaskan perannya dalam menyiapkan guru masa depan yang adaptif terhadap dinamika sosial, mampu membangun kelas yang inklusif, serta berkontribusi aktif dalam memperkuat persatuan melalui pendidikan. (*)

Maraknya Industri Hiburan, Pakar UMM Ungkap Identitas Kota Malang Dipertaruhkan

Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, MSi. (Istimewa/PWMU.CO) pwmu.co –Identitas Kota Malang sebagai kota pendidikan kini berada di titik persimpangan serius. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan pesat industri hiburan malam, kafe, dan ruang rekreasi komersial membentuk wajah baru kota yang semakin lekat dengan budaya hiburan. Fenomena ini bahkan merambah kawasan yang berdekatan langsung dengan fasilitas pendidikan. Pergeseran tersebut tidak hanya mengubah lanskap fisik kota, tetapi juga membawa konsekuensi sosial yang memengaruhi iklim akademik, karakter mahasiswa, serta relasi sosial di lingkungan kampus. Dalam perspektif sosiologis, kondisi ini mencerminkan tarik-menarik antara kepentingan ekonomi perkotaan, kebutuhan rekreatif mahasiswa, dan melemahnya peran institusi pendidikan sebagai ruang hidup intelektual dan sosial. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, MSi., menilai Malang sejak lama dikenal sebagai kota dengan identitas majemuk yang terus berkembang. “Dulu Malang dikenal sebagai kota ribina cita, mulai dari kota industri, kota pendidikan, hingga kota pariwisata. Besarnya jumlah mahasiswa dan pendatang dari berbagai daerah membuat Malang menjadi ruang sosial yang dinamis. Namun, mahasiswa sebagai manusia tidak hanya membawa kebutuhan akademik, melainkan juga kebutuhan akan ruang rekreatif yang memberi rasa senang, nyaman, dan bahagia sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya 30 Januari lalu pada Tim Humas UMM. Lebih lanjut, Wahyudi menjelaskan bahwa dalam jangka panjang kondisi tersebut berpotensi memicu tumbuhnya budaya hedonisme sekaligus melemahkan kontrol sosial di kalangan mahasiswa. Ketika ruang rekreasi sepenuhnya berada di luar kampus dan dikendalikan logika pasar, nilai akademik dan moral tidak lagi menjadi rujukan utama. Sebaliknya, standar perilaku cenderung diukur secara individual dan subjektif. “Kalau kontrol sosial hilang, orang akan mengukur baik dan buruk berdasarkan ukuran dirinya sendiri. Dalam kondisi ini, mahasiswa berpotensi kehilangan orientasi akademik karena lebih terdorong pada pencarian kesenangan instan dibandingkan proses intelektual yang menuntut kedisiplinan dan kesabaran,” tegasnya. Dampak lanjutan dari fenomena tersebut terlihat pada menurunnya kualitas akademik dan terjadinya pendangkalan intelektual. Mahasiswa cenderung kehilangan fokus belajar, lupa waktu, serta mengabaikan tanggung jawab akademik. Akibatnya, kampus tidak lagi berfungsi optimal sebagai pusat pembentukan kompetensi dan keilmuan yang kuat. Kondisi ini, menurutnya, juga tidak terlepas dari lemahnya regulasi pemerintah daerah dalam mengendalikan pertumbuhan industri hiburan yang terlalu berorientasi pada keuntungan ekonomi. “Ekonomi harus tumbuh, tetapi tidak boleh mengorbankan pendidikan dan moral. Jika tanpa penataan serius dan dialog antara kampus, pemerintah, dan masyarakat, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan Malang berisiko menjadi kota dengan relasi sosial yang terkomodifikasi,” jelasnya. Ia juga menyoroti menyempitnya ruang ekspresi rekreatif yang disediakan kampus sebagai salah satu faktor utama pergeseran identitas tersebut. Aktivitas mahasiswa di lingkungan kampus cenderung terpusat pada kegiatan akademik dan formal, sementara ruang nonformal yang memungkinkan mahasiswa mengekspresikan diri secara santai semakin terbatas. Situasi ini mendorong mahasiswa mencari alternatif ruang di luar kampus yang justru disediakan oleh industri hiburan berbasis pasar. “Kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat berpikir ilmiah, tetapi juga ruang untuk bernyanyi, berdiskusi santai, berpuisi, atau sekadar melepas kepenatan. Ruang-ruang tersebut perlu dikelola dengan pengawasan dan aturan yang jelas agar tetap sehat secara sosial dan moral, tanpa mematikan kebebasan berekspresi mahasiswa,” ujarnya. Terakhir, ia menekankan pentingnya penguatan ruang publik kampus, regulasi yang tegas dari pemerintah daerah, serta kolaborasi lintas institusi sebagai langkah strategis menjaga identitas Malang. Tanpa pengendalian sosial yang jelas dan dialog berkelanjutan antara perguruan tinggi dan pemangku kebijakan, identitas Malang sebagai kota pendidikan berisiko terus terkikis dan bergeser menjadi sekadar kota konsumsi.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Pelatihan Pemanfaatan Media Sosial sebagai Media Pembelajaran Bahasa Inggris

Pengabdian masyarakat FKIP UMM di MTs Muhammadiyah 1 Kota Malang. (Istimewa/PWMU.CO) pwmu.co –Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berupa Pelatihan Pemanfaatan Media Sosial sebagai Media Pembelajaran Bahasa Inggris bersama guru-guru Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah 1 Kota Malang. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, (13/12/2025) bertempat di ruang sidang MTs Muhammadiyah 1 Kota Malang. Pelatihan ini mengusung tema “Memperkuat Skill Guru dalam Mencerdaskan Siswa melalui Pemanfaatan Media Sosial”. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan media sosial secara efektif dan inovatif sebagai media pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran bahasa Inggris di sekolah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini melibatkan dosen dan mahasiswa FKIP UMM yang berkolaborasi langsung dengan para guru MTs Muhammadiyah 1 Kota Malang. Dalam pelaksanaannya, FKIP UMM menghadirkan tiga dosen sebagai narasumber utama. Dr. Sudiran, M.Hum. menyampaikan materi bertajuk “Video Blogging (Vlogs) sebagai Media Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah”. Materi ini menekankan pemanfaatan konten video kreatif sebagai sarana pembelajaran yang dekat dengan dunia siswa. Pemanfaatan Media Sosial Narasumber kedua, Erlyna Abidasari, S.Pd., M.PEd., memaparkan materi tentang Pemanfaatan YouTube dalam Pembelajaran: Karakteristik, Peluang, Strategi, dan Tantangan”. Melalui materi ini, peserta diajak memahami potensi YouTube sebagai media pembelajaran sekaligus tantangan yang perlu diantisipasi dalam penggunaannya. Sementara itu, Rahmawati K. Maro, S.Pd., M.PEd. menyampaikan materi “Implementasi Pemanfaatan Instagram dalam Pembelajaran Deep Learning”, yang menyoroti pemanfaatan media sosial berbasis visual untuk mendorong pembelajaran yang lebih mendalam. Melalui kegiatan ini, FKIP UMM menegaskan komitmennya dalam memperkuat peran guru sebagai pendidik. Pemanfaatan media sosial dipandang sebagai salah satu upaya strategis dalam mencerdaskan siswa melalui media pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi. Kompetensi Pedagogik Kegiatan ini menegaskan bahwa FKIP UMM terus berupaya memperkuat peran guru MTs Muhammadiyah 1 Kota Malang melalui pemanfaatan media sosial sebagai media pembelajaran. Selain peningkatan kompetensi pedagogik, kegiatan pengabdian ini juga mengintegrasikan nilai-nilai karakter dan keislaman, seperti kejujuran, komunikasi, berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, serta nilai Assidiq, Amanah, Fatonah, dan Tabligh. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diinternalisasikan oleh guru dalam proses pembelajaran di kelas. Pelatihan ini diikuti oleh 10 orang guru dari berbagai bidang studi, antara lain bahasa Inggris, bahasa Indonesia, bahasa Arab, dan sejarah. Selama kegiatan berlangsung, suasana pelatihan berjalan lancar, menggembirakan, dan penuh antusiasme. Para peserta memberikan respon positif terhadap kegiatan ini, yang terlihat dari aktifnya sesi diskusi dan tanya jawab antara peserta dan narasumber. (*) *) Penulis : Addinda *) Editor : Amanat Solikah

Mahasiswa KKN UMM Dalami Teknik Penulisan Berita Budaya Bersama Abdul Malik

Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar kegiatan Sinau Budaya pada Senin, 2 Februari 2026, yang berlangsung di Kampung Budaya Polowijen. Kegiatan ini menghadirkan Bapak Abdul Malik, penulis seni budaya sekaligus pengurus Dewan Kesenian Jawa Timur periode 2025–2030 (HO/KLIKTIMES.COM) KLIKTIMES.COM | KOTA MALANG-Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar kegiatan Sinau Budaya pada Senin, 2 Februari 2026, yang berlangsung di Kampung Budaya Polowijen. Kegiatan ini menghadirkan Bapak Abdul Malik, penulis seni budaya sekaligus pengurus Dewan Kesenian Jawa Timur periode 2025–2030, sebagai narasumber utama. Dalam kegiatan Sinau Budaya kali ini, mahasiswa mendapatkan pembekalan dengan tema “Teknik Menulis Berita Budaya”. Materi yang disampaikan menekankan pentingnya memahami karakter pembaca, menentukan sudut pandang penulisan, serta mengemas isu budaya agar tetap relevan dan menarik bagi masyarakat luas, khususnya generasi muda. Diskusi berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif dari mahasiswa. Fahmi Amansyah mengangkat pentingnya segmentasi dalam penulisan, dengan menyampaikan bahwa, “kalau kita mau menulis sesuatu baiknya disegmentasikan dulu, supaya kita bisa tahu dari topik yang kita tulis itu bisa dibagi dari segi segmentasi.” Dalam Sinau Budaya kali ini, mahasiswa mendapatkan pembekalan dengan tema “Teknik Menulis Berita Budaya”. Materi yang disampaikan menekankan pentingnya memahami karakter pembaca, menentukan sudut pandang penulisan, serta mengemas isu budaya agar tetap relevan dan menarik bagi masyarakat luas (HO/KLIKTIMES.COM) Sementara itu, Desfian Achmad menanyakan strategi penulisan yang efektif untuk menarik minat generasi muda dengan bertanya, “bagaimana strategi yang bagus untuk menarik perhatian Gen Z sekarang terutama di penulisan budaya.” Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuka ruang diskusi yang lebih dalam terkait tantangan dan peluang dalam jurnalisme budaya di era digital. Selain sesi diskusi dan pemaparan materi, mahasiswa KKN UMM juga mengikuti kegiatan praktik budaya dengan belajar membuat ketupat bersama para pelaku seni Kampung Budaya Polowijen. Kegiatan ini menjadi sarana untuk mengenal lebih dekat tradisi sekaligus memperkuat kedekatan mahasiswa dengan masyarakat dan pelaku budaya setempat. Diskusi berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif dari mahasiswa. (HO/KLIKTIMES.COM) Tidak hanya itu, mahasiswa juga memanfaatkan momen tersebut untuk membuat konten eksplorasi dengan berkeliling Kampung Budaya Polowijen. Konten ini bertujuan untuk memperkenalkan potensi budaya lokal kepada masyarakat luas melalui media digital. Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa KKN UMM berharap dapat meningkatkan kemampuan dalam menulis dan memproduksi berita budaya yang informatif, menarik, serta mampu menjembatani nilai-nilai tradisi dengan minat generasi masa kini.

Kuliah Tamu Internasional, Prodi Kesos UMM Gandeng NGO Malaysia

Mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM mengikuti kuliah tamu internasional bersama NGO Adab Youth Garage (Malaysia) sebagai bagian penguatan kompetensi dan wawasan praktik kerja sosial berbasis komunitas. (Abdus Salam/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan kuliah tamu internasional bekerja sama dengan NGO Adab Youth Garage (AYG) dari Malaysia, Kamis (29/1/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan internasionalisasi pembelajaran serta peningkatan pengalaman mahasiswa di bidang pekerjaan sosial. Bertempat di ruang rapat My Dormy UMM, kuliah tamu tersebut menghadirkan perwakilan Adab Youth Garage, sebuah organisasi nonpemerintah yang bergerak di bidang pengembangan komunitas, pemberdayaan anak dan remaja, serta pembangunan kapasitas pemuda di lingkungan urban di Malaysia. AYG dikenal sebagai platform komunitas yang menyediakan ruang kegiatan positif bagi anak dan remaja untuk berkembang secara sosial, moral, dan akademik melalui berbagai program berbasis komunitas. Kuliah tamu internasional ini merupakan bagian dari kolaborasi berkelanjutan antara Prodi Kesejahteraan Sosial UMM dengan mitra internasional, seperti Universiti Kebangsaan Malaysia dan lembaga-lembaga sosial mitra lainnya. Dalam kerja sama tersebut, AYG diundang untuk berbagi wawasan praktik sosial dan pengalaman komunitas lintas negara yang menjadi referensi penting bagi mahasiswa dalam memahami dinamika kesejahteraan sosial dalam konteks global. Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM Hutri Agustino menyampaikan bahwa kuliah tamu internasional ini membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas perspektif profesional dan meningkatkan kompetensi sosial. Kegiatan tersebut juga memotivasi sivitas akademika untuk terus membangun jejaring global dalam bidang kesejahteraan sosial. Menurutnya, kegiatan ini sejalan dengan program internasionalisasi yang dijalankan prodi sekaligus memperkuat sinergi antara dunia akademik dan praktik profesional dalam layanan masyarakat, khususnya pada pemberdayaan komunitas anak dan remaja serta pendekatan kerja sosial berbasis komunitas. “Sejak tahun lalu Prodi Kesejahteraan Sosial UMM telah terakreditasi oleh lembaga internasional FIBAA yang bermarkas di Jerman,” ujarnya. Lebih lanjut, Hutri menjelaskan bahwa kerja sama antara Prodi Kesejahteraan Sosial UMM dan Adab Youth Garage telah terjalin selama tiga tahun. Berbagai kegiatan telah dilaksanakan, mulai dari sharing session tematik, kolaborasi dalam program Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Pemberdayaan Masyarakat, hingga penempatan mahasiswa praktikum. “Materi yang disampaikan AYG sangat relevan karena memperkuat keterkaitan antara teori dan praktik, memperluas perspektif internasional, serta meningkatkan kompetensi profesional calon pekerja sosial,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM menegaskan komitmennya dalam membangun internasionalisasi yang produktif dan berkelanjutan. Internasionalisasi tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan indikator kinerja, tetapi sebagai strategi peningkatan mutu pendidikan, relevansi keilmuan, dan daya saing lulusan di tingkat global. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan akademik internasional secara berkelanjutan, seperti kuliah tamu internasional, webinar internasional, dan joint academic activities dengan mitra luar negeri. Kegiatan-kegiatan ini memberikan ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk memperoleh perspektif global, memperkaya pemahaman isu kesejahteraan sosial, serta membandingkan praktik kerja sosial di berbagai konteks budaya dan kebijakan. Selain itu, Prodi Kesejahteraan Sosial UMM secara aktif membangun dan memelihara kerja sama kelembagaan dengan universitas dan organisasi sosial internasional, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Kerja sama tersebut diarahkan pada kegiatan aplikatif dan berdampak, seperti pertukaran pengetahuan, kolaborasi riset, pengabdian masyarakat internasional, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia. Dalam aspek kurikulum dan pembelajaran, internasionalisasi diintegrasikan melalui pengayaan materi perkuliahan berbasis isu global, penggunaan referensi internasional, serta penguatan kompetensi multikultural dan etika kerja sosial internasional. Dengan pendekatan yang terencana, kolaboratif, dan berorientasi keberlanjutan, Prodi Kesejahteraan Sosial UMM terus berupaya menyiapkan lulusan yang adaptif, berwawasan global, dan mampu bekerja secara profesional di lingkungan multikultural. (Abdus Salam/AS)

Dukung SDGs, Mahasiswa Teknik Industri UMM Kembangkan Irigasi Otomatis Tenaga Surya

Dukung SDGs, Mahasiswa Teknik Industri UMM Kembangkan Irigasi Otomatis Tenaga Surya MALANG| JATIMSATUNEWS.COM: Kepekaan dalam membaca persoalan di lingkungan sekitar menjadi fondasi lahirnya inovasi mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3), mereka merancang Solar Powered Automatic Irrigation System, sebuah sistem irigasi tetes otomatis berbasis energi surya yang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi pertanian skala kecil secara berkelanjutan. Inovasi ini sekaligus mencerminkan komitmen akademik UMM dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Inovasi tersebut digagas oleh Isti Rohmania, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2023, bersama timnya. Berangkat dari pengamatan terhadap praktik pertanian di Indonesia, Isti menemukan bahwa masih banyak petani yang bergantung pada metode penyiraman manual. Selain memerlukan waktu dan tenaga besar, cara tersebut juga berpotensi menyebabkan pemborosan air. Dari permasalahan inilah lahir gagasan pengembangan sistem irigasi tetes otomatis yang cerdas dan hemat energi. Sistem irigasi ini memanfaatkan panel surya sebagai sumber daya utama. Energi matahari yang ditangkap kemudian disimpan dalam baterai untuk mengoperasikan sistem berbasis Arduino. Sensor kelembapan tanah berperan penting dalam menentukan waktu penyiraman, sehingga air hanya dialirkan ketika tanah benar-benar membutuhkan. “Dengan sensor kelembapan tanah, sistem mampu menyesuaikan kebutuhan air tanaman secara otomatis. Penyiraman tidak dilakukan terus-menerus, tetapi berdasarkan kondisi tanah,” ungkap Isti kepada Tim Humas UMM, 30 Januari lalu. Sebagai prototipe pembelajaran, penerapan sistem ini masih dilakukan dalam skala terbatas. Meski demikian, desainnya bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan berbagai jenis tanaman serta kondisi lahan. Pemanfaatan energi surya menjadi keunggulan tersendiri karena mampu menekan biaya operasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional. Dari aspek keberlanjutan, inovasi ini tidak hanya berfokus pada efisiensi air dan energi. Ke depan, sistem irigasi tersebut berpeluang dikembangkan lebih lanjut dengan integrasi penyaluran pupuk cair, nutrisi, maupun vitamin tanaman, sehingga perawatan tanaman dapat dilakukan secara lebih presisi dan terintegrasi. Bagi Isti, proyek ini menjadi pengalaman belajar yang berharga. Ia menilai mata kuliah P3 mendorong mahasiswa untuk berpikir sistematis, bekerja secara kolaboratif, serta peka terhadap kebutuhan masyarakat. “Melalui proyek ini, kami belajar bahwa inovasi tidak harus rumit. Yang terpenting adalah berangkat dari masalah nyata dan menghadirkan solusi yang bisa diterapkan,” tuturnya. Sementara itu, dosen pembimbing Amelia Khoidir, S.T., M.Sc., menilai pengembangan Solar Powered Automatic Drip Irrigation System merupakan contoh nyata pembelajaran berbasis proyek yang mendorong integrasi teknologi IoT dalam sistem irigasi presisi. Inovasi ini mencakup pengendalian kelembapan tanah hingga pengaturan pemberian air dan nutrisi secara otomatis. Menurutnya, proyek tersebut tidak hanya mengasah kemampuan pemecahan masalah, perancangan sistem, serta pengambilan keputusan berbasis data, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi smart irrigation system yang efisien, terjangkau, dan berkelanjutan bagi masyarakat. “Inovasi ini membuktikan bahwa mahasiswa mampu menghadirkan solusi teknologi yang relevan dan berdampak nyata bagi sektor pertanian,” jelasnya. Capaian dalam Industrial Engineering Expo 2026 UMM menjadi bukti bahwa pembelajaran berbasis proyek di Teknik Industri UMM mampu melahirkan inovasi aplikatif dan berdampak. Lebih dari sekadar tugas perkuliahan, Solar Powered Automatic Irrigation System menunjukkan potensi mahasiswa UMM dalam berkontribusi pada pengembangan teknologi tepat guna dan pertanian berkelanjutan. (*)

Dukung SDGs, Mahasiswa Teknik Industri UMM Kembangkan Irigasi Tenaga Surya

Mahasiswa Teknik Industri UMM Kembangkan Irigasi Tenaga Surya.(Ist) Malangpariwara.com – Kepekaan membaca persoalan di sekitar menjadi titik awal lahirnya sebuah inovasi. Melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3), mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Solar Powered Automatic Irrigation System, sebuah alat irigasi tetes otomatis berbasis energi surya yang lahir dari ruang kelas dan dirancang untuk mendukung pertanian skala kecil agar lebih efisien dan berkelanjutan. Inovasi ini sekaligus menjadi wujud komitmen akademik UMM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Inovasi tersebut dikembangkan oleh Isti Rohmania, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2023, bersama timnya. Berangkat dari pengamatan terhadap praktik pertanian di Indonesia, Isti menyoroti masih banyaknya petani yang mengandalkan penyiraman manual. Metode ini tidak hanya menyita waktu dan tenaga, tetapi juga berpotensi menyebabkan pemborosan air. Dari persoalan sederhana tersebut, timnya merancang sistem irigasi tetes otomatis yang bekerja secara cerdas dan hemat energi. Sistem irigasi ini memanfaatkan panel surya sebagai sumber listrik utama. Energi yang dihasilkan disimpan dalam baterai dan digunakan untuk mengoperasikan sistem berbasis Arduino. Sensor kelembapan tanah menjadi komponen kunci yang menentukan kapan tanaman membutuhkan air, sehingga penyiraman hanya dilakukan saat kondisi tanah benar-benar memerlukannya. “Melalui sensor kelembapan tanah, sistem ini bisa menyesuaikan kebutuhan air tanaman secara otomatis. Penyiraman tidak dilakukan terus-menerus, tetapi berdasarkan kondisi tanah,” jelas Isti 30 Januari lalu pada Tim Humas UMM. Sebagai prototipe pembelajaran, sistem ini masih diterapkan dalam skala terbatas. Meski demikian, konsepnya dirancang fleksibel dan adaptif untuk berbagai jenis tanaman serta kondisi lahan. Penggunaan energi surya menjadi nilai tambah karena mampu mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional sekaligus menekan biaya operasional petani. Dari sisi keberlanjutan, inovasi ini tidak hanya berfokus pada efisiensi air dan energi, tetapi juga membuka peluang pengembangan lebih lanjut. Ke depan, sistem irigasi ini berpotensi dikombinasikan dengan penyaluran pupuk cair, nutrisi, maupun vitamin tanaman, sehingga perawatan tanaman dapat dilakukan secara lebih terintegrasi dan presisi. Bagi Isti, proyek ini menjadi pengalaman belajar yang bermakna. Ia menilai mata kuliah P3 mendorong mahasiswa untuk berpikir sistematis, bekerja kolaboratif, serta peka terhadap kebutuhan masyarakat. “Lewat proyek ini, kami belajar bahwa inovasi tidak harus rumit. Yang terpenting adalah berangkat dari masalah nyata dan menghadirkan solusi yang bisa diterapkan,” ujarnya. Sementara itu, dosen pembimbing Amelia Khoidir, S.T., M.Sc., menilai pengembangan Solar Powered Automatic Drip Irrigation System merupakan wujud pembelajaran berbasis proyek yang mendorong mahasiswa mengintegrasikan teknologi IoT dalam sistem irigasi presisi. Inovasi ini mencakup pengendalian kelembapan tanah hingga pengaturan pemberian air dan nutrisi secara otomatis. Menurutnya, proyek tersebut tidak hanya melatih kemampuan pemecahan masalah, desain sistem, dan pengambilan keputusan berbasis data, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi smart irrigation system yang efisien, terjangkau, dan berkelanjutan bagi masyarakat. “Inovasi seperti ini membuktikan bahwa mahasiswa mampu menghadirkan solusi teknologi yang relevan dan berdampak nyata bagi sektor pertanian,” tuturnya. Capaian pada Industrial Engineering Expo 2026 UMM menjadi gambaran bagaimana pembelajaran berbasis proyek di Teknik Industri UMM mampu melahirkan inovasi yang aplikatif dan berdampak. Tak berhenti sebagai tugas perkuliahan, Solar Powered Automatic Irrigation System menunjukkan potensi mahasiswa UMM dalam berkontribusi pada pengembangan teknologi tepat guna dan pertanian berkelanjutan.(Djoko W)

PPG UMM Bekali Calon Guru dengan Wawasan Pendidikan Inklusif

KLIKMU.CO – Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengawali perkuliahan semester ini melalui Kuliah Perdana bertema Kelas yang Menggembirakan: Menumbuhkan Pemahaman Literasi Keragaman melalui Kolaborasi Lintas Budaya. Kegiatan yang digelar secara daring pada Sabtu (31/1/2026) ini menjadi langkah awal PPG UMM dalam menyiapkan calon guru yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap keberagaman di ruang kelas. Kuliah perdana tersebut menghadirkan Budi H. Setiamarga PhD, Program Advisor Institut Leimena, sebagai pemateri utama. Dalam paparannya, Budi menyoroti tantangan dunia pendidikan di tengah masyarakat yang semakin majemuk, baik dari sisi budaya, agama, maupun latar belakang sosial. Ia menegaskan bahwa kelas perlu dipahami sebagai ruang perjumpaan yang hidup, tempat peserta didik belajar mengenali dan memahami perbedaan secara sadar dan konstruktif. Menurut Budi, pembelajaran yang menggembirakan bukan berarti menghilangkan kedalaman materi. Sebaliknya, pembelajaran perlu dirancang sebagai proses yang aman, inklusif, dan mendorong partisipasi aktif peserta didik. Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep 3H (Head, Heart, Hand), yakni pembelajaran yang menyentuh aspek kognitif (head), membangun kesadaran nilai dan empati (heart), serta diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kolaborasi dan praktik di kelas (hand). “Guru perlu membangun kelas yang memberi rasa aman bagi siswa untuk bertanya, berdialog, dan bekerja sama. Dari situlah pemahaman tentang keragaman tumbuh secara alami,” ujarnya. Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa literasi keragaman tidak cukup disampaikan sebagai teori atau wacana normatif semata. Nilai-nilai tersebut perlu dihadirkan melalui praktik pembelajaran, seperti kerja kelompok lintas latar belakang, diskusi reflektif, serta pengelolaan perbedaan dan konflik secara edukatif. “Dengan demikian, peserta didik tidak hanya mengetahui adanya perbedaan, tetapi juga mampu menghargai dan menyikapinya secara dewasa,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Program Studi PPG UMM Prof Dr Trisakti Handayani MM menegaskan bahwa kuliah perdana ini menjadi penanda arah pembelajaran PPG UMM ke depan. Ia menyampaikan bahwa PPG UMM berkomitmen mencetak guru profesional yang unggul secara pedagogik, sekaligus memiliki sensitivitas sosial dan wawasan kebangsaan yang kuat. Menurutnya, kelas yang menggembirakan merupakan prasyarat penting bagi tumbuhnya pemahaman peserta didik. Suasana belajar yang positif, aman, dan inklusif memungkinkan siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, berani menyampaikan pendapat, serta terbuka terhadap perbedaan. Dalam konteks ini, guru berperan tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga fasilitator yang membangun relasi dialogis dan menumbuhkan sikap saling menghargai di kelas. “Pembelajaran yang bermakna bukan hanya soal penyampaian materi, tetapi bagaimana guru menciptakan suasana belajar yang memanusiakan, menghargai perbedaan, dan menumbuhkan rasa ingin tahu,” ungkapnya. Dia menambahkan, kolaborasi lintas budaya merupakan salah satu kompetensi kunci yang perlu dimiliki calon guru PPG. Melalui pembelajaran yang reflektif dan kontekstual, mahasiswa PPG UMM diharapkan mampu menerjemahkan nilai toleransi, dialog, dan kebinekaan ke dalam praktik pembelajaran di sekolah. Melalui kuliah perdana ini, PPG UMM menegaskan perannya dalam menyiapkan guru masa depan yang adaptif terhadap dinamika sosial, mampu membangun kelas yang inklusif, serta berkontribusi aktif dalam memperkuat persatuan melalui pendidikan. (Faqih/AS)

UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan

Pelatihan digital marketing menjadi pintu masuk penguatan UMKM ’Aisyiyah Paciran melalui kolaborasi berkelanjutan dengan Universitas Muhammadiyah Malang. Tagar.co – Hujan deras yang sejak pagi mengguyur Desa Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, Selasa (27/1/2026), tak menyurutkan semangat para ibu Aisyiyah untuk belajar dan berdaya. Di tengah cuaca yang kurang bersahabat, mereka tetap melangkah menghadiri kegiatan Program Pengabdian Masyarakat Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang yang digelar di SMP Muhammadiyah 12 (Spemudas) Sendangagung. Sejak pagi, hujan membasahi halaman dan jalan menuju lokasi kegiatan. Namun satu per satu peserta tetap berdatangan. Sebagian mengenakan mantel hujan, sebagian lain berteduh di balik payung seadanya. Raut lelah akibat perjalanan basah itu segera berganti antusiasme ketika kegiatan dimulai. Inilah potret semangat belajar yang menjadi ruh utama pengabdian masyarakat UMM. Peserta kegiatan berasal dari 18 Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) se-Cabang Paciran. Mereka merupakan anggota Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan Aisyiyah yang selama ini aktif mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di lingkungan masing-masing. Di depan ruang verifikasi tempat acara berlangsung, suasana tampak semarak. Sejumlah pelaku UMKM membuka lapak yang difasilitasi oleh PRA Sendangagung selaku tuan rumah. Aneka produk tersaji rapi di atas meja: kue Lebaran, keripik, hingga kerupuk khas pantura dengan kemasan menarik. Kehadiran PCA Paciran beserta jajaran, termasuk tim pengabdian masyarakat UMM, membuat stan-stan UMKM itu kian ramai. Tak sedikit produk yang akhirnya diborong sebagai bentuk dukungan nyata. Koordinator Bidang Perekonomian PCA Paciran, Mar’atus Sholehah, S.Ag., mengucapkan terima kasih atas apresiasi tersebut. Ia menjelaskan bahwa produk UMKM ’Aisyiyah Paciran sangat beragam dan berkualitas, sehingga layak dijadikan oleh-oleh khas daerah. PCA Paciran dan tim Pengabdian Masyarakat UMM, berada di deretan paling depan, berpose bersama dengan para undangan dalam acara pelatihan Digital Marketing di ruang verifikasi Spemudas Sendangagung Paciran Lamongan, Selasa(27/1/2026) (Tagar. co/Istimewa) Sementara itu, Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UMM, Dr. Nurul Asfiyah, M.M., menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi kegiatan pemberdayaan ekonomi perempuan di Paciran. “Kapan pun kegiatan pengabdian masyarakat UMM untuk ibu-ibu ’\Aisyiyah di PCA Paciran ini akan terus saya kawal,” ujarnya. Dengan pendekatan yang hangat dan komunikatif, ia memastikan setiap program benar-benar tepat sasaran sesuai kebutuhan peserta. Materi utama disampaikan oleh Dr. R. Iqbal Robbie, M.M., yang membawakan tema pemasaran digital. Ia mengulas secara aplikatif mulai dari pengenalan digital marketing, pemanfaatan media sosial, hingga strategi sederhana agar produk UMKM mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Diskusi dipandu oleh moderator Dr. Hj. Erly Juli Yani, S.E., M.M. Suasana kelas berlangsung hidup. Para peserta aktif bertanya, berbagi pengalaman usaha, sekaligus mengemukakan tantangan yang mereka hadapi dalam memasarkan produk di era digital. Di luar, hujan masih turun tanpa jeda. Namun di dalam ruang belajar, kehangatan justru terasa. Ada semangat, ada harapan, dan ada keyakinan untuk terus tumbuh bersama. Ketua PCA Paciran, Dra. Umu Hanik, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bukti nyata kuatnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi perempuan. Ia berharap jalinan silaturahim dan kerja sama ini terus terawat secara harmonis dan berkelanjutan. Bagi ibu-ibu ’Aisyiyah, kegiatan pengabdian masyarakat ini bukan sekadar pelatihan. Ia menjadi bekal penting untuk memperkuat kemandirian ekonomi keluarga dan masyarakat. Di tengah derasnya hujan, tumbuh keyakinan baru: belajar, berdaya, dan bertumbuh tak pernah mengenal cuaca. (#) Jurnalis Sri Asian Penyunting Mohammad Nurfatoni

Ramai Disalahgunakan, Dokter Anestesi UMM Peringatkan Risiko Fatal Gas N₂O

Penggunaan gas Dinitrogen Oksida (N₂O) diluar kepentingan medis dan kuliner dalam pembuatan whipped cream menyimpan risiko kesehatan serius yang tidak bisa dianggap ringan. Dalam dunia medis, gas ini sejatinya merupakan bagian dari praktik anestesi yang penggunaannya dibatasi secara ketat, namun belakangan justru disalahgunakan untuk memperoleh sensasi euforia sesaat. Tanpa pengawasan dokter, N₂O dapat mengganggu proses pertukaran oksigen di paru-paru. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan hipoksia, yakni kekurangan oksigen dalam tubuh yang dapat berujung pada gangguan pernapasan hingga kematian mendadak. “Kandungan dalam gas pembuat whipped cream itu sebenarnya adalah N₂O, yang di medis dikenal sebagai gas tertawa, tetapi efeknya tidak sesederhana tertawa saja. N₂O memicu pelepasan hormon endorfin di dalam tubuh, hormon yang efeknya menyerupai morfin. Efek ini menimbulkan sensasi nyaman, rileks, dan euforia ringan, sehingga sering kali membuat penggunanya merasa aman. Padahal, sensasi tersebut justru menutupi risiko fisiologis yang berbahaya bagi sistem pernapasan,” ujar dr. Shonif Akbar, Sp.An-TI., Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang(UMM) 02 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Pria yang juga dokter anestesi dan terapi intensif Rumah Sakit UMM itu menjelaskan bahwa dalam praktik kedokteran, N₂O tidak pernah digunakan secara bebas atau tunggal. Gas ini selalu dikombinasikan dengan oksigen serta anestesi lain dalam dosis terukur untuk menekan efek samping dan menjaga keselamatan pasien. Fungsinya adalah sebagai analgesik untuk meredakan nyeri dan ansiolitik untuk memberikan efek menenangkan, bukan sebagai zat rekreasional. Seluruh proses penggunaannya dilakukan di ruang operasi dengan pemantauan ketat terhadap fungsi pernapasan, kadar oksigen, dan sirkulasi darah pasien. Ia mengatakan jika masalah besar muncul ketika N₂O dihirup 100 persen tanpa campuran oksigen dan tanpa pengawasan dokter. “N₂O memiliki sifat mudah berdifusi dan cepat mengisi ruang kosong contohnya di paru, sehingga saat menggunakan N20 dan penggunaannya N2O dihentikan, N2O yang sudah berada di dalam tubuh akan cepat berdifusi ke keluar tubuh dan menumpuk di paru. Akibatnya oksigen gagal masuk ke dalam aliran darah melalui paru yang penuh dengan N2O. Ketika pertukaran oksigen terganggu, kadar oksigen dalam darah akan turun drastis atau mengalami desaturasi. Dalam hitungan menit, kondisi ini dapat memicu penurunan kesadaran, gangguan pernapasan, hingga henti jantung, terutama pada individu dengan kelainan jantung yang belum terdeteksi sebelumnya,” ujarnya. Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana informasi kesehatan kerap tereduksi ketika berpindah ke ruang publik dan media sosial. Gas N₂O yang belum beredar luas di masyarakat tetap berpotensi disalahgunakan ketika dipersepsikan sebagai barang aman dan legal tanpa pemahaman ilmiah yang memadai. Ketiadaan narasi risiko yang kuat membuat praktik ini tampak tidak berbahaya, padahal dampaknya bisa fatal. Kondisi ini memperlihatkan celah besar dalam edukasi kesehatan publik, khususnya terkait zat medis yang penggunaannya sangat spesifik. “Selain risiko jangka pendek, penyalahgunaan N₂O juga berdampak pada kesehatan jangka panjang. Paparan berulang dapat mengganggu metabolisme vitamin B12 yang berperan penting dalam fungsi saraf. Akibatnya, pengguna berisiko mengalami gangguan neurologis seperti nyeri saraf, gangguan otot, hingga kelumpuhan secara perlahan. Dampak ini sering tidak disadari karena muncul dalam jangka waktu lama dan tidak langsung terasa, sehingga banyak pengguna tidak mengaitkan keluhan fisik dengan riwayat paparan gas tersebut,” ujarnya. Dokter anestesi tersebut menegaskan bahwa penggunaan gas seperti N₂O seharusnya hanya dilakukan oleh tenaga medis terlatih dengan pengawasan ketat dan dukungan alat bantu pernapasan. Ia mengingatkan bahwa kegagalan pertukaran oksigen di paru-paru, meskipun hanya berlangsung beberapa menit terutama lebih dari empat menit dapat berakibat fatal, terlebih pada individu dengan gangguan jantung atau pernapasan yang tidak terdeteksi sebelumnya. Karena itu, fenomena whip pink menjadi peringatan penting bahwa sensasi euforia sesaat tidak sebanding dengan risiko kesehatan yang mengancam keselamatan jiwa.(vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman