Mahasiswa Akuakultur UMM Wujudkan SDGs melalui Gerakan Ecobrick di Kota Batu

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Sampah plastik bukan lagi sekadar persoalan kebersihan, melainkan ancaman nyata bagi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Tumpukan plastik yang sulit terurai terus menekan kualitas ekosistem daratan dan perairan, terutama di kawasan permukiman. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Program Studi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan aksi nyata bertajuk “Pemanfaatan Ecobrick sebagai Solusi Pengurangan Sampah Plastik” di Desa Dadaprejo, Kota Batu, Senin (26/1/2026). Kegiatan ini dipusatkan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R Dadaprejo Mandiri, Kecamatan Junrejo. Program tersebut merupakan implementasi mata kuliah Wawasan Berkelanjutan yang secara langsung mendorong peran mahasiswa dalam mendukung agenda pembangunan global berbasis lingkungan. Sebanyak 16 mahasiswa Akuakultur UMM angkatan 2025 terjun ke lapangan dan berkolaborasi dengan petugas kebersihan setempat untuk menangani timbulan sampah rumah tangga yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Ketua Pelaksana kegiatan, Daffa Rayhan Zaky, menegaskan bahwa aksi ini dirancang sebagai kontribusi konkret mahasiswa terhadap pencapaian SDGs. “Fokus kegiatan kami selaras dengan SDGs poin 15 tentang perlindungan ekosistem daratan. Pengelolaan sampah plastik yang buruk berdampak langsung pada kualitas tanah dan air. Karena itu, kami mendorong solusi sederhana namun berkelanjutan melalui ecobrick,” jelasnya. Metode ecobrick dilakukan dengan memadatkan sampah plastik kering yang telah dipilah ke dalam botol plastik bekas hingga membentuk material yang kuat menyerupai bata atau balok. Inovasi ini tidak hanya mencegah plastik tercecer ke lingkungan, tetapi juga memberikan nilai guna baru. Ecobrick dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan sederhana, elemen estetika, maupun fasilitas pendukung di area TPST, sekaligus menekan volume sampah plastik yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Pembina kegiatan, Rindya Fery Indrawan, M.P., menilai kehadiran mahasiswa di TPST memiliki dampak strategis, terutama dalam aspek edukasi masyarakat. “Kami ingin mahasiswa tidak berhenti pada tataran akademik. Melalui kegiatan ini, mereka belajar mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya, sekaligus membantu meringankan beban kerja rutin petugas TPST,” ujarnya. Ia menambahkan, kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat merupakan kunci dalam mewujudkan pembangunan lingkungan yang berkelanjutan. Upaya ini diharapkan menjadi langkah jangka panjang untuk menciptakan lingkungan permukiman di Kota Batu yang lebih sehat, bersih, dan lestari. Melalui aksi tersebut, mahasiswa Akuakultur UMM menegaskan bahwa kontribusi terhadap SDGs harus dilakukan secara menyeluruh. Perlindungan ekosistem daratan menjadi fondasi penting dalam menjaga kualitas ekosistem perairan, sejalan dengan fokus keilmuan akuakultur yang mereka tekuni.(*)
Pakar UMM Prof. Wahyudi Winarjo, MSi., Soroti Maraknya Industri Hiburan, Identitas Kota Malang Dipertaruhkan

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Identitas Kota Malang sebagai kota pendidikan kini berada di titik persimpangan serius. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan pesat industri hiburan malam, kafe, dan ruang rekreasi komersial membentuk wajah baru kota yang semakin lekat dengan budaya hiburan. Fenomena ini bahkan merambah kawasan yang berdekatan langsung dengan fasilitas pendidikan. Pergeseran tersebut tidak hanya mengubah lanskap fisik kota, tetapi juga membawa konsekuensi sosial yang memengaruhi iklim akademik, karakter mahasiswa, serta relasi sosial di lingkungan kampus. Dalam perspektif sosiologis, kondisi ini mencerminkan tarik-menarik antara kepentingan ekonomi perkotaan, kebutuhan rekreatif mahasiswa, dan melemahnya peran institusi pendidikan sebagai ruang hidup intelektual dan sosial. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, MSi., menilai Malang sejak lama dikenal sebagai kota dengan identitas majemuk yang terus berkembang. “Dulu Malang dikenal sebagai kota ribina cita, mulai dari kota industri, kota pendidikan, hingga kota pariwisata. Besarnya jumlah mahasiswa dan pendatang dari berbagai daerah membuat Malang menjadi ruang sosial yang dinamis. Namun, mahasiswa sebagai manusia tidak hanya membawa kebutuhan akademik, melainkan juga kebutuhan akan ruang rekreatif yang memberi rasa senang, nyaman, dan bahagia sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya 30 Januari lalu pada Tim Humas UMM. Lebih lanjut, Wahyudi menjelaskan bahwa dalam jangka panjang kondisi tersebut berpotensi memicu tumbuhnya budaya hedonisme sekaligus melemahkan kontrol sosial di kalangan mahasiswa. Ketika ruang rekreasi sepenuhnya berada di luar kampus dan dikendalikan logika pasar, nilai akademik dan moral tidak lagi menjadi rujukan utama. Sebaliknya, standar perilaku cenderung diukur secara individual dan subjektif. “Kalau kontrol sosial hilang, orang akan mengukur baik dan buruk berdasarkan ukuran dirinya sendiri. Dalam kondisi ini, mahasiswa berpotensi kehilangan orientasi akademik karena lebih terdorong pada pencarian kesenangan instan dibandingkan proses intelektual yang menuntut kedisiplinan dan kesabaran,” tegasnya. Dampak lanjutan dari fenomena tersebut terlihat pada menurunnya kualitas akademik dan terjadinya pendangkalan intelektual. Mahasiswa cenderung kehilangan fokus belajar, lupa waktu, serta mengabaikan tanggung jawab akademik. Akibatnya, kampus tidak lagi berfungsi optimal sebagai pusat pembentukan kompetensi dan keilmuan yang kuat. Kondisi ini, menurutnya, juga tidak terlepas dari lemahnya regulasi pemerintah daerah dalam mengendalikan pertumbuhan industri hiburan yang terlalu berorientasi pada keuntungan ekonomi. “Ekonomi harus tumbuh, tetapi tidak boleh mengorbankan pendidikan dan moral. Jika tanpa penataan serius dan dialog antara kampus, pemerintah, dan masyarakat, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan Malang berisiko menjadi kota dengan relasi sosial yang terkomodifikasi,” jelasnya. Ia juga menyoroti menyempitnya ruang ekspresi rekreatif yang disediakan kampus sebagai salah satu faktor utama pergeseran identitas tersebut. Aktivitas mahasiswa di lingkungan kampus cenderung terpusat pada kegiatan akademik dan formal, sementara ruang nonformal yang memungkinkan mahasiswa mengekspresikan diri secara santai semakin terbatas. Situasi ini mendorong mahasiswa mencari alternatif ruang di luar kampus yang justru disediakan oleh industri hiburan berbasis pasar. “Kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat berpikir ilmiah, tetapi juga ruang untuk bernyanyi, berdiskusi santai, berpuisi, atau sekadar melepas kepenatan. Ruang-ruang tersebut perlu dikelola dengan pengawasan dan aturan yang jelas agar tetap sehat secara sosial dan moral, tanpa mematikan kebebasan berekspresi mahasiswa,” ujarnya. Terakhir, ia menekankan pentingnya penguatan ruang publik kampus, regulasi yang tegas dari pemerintah daerah, serta kolaborasi lintas institusi sebagai langkah strategis menjaga identitas Malang. Tanpa pengendalian sosial yang jelas dan dialog berkelanjutan antara perguruan tinggi dan pemangku kebijakan, identitas Malang sebagai kota pendidikan berisiko terus terkikis dan bergeser menjadi sekadar kota konsumsi.(*)
Pakar UMM Soroti Maraknya Industri Hiburan Malam di Kota Malang

Sketsamalang.com — Identitas Kota Malang sebagai kota pendidikan berada di persimpangan serius seiring pesatnya pertumbuhan industri hiburan malam, kafe, dan ruang rekreasi komersial. Perkembangan tersebut bahkan merambah kawasan yang berdekatan langsung dengan fasilitas pendidikan, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap dampak sosial dan akademik di lingkungan kampus. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, M.Si., menilai perubahan wajah kota tidak hanya berdampak pada lanskap fisik, tetapi juga memengaruhi iklim akademik, karakter mahasiswa, serta relasi sosial di sekitarnya. “Sejak dulu Malang dikenal sebagai kota ribina cita, mulai dari kota industri, kota pendidikan, hingga kota pariwisata. Banyaknya mahasiswa dan pendatang dari berbagai daerah menjadikan Malang sebagai ruang sosial yang dinamis,” ujar Wahyudi. Menurutnya, mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat kota tidak hanya memiliki kebutuhan akademik, tetapi juga kebutuhan rekreatif untuk memperoleh rasa senang, nyaman, dan bahagia. Namun, apabila ruang rekreasi sepenuhnya dikuasai oleh industri berbasis pasar dan berada di luar kontrol sosial kampus, kondisi tersebut berpotensi memicu pergeseran nilai. Dalam perspektif sosiologis, Wahyudi menilai fenomena ini mencerminkan tarik-menarik antara kepentingan ekonomi perkotaan, kebutuhan rekreasi mahasiswa, dan melemahnya peran institusi pendidikan sebagai ruang hidup intelektual dan sosial. Ia mengingatkan bahwa dalam jangka panjang situasi tersebut dapat menumbuhkan budaya hedonisme dan melemahkan kontrol sosial di kalangan mahasiswa. “Ketika kontrol sosial melemah, ukuran baik dan buruk menjadi sangat subjektif. Mahasiswa berisiko kehilangan orientasi akademik karena lebih terdorong pada pencarian kesenangan instan dibandingkan proses intelektual yang menuntut kedisiplinan dan kesabaran,” tegasnya. Dampak lanjutan dari kondisi tersebut, lanjut Wahyudi, terlihat pada menurunnya kualitas akademik dan terjadinya pendangkalan intelektual. Mahasiswa cenderung kehilangan fokus belajar, mengabaikan tanggung jawab akademik, serta tidak mampu memanfaatkan kampus secara optimal sebagai pusat pengembangan kompetensi dan keilmuan. Ia juga menyoroti lemahnya regulasi pemerintah daerah dalam mengendalikan pertumbuhan industri hiburan yang terlalu berorientasi pada keuntungan ekonomi. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tetap penting, namun tidak boleh mengorbankan pendidikan dan nilai moral masyarakat. “Jika tidak ada penataan serius dan dialog antara kampus, pemerintah, dan masyarakat, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan Malang berisiko menjadi kota dengan relasi sosial yang terkomodifikasi,” ujarnya. Selain itu, Wahyudi menilai minimnya ruang ekspresi rekreatif di dalam kampus turut mendorong mahasiswa mencari alternatif hiburan di luar lingkungan akademik. Aktivitas kampus yang cenderung formal dan akademis membuat ruang nonformal untuk berekspresi semakin terbatas. “Kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat berpikir ilmiah, tetapi juga ruang untuk bernyanyi, berdiskusi santai, berpuisi, atau sekadar melepas kepenatan. Ruang tersebut perlu dikelola dengan aturan dan pengawasan yang jelas agar tetap sehat secara sosial dan moral,” katanya. Ia menegaskan, penguatan ruang publik kampus, regulasi tegas dari pemerintah daerah, serta kolaborasi lintas institusi menjadi langkah strategis untuk menjaga identitas Malang sebagai kota pendidikan. Tanpa pengendalian sosial dan dialog berkelanjutan, identitas tersebut dikhawatirkan akan terus terkikis dan bergeser menjadi kota konsumsi.
Dukung SDGs, Mahasiswa Teknik Industri UMM Kembangkan Irigasi Tenaga Surya

Kepekaan membaca persoalan di sekitar menjadi titik awal lahirnya sebuah inovasi. Melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3), mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Solar Powered Automatic Irrigation System, sebuah alat irigasi tetes otomatis berbasis energi surya yang lahir dari ruang kelas dan dirancang untuk mendukung pertanian skala kecil agar lebih efisien dan berkelanjutan. Inovasi ini sekaligus menjadi wujud komitmen akademik UMM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Inovasi tersebut dikembangkan oleh Isti Rohmania, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2023, bersama timnya. Berangkat dari pengamatan terhadap praktik pertanian di Indonesia, Isti menyoroti masih banyaknya petani yang mengandalkan penyiraman manual. Metode ini tidak hanya menyita waktu dan tenaga, tetapi juga berpotensi menyebabkan pemborosan air. Dari persoalan sederhana tersebut, timnya merancang sistem irigasi tetes otomatis yang bekerja secara cerdas dan hemat energi. Sistem irigasi ini memanfaatkan panel surya sebagai sumber listrik utama. Energi yang dihasilkan disimpan dalam baterai dan digunakan untuk mengoperasikan sistem berbasis Arduino. Sensor kelembapan tanah menjadi komponen kunci yang menentukan kapan tanaman membutuhkan air, sehingga penyiraman hanya dilakukan saat kondisi tanah benar-benar memerlukannya. “Melalui sensor kelembapan tanah, sistem ini bisa menyesuaikan kebutuhan air tanaman secara otomatis. Penyiraman tidak dilakukan terus-menerus, tetapi berdasarkan kondisi tanah,” jelas Isti 30 Januari lalu pada Tim Humas UMM. Sebagai prototipe pembelajaran, sistem ini masih diterapkan dalam skala terbatas. Meski demikian, konsepnya dirancang fleksibel dan adaptif untuk berbagai jenis tanaman serta kondisi lahan. Penggunaan energi surya menjadi nilai tambah karena mampu mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional sekaligus menekan biaya operasional petani. Dari sisi keberlanjutan, inovasi ini tidak hanya berfokus pada efisiensi air dan energi, tetapi juga membuka peluang pengembangan lebih lanjut. Ke depan, sistem irigasi ini berpotensi dikombinasikan dengan penyaluran pupuk cair, nutrisi, maupun vitamin tanaman, sehingga perawatan tanaman dapat dilakukan secara lebih terintegrasi dan presisi. Bagi Isti, proyek ini menjadi pengalaman belajar yang bermakna. Ia menilai mata kuliah P3 mendorong mahasiswa untuk berpikir sistematis, bekerja kolaboratif, serta peka terhadap kebutuhan masyarakat. “Lewat proyek ini, kami belajar bahwa inovasi tidak harus rumit. Yang terpenting adalah berangkat dari masalah nyata dan menghadirkan solusi yang bisa diterapkan,” ujarnya. Sementara itu, dosen pembimbing Amelia Khoidir, S.T., M.Sc., menilai pengembangan Solar Powered Automatic Drip Irrigation System merupakan wujud pembelajaran berbasis proyek yang mendorong mahasiswa mengintegrasikan teknologi IoT dalam sistem irigasi presisi. Inovasi ini mencakup pengendalian kelembapan tanah hingga pengaturan pemberian air dan nutrisi secara otomatis. Menurutnya, proyek tersebut tidak hanya melatih kemampuan pemecahan masalah, desain sistem, dan pengambilan keputusan berbasis data, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi smart irrigation system yang efisien, terjangkau, dan berkelanjutan bagi masyarakat. “Inovasi seperti ini membuktikan bahwa mahasiswa mampu menghadirkan solusi teknologi yang relevan dan berdampak nyata bagi sektor pertanian,” tuturnya. Capaian pada Industrial Engineering Expo 2026 UMM menjadi gambaran bagaimana pembelajaran berbasis proyek di Teknik Industri UMM mampu melahirkan inovasi yang aplikatif dan berdampak. Tak berhenti sebagai tugas perkuliahan, Solar Powered Automatic Irrigation System menunjukkan potensi mahasiswa UMM dalam berkontribusi pada pengembangan teknologi tepat guna dan pertanian berkelanjutan.(ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Kisah Melani, Kuliah dan Jalankan Bisnis Apotek 24 Jam, Punya Staf Anak Gen Z Sumber: https://www.kompas.com/edu/read/2026/01/31/191236171/kisah-melani-kuliah-dan-jalankan-bisnis-apotek-24-jam-punya-staf-anak-gen-z. Membership: https://kmp.im/plus6 Download aplikasi: https://kmp.im/app6

KOMPAS.com – Kuliah full seharian saja sudah melelahkan, apalagi sambil bekerja. Sama seperti Melani Rahmabutri, di tengah jadwal kuliah yang padat dan tuntutan akademik sebagai mahasiswa semester tujuh, ia membuka apotek. Mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022 ini nekat merintis bisnis apotek 24 jam, sembari tetap menjalani perannya sebagai mahasiswa aktif. Di saat sebagian besar mahasiswa Gen Z masih berfokus menyelesaikan studi, Melani harus membagi waktu antara perkuliahan, praktikum, dan tanggung jawab mengelola usaha. Namun baginya, dunia akademik dan bisnis justru bisa berjalan beriringan. Apotek yang mulai beroperasi sejak September 2025 itu hadir dengan konsep pelayanan komprehensif dan humanis. Tak hanya melayani penjualan obat, apotek ini juga aktif melakukan edukasi kesehatan, penyuluhan ke desa-desa, hingga menyediakan layanan cek kesehatan gratis bagi masyarakat. Mulai dari pemeriksaan gula darah, asam urat, kolesterol, hingga tekanan darah, semuanya dapat diakses tanpa dipungut biaya. Mahasiswa asal Kalimantan Selatan itu mengungkapkan bahwa ketertarikannya pada dunia farmasi telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah. Ia merupakan lulusan SMK Farmasi yang kemudian melanjutkan pendidikan S1 Farmasi di UMM. Latar belakang tersebut menjadi bekal kuat sekaligus alasan di balik keberaniannya membuka apotek di usia muda. “Sejak awal memang ingin punya apotek. Dari SMK sampai kuliah saya berada di jalur farmasi, jadi ini bukan keputusan yang tiba-tiba,” ujarnya. Dalam pengelolaan usaha, Melani berperan sebagai Pemilik Sarana Apotek (PSA), sementara tanggung jawab kefarmasian dijalankan oleh dua apoteker resmi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh layanan berjalan sesuai regulasi dan standar profesi. “Kami selalu mengedepankan konsultasi sebelum pemberian obat. Pasien ditanya dulu kondisinya, riwayat obatnya, lalu kami jelaskan cara penggunaan dan penyimpanan agar tidak terjadi medication error,” jelasnya. Kesibukan mengelola apotek tak membuat Melani berhenti berkontribusi langsung ke masyarakat. Bersama timnya, ia rutin terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan. Mulai dari acara RT, desa, hingga kegiatan warga, sambil membuka layanan cek kesehatan gratis sebagai bentuk pengabdian. “Kami sering ikut kegiatan warga. Di sana kami adakan cek gula darah, asam urat, kolesterol, dan tekanan darah gratis. Ini bagian dari edukasi supaya masyarakat lebih peduli pada kesehatan,” tuturnya. Mengikuti karakter Gen Z yang akrab dengan teknologi, apotek ini juga memanfaatkan media sosial seperti TikTok dan Instagram sebagai sarana edukasi sekaligus promosi. Layanan pemesanan obat daring pun terhubung langsung ke WhatsApp, lengkap dengan fasilitas antar obat gratis untuk pelanggan dalam radius dua kilometer. Dalam pengelolaan sumber daya manusia, Melani juga memberdayakan generasi muda dengan merekrut pegawai dari kalangan Gen Z. Selain memiliki latar belakang farmasi, para pegawai dilibatkan aktif dalam pembuatan konten edukasi sebagai bagian dari strategi branding. Melalui pengalamannya, Melani berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani melangkah, meski di tengah kesibukan kuliah. “Jangan takut memulai. Ilmu yang kita pelajari di bangku kuliah seharusnya bisa memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” pungkasnya.
Overwork: Budaya Bangga Gila Kerja yang Mematikan

Ilustrasi overwork alias gila kerja. Foto: Unsplash Tugumalang.id – Perkembangan zaman modern hari ini memunculkan fenomena overwork atau gila kerja. Padahal, overwork tidak bisa dipandang sebagai persoalan sepele karena menyangkut isu keadilan sosial tentang kualitas hidup manusia. Sebagaimana diketahui, fenomena kerja berlebihan atau overwork kian mengakar dalam keseharian masyarakat Indonesia. Jam kerja yang panjang kerap disalahartikan sebagai simbol loyalitas, dedikasi, dan etos kerja tinggi yang patut dibanggakan. Di balik glorifikasi budaya “gila kerja” tersebut, tersembunyi persoalan struktural dalam sistem ketenagakerjaan yang perlahan menggerus kualitas hidup manusia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sebanyak 25,5 persen atau sekitar 37,3 juta pekerja di Indonesia bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Angka ini menegaskan bahwa overwork bukan lagi fenomena sporadis, melainkan persoalan sistemik. Overwork perlu dipahami secara lebih komprehensif melalui perspektif kesejahteraan sosial. Menurutnya, kesejahteraan tidak semata harus diukur dari besaran pendapatan, tapi dari sejauh mana individu mampu menjalankan fungsi sosialnya secara utuh dan seimbang. Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial (Kesos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Eko Rizqi Purwo Widodo, MSW menuturkan bahwa overwork tidak bisa dipandang sebagai persoalan sepele. ”Ini adalah isu keadilan sosial yang menyentuh langsung kualitas hidup manusia. Jika Indonesia ingin menjadi negara yang benar-benar kuat dan berdaya, maka kesejahteraan individu dan keluarga harus ditempatkan sebagai prioritas utama,” ujar Eko. Eko menjelaskan bahwa bekerja melampaui batas sering kali bukanlah pilihan bebas pekerja. Dalam sistem kerja yang minim perlindungan dan jaminan sosial, banyak individu terpaksa mengorbankan waktu istirahat demi memenuhi kebutuhan hidup. Kondisi ini mencerminkan kegagalan sistem sosial dalam melindungi hak dasar pekerja. Ketimpangan relasi kuasa antara pemberi kerja dan pekerja pun semakin terlihat ketika lembur diposisikan sebagai kewajiban yang dianggap normal. ‘Dalam perspektif kesejahteraan sosial, pijakan utamanya adalah well-being. Ini mencakup keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, psikologis, hingga kesehatan individu,” ungkapnya. Ia juga menekankan bahwa dampak overwork tidak berhenti di ruang kerja. Ancaman yang lebih serius justru muncul di ranah domestik. Jam kerja yang berlebihan berpotensi memicu kelelahan fisik dan mental, sekaligus melemahkan peran sosial individu dalam keluarga. Dosen Kesos itu juga menyoroti kelompok pekerja yang berada dalam posisi paling rentan, seperti pekerja sektor informal, buruh outsourcing, pekerja migran, hingga pekerja perempuan yang menghadapi beban ganda. Tanpa perlindungan dan kompensasi yang memadai, jam kerja panjang berisiko menjelma menjadi bentuk eksploitasi modern yang tersembunyi di balik tekanan ekonomi. “Negara yang kuat dibangun dari individu dan keluarga yang sehat secara psikososial. Jika beban kerja justru merusak relasi keluarga, seperti renggangnya hubungan orang tua dan anak, maka ini menjadi persoalan serius bagi masa depan bangsa,” tegasnya. Sebagai langkah konkret, Eko mendorong penguatan advokasi serta perumusan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih humanis dan berpihak pada kesejahteraan pekerja. Menurutnya, pemerintah tidak semestinya hanya berfokus pada indikator pertumbuhan ekonomi dan produktivitas semata dalam menyusun regulasi, tetapi juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan fisik, mental, dan sosial pekerja. “Kebijakan ketenagakerjaan harusnya mampu menjamin batas kerja yang wajar, perlindungan sosial yang memadai, serta keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan keluarga agar pembangunan ekonomi tidak dibayar dengan hilangnya kualitas hidup manusia,” tegasnya.
Taman Rekreasi Sengkaling Sosialisasikan Edukasi Wisata
Taman Rekreasi Sengkaling Sosialisasikan Edukasi Wisata JTV Malang – Sabtu, 31 Januari 2026 16:13 KABUPATEN MALANG – Taman rekreasi Sengkaling Universitas Muhammadiyah Malang menggelar sosialisasi dan kemitraan program edukasi berbasis wisata. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang pengenalan layanan katering Sengkaling kuliner atau sekul. (RAFLI)
Mahasiswa Teknik Industri UMM Kembangkan Steam Press Ecoprint untuk Tingkatkan Kualitas Produksi UMKM

(Doc. Istimewa) Mahasiswa Teknik Industri UMM menunjukkan alat Steam Press Ecoprint hasil inovasi untuk mendukung produksi UMKM. HARIANCENDEKIA, MALANG – Inovasi teknologi tepat guna kembali lahir dari lingkungan kampus. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan alat produksi Steam Press Ecoprint yang dinilai lebih efisien dan mampu meningkatkan kualitas warna serta detail motif ecoprint bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Alat tersebut dirancang oleh mahasiswa Teknik Industri UMM, Iqbal Rafif Yuliono (angkatan 2023), bersama timnya melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3). Inovasi ini dikembangkan sebagai respons atas berbagai kendala yang masih dihadapi pelaku ecoprint, terutama terkait konsistensi hasil produksi. Iqbal menjelaskan, metode ecoprint yang selama ini digunakan UMKM umumnya masih bersifat manual atau mengandalkan sistem otomatis sederhana. Cara tersebut kerap menghasilkan warna yang kurang kuat dan motif yang tidak merata, khususnya saat produksi dalam jumlah banyak. “Dari pengamatan kami, metode ecoprint yang ada sering kali menghasilkan warna yang kurang kuat dan motif tidak merata. Dari situ muncul ide untuk menggabungkan sistem manual dan otomatis dengan mesin press berbasis uap,” ujarnya. Berbeda dengan metode kukus konvensional, Steam Press Ecoprint memanfaatkan kombinasi panas, uap, dan tekanan melalui pelat logam pada mesin press. Sistem ini memungkinkan proses transfer warna dan motif ke kain berlangsung lebih optimal dan merata. Hasil uji coba menunjukkan, penggunaan uap bertekanan mampu menghasilkan warna yang lebih tajam serta detail motif yang lebih jelas. Selain itu, konsistensi hasil produksi dinilai lebih terjaga sehingga sesuai untuk kebutuhan UMKM. “Ketika dibandingkan dengan metode kukus biasa, warna ecoprint yang dihasilkan mesin ini jauh lebih keluar dan detail motifnya lebih jelas,” tambahnya. Steam Press Ecoprint telah diuji coba secara terbatas pada pelaku UMKM, salah satunya Kenikir Natural Ecoprint di Bululawang, Kabupaten Malang. Dari pengujian tersebut, alat ini dinilai mampu meningkatkan kualitas visual kain sekaligus menjaga keseragaman hasil produksi. Meski mengusung konsep efisiensi, alat ini tidak semata-mata mengejar kecepatan produksi. Steam Press Ecoprint dirancang agar proses dapat disesuaikan dengan tingkat kerumitan motif, sehingga pelaku usaha tetap dapat menghasilkan produk bernilai jual tinggi. Selain itu, desain alat dibuat ramah bagi UMKM skala kecil dan fleksibel untuk berbagai jenis kain. Bahkan, pada beberapa material tertentu, kombinasi uap dan tekanan terbukti menghasilkan motif yang lebih maksimal. Iqbal mengakui, peran dosen pembimbing sangat penting dalam proses pengembangan inovasi tersebut, terutama dalam menumbuhkan kepekaan mahasiswa terhadap kebutuhan masyarakat. Ke depan, ia berharap Steam Press Ecoprint dapat dikembangkan dengan kapasitas lebih besar, struktur yang lebih kokoh, serta sistem pengoperasian yang semakin praktis. “Yang terpenting jangan takut mencoba. Dari proses itulah kita belajar memahami masalah dan menemukan solusi yang benar-benar dibutuhkan,” katanya. Sementara itu, Ketua Program Studi Teknik Industri UMM, Dr. Dana Marsetiya Utama, M.T., mengapresiasi inovasi yang dihasilkan mahasiswa tersebut. Menurutnya, karya ini menjadi bukti keberhasilan pembelajaran berbasis praktik yang mendorong mahasiswa berpikir kritis dan solutif. “Kami ingin mahasiswa peka terhadap persoalan di sekitarnya dan berani menghadirkan solusi yang relevan melalui inovasi,” pungkasnya. [rin/roz]
Pelatihan Psikologi Keluarga Penggerak Posyandu Disabilitas Kerjasama UMM dan LINKSOS
MCC.MALANGKOTA – Pelatihan Psikologi Keluarga Penggerak Posyandu Disabilitas merupakan kegiatan peningkatan kapasitas yang diselenggarakan melalui kerja sama antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan LINKSOS (Lingkar Sosial Indonesia). Pelatihan ini bertujuan memperkuat pemahaman dan keterampilan keluarga serta kader penggerak Posyandu Disabilitas dalam aspek psikologi keluarga, khususnya dalam mendukung tumbuh kembang, kesehatan mental, dan kesejahteraan penyandang disabilitas. Melalui pendekatan psikologi keluarga yang aplikatif dan kontekstual, peserta akan dibekali pengetahuan tentang dinamika keluarga, pola komunikasi yang sehat, pengasuhan inklusif, serta strategi menghadapi tantangan psikososial yang sering dialami keluarga penyandang disabilitas. Materi disampaikan oleh akademisi dan praktisi berpengalaman dari UMM dan LINKSOS dengan metode interaktif, diskusi kasus, dan praktik sederhana yang mudah diterapkan di lingkungan keluarga dan komunitas. Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan keluarga dan kader Posyandu Disabilitas yang tangguh, empatik, dan berdaya, sehingga Posyandu Disabilitas tidak hanya menjadi ruang layanan kesehatan dasar, tetapi juga pusat dukungan psikososial dan penguatan keluarga yang inklusif dan berkelanjutan.
Kasus Percobaan Bunuh Diri Mahasiswa Berulang, BK UMM Ungkap Akar Masalah Bukan Sekadar Akademik

Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psikolog. (Sumber: UMM) RIAUCERDAS.COM, MALANG – Rentetan kasus percobaan bunuh diri di kalangan mahasiswa yang terjadi berulang, bahkan di lokasi yang sama, memunculkan alarm serius tentang kesehatan mental generasi muda. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi mahasiswa tidak bisa lagi dipandang sebagai masalah individu, melainkan krisis psikologis yang memerlukan perhatian bersama, terutama bagi mahasiswa rantau. Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psikolog, menyebut mahasiswa rantau memiliki kerentanan tinggi karena harus beradaptasi dengan lingkungan baru tanpa dukungan langsung dari keluarga. Ketika kemampuan adaptasi dan dukungan sosial rendah, risiko masalah psikologis meningkat. “Mahasiswa rantau itu rentan karena mereka tidak tinggal bersama orang tua atau di lingkungan yang biasa mereka tempati. Mereka berisiko mengalami problem psikologis ketika dukungan sosial atau kemampuan adaptasinya rendah,” ujar Naning dilansir dari portal IMM. Ia mengungkapkan, berdasarkan pengalaman di ruang konseling, tekanan akademik seperti tugas kuliah atau skripsi sering kali bukan penyebab utama. Banyak kasus justru berakar dari rapuhnya ketahanan keluarga, sementara masalah akademik hanya menjadi pemicu dari beban emosional yang telah lama menumpuk. Naning menegaskan bahwa bekal terpenting mahasiswa bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi ketahanan mental (resiliensi) untuk menghadapi ketidaknyamanan hidup. Tanpa resiliensi, mahasiswa cenderung berpikir sempit saat berada dalam situasi tertekan. “Tekanan akademik itu wajar dan bagian dari proses pendidikan. Dalam taraf tertentu justru penting agar mahasiswa lebih fokus. Yang menjadi dasar adalah sejauh mana seseorang memiliki ketahanan mental dan pemahaman tentang makna berjuang,” jelasnya. Terkait pemilihan lokasi yang sama dalam beberapa kasus percobaan bunuh diri, Naning menilai hal itu berkaitan dengan kondisi psikologis individu yang sudah terdesak. Paparan cerita atau pemberitaan sebelumnya dapat membentuk gambaran tertentu dalam pikiran mahasiswa yang rapuh, sehingga lokasi tersebut dianggap sebagai pilihan. BK UMM mengedepankan pendekatan konseling berbasis pemberdayaan, di mana mahasiswa tidak hanya diajak memahami masalahnya, tetapi juga mengenali kekuatan diri dan sumber persoalan yang dihadapi. “Kami ingin mahasiswa sadar bahwa mereka memiliki kapasitas untuk keluar dari masalah. Konselor berfungsi sebagai penguat, bukan satu-satunya tumpuan,” tegas Naning. Ia juga menekankan pentingnya coping mechanism yang sehat, seperti berolahraga, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas sederhana yang disukai untuk menyalurkan emosi negatif sebelum menumpuk. Selain peran profesional, lingkungan terdekat seperti teman kos dan teman sebaya dinilai menjadi garda terdepan pencegahan. Sikap mendengarkan tanpa menghakimi, menjaga kerahasiaan, serta tidak menyepelekan masalah teman disebut sebagai langkah kecil yang berdampak besar. (*)