Smart Tyrender Karya Mahasiswa UMM Sabet Bronze Medal di Jerman

Setelah meraih bronze medal dan Special Award of Association Polish Inventors and Rationalizers di Seoul International Invention Fair (SIIF) 2018 Korea Selatan, kali ini alat penurun temperatur ban mobil pengangkut barang Tyrender, inovasi teknologi besutan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Haryo Widya Darmawan, kembali menyabet prestasi gemilang bronze medal di iENA International Trade Fair Ideas Inventions New Products 2019 pada 31 Oktober – 3 November di Messe Nürnberg, Jerman. Tak sia-sia saat penilaian, karyanya mendapat pujian dari para juri yang berasal dari berbagai elemen, mulai dari para engineer hingga dunia industri. Smart Tyrender benar-benar dapat menghemat pengeluaran perusahaan terkait suku cadang dan periodik penggantian ban. “Beberapa pengusaha Jerman yang memiliki usaha pengangkutan barang di Indonesia tertarik dan ingin mendiskusikan karya saya lebih lanjut ke depan,” tutur mahasiswa asal Ujung Pandang ini saat diwawancarai via WhatsApp (5/11). Tyrender yang dipamerkan saat di Seoul International Invention Fair Korea Selatan juga menuai pujian dari berbagai kalangan. Perncapaiannya di Korea Selatan itu membawa Haryo lebih bersemangat mengikuti kontes yang lebih tinggi. Haryo menyempurnakan Tyrender dengan menambahkan fitur pembaca temperatur lingkungan. Dengan fitur tersebut, mahasiswa Teknik Mesin ini menyematkan kata “smart” pada gagasannya sehingga saat di Jerman, alat ini bertransformasi menjadi Smart Tyrender. “Smart Tyrender secara otomatis akan menyemprotkan air ketika temperatur ban melebihi ambang batas suhu maksimal. Dengan demikian, usia ban dapat berumur lebih lama. Smart Tyrender memiliki fitur unggul berupa penyesuaian kecepatan kendaraan, manajemen daya yang cerdas dan pasokan, bobot kendaraan serta perubahan iklim yang bekerja secara otomatis,” ungkap Haryo. iENA 2019 ini menjadi kali pertama Haryo menginjakkan kakinya di negeri seribu inovasi teknologi itu. Selama persiapan menuju iENA 2019 di Jerman, Haryo dibimbing langsung oleh Drs. Moh. Jufri, ST., MT. Bersamanya, Haryo mengaplikasikan berbagai fitur baru yang hendak diterapkan dalam Smart Tyrendernya. Haryo mengaku, penghargaan yang diperoleh harus dibayar dengan usaha yang gigih. Ia mengurangi waktu tidur demi mengulik lebih dalam Smart Tyrender besutannya. Kedisiplinan yang tinggi juga menjadi salah satu kunci bagi anak pasangan Agus Purwanto dan Dwi Astuti ini. (mir/can)

Peneliti Paramadina di UMM: Agama Tak Lebih dari Alat Politik di Pemilu 2019

Agama telah menjadi alat yang ampuh bagi para politisi. Selama tahun-tahun awal Reformasi, politisasi agama sering dikaitkan dengan partai-partai Islam, yang jelas berkampanye untuk agenda Islam seperti penerapan syariah.  Sekarang, semua orang memainkan agama untuk politik. Politik identitas yang dimainkan oleh para Islamis mendorong politisi lain, umumnya dari latar belakang sekuler yang tidak tertarik pada masalah agama, untuk menggunakan alat yang sama untuk mengalahkan mereka. Pemilu 2019 adalah bukti paling jelas tentang bagaimana kelompok-kelompok sekuler nasionalis menggunakan agama untuk tujuan pemilihan mereka.  Kedua kandidat presiden, Prabowo Subianto dan Joko “Jokowi” Widodo tidak berasal dari latar belakang Islam. Keduanya, untuk menggunakan istilah Gifford Geertz, masing-masing berasal dari keluarga priyayi dan abangan, dan keduanya menggunakan agama untuk tujuan politik mereka. Sementara Prabowo menggunakan kaum Islamis. Demikian disampaikan Luthfi Assyaukanie, Ph.D, dosen Universitas Paramadina saat memaparkan hasil penelitiannya di forum Seminar Nasional Diseminasi Hasil Riset Secular and Islamist Role in Indonesian Elections di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (5/11). Penelitian yang dilakukan dirinya bersama tim yang dilakukan selama dua tahun ini mengeksplorasi peran agama dalam politik Indonesia, khususnya dalam pemilu 2019. Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya turut hadir. Pada pemaparannya itu, Luthfi fokus pada bagaimana agama memainkan perannya dan bagaimana orang menggunakannya sebagai alat politik mereka.  Setelah politik identitas dan kebangkitan populisme global, agama memiliki ruang yang luas untuk diekspresikan. “Pertanyaan sentral yang dibahas dalam artikel ini adalah siapa aktor utama dan bagaimana menangani masalah ini?  Apa yang membuat politisasi agama yang baru berbeda dari fenomena yang sama di masa lalu?” ungkap Luthfi. Memotret hal yang sama, Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya Prof. Masdar Hilmy, M.A, Ph.D, yang turut menjadi panelis seminar sehari ini mengungkapkan bahwa gelombang politik identitas juga dapat disaksikan dengan bermuculannya aksi yang berjilid-jilid di Jakarta pada tahun 2017 lalu. Hal tersebut tentu saja bukan tanpa sebab. Menurutnya, elit-elit politik terdorong untuk merebut hati umat Islam Indonesia menggunakan kemasan agama dalam menawarkan dirinya sebagai pemimpin yang ideal. Di sisi lain, menurut Wakil Rektor I UMM Dr. Syamsul Arifin, M.Si., politik identitas sudah lama digaungkan dan digunakan para politisi untuk meraup suara. Cara ini adalah teknik lama yang sering digunakan untuk meraup suara yang berlimpah mengingat mayoritas rakyat Indonesia merupakan umat Islam. “Agama seharusnya sebagai pencerah. Bila tidak dipahami benar-benar akan mudah menjadi pribadi yang diperalat atas nama agama,” tandas Syamsul yang turut menjadi panelis. (mir/can)

FIKES UMM Juara Umum PORNIKES Nasional

Ajang Pekan Olah Raga dan Seni Kesehatan (PORNIKES) tahun 2019 tingkat Nasional berhasil mengantarkan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi Juara Umum perdana setelah perlombaan ini diadakan 18 kali sejak tahun 2001. Tahun ini PORNIKES diadakan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Banyuwangi. Event yang berlangsung dari tanggal 1 hingga 3 November 2019 diselenggarakan berbagai cabang lomba, seperti bola voli, badminton, tenis meja, catur dan paduan suara. UMM beradu dengan 34 Institusi kesehatan di seluruh Indonesia pada kategori badminton ganda putra, ganda putri, dan bola voli putra dan putri. Pada pertandingan kategori bola voli putra, tim UMM beradu sebanyak empat kali ronde pertandingan dengan 25 set poin. Mereka berhasil mendominasi di tiga ronde pertandingan dengan menyisihkan beberapa rival yakni Stikes Anwar Medika, Stikes Kepanjen, dan tuan rumah Stikes Banyuwangi. Pada babak semifinal yakni pada ronde terakhir, Tim UMM Bola Voli Putra harus gugur dengan  perolehan akumulasi poin sebesar 3 : 1 melawan Universitas Muhamadiyah Ponorogo. “Pada ronde empat, jujur tim UMM sudah banyak yang tumbang, mengalami kram kaki, tapi kami tetap bermain walaupun harus gugur pada babak terakhir,” ungkap Manahilul Irvan salah satu anggota tim bola voli putra. Sedangkan pada kategori bulu tangkis cabang ganda putri dan putra, UMM berhasil melaju dengan memperoleh juara pertama pada setiap cabang yang ada, dengan 2 set pertandingan final, cabang ganda putri dengan memperoleh (21:14) dan (21:11) melawan Stikes Karya Husada Kediri. Sementara cabang ganda putra juga menang dengan poin (21:19) dan (21:14) melawan Stikes Jember. Pada malam closing caremony, tidak disangka UMM menyabet emas dengan gelar Juara Umum. Pertimbangan akumulasi poin didapatkan melalui jumlah kemenangan selama set pertandingan yang ada. “Meskipun jatuh-bangun, kami percaya bahwa kami layak bertanding dalam ajang ini. Semua kesusahan yang kami lewati sudah tergantikan dengan hasil yang berbuah manis,” tambah Novia Dwi Anggraini anggota Bola Voli. (yas/can)

Mahasiswa Asing UMM Juarai Lomba Cerdas Cermat International Student Summit 2019

Ialah Ho Ngoc Hieu (Vietnam) dan Mohamed Ali Galai Elfouly (Mesir) yang mewakili Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditetapkan sebagai juara pada Lomba Cerdas Cermat tentang Indonesia di rangkaian acara International Student Summit (ISS) 2019 yang diselenggarakan Ditjen Kelembagaan, Kemristek Dikti di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). Event yang berlangsung sejak 1 hingga 3 November 2019 ini diikuti oleh 34 perguruan tinggi ternama se-Indonesia, baik negeri maupun swasta. UMM berhasil menyisihkan beberapa nama di tiga fase. Pada fase penyisihan UMM dipertemukan dengan lima perguruan tinggi. Sedangkan fase kedua ada empat perguruan tinggi yang saling bersaing. Adapun fase ketiga (semifinal) bertemu dengan empat perguruan tinggi. Di partai final, pertarungan sengit antar peserta terjadi. Sembilan pertanyaan rebutan dan tiga pertanyaan bergilir berakhir dengan skor yang sama. “Lalu berlanjut dengan tiga pertanyaan tambahan dan Alhamdulillah kita bisa menjawab 2 dari tiga pertanyaan itu sehingga UMM berhasil menjadi juara,” kata Faizin, M.Pd. selaku Kepala Divisi Program dan Pengembangan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). “Kami telah mempersiapkan dua orang tersebut dengan tiga kali pertemuan berturut-turut untuk simulasi lomba cerdas cermat. Tiap pertemuan kami ajukan 50 lebih pertanyaan tentang wawasan keindonesiaan dengan pertanyaan berbeda-beda di tiap harinya. Sehingga saat kami rasa cukup, kamipun optimis bahwa UMM akan juara di lomba cerdas cermat tersebut,” tutur Faizin. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Brawijaya (UB), hingga Universitas Indonesia (UI) ialah beberapa nama perguruan tinggi yang berhasil disisihkan oleh UMM dalam fase penyisihan. Sedangkan pada babak final UMM dipertemukan dengan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), serta tuan rumah UNS. Pada ISS 2019 ini, juga terdapat berbagai kegiatan seperti Workshop dan Kompetisi Membatik, Lomba Karaoke lagu Pop Daerah, Lomba Cerdas Cermat tentang Indonesia, Lomba Mendongeng Berbahasa Indonesia, serta Kompetisi Vlog ISS 2019 dengan tema “Your Small Act for A Better Future”, serta pemilihan International Student Assosiation. “International Student Assosiation ini seperti presiden mahasiswanya para mahasiswa asing di Indonesia. Wakil presiden terpilihnya ialah Mohamed Ali Galai Elfouly, mahasiswa asing UMM asal Mesir. UMM juga mengirim delegasi untuk peserta lomba mendongeng dan cerdas cermat,” ungkap Faizin. Cerdas cermat banyak menunjukkan kualitas serta identitas keindonesiaan para mahasiswa asing UMM.”Seperti pertanyaan umum wawasan sejarah, dan pengetahuan Indonesia sehingga kami mempersiapkan betul dua orang mahasiswa beasiswa kemitraan mahasiswa berkembang tersebut,” lanjut Faizin, Senin (4/11). “Saya sangat senang bisa mewakili UMM di lomba-lomba di dalam dan di luar Malang. Di awal saya tidak bayangkan kalau kami bisa menjadi juara 1 di lomba cerdas cermat, karena ada banyak universitas yang mengikut lomba itu. Tetapi dengan dukungan dosen di BIPA dan bantuan temanku Hieu (tim saya di lomba itu). Allhamdullilah, kami bisa menang 3 Tahap di lomba itu dan mengalahkan 33 universitas,” ungkap Mohamed Ali Galai Elfouly. (riz/can)

Mahasiswa Komunikasi UMM Kembali Dinobatkan Sebagai PR Indonesia Rookie Stars

Kembali menjadi bagian dari PR Indonesia Rookie Stars, Tim Prasayu Creative mewakili Ilmu Komunikasi UMM di Jambore PR INDONESIA (JAMPIRO). Tim yang beranggotakan Novia Pratiwi dan Dini Aprilia Widiastuti berhasil lolos dan dinobatkan sebagai Rookie Stars PR Indonesia. Sebelumnya pada tahun 2018, UMM juga lolos dengan tim Sama Rata. Tercatat ada hampir 50 tim yang mendaftar, Kompetisi Rookie Stars 2019 kali ini mengusung tema “Campaigning PR Indonesia” dengan adanya 3 tahap seleksi. Tim Prasayu Creative ditantang untuk melakukan perencanaan dan langsung mengeksekusi dalam waktu kurang lebih 2 minggu. Kampanye ‘Main Jauh’ yang diusung Tiwi dan Dini pun terpilih untuk masuk pada tahap presentasi dihadapan juri di Bali, 30 – 31 Oktober 2019 lalu. Jurinya terdiri dari founder dan CEO PR INDONESIA Asmono Wikan,  founder IPRS Elizabeth Goenawan Ananto, ICON PR INDONESIA 2017 – 2018. “Sangat menambah pengalaman sih, rasanya dievaluasi oleh praktisi profesional itu antara takut dan terhormat banget. Buat ketemu aja susah apalagi dievaluasi gitu,” ucap Tiwi setelah melakukan presentasi. Prasayu Creative pun akhirnya dinobatkan sebagai PR Indonesia Rookie Stars pada Awarding di Jambore PR INDONESIA (JAMPIRO) #5 bersama 5 Tim. JAMPIRO #5 yang juga dihadiri oleh Praktisi – praktisi PR Profesional dan tokoh – tokoh penting seperti Walikota Balikpapan dan Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Endra S. Atmawidjaja. JAMPIRO adalah agenda tahunan yang rutin diselenggarakan oleh PR INDONESIA. Ajang yang fokus mengasah kompetensi dan memperluas jejaring praktisi humas/public relations (PR) terbesar se-Indonesia. JAMPIRO juga menjadi ajang apresiasi bagi para pelaku PR lintas generasi mulai dari mahasiswa sebagai calon penerus PR, pelaku PR usia muda, usia matang, hingga para pemimpin yang sadar PR. Antara lain, PR INDONESIA Rookie Star Competition, ICON PR INDONESIA, Insan PR INDONESIA dan  PR INDONESIA Most Popular Leader di Social Media 2019. (*/can)

Berkesempatan Kembangkan Karier Internasional, Tiga Alumni Keperawatan UMM Berangkat ke Jepang

Alumni Prodi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang dalam waktu dekat akan berangkat ke Jepang. Keberangkatan mereka itu dalam rangka bekerja sebagai perawat profesional (caregiver) di wilayah Takasaki, sebuah kota di Prefektur Gunma selama satu bulan. Mereka yakni Mustika Deni Pradana (alumni S1 Keperawatan) serta Ika Wahyu Purwaningsih dan Ekti Demi Pangastuti (alumni D3 Keperawatan). Keberangkatan mereka merupakan tindak lanjut kerjasama dengan Yayasan Duta Mandiri Indonesia (DMI). “Kegiatan mereka di Jepang ialah sebagai Caregiver, merawat klien yang mengalami hambatan dalam pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari,” ungkap Chairul Huda Al-Husna selaku Staf Keperawatan UMM. Jika dinilai baik, mereka berkesempatan untuk dikontrak kerja berdurasi lima tahun masa kerja. Program magang perawat akan belajar mengenai materi keperawatan selama 1 bulan pertama, di Takasaki. Bulan berikutnya langsung kerja seperti biasa di rumah sakit. Setelah selesai, baru masuk rumah sakit di area Gunma. “Sebelum pemberangkatan kita telah dipersiapkan semaksimal mungkin. Di awal, akan diberikan pembelajaran Bahasa Jepang untuk regional masing-masing,” ujar Mustika Deni Pradana. Dalam uji kemampuan Bahasa Jepang sendiri terdapat beberapa tingkatan. Untuk pemula atau dasar ialah N5 hingga tahap yang paling tinggi yakni N1. Sehingga bagi peserta yang telah lulus bisa karantina di Tulungagung, “Setelah itu pesertanya akan dikirim untuk mensetsu atau diwawancarai langsung oleh orang Jepang,” lanjut Deni saat ditemui di Kampus II UMM Jalan Bendungan Sutami, Rabu (30/10) siang. “Adapun persiapan dari pihak Yayasan Duta Mandiri Indonesia ialah mewajibkan kita untuk bisa minimal meraih sertifikat N3 agar mempermudah komunikasi saat di Jepang nantinya. Karena semakin tinggi tingkat penguasaan bahasa, bisa mempermudah kita saat bekerja nanti yang akan melibatkan banyak komunikasi sehingga tidak gagap di negeri orang saat di Jepang nantinya,” tandas Deni jelang keberangkatan. (riz/can)

Mahasiswa UMM Bikin Proyek Mobil Listrik, Berharap Bisa Diproduksi Masal

Renggi Ahmad Rimeldi, mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) punya mimpi besar. Driver andalan tim mobil hemat energi yang sempat menjuarai ajang Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) di Padang, Sumatera Barat tahun 2018 ini tengah menggarap proyek mobil listrik pribadi. Tak main-main, saat menjadi driver mobil hemat energi Mekatronic Team di Padang, Renggi berhasil memecahkan rekor Asia dan dunia dengan efesiensi energi listrik mencapai jarak tempuh 335 km/kWh. Dari situ ia mulai berpikir untuk bisa mengembangkan mobil listrik hemat energi milik sendiri agar bisa dimutakhirkan. Setelah menorehkan banyak gelar prestis, ia ingin UMM memiliki lembaga riset yang yang fokus pada pengembangan mobil listrik. Selain itu, ia bermimpi ingin memiliki pabrikan mobil listrik sendiri yang mampu menembus pasar luar negeri. Renggi melihat ceruk pasar mobil listrik keluarga yang dinamainya Genetro E.V. Konsep mobil listrik keluarga ini berkapasitas penumpang tiga orang dengan kecepatan maksimal yang mampu dijangkau 60 km/jam. Penggeraknya sendiri menggunakan motor listrik dan bodi serat karbon. Karena berkonsep mobil keluarga, mobil ini dilengkapi audio-video, AC, kamera parkir, spion kamera, power window. Selain kawan dan dosennya, Renggi mengaku banyak mendapat masukan dari sosok Pak Aji, utamanya terkait desain bodi. Pak Aji yang diceritakannya merupakan salah seorang seniman perupa Malang Raya. Termasuk soal pembuatan desain bodi mobil tim dari UMM yang diperlombakan di sejumlah laga KMHE. Niatan awal Renggi menggarap proyek pribadi ini untuk menuntaskan Tugas Akhir kuliah. Namun dalam sebuah kesempatan bertemu dengan Ricky Elson, seorang ilmuan mobil listrik kenamaan Indonesia, Renggi diberi wejangan untuk punya mimpi lebih besar, ketimbang sekedar menuntaskan Tugas Akhir saja. “Banyak yang meragukan Indonesia bisa membuat mobil listrik. Dorongan dari tokoh panutan saya itu, saya optimis bisa melanjutkan mimpi besar Bang Ricky,” ungkap putra pasangan Euis Yuliantini dan Hendra Rimeldi. Sejak pertemuan itu, ia bertekad menseriusi proyek yang telah dia mulai sebelumnya ini. Sejauh ini, proyek yang sudah berlangsung selama enam bulan ini hanya mengandalkan kocek pribadinya. Jika dihitung-hitung, ia sudah menghabiskan dana belasan juta rupiah. Dana itu didapatnya dari hasil usaha yang dia rintis sendiri sebelumnya. Mulai dari usaha kuliner, hingga usaha di bidang sandang atau pakaian. Ditargetkan awal tahun 2020, saat dirinya wisuda, proyek ini sudah rampung dan mulai diperkenalkan kepada masyarakat. “Saya terbuka jika ada perusahaan atau investor yang akan turut andil dalam proyek ini. Harapannya, mobil ini benar-benar bisa diproduksi masal dalam waktu dekat,” tandas Renggi (31/10). Spesifikasi lainnya: Velk Ring 16 Power steering Panjang : 3200 mm Lebar : 1650 mm Tinggi : 1450 mm Wheell base : 2200 mm Ground clearance : 140 mm

7 Atlet Taekwondo UMM Raih Medali di Kejuaraan Internasional

Kontingen Taekwondo Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyabet gelar juara pada kejuaraan Taekwondo Internasional Pugnator Badung Sport Week 2019 yang dilaksanakan 24 – 27 Oktober 2019 di GOR Purna Krida Kabupaten Badung, Bali. Pada kejuaraan bergengsi ini, UMM berhasil menyabet total perolehan 7 medali. Terdiri dari 4 medali perak kategori Kyorugi, 3 medali perunggu kategori Kyorugi dan 1 medali perunggu kategori Poomsae. Kejuaraan ini setidaknya diikuti oleh 1600 peserta dari 10 negara. Di antaranya Australia, Thailand, Singapura, India, Taiwan, Kamboja, Uzbezkistan, Cina, Hongkong. “Berapapun medali yang dibawa, harapannya dapat menjadikan pengalaman dan pembelajaran bagi kami, khususnya untuk pembelajaran dalam kejuaraan kancah internasional. Ini juga sebagai tolak ukur bagi kami dalam sisi kemampuan dan dapat mengevaluasinya,” sebut Gavra Dharmmesta Yusuf, Ketua Umum Taekwondo UMM. Kelas yang dilombakan yaitu Kyorugi dan Poomsae. Kyorugi yakni pertarungan duel dan ketangkasan yang dilakukan antar peserta. Sedangkan Poomsae adalah seni gerak, pukulan, tendangan maupun tangkisan. UMM setidaknya menerjunkan 7 atlet yang sebelumnya telah diseleksi dalam lingkup kampus. Atlet tersebut terdiri dari 6 kategori Kyorugi dan 1 kategori Poomsae. Untuk mempersiapkan pertandingan ini, atlet Taekwondo UMM telah banyak berlatih yang dimulai pada bulan Agustus. Selain latihan regular 2 kali dalam seminggu, para atlet juga mengikuti training center yang sudah berlangsung selama dua bulan. Mereka juga selalu menjaga berat badannya, agar saat penimbangan sesuai dengan kelas yang diikuti. “Kuncinya adalah rajin berlatih dan ikut perlombaan. Semakin banyak berlatih akan semakin mudah pada saat pertandingan. Dari situ kita bisa lihat, semakin banyak jam terbangnya, semakin baik pula pembawaannya pada saat pertandingan,” sebut Gavra, mahasiswa program studi Teknik Elektro ini. (bel/can)

Mahasiswa Prodi Komunikasi UMM Juarai Kompetisi Public Relations Nasional

Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa. Lebih tepatnya 1340 suku bangsa di Tanah Air. Suku Jawa adalah kelompok terbesar di Indonesia dengan jumlah yang mencapai 41% dari total populasi. Dilihat dari kondisi kebudayaan, Indonesia memiliki kekhasan sendiri dibanding bangsa-bangsa lain. Pertanyaanya, mampukah kita menjaganya untuk tumbuh di tengah interaksi belantara budaya dunia. “Suku Jawa sendiri merupakan suku terbesar yang menghuni negara ini. Namun berapa persen masyarakat terutama anak muda yang memahami bahasa Jawa bahkan aksara Jawa?” demikian kegelisahan Gita Ajeng Arfina, mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang yang membawa persoalan ini ke ajang lomba Jogja Public Relation Day yang diadakan Perhumas Muda Yogyakarta (27/10). Ajeng tak sendirian, Ia bersama kedua teman satu jurusannya Ananda Novera dan Irfan Mohammad bertekad, selain dikenal di kalangan anak muda, bahasa bahkan aksara juga ingin dibawa ke kancah internasional. Melalui strategi program ELING (Edukasi, Lihat, Interaksi, Ngikut, dan Giat), mereka berhasil menjadi juara pertama ajang nasional bergengsi yang diikuti Perguruan Tinggi seluruh Indonesia tersebut. Pertama, strategi “Edukasi”. Yakni menyadarkan dan mengedukasi awal publik tentang bahasa dan aksara Jawa. Strategi “Lihat” yakni menarik publik untuk melihat dan mengenal, yakni dengan mengadakan kompetisi sastra maupun seni dengan menggunakan Aksara Jawa, mengadakan giat literasi di sosial media, serta bekerjama dengan influencer untuk mereview menariknya belajar bahasa dan Aksara Jawa. Berikutnya strategi “Interaksi”, yakni memberikan ruang kepada publik untuk berinteraksi seputar aksara Jawa. Di antaranya memberikan ruang bagi masyarakat di kolom komentar media sosial untuk berinteraksi seputar aksara Jawa, membuat pertanyaan-pertanyaan di sosial media yang melibatkan audien seputar aksara Jawa, serta menampilkan hasil karya dengan memanfaatkan bahasa dan aksara Jawa. Strategi lainnya adalah “Ngikut”, yakni membuat target audien ikut berkontribusi dalam kegiatan pengembangan aksara Jawa. Bisa berupa kampanye online dan on ground. On ground bisa meliputi diadakannya Festival budaya, sementara online bisa dilakukan melalui lomba menulis dengan aksara Jawa di sosial media. Terakhir, “Giat. Yakni mengajak publik untuk menyebarluaskan pengalaman dari kegiatan yang diikuti. Hanya dalam rentang waktu riset yang terbilang kilat, yakni beberapa jam saja hingga jelang diajukannya proposal, mereka berlaga cukup percaya diri. Terbukti, Tim Synergistic PR melaju pada babak final bersanding dengan 5 perguruan tinggi lainnya, Universitas Gajar Mada (UGM), Binus University, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN), Telkom University dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Untuk memenangkan perlombaan, Ajeng mengakui tim mereka menggarap desain proposal yang kreatif, menarik dan unik. Tidak hanya itu, proposal juga disusun secara lengkap dan terstruktur dalam mengembangkan ide. “Dalam segi busana ketika presentasi, tim kami sudah prepare busana adat untuk lebih memreprentasikan budaya yang ada di Indonesia,” tambah Ajeng pada acara Awarding Night, Minggu (27/10). (yas/can)

UMM Raih AKU Duabelas Kali Berturut-turut

Anugerah Kampus Unggul (AKU) kembali diraih oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk yang keduabelas kalinya. Penghargaan ini diterima langsung Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. saat menghadiri Rapat Kerja Pimpinan (Rakerpim) Perguruan Tinggi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VII Jawa Timur tahun 2019 di Singhasari Resort Batu, Rabu (30/10). Fauzan menyampaikan rasa syukurnya atas raihan membanggakan ini.  “Terimakasih kepada semua civitas akademika yang telah bekerja keras hingga mampu mempertahankan anugerah ini hingga yang keduabelas kalinya,” ungkapnya. Raihan gemilang Kampus Putih ini tentu tak terlepas dari kontribusi semua bidang. Bidang I atau akademik, bidang II sarana dan prasarana, bidang III atau bidang kemahasiswaan, serta semua pihak yang terkait. Capaian UMM sebagai kampus unggul kategori universitas dari LLDikti Wilayah VII ini merupakan wujud pengakuan dari pemerintah sebagai salah satu stakeholders terhadap upaya sungguh-sungguh UMM dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tugas ini merupakan tugas penuh tantangan. Pertama, karena regulasi di bidang pendidikan tinggi mematok standarisasi yang kian tinggi. Misalnya di bidang akreditasi yang diselenggarakan oleh BAN PT, yang sekarang menggunakan 9 kriteria. Karena itu, UMM terus berupaya meningkatkan kualitas dalam semua aspek yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan. Termasuk ketersediaan sarana dan prasarana yang dimiliki serta kegiatan kemahasiswaan. UMM terus memperkuat kepranataan dan kelembagaan penjaminan mutu yang menjamin kepastian pelaksanaan siklus penjaminan mutu yang meliputi: Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Pengembangan (PPEPP). UMM juga dipercaya sebagai pelaksana program Perguruan Tinggi Asuh (PT-Asuh). Mandat ini sesuai dengan Surat Keputusan Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Republik Indonesia tentang Perguruan Tinggi Pelaksana Program Penjaminan Mutu. Usaha lainnya, UMM terus mengupayakan rekognisi internasional. Saat ini sudah ada beberapa program studi yang telah memperoleh sertifikasi AUN QA dan beberapa sertifikasi internasional lain. Intinya, UMM terus mengupayakan internasionalisasi. Kedua, tuntutan Dunia Usaha dan Industri (DUDI) kian meningkat. Oleh karena itu, UMM terus berusaha memperkuat aktifitas pendidikan dengan memberikan tambahan kompetensi. Misalnya, di UMM telah ada Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), Dari lembaga ini, mahasiswa UMM mendapatkan sertifikasi kompetensi dalam skala tertentu. Tentu setelah melalui proses pelatihan dan uji kompetensi. Dalam acara penganugerahan tersebut, Kepala LLDikti Wilayah VII Jawa Timur Prof. Dr. Suprapto, DEA. menyatakan bahwa tantangan pendidikan tinggi ke depan semakin berat. “Perguruan tinggi tidak hanya dituntut melaksanakan Tri Dharma khususnya pembelajaran yang bermutu, tetapi untuk terus menerus melakukan perbaikan,” ungkap Suprapto. Senada dengan yang disampaikan Suprapto, UMM telah mengembangkan kurikulum yang dilaksanakan telah relevan dengan perubahan zaman. Selain itu, modus pembelajaran telah memenuhi tuntutan perkembangan IPTEK. Sumberdaya manusia yang dihasilkan UMM mampu responsif, adaptif, dan siap menghadapi revolusi industri 4.0. Kegiatan riset yang dilakukan UMM juga dinilai telah memadai untuk menghasilkan publikasi dan inovasi yang diharapkan. UMM juga turut menghasilkan lulusan dan produk kekayaan intelektual yang berdampak pada pembangunan. (can)