Peduli Goes to Campus di UMM, Semai Semangat Inklusi

Perguruan Tinggi berperan sangat penting sebagai ruang-ruang menyampaikan ide, gagasan, dan wacana yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah untuk membangun bangsa. Wacana keberagaman di dalam kampus perlu terus dipelihara sebagai upaya menguatkan inklusi sosial dalam hidup berbangsa dan bernegara. Kampus perlu menjadi tempat yang nyaman bagi tumbuh dan berkembangnya insan-insan akademisi yang inklusif; Insan yang tidak lagi memandang perbedaan sebagai sebuah hambatan, namun menjadi sebuah kekuatan. Untuk itu, kampus perlu dilibatkan secara aktif dalam proses menumbuhkembangkan inklusi sosial dalam lingkungan pendidikan. Upaya melibatkan elemen Perguruan Tinggi tersebut diinisiasi oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), melalui Program Peduli dukungan The Asia Foundation. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (17/10) di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV Kampus III UMM bertujuan untuk melakukan publikasi dan diseminasi praktik baik yang sudah dilakukan Program Peduli. Selain itu, untuk menjalin dialog untuk memperluas diskursus dan memelihara iklim inklusi sosial dalam lingkungan kampus. “Membuka dialog di lingkungan kampus terkait inklusi sosial adalah sesuatu yang harus dilakukan. Sebagai ruang pemikiran dan gagasan, kampus harus inklusif terhadap keberagaman, tidak ada lagi diskriminasi atas dasar perbedaan pendapat, pemikiran, agama, suku, jenis.kelamin, disabilitas, dan lain lain,” tutur Ketua Pengurus Nasional PKBI Dr. Ichsan Malik. Baca juga: Tim LSLC FKIP UMM Siap Dampingi Sejumlah SMP di KWB Menurutnya, hal ini sejalan dengan semangat PKBI dalam mewujudkan keluarga yang bertanggung jawab dan toleran. Pengertian dasar toleran adalah menghormati perbedaan yang ada. Ketika seseorang atau sekelompok orang merasa tidak aman dan merasa terancam oleh kelompok lainnya, maka akan lahir intoleransi. “Pada titik inilah, civitas akademika harus berperan serta dalam mencegah intoleransi, kegiatan Peduli Goes to Campus adalah salah satunya. Karena perbedaan adalah anugerah yang kita mesti jaga bersama,” kata Ichsan Malik. Senada dengan hal tersebut, Dekan Fisip UMM Dr. Rinikso Kartono, M.Si mengatakan bahwa pihak kampus menyambut sangat baik dan apresiatif dengan gagasan Peduli Goes to Campus di UMM. Ini menjadi pembelajaran bersama dan forum berbagi praktik baik antara lembaga yang mengimplementasikan Program Peduli dengan UMM. Terkait dengan kampus ramah disabilitas, UMM berpedoman kepada Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 46 Tahun 2017 tentang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus di Perguruan Tinggi, pasal 4 menyatakan bahwa Pendidikan inklusi merupakan Pendidikan bagi mahasiswa berkebutuhan khusus yang dilakukan bersama dengan mahasiswa lain. Selain itu, UMM terbuka terhadap keberagaman. “Kami sepakat bahwa berbagai pihak harus dilibatkan dalam menciptakan lingkungan yang inklusif. Apalagi di lingkungan kampus, sebagai ruang pertukaran ilmu pengetahuan, segala bentuk kegiatannya harus menjunjung tinggi inklusi sosial. Berbagai praktik baik telah kami lakukan terkait ini,” tutur Rinikso. “Kami berharap Peduli Goes to Campus akan melahirkan agen-agen perubahan di lingkungan kampus. Dengan lingkungan yang inklusif di kampus, akan menyebar ke seluruh sendi-sendi kehidupan, tempat para civitas akademika berinteraksi dengan masyarakat. Sehingga tercipta Indonesia yang inklusif dalam menjalani pembangunan sosial yang humanis. Semoga ini bukan yang terakhir, namun awal untuk terjalinnya kerja sama penelitian dan pengabdian masyarakat antara UMM dan PKBI,” tutup Rinikso. Sebelumnya, Peduli Goes to Campus telah dilakukan di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta pada September 2018, Universitas Medan, Universitas Airlangga Surabaya dan Universitas Brawijaya Malang dengan mendapatkan apresiasi yang besar dari mahasiswa, dosen dan para partisipan lainnya. Pada penyelenggaraannya kali ini di Malang, kegiatan yang dihadiri kurang lebih 500 yang terdiri dari dosen dan mahasiswa ini, diwarnai oleh kegiatan kuliah umum, pagelaran seni Mahasiswa UMM, pameran inklusi, pemutaran film, penguatan kapasitas berupa penulisan tugas akhir dan pembuatan film dokumenter. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd dalam sambutannya menerangkan, jika ia antusias dengan inklusifitas. UMM sendiri terus berkomitmen menyuarakan persatuan salah satunya melalui gelaran Festival Kebangsaan yang bertepatan pada tahun ini yang dibuka oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla. “Inklusifitas menjadi hal yang sudah semestinya dijalani bukan diperdebatkan lagi,” terang Fauzan. Sayangnya, keadaan ini tidak selalu tercermin dari Indonesia. Padahal, lanjutnya, jargon Kita Indonesia hingga NKRI Harga Mati kurang benar-benar diterapkan dalam hidup berwarganegara. (mir/can)
D3 Keperawatan UMM Raih Akreditasi A

Setelah Program Studi (Prodi) Magister Agribisnis berhasil mempertahankan akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) untuk periode 2019-2024, kini giliran Prodi DIII Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang memperoleh akreditasi A (sangat baik). “Uji kompetensi kita mengikuti ukuran standar nasional. Dimulai dari Try Out, Uji OSCE (Objective Structured Clinical Examination) dan sebagainya. Mengenai uji kompetensi, rata-rata kita sudah mencapai 85% ke atas di tiap tahunnya. Serta optimis dalam mendapatkan nilai A,” ungkap Kaprodi Reni Ilmiasih, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp. Kep.An. Melihat kinerja dan kualitas yang ditampilkan dengan maksimal, maka berdasarkan rapat acara Pleno Majelis Akreditasi No . 009/LAM-PTKes/BAAkr/IX/2019 tanggal 29 September 2019 memutuskan Prodi D3 Keperawatan UMM berhasil meraih Akreditasi A dengan nilai 367. Sebelumnya, untuk periode 2014-2019 prodi ini berakreditasi B. “Kita harus mempersiapkan segala sesuatu, agar kualitas tetap menjadi yang utama. Dari jauh-jauh hari kita telah menyiapkan tim yang benar-benar memiliki kualitas. Sehingga dokumen-dokumen tertata, kemudian kita juga familiar dalam membuat nilai dan mengupayakan agar mahasiswa menjadi lebih kompeten,” lanjut Reni. Selain meningkatkan kualitas pendidikan, Prodi ini mengoptimalkan bimbingan akreditasi dari kantor akreditasi UMM. “Sehingga kita upayakan pelaporan dilakukan sedetail mungkin. Kita telah compare dengan Kantor Pengelola dan Pengendali Akreditasi (KPPA). Artinya persiapan telah kita buat matang,” ujar Reni (14/10). Setelah mendapat akreditasi A, Reni merasa Prodi yang dipimpinnya memiliki tanggung jawab kian besar. Saat ini yang menjadi tantangannya maupun output ke depan adalah dalam bidang karir. “Karena lebih banyak profesi yang mengutamakan S1, sehingga harus mengedepankan mobilitas untuk persiapan ke dunia kerja,” tandasnya. (riz/can)
Tim LSLC FKIP UMM Siap Dampingi Sejumlah SMP di KWB

SEMANGAT mengimplementasikan kurikulum 2013 mendapatkan angin segar dan gairah baru dengan akan segera diimplementasikannya program Pendampingan Lesson Study for Learning Community (LSLC) oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke beberapa SMP di Malang Raya. Program ini bersinergi dengan pembinaan profesi, penjaminan mutu internal dan penguatan inovasi pembelajaran di sekolah dalam menjawab tantangan pembelajaran abad 21. Pendampingan LSLC merupakan program yang dibidani Dra. Ninik Purwaning Setyarini, M.A, Kasubdit Kurikulum Direktorat PSMP Kemendikbud RI dan team kerja yang berasal dari staf direktorat serta 24 dosen alumni STOLS Japan dari berbagai perguruan tinggi. Melalui program, 64 SMP yang tersebar di 8 Zona (Padang, Bengkulu, Bogor, Jogja, Gresik, Malang, Kediri dan Lombok) akan mulai melakukan lokakarya, open plan, open class dan refleksi pembelajaran mulai bulan November 2019. Semangat menggalakkan kembali Lesson Study (LS) yang sudah berkembang menjadi Lesson Study for Learning Community ini didorong oleh keinginan pemerintah untuk membangun budaya belajar secara mandiri baik pada guru maupun siswa. “Sementara itu tumbuh dan berkembangnya budaya belajar mandiri merupakan karakter dan kompetensi yang diperlukan untuk mengarungi dan memenangkan hidup pada abad 21 yang semakin desruptif ini,” ungkap Drs. Nurwidodo, M.Kes., penanggungjawab LSLC. Program pendampingan LSLC berbasis zonasi ini, maka untuk zona Malang, tertunjuk sebagai implementor adalah sejumlah SMP di Kota Wisata Batu. Team konsultan LSLC di Zona Malang digawangi oleh tim LSLC FKIP UMM ditambah dari UM. Team LSLC FKIP UMM terpilih sebagai pendamping sekolah tidak dapat dilepaskan dari reputasi tim FKIP yang telah melakukan inisiasi LSLC di Malang Raya sejak tahun 2012. Tim LSLC FKIP juga telah mendampingi implementasi LSLC di sekolah, bahkan mempromosikan karya tulis guru berbasis LSLC sampai ke dalam publikasi tereputasi. “Konsistensi dalam pembinaan LSLC di sekolah se Malang Raya selama lebih dari 7 tahun tersebut, menjadikan FKIP UMM mendapatkan kepercayaan sebagai konsultan sekaligus pendamping sekolah untuk implementasi LSLC ini,” terang Nurwidodo, dosen Pendidikan Biologi UMM. Implementasi LSLC akan dimulai dengan kegiatan workshop, open plan, open class, refleksi dan penyusunan RTL. Pada tanggal 13 sd 15 November di Zona Malang akan melaksanakan kegiatan tersebut dan menghadirkan SMPM 8 untuk melaksanakan open lesson dan akan dihadiri oleh 55 orang observer yang berasal dari Direktorat PSMP, LPMP Jatim, Dinas Pendidikan Kota, beberapa Kepala Sekolah dan Guru Mapel yang terundang. “Program pendampingan LSLC ini dikembangkan di atas landasan filsafat sekolah sebagai taman terbuka, sekolah sbg tempat penyemai keunggulan dan sekolah sebagai pelayan hak hak anak. Ujung ujungnya program ini didedikasikan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran di SMP,” ungkap Nurwidodo (15/10). Pendampingan LSLC yang telah memilih beberapa SMP sebagai piloting di Zona Malang harus disambut dengan antusias karena sangat bersinergi dengan penjaminan mutu internal (SPMI) pada aspek pembelajaran dan pembinaan profesi guru (double helix) di sekolah. “Sudah cukup lama program ini kita impikan dan kini pemerintah telah memberikan dukungan sangat signifikan,” tandasnya. (*/Can)
UMM kenalkan Software Tableau, Visualisasi Data Dukung Smart City

Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) menggelar workshop Tableau; Visualisasi Data untuk Mendukung Smart City yang diadakan di Gedung Kuliah Bersama (GKB 3) UMM (12/10). Agenda yang didasari oleh pentingnya penanganan Big Data, termasuk data analisis, yang semakin disadari oleh para pelaku usaha, industri, mahasiswa sampai institusi pemerintahan itu sendiri. Agenda yang digelar sehari ini mencakup pengenalan software Tableau, praktek visualisasi data (analisis visual, filter dan mapping) dan publish data (kalkulasi, story dan dashboard, dan publish Tableau) dengan dibagi menjadi dua kelas untuk umum, yakni dari instansi pemerintahan terkait dan mahasiswa perguruan tinggi di Indonesia. Dengan menggandeng pemateri ahli praktisi data dari Platform Kata.ai Resa Primasatya, Data Scientist Indonesia Achmad Wilda Al Aziz dan Yufis Azhar, M.Kom dosen Teknik Informatika UMM yang juga berkompeten melihat peluang visualisasi dari penerapan big data melalui platfrom Tableau yang dapat mendukung terbentuknya smart City. Diikuti oleh peserta dari beberapa Pemerintahan Daerah seperti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA & BALITBANGDA ) Kota Batu dan Pasuruan, Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) Trenggalek, Bangkalan, Sidoarjo, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (BALITJESTRO) Batu dan sejumlah Perguruan Tinggi yakni UNAIR, UPN, UB, dan UMM. Dalam pembukaannya, Ketua Pelaksana yang juga dosen prodi Teknik Informatika Christian S.K.Aditya., M.kom menyatakan, Di era teknologi digital yang makin berkembang pesat merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi ledakan data. “Diharapkan lewat workshop ini dapat menjembatani praktisi, akademisi dan pemerintahan dalam menyongsong pembangunan kota cerdas di Indonesia” ungkapnya. Dengan menggunakan fasilitas drag dan drop tabel, grafik maupun desain lain dalam software Tableau diharapkan dapat membaca visual dan menganalisis data dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga data tidak monoton dan dapat memperoleh keputusan yang baik dalam menunjang keberadaan smart city,” tambah Yuvis selaku pemateri. (yas/can)
Smart Tongkang, Mesin Pembuat Garam Berkualitas Ciptaan Mahasiswa UMM

GARAM termasuk mineral yang dapat diperbaharui dan jumlahnya tidak terbatas. Indonesia dengan iklimnya yang tropis dan garis pantai yang panjang menjadi negara dengan potensi produksi yang menjanjikan. Di sisi lain, penggunaan garam domestik dan dunia terus meningkat. Untuk menutupi kekurangan itu maka dilakukan impor. Pada tahun 2018 impor garam Indonesia mencapai 3,7 juta ton dengan nilai 83,6 juta USD, dan 2019 impor garam dialokasikan 2,7 juta ton. Alasan yang disampaikan Pemerintah karena produksi dan kualitas garam lokal Indonesia tidak mencukupi kebutuhan industri domestik, baik untuk kepentingan industri ataupun pangan. “Artinya negara mengeluarkan Rp1,34 Triliun untuk impor garam. Dengan biaya impor sebesar itu, sementara petani garam jauh dari kata sejahtera,” ungkap Haryo Widya Darman, mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang saat menerangkan proposal yang diajukannya di ajang Rancang Bangun Mesin IX. “Kurangnya pendampingan dari ahli dan eksploitasi tradisional yang kurang maksimal punya beberapa kekurangan, seperti kepemilikan lahan terbatas, sangat tergantung pada cuaca dan efisiensi produksi yang rendah, menjadikan kualitas garam lokal kurang diminati. Industri,” beber Haryo saat ditemui Senin (14/10) siang. Menurut mahasiswa yang pernah memenangi ajang internasional ini, diperlukan solusi berupa pernambahan lahan yang fleksibel namun membantu percepatan produksi garam yang sesuai standar layak, sehingga bisa dipindah-pindah dan didekatkan menuju pabrik, sehingga mengurangi biaya transport dan operasional truk. “Solusi berupa penambahan lahan terapung menjadi masuk akal, karena bisa dipindah-pindah atau didekatkan menuju pabrik. Serta disematkan teknologi tambahan berupa control device android untuk mengetahui posisi, kadar air, temperatur, dan pengaktifan fitur mekatronika otomatisnya,” terangnya saat menjelaskan apa itu Tongkang Garam. Karena dilengkapi atap, cermin, generator kincir, sekop yang bisa dikendalikan otomatis, tongkang anti karat, tow hook, dan anchor membuatnya mudah dipindahkan, sehingga pembuatan tambak garam hybrid diharapkan jadi solusi untuk membantu petani mempercepat pembuatan garam yang sesuai standar keperluan industri. Dengan rancangan tongkang ini diharapkan dapat menjawab masalah seperti keterbatasan lahan karena proses kristalisasi dilakukan di atas laut, kualitas garam yang bisa ditingkatkan seperti kebersihan, warna, penurunan kadar air, dan percepatan produksi yang semula 15 hari menjadi 8-10 hari karena rekayasa mekatronika. “Yang artinya produksi panen akan lebih cepat dengan kualitas yang lebih baik dan akan meningkatkan harga jual panen yang lebih tinggi. Harapannya solusi ini akan menjadi penyebab berhentinya impor garam yang dilakukan pemerintah. Kami sedang menyusun dokumen paten untuk produk ini,” pungkas Haryo, ketua tim UMM ini. Haryo tak berjuang sendirian. Dalam perlombaan ini Ia satu tim bersama mahaswa teknik mesin lainnya, yakni Zehandana khatami (angkatan 2016), dan sang adik kandung Annisa Widya Nurmalitasari (angkatan 2007). Dengan komposisi tim ini, mereka berhasil mendapat peringkat 7 dari 44 proposal yang ikut seleksi. Meski belum mendapat raihan memuaskan, mesin temuan mereka ini kembali dilombakan di ajang yang diadakan oleh Asosiasi Program Studi Teknik Mesin-Perguruan Tinggi Muhammadiyah Se-Indonesia. Dari hasil seleksi para finalis yang berjumlah 8 tim, tim Kampus Putih UMM berhasil mendapat peringkat 2. (can)
UMM Dominasi KKCTBN 2019, Rebut 3 Gelar Sekaligus

MENJADI tuan rumah gelaran bergengsi seperti Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional (KKCTBN) 2019 jadi tantangan tersendiri bagi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selain harus melayani peserta dengan suguhan maksimal, performa tim tuan rumah tentu juga musti optimal. UMM telah menunjukkannya. Pada perhelatan 3 hari ini, 10-12 Oktober 2019, UMM berhasil menyabet 3 gelar sekaligus. Pertama, peringkat 2 di 2 kategori sekaligus. Yakni kategori Electric Remote Control (ERC) dan Fuel Engine Remote Control (FERC). Kedua, nominasi tim favorit di kategori FERC yang dimenangkan oleh Team UMM I, UMM. Hingga para pemenang diumumkan (12/10), UMM tampil dengan performa terbaiknya. Team UMM 2 di kategori ERC mendapat raihan terbaik dengan skor akhir 120,678. Sedangkan Team UMM 1 di kategori FERC dengan skor akhir 121,379. Sementara di kategori ASV, UMM harus puas di posisi ke-14 dengan skor 10,8252. Meskipun tim baru terbentuk tahun ini, bahkan UMM tidak memiliki unit kegiatan mahasiswa khusus perkapalan, tapi mereka tetap optimis menang. Namun, mereka memiliki kelompok Mekatronic yang fokus pada permesinan. Ada fokusan mobil hemat energi, sementara tentang kapal baru riset tahun 2019 belakangan ini. “Tim UMM sebelum merancang kapal terlebih dahulu mempelajari panduan KKCTBN dari tahun pertama sampai tahun terakhir pelaksanaan. Kemudian mencari informasi kekuatan dan kelebihan dan kelemahan tim lawan terutama tim langganan juara,” ungkap Drs Moh Jufri MT pendamping Tim Kapal Cepat UMM (13/10). Juga evaluasi berkala meliputi bagaimana merancang bentuk bodi yang fleksibel dan juga cocok untuk semua tipe track dan komponen yang dipakai dicarikan yang terbaik. “Kalau kapal sudah fleksibel dan komponen-komponennya terbaik, maka tinggal menyusun strategi untuk mencuri kemenangan,” beber Jufri. Pasca kemenangan ini, Jufri mengaku bakal tetap menyiapkan tim yang lebih solid dan kompak untuk mengikuti lomba-lomba berikutnya. “Tentunya, kami juga selalu menamkan tradisi juara buat tim pada semua perlombaan yang diikuti. Jangan salah, para peserta baru semester 3 semua,” tandasnya. Kasubdit Penalaran dan Kreativitas Ristekdikti Dr Misbah Fikrianto MM MSi menyampaikan apresiasinya kepada Kampus Putih UMM yang menjadi tuan rumah KKCTBN 2019. “Apresiasi yang sangat tinggi, penghargaan, serta sanjungan atas pelaksanaan KKCTBN tahun ini di UMM dengan prediket excellence,” katanya. Hal ini karena pertama, jumlah peserta tahun ini meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Kedua, penyelenggaraan KKCTBN di UMM tahun ini penilaiannya menggunakan aplikasi sehingga lebih transparan dan akuntabel. Terakhir, juga diadakannya kelengkapan poster menjadikannya berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. (can)
KKCTBN 2019 di UMM Sukses Dihelat, Ini Daftar Pemenangnya

Kontes Kapal Cepat Tanpa Awak Nasional (KKCTBN) 2019 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) (10-12/10) akhirnya mengukuhkan sejumlah pemenang. Enam puluh dua tim dari 30 perguruan tinggi se-indonesia bersaing ketat memperebutkan gelar bergengsi kontes yang diselenggarakan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemristekdikti RI) ini. Di kategori Autonomous Surface Vehicle (ASV), Tim Aeroships dari Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) mencatatkan skor terbaiknya dengan nilai akhir 330. Disusul Tim Barunastra Roboboat ITS dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dengan nilai akhir 300. Selanjutnya di posisi 3 dengan nilai akhir 223,636 diraih oleh Autonomous Marine Vehicle dari Universitas Indonesia (UI). Di kategori Electric Remote Control (ERC), Tim Gamantaray Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mendominasi kemenangan dengan skor akhir 123,956. Di posisi 2 diraih Team UMM 2 dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan skor akhir 120,678. Disusul kemudian di posisi ketiga di raih Tim Elmoana dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dengan skor akhir 118. Sementara di kategori Fuel Engine Remote Control (FERC), Cakalang 7 dari Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) mendapat skor terbaik yakni 122,811. Di posisi kedua UMM yang diwakili Team UMM 1 berhasil menyabet perolehan terbaiknya yakni dengan mencatatkan skor 121,379. Di posisi ketiga, tim Seawolf dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan skor akhir 116,889. Di kategori lainnya yakni Fun Race ERC dimenangkan Cakalang 3 PPNS dan FERC dimenangkan Seawolf Unesa. Kategori Tim Favorit di ASV dimenangkan Gamataray UGM, ERC dimenangkan Baracuda V IPB, dan FERC dimenagkan Team UMM I UMM. Di Best Spirit, ASV dimenangkan Antares UNS, ERC oleh HTNB Universitas Hang Tuah, dan FERC oleh Onepro_MP dari Politeknik Negeri Ujung Pandang. Ada juga pemenang bagi kategori Best Poster yang hanya ada satu pemenang yakni dari Tim Autonomous Marine Vehicle, Universitas Indonesia (UI). Terdapat juga kategori Best Design yang pada kategori ASV dimenangkan Barunasastra Roboboat ITS, ERC dimenangkan Tim Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM), dan FERC dimenangkan oleh Tim andalan PPNS Surabaya yakni oleh Tim Cakalang 7. Dalam sambutannya, Kasubdit Penalaran dan Kreativitas Ristekdikti Dr Misbah Fikrianto MM MSi menyampaikan apresiasinya kepada UMM yang telah menyelenggarakan perhelatan KKCTBN 2019 dengan sangat baik. “Kami menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi, penghargaan, serta sanjungan atas pelaksanaan KKCTBN tahun ini di UMM dengan prediket excellence,” katanya. Setidaknya ada 3 faktor yang menyebabkan gelaran KKCTBN 2019 di UMM menjadi spesial. Pertama, jumlah peserta tahun ini meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Kedua, penyelenggaraan KKCTBN di UMM tahun ini penilaiannya menggunakan aplikasi sehingga lebih transparan dan akuntabel. Terakhir, diadakannya syarat poster menjadikannya berbeda dari tahun sebelumnya. Wakil Rektor I Prof Dr Syamsul Arifin MSi menyebut UMM memiliki ekosistem serta sarana dan prasarana yang sangat mendukung kegiatan akademik civitas akademikanya, misalnya danau buatan yang dipakai perlombaan KKCTBN tahun ini. “Mungkin para pendiri kampus ini sudah memiliki suatu imajinasi bahwa kelak, UMM akan diminta sebagai host penyelenggaraan KKCTBN ini,” tandas Syamsul. (can)
Gedung Kuliah UMM Mendadak Jadi Sandaran ‘Kapal’

Ada yang unik pada gelaran Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional (KKCTBN) 2019 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Jembatan penghubung dengan gedung kuliah bersama (GKB) I, disulap menjadi kapal pesiar yang siap mengarungi ganasnya lautan lepas. Dilihat dari pantauan udara menggunakan drone, jembatan yang setiap harinya digunakan lalu lalang mahasiswa UMM ini didekor dengan serius sehingga menjadi objek ikonik selama penyelengaraan kontes. Di pembukaan, ‘kapal’ dilaunching Dirjen Belmawa Didin Wahidin. Kreativitas desain usulan Wakil Rektor III UMM Dr Sidik Sunaryo ini memang sengaja dihadirkan untuk memberi atmosfer lautan lepas yang sesungguhnya. Apalagi disertai pelampung dan jangkar kapal yang terlihat di sisi kanan-kirinya, menambah kesan kapal laut sungguhan. Di atas ‘kapal’ ini juga, saat pembukaan acara, digelar defile kontingen dari 62 tim yang berasal 30 perguruan tinggi se-Indonesia. Mereka masing-masing membawa bendera asal perguruan tinggi. Sebelumnya juga, para peserta disambut tarian daerah dari Sangsekarta UMM. Kontingen UMM sendiri menerjunkan 3 kapal cepat andalannya di 3 kategori yang ada. Mereka bersaing di Kapal Kendali Otomatis (ASV), Kapal Cepat Listrik dengan Sistem Kendali Jauh (ERC), dan Kapal Cepat Berbahan Bakar dengan Sistem Kendali Jauh (FERV). Mereka optimis menang, karena menggunakan mesin berkapasitas 32 CC dengan laju kecepatan maksimal mencapai 40 KM/H. Selain itu, mereka mengandalkan spesifikasi bodi yang lebih ramping. Tak ketinggalan, mereka tentu sudah hafal dengan lintasan yang tersedia. Hingga berita ini diturunkan, UMM tampil dengan performa terbaiknya. Team UMM 2 di kategori ERC berada di posisi 2 dengan skor akhir 120,678. Sedangkan Team UMM 1 di kategori FERC juga berada di posisi 2 dengan skor akhir 121,379. Sementara ASV menunggu hasil. Meskipun tim baru terbentuk tahun ini, bahkan tidak memiliki UKM khusus perkapalan, tapi mereka optimis menang. Mereka memiliki kelompok Mekatronic yang fokus pada permesinan. Ada fokusan mobil hemat energi dan tentang kapal baru riset tahun 2019 ini. Para pemenang akan diumumkan pada Sabtu (12/10) malam di depan GKB I UMM. Selain pengumuman pemenang dan penyerahan medali, akan ada juga penyerahan piagam penghargaan dari Dirjen Belmawa kepada UMM sebagai tuan rumah KKCTBN tahun ini. (riz/can)
KKCTBN 2019: 30 Perguruan Tinggi Adu Hebat di UMM

KONTES Kapal Cepat Tak Berawak Nasional (KKCTBN) 2019 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dibuka hari ini, Jumat (11/10). Direktur Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI) Dr Didin Wahidin MPd membuka secara langsung gelaran tahunan memperebutkan Piala Bergilir KKCTBN. “Sejak dulu, Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan tujuh belas ribu lima ratusan lebih pulau yang kita miliki dan disatukan oleh laut yang demikian luas. Maka kemudian, kapal menjadi sesuatu yang memiliki nilai strategis bagi negara kita. Oleh karena itu, tentu KKCTBN 2019 ini juga memiliki posisi yang strategis dalam rangka menjaga kedaulatan bangsa, baik airnya maupun di permukaan airnya,” ungkap Didin saat sambutan. Melalui kontes ini, Didin mengajak para peserta untuk mengambil makna dari setiap proses perlombaan. Pertama, makna untuk saling belajar tentang ilmu seputar perkapalan. “Dalam kesempatan kali ini kita juga mengembangkan kapal-kapal cepat yang lain, dalam bentuk, teknologi dan ragam teknologi yang kelak akan menyatukan kehebatan kita dalam wujud kapal-kapal yang bisa menjaga kedaulatan bangsa,” tegasnya di atas danau UMM. Makna yang kedua adalah pengembangan karakter. Di antaranya adalah karakter untuk siap menang dan siap kalah. Ketiga, bagaimana agar para peserta rasa nasionalismenya terbangun. Keempat, penyelenggaraan KKCTBN ini merupakan upaya bersama mencoba menjadikan Indonesia berada pada jajaran depan pada pengembangan teknologi yang seharusnya dilakukan dalam rangka menghadapi era Revolusi Industri 4.0 ini. Rektor UMM Dr Fauzan MPd dalam sambutannya memesankan, diamanahinya gelaran bergengsi ini kepada Kampus Putih UMM ini harus diambil makna bahwa event ini adalah satu titik awal dalam rangka mengembangkan teknologi, khususnya di bidang perkapalan. “Khususnya kepada para peserta, jangan dianggap kegiatan ini sekadar mencari nomor satu, nomor dua. Jadikan kontes ini untuk mengembangkan minat,” kata Fauzan. Kembali ditegaskan Fauzan, KKCTBN merupakan satu momen strategis untuk mengembangkan minat dan bakat yang mahasiswa miliki. “Siapa tahu, saat ini saudara menjadi mahasiswa, tujuh atau mungkin sepuluh tahun mendatang saudara juga akan menjadi leader-leader di bidang perkapalan. Apa yang didasari oleh minat dan bakat, Insya Allah, melajunya akan melebihi lajunya kapal yang akan berlomba,” ungkapnya. Di event yang diikuti 30 perguruan tinggi ini ada 3 kategori yang diperlombakan. Pertama, Kapal Kendali Otomatis. Di kategori ini, kapal didesain dan dibangun dengan piranti lunak elektronik otomatis atau sensor warna. Kedua, Kapal Cepat Listrik dengan Sistem Kendali Jauh. Kapal ini menggunakan baterai sebagai sumber tenaga penggerak dengan bantuan remote control. Terakhir, Kapal Cepat Berbahan Bakar dengan Sistem Kendali Jauh. “Penilaian kontes KKCTBN ini dilakukan terhadap setiap kategori dengan beberapa kriteria. Selain ditentukan berdasarkan waktu tercepat, pertimbangan dalam penilaian juga berupa manuver kapal dalam setiap rintangan pada lintasan. Ada pula penghargaan bagi desain kapal terbaik,” terang Dr Nur Subeki ST MT dosen Fakultas Teknik UMM selaku Ketua Pelaksana KKCTBN 2019 ini di Kampus Putih UMM saat melaporkan acara. Setiap kategori kontes prototipe kapal memiliki misi dan tantangan yang berbeda-beda. Secara umum kemampuan menyelesaikan misi dan tantangan tersebut dapat diukur melalui kecepatan dan kemampuan bermanuver. “Misi dan tantangan tersebut diterjemahkan ke dalam lintasan yang harus dilalui oleh setiap kapal dalam setiap kategorinya,” ungkap Subeki yang juga tengah menjabat Wakil Dekan III Fakultas Teknik UMM. Daya kreasi mahasiswa dalam KKCTBN 2019 ini tidak hanya mencakup desain badan kapal yang baik dari segi performance dan manuver, tetapi juga mencakup perencanaan sistem penggerak, sistem navigasi yang handal, dengan memperhatikan keselarasan faktor teknis lainnya (engine matching). Dengan demikian segala kreatifitas peserta dalam kontes yang dimaksud akan melibatkan beberapa disiplin ilmu teknik yang saling berkaitan. (yas/can)
UMM Anugerahi Menkeu Sri Mulyani Tokoh Pemajuan Ekonomi Syariah

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menganugerahi Menteri Keuangan (Menkeu) RI Sri Mulyani Indrawati, SE., M.S., Ph.D. penghargaan sebagai tokoh dalam bidang pemajuan Ekonomi Syariah di Indonesia. Penganugerahan yang berlangsung Kamis (10/10) di Hall Dome UMM ini lantaran Sri Mulyani dinilai turut meletakkan landasan bagi pemajuan Ekonomi Islam. Saat ini, Sri Mulyani sendiri ditunjuk menjadi Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) periode 2019 – 2023. “Ibu Sri Mulyani turut mewujudkan pengembangan kualitas sumberdaya manusia, peningkatan kapasitas riset, mendukung kebijakan yang menunjang perkembangan ekonomi syariah, mendorong sinergi antara akademisi, industri, dan pemerintah atau otoritas dalam mengembangkan ekonomi syariah, serta mendukung upaya membangun wajah Islam yang inklusif dan sejalan dengan semangat kebhinekaan dalam bingkai NKRI,” ungkap Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin saat membacakan SK. Rektor UMM dalam sambutannya menyampaikan, Kampus Putih UMM senantiasa mengundang para tokoh nasional dari berbagai latar belakang bahkan tokoh internasional sebagai inspirasi pada para mahasiswa, sebagai tokoh-tokoh masa depan bangsa ini. “Beliau seorang Srikandi yang tahan banting dan bisa hidup di sembarang ‘alam’. ‘Alam’-nya pak SBY dan alamnya Pak Jokowi. Mudah-mudahan ke depannya beliau juga masuk di dalam jajaran kabinet berikutnya,” ungkap Rektor Fauzan. Ada satu hal, sambung Fauzan, yang barangkali perlu mahasiswa contoh. “Selain kiprah dan kesuksesan beliau, beliau itu orang yang taat beragama, puasa Senin-Kamisnya tidak terhenti. Oleh karena itu saya mohon maaf kalau meja-meja itu bersih dan hanya ada pot-pot bunga. Tidak ada satupun makanan di atas meja karena kita semua menghargai beliau dan beliau adalah Srikandi yang menurut kita adalah luar biasa luar dan dalamnya,” tegas Fauzan di hadapan 7000 mahasiswa UMM. Menteri yang sempat mendapat penghargaan sebagai menteri terbaik dunia dalam ajang World Government Summit 2018 ini memesankan kepada ribuan mahasiswa UMM dalam orasi ilmiahnya bahwa sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas dan inovasi adalah faktor penentu dalam rangka mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. “Pemerintah akan selalu berkomitmen dalam mendorong perbaikan kualitas SDM melalui berbagai langkah afirmasi dan terobosan program kebijakan,” katanya. UMM harus terus berkiprah, berkarya tidak mudah puas akan capainnya, dan selalu haus akan pencapaian baru. Sehingga mampu memberikan solusi atas berbagai permasalahan bangsa. “Diharapkan UMM agar tidak hanya mendidik kemampuan hard skill, kognitif dan intelektual mahasiswa. Tetapi juga membentuk soft skill antara lain berupa karakter yang berintegritas. Dan jangan lupa, jangan pernah lelah mencintai negeri ini,” tutup Sri yang juga anggota keluarga kehormatan Kampus Putih ini. (riz/can)