Bukti Kiprah Alumni UMM, Ruri Kini Terlibat Strategi Kebijakan di Kemendikdasmen

Miftahussururi, S.Pd., Alumni UMM. Foto: Hassan/PWMU.CO pwmu.co –Aktivisme kampus kerap dianggap berhenti di ruang diskusi dan forum mahasiswa. Namun bagi Miftahussururi, S.Pd., semangat berorganisasi justru menjadi fondasi untuk ikut menggerakkan arah kebijakan pendidikan nasional. Alumnus Pendidikan Matematika dan Komputasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini kini berperan di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, membawa nilai-nilai kepemimpinan yang ia bangun sejak bangku kuliah. “Saat ini saya bertugas sebagai leader Tim Kebjiakan dan Komunikasi Analis Data sekaligus membantu penyusunan dan pelaksanaan strategi komunikasi kebijakan dan program di satuan kerja saya,” ujarnya (30/01/2026) lalu pada Tim Humas UMM. Ruri sapaan akrabnya mengawali kariernya di Kementerian Pendidikan pada 2017 setelah lolos seleksi yang cukup panjang. Dalam perjalanannya, ia juga pernah bertugas di Tim Staf Khusus Menteri Bidang Pembelajaran, Ditjen GTK, serta Ditjen PAUDDasmen selama lima tahun. Hingga akhirnya, pada 2025, ia dipercaya bergabung di Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Ditjen Vokasi PKPLK). Lebih lanjut, pria itu mengisahkan dirinya yang merupakan mahasiswa produktif dan penuh inisiatif. Ia pernah mengemban amanah sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Matematika “Matriks” (2011-2012), Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) “Raushan Fikr” FKIP (2012-2013), hingga Sekretaris Umum Koordinator Komisariat IMM UMM (2013-2014). Tidak hanya itu, ia juga dipercaya menjadi Presidium Sidang dalam Kongres Ikahimatika Indonesia. Deretan pengalaman tersebut menunjukkan konsistensinya dalam membangun kepemimpinan dan jejaring sejak bangku kuliah. Sementara itu, dalam perjalanannya sebagai mahasiswa, Ruri juga pernah mengalami struggle soal manajemen waktu. Ia sempat kesulitan membagi waktu antara tugasnya sebagai mahasiswa dan keaktifannya di organisasi. Namun Ruri tetap meyakini bahwa kesibukan dan tekanan positif justru akan membentuk karakter dan kedewasaan dalam berpikir. Ia juga menambahkan bahwa ia selalu mengingat sebuah nasehat yang pernah ia terima, “Kesibukan yang membuatmu letih lebih baik daripada waktu luang yang membuatmu terlena.” Itu lah yang membuatnya terus menjaga semangat dalam berproses. Ruri juga menambahkan bahwa perjuangan kedua orang tua nya juga menjadi sumber motivasi utamanya untuk terus berprestasi dan memberi dampak positif. “Yang membuatku punya energi dan terus berjuang adalah potret perjuangan orang tuaku yang telah mengantarkanku hingga bisa merasakan bangku kuliah. Karena itulah aku tidak ingin mengecewakannya,” ujarnya. Bagi Ruri, kebahagiaan terbesar dalam bekerja adalah ketika kontribusinya mampu memberi dampak nyata. Ia mengaku terharu saat melihat perubahan pola pikir guru-guru di berbagai daerah setelah kebijakan yang ikut disusunnya diterapkan. Menurutnya, perubahan kecil dalam dunia pendidikan dapat membawa dampak besar bagi masa depan bangsa. Ruri juga berpesan kepada generasi muda agar tidak takut dan merasa bingung dalam menentukan arah hidup. Ia menekankan pentingnya self-awareness, mengenali minat, bakat, serta potensi diri. “kesadaran diri (self-awareness) itu begitu penting bagi generasi muda saat ini. Perlunya mengenal diri sendiri, ‘Who am I?’, apa yang menjadi minat, bakat, kelebihan, dan kekurangan diri untuk memastikan pilihan setelah lulus sesuai dengan keinginan, kepribadian dan keahlian,” tutupnya. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Azrohal Hasan

35 Kampus Negeri dan Swasta Terbaik di Indonesia Versi THE WUR 2026, Mana Pilihan Kamu?

JAKARTA, KalderaNews.com – Inilah daftar 35 kampus negeri dan swasta terbaik di Indonesia versi Times Higher Education World University Rankings (THE WUR) 2026. Bagi kamu yang sedang mencari pilihan kampus, daftar berikut bisa menjadi salah satu pertimbangan sebelum menentukan pilihan. Yuk cek mana saja kampus pilihan kamu! Indikator pemeringkatan THE WUR 2026 Pemeringkatan THE WUR menggunakan 18 indikator kinerja yang dikalibrasi secara cermat untuk memberikan perbandingan yang paling komprehensif dan seimbang, serta dipercaya oleh mahasiswa, akademisi, pemimpin universitas, industri, dan pemerintah. Ada 5 pilar evaluasi utama yang dipakai, yakni: Pengajaran (lingkungan belajar) Lingkungan penelitian (volume, pendapatan, dan reputasi) Kualitas penelitian (dampak sitasi, kekuatan penelitian, keunggulan penelitian, dan pengaruh penelitian) Pandangan internasional (staf, mahasiswa, dan penelitian) Industri (pendapatan dan paten) 35 kampus terbaik di Indonesia Nah, dari hasil studi THE WUR, inilah daftar secara berurutan kampus terbaik di Indonesia yang bisa menjadi pilihan kamu: Universitas Indonesia (UI) Universitas Sebelas Maret Solo Binus University Institut Teknologi Bandung (ITB) Universitas Airlangga Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Universitas Padjadjaran (Unpad) Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta Universitas Diponegoro (Undip) Universitas Halu Oleo Universitas Hasanuddin (Unhas) Institut Teknologi Sepuluh November IPB University Universitas Islam Indonesia (UII) Universitas Jember Universitas Negeri Islam Sunan Gunung Djati Bandung Universitas Negeri Malang Telkom University Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Universitas Andalas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Universitas Negeri Padang Universitas Negeri Semarang Universitas Negeri Surabaya Universitas Negeri Yogyakarta Universitas Pendidikan Indonesia Universitas Sriwijaya Universitas Sumatera Utara (USU) Unviersitas Syiah Kuala Universitas Brawijaya Universitas Lampung Universitas Mataram

Kolaborasi dengan UMM Malang, SMAMUSIX Sukses Gelar Ujian Akhir Prodistik Berbasis IT

SMAMUSIX melaksanakan Ujian Akhir Prodistik Berbasis IT bagi siswa kelas XII program Olympiade di UMM pada Sabtu (31/01/2026). (Jamal Wahyudi/PWMU.CO). pwmu.co – SMA Muhamadiyah 6 Paciran (SMAMUSIX) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kompetensi digital peserta didik. Hal itu tercermin melalui pelaksanaan Ujian Akhir Prodistik Berbasis IT bagi siswa kelas XII program Olympiade, Sabtu (31/01/2026).Kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan berlangsung dengan lancar serta tertib di lingkungan kampus UMM, Malang. Ujian akhir Prodistik ini menjadi tahap penting bagi siswa kelas XII Olympiade SMAMUSIX sebagai bentuk evaluasi akhir atas pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi yang telah ditempuh selama mengikuti program Prodistik. Materi ujian mencakup berbagai kompetensi berbasis IT. Seperti presentasi cara pembuatan robot, pemanfaatan teknologi digital, hingga pemahaman dasar sistem informasi yang relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan dan kerja saat ini. Langkah Strategis SMAMUSIX Kepala SMAMUSIX, Siswati, menyampaikan apresiasi dan rasa syukurnya atas terselenggaranya kegiatan ini dengan baik. Ia menegaskan bahwa kerja sama dengan UMM Malang merupakan langkah strategis sekolah dalam menyiapkan lulusan yang unggul dan berdaya saing di era digital. “Ujian akhir Prodistik ini bukan sekadar penilaian akademik, tetapi juga upaya sekolah dalam membekali siswa dengan keterampilan IT yang aplikatif” tutur Siswati. “Kami sangat berterima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Malang atas kolaborasi dan fasilitas yang diberikan, sehingga siswa dapat merasakan suasana ujian berbasis perguruan tinggi” tambahnya. Lebih lanjut, ia berharap program Prodistik dapat menjadi nilai tambah bagi siswa SMAMUSIX. Baik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi maupun untuk menghadapi tantangan di dunia kerja. Menurutnya, penguasaan teknologi informasi menjadi salah satu kunci utama kesuksesan generasi muda di masa depan. Testimoni Peserta Ujian Salah satu peserta ujian, Nawwaf Dzia’ul Haq, turut menyampaikan kesannya terhadap pelaksanaan ujian akhir Prodistik ini. Ia mengaku senang dan termotivasi karena dapat mengikuti ujian langsung di lingkungan kampus UMM Malang. “Ujian Prodistik ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami. Selain menguji kemampuan IT yang sudah dipelajari, kami juga bisa merasakan suasana akademik di kampus” tegas Nawwaf. “Ini menambah semangat dan kepercayaan diri untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi” ungkap siswa kelas XII Olympiade IT tersebut. Dengan suksesnya pelaksanaan ujian akhir Prodistik berbasis IT ini, SMAMUSIX berharap program Prodistik dapat terus berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi siswa. Semoga kolaborasi dengan UMM Malang juga dapat terus berlanjut sebagai bentuk sinergi antara sekolah menengah dan perguruan tinggi dalam mencetak generasi yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi perkembangan teknologi di masa depan. *) Penulis : Jamal Wahyudi | Editor : Danar Trivasya Fikri

Suicide di Kalangan Mahasiswa, Kepala BK UMM: Tanpa Resiliensi Rentan Terjebak Pola Pikir Sempit

MALANG POST – Rentetan kasus percobaan bunuh diri (suicide) di kalangan mahasiswa kembali mengusik ruang publik. Beberapa di antaranya bahkan terjadi di lokasi yang sama, memunculkan kegelisahan sekaligus keprihatinan mendalam terhadap kondisi psikologis mahasiswa saat ini. Peristiwa tersebut tidak dapat dipandang semata sebagai kejadian individual, melainkan sebagai gambaran persoalan kesehatan mental yang lebih kompleks, khususnya yang dialami mahasiswa rantau. Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psikolog, yang akrab disapa Naning, menjelaskan. Bahwa mahasiswa rantau secara alamiah memiliki kerentanan terkait masalah adaptasi. Perpindahan dari lingkungan rumah ke tanah perantauan menuntut kemampuan adaptasi yang tidak ringan. Jika tidak dibarengi dengan dukungan sosial yang kuat, kerentanan ini dapat memicu berbagai masalah psikologis. “Mahasiswa rantau itu rentan karena mereka tidak tinggal bersama orang tua atau di lingkungan yang biasa mereka tempati. Mereka berisiko mengalami problem psikologis ketika dukungan sosial atau kemampuan adaptasinya rendah,” jelas Naning kepada Tim Humas UMM, 27 Januari 2026. Menariknya, meski tekanan akademik kerap dituding sebagai biang keladi, Naning mengungkapkan fakta lain dari ruang konseling. Banyak kasus yang ditangani justru berakar dari rapuhnya ketahanan keluarga. Masalah pendidikan atau skripsi sering kali hanya menjadi “pemicu” dari tumpukan beban emosional yang telah dibawa mahasiswa dari rumah. Menurutnya, bekal utama seorang mahasiswa bukan hanya kecerdasan intelektual, melainkan mental yang terlatih untuk berjuang dan menghadapi ketidakenakan hidup. Tanpa “senjata” berupa ketahanan mental (resiliensi), mahasiswa cenderung terjebak dalam cara berpikir yang sempit ketika menghadapi persoalan. “Pada dasarnya, tekanan akademik merupakan hal yang wajar dan tidak terpisahkan dari proses pendidikan. Tekanan dalam taraf wajar justru penting agar mahasiswa belajar menjadi lebih fokus.” “Namun, yang menjadi landasan utama adalah sejauh mana seseorang telah dibekali ketahanan mental, memahami makna berjuang, serta terbiasa menghadapi proses jatuh bangun dalam kehidupan,” tambahnya. Fenomena pemilihan lokasi yang sama dalam percobaan bunuh diri juga menjadi perhatian. Menurut Naning, hal tersebut berkaitan dengan kondisi psikologis individu yang sudah berada dalam situasi terdesak dan berpikir sempit. Paparan cerita atau pemberitaan sebelumnya dapat membentuk gambaran tertentu di benak mahasiswa yang rapuh, sehingga lokasi tersebut dianggap sebagai pilihan. Pada titik ini, peran lingkungan menjadi sangat krusial. BK UMM menekankan pendekatan konseling yang berorientasi pada pemberdayaan. Mahasiswa tidak sekadar dibantu memahami masalahnya, tetapi juga diajak mengenali kekuatan diri serta sumber persoalan yang dihadapi. “Kami berharap mahasiswa dapat menyadari bahwa mereka memiliki kapasitas dan potensi untuk menghadapi serta keluar dari permasalahannya. Dengan demikian, pendampingan konselor berfungsi sebagai penguat, bukan sebagai satu-satunya tumpuan,” tegas Naning. Naning juga menekankan pentingnya coping mechanism yang sehat, yakni cara individu melepaskan emosi negatif sebelum menumpuk dan meledak (blow up). Hal-hal sederhana seperti berolahraga, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas yang disukai, misalnya sekadar menikmati makanan favorit dapat menjadi saluran emosi yang efektif jika dilakukan dengan penuh penghayatan. Selain peran profesional, lingkungan terdekat seperti teman kos dan teman sebaya menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan. Mendengarkan tanpa menghakimi, menjaga kerahasiaan, serta menghindari sikap menyepelekan atau menertawakan masalah teman merupakan langkah sederhana, tetapi berdampak besar. Kesalahan kecil seperti membocorkan cerita pribadi justru dapat memperparah kondisi psikologis seseorang. Melalui pendekatan preventif dan promotif, BK UMM berharap mahasiswa mampu mengenali kondisi psikologisnya sejak dini. Sebab, pada akhirnya, setiap masalah selalu memiliki jalan keluar meskipun tidak selalu ideal selama pikiran tidak dibiarkan tertutup oleh kabut keputusasaan.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Inovasi Tak Selalu Lahir dari Lab Canggih: Mahasiswa UMM Ciptakan Steam Press Ecoprint

MALANG POST – Inovasi teknologi tidak selalu lahir dari laboratorium canggih atau proyek berskala besar. Di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), solusi bagi pelaku UMKM justru dirancang dari ruang kelas. Melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3), mahasiswa Teknik Industri UMM menghadirkan Steam Press Ecoprint, sebuah alat produksi yang menawarkan efisiensi sekaligus peningkatan kualitas pada proses ecoprint. Inovasi tersebut dikembangkan oleh Iqbal Rafif Yuliono, mahasiswa Program Studi Teknik Industri UMM angkatan 2023, bersama timnya. Gagasan ini berangkat dari pengamatan langsung terhadap praktik ecoprint di lapangan yang masih menghadapi berbagai keterbatasan, terutama pada konsistensi hasil dan durasi produksi. Iqbal menuturkan bahwa proses ecoprint yang umum digunakan pelaku usaha masih mengandalkan metode manual atau sistem otomatis sederhana. Keduanya dinilai belum mampu menghasilkan kualitas warna dan detail motif yang optimal. Dari persoalan itulah, ide untuk menggabungkan sistem manual dan otomatis mulai dirumuskan. “Kami melihat ecoprint itu biasanya dilakukan secara manual atau otomatis. Dari situ muncul ide untuk menggabungkan keduanya dengan memanfaatkan mesin press yang dipadukan dengan sistem uap,” ujar Iqbal saat diwawancara Tim Humas UMM, 27 Januari lalu. Steam Press Ecoprint bekerja dengan mengintegrasikan panas, uap, dan tekanan melalui pelat logam pada mesin press. Pendekatan ini berbeda dari metode kukus konvensional yang menggunakan air secara langsung dan kerap menghasilkan warna yang kurang tajam serta motif yang tidak merata. Berdasarkan hasil uji coba, penggunaan uap bertekanan terbukti mampu memunculkan warna kain yang lebih kuat dan detail motif yang lebih jelas. Metode ini juga membantu menjaga konsistensi hasil, terutama pada produksi dalam jumlah lebih banyak. “Ketika kami bandingkan, hasil ecoprint menggunakan uap melalui mesin press warnanya jauh lebih keluar dan motifnya lebih tegas dibandingkan metode kukus biasa,” tambahnya. Alat ini telah diuji coba secara terbatas pada pelaku UMKM, salah satunya Kenikir Natural Ecoprint yang berlokasi di Bululawang, Kabupaten Malang. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Steam Press Ecoprint mampu menghasilkan warna yang lebih konsisten, sekaligus meningkatkan kualitas visual kain ecoprint. Dari sisi efisiensi, Steam Press Ecoprint tidak semata-mata mengejar kecepatan produksi. Alat ini justru dirancang untuk menyesuaikan proses dengan tingkat detail motif yang diinginkan. Dengan demikian, pelaku usaha tetap dapat menghasilkan kain ecoprint yang presisi dan memiliki nilai jual lebih tinggi. Steam Press Ecoprint juga dirancang agar ramah bagi UMKM skala kecil. Alat ini fleksibel digunakan pada berbagai jenis kain, bahkan beberapa material dengan tekstur tertentu menunjukkan hasil motif yang lebih maksimal ketika diproses menggunakan sistem uap dan tekanan. Dalam proses perancangannya, Iqbal mengakui peran dosen pembimbing sangat krusial, terutama dalam mendorong mahasiswa agar peka terhadap kebutuhan masyarakat dan mampu menghadirkan inovasi yang aplikatif. Ke depan, ia berharap Steam Press Ecoprint dapat dikembangkan dengan kapasitas yang lebih besar, struktur yang lebih kuat, serta sistem pengoperasian yang semakin sederhana. “Jangan takut mencoba. Mulai saja dulu, karena dari proses itulah kita belajar memahami masalah dan menemukan solusi yang benar-benar dibutuhkan,” pesannya. Sementara itu, Ketua Program Studi Teknik Industri UMM, Dr. Dana Marsetiya Utama, M.T., mengapresiasi karya mahasiswa tersebut sebagai bukti nyata keberhasilan pembelajaran berbasis praktik. Menurutnya, inovasi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam berpikir kritis, mengolah ide, dan menerapkan konsep perkuliahan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Ia berharap karya tersebut dapat menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lain untuk terus berinovasi. Prodi Teknik Industri UMM, lanjutnya, berkomitmen mendorong pengembangan karya mahasiswa agar tidak berhenti sebagai tugas akademik semata, melainkan mampu memberi manfaat luas bagi masyarakat. “Kami ingin mahasiswa berani mencoba, peka terhadap masalah di sekitarnya, dan mampu menghadirkan solusi yang relevan melalui karya-karya inovatif,” tutupnya.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Bahasa Arab Masuk Era Digital, PBA UMM Gelar Festival Skala Nasional

PBA UMM Gelar Festival Skala Nasional, Bahasa Arab Masuk Era Digital.(Ist) Malangpariwara.com – Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan perannya sebagai motor penggerak pengembangan bahasa Arab di Indonesia melalui Al Arabiyah Festival Expo (ALEPO) 2026. Ajang kejuaraan nasional yang digelar pada 30–31 Januari 2026 ini menghadirkan lima cabang lomba bahasa Arab yang kompetitif, yakni Kitabah, Ghina Arabi, Qiraatul Kutub, dan Olimpiade Bahasa Arab untuk siswa SMA/MA sederajat, serta debat bahasa Arab untuk kategori mahasiswa, sekaligus menegaskan inovasi pembelajaran bahasa Arab berbasis digital. Ketua Pelaksana ALEPO 2026, Rizki Saputra saat memaparkan materi(ist) Ketua Pelaksana ALEPO 2026, Rizki Saputra, menjelaskan bahwa nama “ALEPO” memiliki filosofi tersendiri. Nama tersebut diambil dari salah satu kota di Suriah yang dikenal sebagai pionir pengembangan peradaban dan teknologi dunia. Filosofi ini kemudian diterjemahkan ke dalam konsep kegiatan yang menggabungkan kekuatan tradisi bahasa Arab dengan pendekatan pembelajaran modern. “Kami ingin membawa branding bahasa Arab yang tidak kaku, tetapi progresif dan dekat dengan dunia digital. Filosofi ALEPO itu kami bawa ke konsep kegiatan, mulai dari jenis lomba, sistem penilaian, hingga pemanfaatan teknologi dalam pelaksanaannya,” jelas Rizki. Ia menambahkan, ALEPO 2026 dirancang bukan hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan eksplorasi bagi generasi muda untuk melihat bahasa Arab dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, bahasa Arab tidak lagi cukup dipahami sebatas bahasa kitab atau kelas formal, melainkan juga sebagai bahasa ilmu pengetahuan, budaya, dan komunikasi global. “Melalui ALEPO, kami ingin menumbuhkan kepercayaan diri peserta bahwa bahasa Arab itu relevan, hidup, dan bisa menjadi bekal masa depan. Apalagi di era digital, peluang pengembangan bahasa Arab justru semakin terbuka,” ujarnya. Rizki juga menekankan bahwa keterlibatan mahasiswa sebagai penggerak utama kegiatan ini menjadi bukti bahwa mahasiswa PBA UMM mampu merespons tantangan zaman secara kreatif. Ia berharap ALEPO dapat terus berkembang dan menjadi agenda nasional yang konsisten dalam mendorong inovasi pembelajaran bahasa Arab di Indonesia. “Kami berharap ALEPO tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi tumbuh menjadi ekosistem yang menghubungkan pelajar, mahasiswa, dan praktisi bahasa Arab di seluruh Indonesia,” pungkasnya. Sementara itu, Ketua Program Studi PBA UMM, Mochammad Firdaus, M.Ed., memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi mahasiswa dalam menyelenggarakan agenda berskala nasional tersebut. Menurutnya, ALEPO tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang aktualisasi dan apresiasi bagi pelajar tingkat menengah untuk menumbuhkan minat terhadap bahasa Arab. “Kegiatan ini sangat positif dan strategis. ALEPO mampu menghadirkan wajah pembelajaran bahasa Arab yang kreatif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman,” ujar Firdaus. Ia menambahkan, pengangkatan tema digitalisasi pada ALEPO 2026 dinilai tepat sebagai respons atas pergeseran ekosistem pembelajaran bahasa Arab ke ranah digital. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memiliki visi jangka panjang. “Mahasiswa mampu membaca tantangan zaman. Digitalisasi ini menjadi bukti bahwa pembelajaran bahasa Arab juga bisa mengikuti perkembangan teknologi,” imbuhnya. Melalui ALEPO 2026, Program Studi PBA UMM semakin mengukuhkan diri sebagai program studi yang progresif dan peduli terhadap pengembangan potensi generasi muda. Kegiatan ini diharapkan terus menjadi inspirasi bagi pengembangan pendidikan bahasa Arab di Indonesia.(Djoko W)

Tapak Suci UMM Gelar Ujian Kenaikan Tingkat, Perkuat Ideologi dan Karakter Dosen-Karyawan

UKT Tapak Suci Dosen dan Karyawan Universitas Muhammadiyah Malang. Foto: Mujiono/PWMU.CO. pwmu.co –Tapak Suci Putera Muhammadiyah Dosen-Karyawan Cabang Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) sebagai bagian dari program pembinaan berkelanjutan bagi para anggotanya. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat (30/1/2026), mulai pukul 14.00 WIB hingga selesai, bertempat di Aula BAU UMM, dan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., MM., CA. UKT ini bukan sekadar agenda teknis bela diri, tetapi memiliki misi yang lebih luas. Salah satu pelatih yang terlibat, Muhammad Taufik, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi sarana penguatan peran dosen dan karyawan dalam organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah. “Tujuan utama kegiatan ini adalah mendorong dosen dan karyawan untuk aktif dalam ortom. Selain melatih keterampilan bela diri, UKT juga bertujuan untuk menjaga kesehatan dan kebugaran. Tidak kalah penting, kegiatan ini juga menanamkan ideologi Muhammadiyah sekaligus menguatkan nilai-nilai keislaman,” ujarnya. Tapak Suci dikenal sebagai perguruan seni bela diri yang berlandaskan ajaran Islam dan nilai-nilai Muhammadiyah. Di lingkungan UMM, pembinaan ini ditujukan kepada dosen dan tenaga kependidikan sehingga UKT menjadi momentum penting untuk menilai kesiapan fisik, mental, maupun spiritual para peserta. Menurut kader Tapak Suci UMM, Mujiono, proses UKT menilai peserta secara menyeluruh. “Penilaian tidak hanya mencakup teknik jurus dan kondisi fisik, tetapi juga sikap, kedisiplinan, serta komitmen terhadap nilai-nilai keislaman dan Kemuhammadiyahan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa keberadaan Tapak Suci di kampus tidak hanya memperkuat budaya hidup sehat, tetapi juga mempererat silaturahmi antarpegawai lintas unit. Didukung Pelatih dan Kader Pelaksanaan UKT melibatkan jajaran pendekar dan pelatih berpengalaman, antara lain Muhammad Taufik, Robby Harmono, Kusmadiyono, Bintal Yudana, dan Syaful. Kegiatan ini juga didukung oleh kader Tapak Suci UMM, yakni Hasyim, Mujiono, dan Irfan yang membantu proses teknis serta pembinaan peserta selama masa persiapan. Kolaborasi antara pelatih dan kader menunjukkan bahwa pembinaan Tapak Suci di UMM berjalan secara sistematis dan terstruktur. Di tengah padatnya aktivitas akademik dan administrasi kampus, latihan Tapak Suci menjadi sarana menjaga kebugaran jasmani. Lebih dari itu, UKT berfungsi sebagai wahana pembentukan karakter peserta. Taufik juga menjelaskan bahwa Tapak Suci bukan sekadar olahraga, melainkan juga merupakan dakwah melalui pembinaan pribadi “Tapak Suci bukan sekadar olahraga, melainkan juga dakwah melalui pembinaan pribadi. Dosen dan karyawan yang aktif di sini diharapkan menjadi teladan dalam kedisiplinan, etika, dan semangat keislaman,” paparnya. Pembina Tapak Suci Dosen-Karyawan UMM, Ahmad Zakaria, menegaskan bahwa Tapak Suci di kampus bukan hanya wadah latihan fisik, tetapi juga sarana pembinaan karakter. “Kami ingin dosen dan karyawan UMM memiliki ketangguhan jasmani, ketenangan mental, serta komitmen ideologis yang kuat terhadap nilai-nilai Muhammadiyah. Tapak Suci menjadi ruang untuk menempa diri, agar kader persyarikatan tetap sehat, berakhlak mulia, dan siap berdakwah di mana pun berada,” ungkapnya. Dengan demikian, UKT tidak hanya menandai peningkatan kemampuan keilmuan, tetapi juga penguatan komitmen moral dan ideologis peserta terhadap Muhammadiyah. Keberadaan Tapak Suci Dosen-Karyawan UMM dinilai memberikan kontribusi positif terhadap atmosfer kampus karena menciptakan ruang interaksi yang lebih cair di luar rutinitas pekerjaan formal. (*) *) Penulis : Alexs Mac | Editor : Ni’matul Faizah

Bukti Kiprah Alumni UMM, Ruri Kini Terlibat Strategi Kebijakan di Kemendikdasmen

Aktivisme kampus kerap dianggap berhenti di ruang diskusi dan forum mahasiswa. Namun bagi Miftahussururi, S.Pd., semangat berorganisasi justru menjadi fondasi untuk ikut menggerakkan arah kebijakan pendidikan nasional. Alumnus Pendidikan Matematika dan Komputasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini kini berperan di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, membawa nilai-nilai kepemimpinan yang ia bangun sejak bangku kuliah. “Saat ini saya bertugas sebagai leader Tim Kebjiakan dan Komunikasi Analis Data sekaligus membantu penyusunan dan pelaksanaan strategi komunikasi kebijakan dan program di satuan kerja saya,” ujarnya 30 Januari lalu pada Tim Humas UMM. Ruri sapaan akrabnya mengawali kariernya di Kementerian Pendidikan pada 2017 setelah lolos seleksi yang cukup panjang. Dalam perjalanannya, ia juga pernah bertugas di Tim Staf Khusus Menteri Bidang Pembelajaran, Ditjen GTK, serta Ditjen PAUDDasmen selama lima tahun. Hingga akhirnya, pada 2025, ia dipercaya bergabung di Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Ditjen Vokasi PKPLK). Lebih lanjut, pria itu mengisahkan dirinya yang merupakan mahasiswa produktif dan penuh inisiatif. Ia pernah mengemban amanah sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Matematika “Matriks” (2011-2012), Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) “Raushan Fikr” FKIP (2012-2013), hingga Sekretaris Umum Koordinator Komisariat IMM UMM (2013-2014). Tidak hanya itu, ia juga dipercaya menjadi Presidium Sidang dalam Kongres Ikahimatika Indonesia. Deretan pengalaman tersebut menunjukkan konsistensinya dalam membangun kepemimpinan dan jejaring sejak bangku kuliah. Sementara itu, dalam perjalanannya sebagai mahasiswa, Ruri juga pernah mengalami struggle soal manajemen waktu. Ia sempat kesulitan membagi waktu antara tugasnya sebagai mahasiswa dan keaktifannya di organisasi. Namun Ruri tetap meyakini bahwa kesibukan dan tekanan positif justru akan membentuk karakter dan kedewasaan dalam berpikir. Ia juga menambahkan bahwa ia selalu mengingat sebuah nasehat yang pernah ia terima, “Kesibukan yang membuatmu letih lebih baik daripada waktu luang yang membuatmu terlena.” Itu lah yang membuatnya terus menjaga semangat dalam berproses. Ruri juga menambahkan bahwa perjuangan kedua orang tua nya juga menjadi sumber motivasi utamanya untuk terus berprestasi dan memberi dampak positif. “Yang membuatku punya energi dan terus berjuang adalah potret perjuangan orang tuaku yang telah mengantarkanku hingga bisa merasakan bangku kuliah. Karena itulah aku tidak ingin mengecewakannya,” ujarnya. Bagi Ruri, kebahagiaan terbesar dalam bekerja adalah ketika kontribusinya mampu memberi dampak nyata. Ia mengaku terharu saat melihat perubahan pola pikir guru-guru di berbagai daerah setelah kebijakan yang ikut disusunnya diterapkan. Menurutnya, perubahan kecil dalam dunia pendidikan dapat membawa dampak besar bagi masa depan bangsa. Ruri juga berpesan kepada generasi muda agar tidak takut dan merasa bingung dalam menentukan arah hidup. Ia menekankan pentingnya self-awareness, mengenali minat, bakat, serta potensi diri. “kesadaran diri (self-awareness) itu begitu penting bagi generasi muda saat ini. Perlunya mengenal diri sendiri, ‘Who am I?’, apa yang menjadi minat, bakat, kelebihan, dan kekurangan diri untuk memastikan pilihan setelah lulus sesuai dengan keinginan, kepribadian dan keahlian,” tutupnya. (rik/faq)   Penulis; Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Pakar UMM Soroti Maraknya Industri Hiburan, Identitas Kota Malang Dipertaruhkan

Identitas Kota Malang sebagai kota pendidikan kini berada di titik persimpangan serius. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan pesat industri hiburan malam, kafe, dan ruang rekreasi komersial membentuk wajah baru kota yang semakin lekat dengan budaya hiburan. Fenomena ini bahkan merambah kawasan yang berdekatan langsung dengan fasilitas pendidikan. Pergeseran tersebut tidak hanya mengubah lanskap fisik kota, tetapi juga membawa konsekuensi sosial yang memengaruhi iklim akademik, karakter mahasiswa, serta relasi sosial di lingkungan kampus. Dalam perspektif sosiologis, kondisi ini mencerminkan tarik-menarik antara kepentingan ekonomi perkotaan, kebutuhan rekreatif mahasiswa, dan melemahnya peran institusi pendidikan sebagai ruang hidup intelektual dan sosial. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, MSi., menilai Malang sejak lama dikenal sebagai kota dengan identitas majemuk yang terus berkembang. “Dulu Malang dikenal sebagai kota ribina cita, mulai dari kota industri, kota pendidikan, hingga kota pariwisata. Besarnya jumlah mahasiswa dan pendatang dari berbagai daerah membuat Malang menjadi ruang sosial yang dinamis. Namun, mahasiswa sebagai manusia tidak hanya membawa kebutuhan akademik, melainkan juga kebutuhan akan ruang rekreatif yang memberi rasa senang, nyaman, dan bahagia sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya 30 Januari lalu pada Tim Humas UMM. Lebih lanjut, Wahyudi menjelaskan bahwa dalam jangka panjang kondisi tersebut berpotensi memicu tumbuhnya budaya hedonisme sekaligus melemahkan kontrol sosial di kalangan mahasiswa. Ketika ruang rekreasi sepenuhnya berada di luar kampus dan dikendalikan logika pasar, nilai akademik dan moral tidak lagi menjadi rujukan utama. Sebaliknya, standar perilaku cenderung diukur secara individual dan subjektif. “Kalau kontrol sosial hilang, orang akan mengukur baik dan buruk berdasarkan ukuran dirinya sendiri. Dalam kondisi ini, mahasiswa berpotensi kehilangan orientasi akademik karena lebih terdorong pada pencarian kesenangan instan dibandingkan proses intelektual yang menuntut kedisiplinan dan kesabaran,” tegasnya. Dampak lanjutan dari fenomena tersebut terlihat pada menurunnya kualitas akademik dan terjadinya pendangkalan intelektual. Mahasiswa cenderung kehilangan fokus belajar, lupa waktu, serta mengabaikan tanggung jawab akademik. Akibatnya, kampus tidak lagi berfungsi optimal sebagai pusat pembentukan kompetensi dan keilmuan yang kuat. Kondisi ini, menurutnya, juga tidak terlepas dari lemahnya regulasi pemerintah daerah dalam mengendalikan pertumbuhan industri hiburan yang terlalu berorientasi pada keuntungan ekonomi. “Ekonomi harus tumbuh, tetapi tidak boleh mengorbankan pendidikan dan moral. Jika tanpa penataan serius dan dialog antara kampus, pemerintah, dan masyarakat, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan Malang berisiko menjadi kota dengan relasi sosial yang terkomodifikasi,” jelasnya. Ia juga menyoroti menyempitnya ruang ekspresi rekreatif yang disediakan kampus sebagai salah satu faktor utama pergeseran identitas tersebut. Aktivitas mahasiswa di lingkungan kampus cenderung terpusat pada kegiatan akademik dan formal, sementara ruang nonformal yang memungkinkan mahasiswa mengekspresikan diri secara santai semakin terbatas. Situasi ini mendorong mahasiswa mencari alternatif ruang di luar kampus yang justru disediakan oleh industri hiburan berbasis pasar. “Kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat berpikir ilmiah, tetapi juga ruang untuk bernyanyi, berdiskusi santai, berpuisi, atau sekadar melepas kepenatan. Ruang-ruang tersebut perlu dikelola dengan pengawasan dan aturan yang jelas agar tetap sehat secara sosial dan moral, tanpa mematikan kebebasan berekspresi mahasiswa,” ujarnya. Terakhir, ia menekankan pentingnya penguatan ruang publik kampus, regulasi yang tegas dari pemerintah daerah, serta kolaborasi lintas institusi sebagai langkah strategis menjaga identitas Malang. Tanpa pengendalian sosial yang jelas dan dialog berkelanjutan antara perguruan tinggi dan pemangku kebijakan, identitas Malang sebagai kota pendidikan berisiko terus terkikis dan bergeser menjadi sekadar kota konsumsi. (rik/faq) Penulis: Raudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Mahasiswa UMM Dorong SDGs Lewat Gerakan Ecobrick

Sampah plastik bukan lagi sekadar persoalan kebersihan, melainkan ancaman nyata bagi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Tumpukan plastik yang sulit terurai terus menekan kualitas ekosistem daratan dan perairan, terutama di kawasan permukiman. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Program Studi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan aksi nyata bertajuk “Pemanfaatan Ecobrick sebagai Solusi Pengurangan Sampah Plastik” di Desa Dadaprejo, Kota Batu, Senin (26/1/2026). Kegiatan ini dipusatkan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R Dadaprejo Mandiri, Kecamatan Junrejo. Program tersebut merupakan implementasi mata kuliah Wawasan Berkelanjutan yang secara langsung mendorong peran mahasiswa dalam mendukung agenda pembangunan global berbasis lingkungan. Sebanyak 16 mahasiswa Akuakultur UMM angkatan 2025 terjun ke lapangan dan berkolaborasi dengan petugas kebersihan setempat untuk menangani timbulan sampah rumah tangga yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Ketua Pelaksana kegiatan, Daffa Rayhan Zaky, menegaskan bahwa aksi ini dirancang sebagai kontribusi konkret mahasiswa terhadap pencapaian SDGs. “Fokus kegiatan kami selaras dengan SDGs poin 15 tentang perlindungan ekosistem daratan. Pengelolaan sampah plastik yang buruk berdampak langsung pada kualitas tanah dan air. Karena itu, kami mendorong solusi sederhana namun berkelanjutan melalui ecobrick,” jelasnya. Metode ecobrick dilakukan dengan memadatkan sampah plastik kering yang telah dipilah ke dalam botol plastik bekas hingga membentuk material yang kuat menyerupai bata atau balok. Inovasi ini tidak hanya mencegah plastik tercecer ke lingkungan, tetapi juga memberikan nilai guna baru. Ecobrick dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan sederhana, elemen estetika, maupun fasilitas pendukung di area TPST, sekaligus menekan volume sampah plastik yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Pembina kegiatan, Rindya Fery Indrawan, M.P., menilai kehadiran mahasiswa di TPST memiliki dampak strategis, terutama dalam aspek edukasi masyarakat. “Kami ingin mahasiswa tidak berhenti pada tataran akademik. Melalui kegiatan ini, mereka belajar mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya, sekaligus membantu meringankan beban kerja rutin petugas TPST,” ujarnya. Ia menambahkan, kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat merupakan kunci dalam mewujudkan pembangunan lingkungan yang berkelanjutan. Upaya ini diharapkan menjadi langkah jangka panjang untuk menciptakan lingkungan permukiman di Kota Batu yang lebih sehat, bersih, dan lestari. Melalui aksi tersebut, mahasiswa Akuakultur UMM menegaskan bahwa kontribusi terhadap SDGs harus dilakukan secara menyeluruh. Perlindungan ekosistem daratan menjadi fondasi penting dalam menjaga kualitas ekosistem perairan, sejalan dengan fokus keilmuan akuakultur yang mereka tekuni.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman