Rektor Minta Fungsionaris Mahasiswa Berperan Strategis Bagi Bangsa

REKTOR Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fauzan meminta agar seluruh elemen organisasi di lingkungan UMM memiliki wawasan, mampu membaca tantangan-tantangan masa depan, dan membawa organisasi berperan strategis di wilayah nasional dan regional agar bermakna bagi bangsa Indonesia. “Itu sejalan dengan jargon UMM, dari Muhammadiyah untuk Bangsa”, ujar Fauzan selepas melantik pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas dan Fakultas, Senat Mahasiswa Universitas dan Fakultas, serta Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) se-UMM periode 2017-2018, Rabu (12/7) di Theater UMM Dome. Pelantikan turut dihadiri Wakil Rektor I dan II UMM, jajaran Dekanat, Ketua Jurusan dan Ketua Program Studi, Kepala Biro, Staf Ahli Kemahasiswaan dan Kepala Bagian, serta Ketua Komisi Pemilu Raya Universitas (KPRU) UMM. Pelantikan dimulai dengan pembacaan Surat Keputusan Pengangkatan SEMU, BEMU, dan UKM masa bakti 2017-2018 oleh Wakil Rektor III UMM Sidik Sunaryo. Dalam pengarahannya, Rektor UMM juga tak lupa berpesan fungsionaris mahasiswa serius dalam mengemban amanat, turut membangun kepercayaan masyarakat dengan menunjukkan prestasi-prestasi dan memiliki tanggung jawab sosial. (nim/han)
Jadi Kampus Asuh, UMM Bimbing UMSIDA dan Uniro Tuban

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini mendapat tugas baru untuk menjadi kampus asuh bagi dua perguruan tinggi (PT) di Jawa Timur, yaitu Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) dan Universitas PGRI Ronggolawe Tuban (UNIRO). Hal ini sekaligus menindaklanjuti penunjukan Kemenristek Dikti pada UMM dan 26 PT terbaik se-Indonesia untuk menjadi kampus asuh bagi universitas yang masih belum terakreditasi A. Dimulainya tugas baru itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara UMM dengan dua kampus tersebut, Selasa (11/7) di Auditorium UMM. Kepala Badan Pengelola dan Pengendalian Akreditasi (BPPA) UMM, Dr Ainur Rofieq MKes mengatakan UMM akan membimbing UMSIDA dan UNIRO berupa program pengendalian mutu, baik Sistem Pengendalian Mutu Internal (SPMI) maupun Sistem Pengendalian Mutu Eksternal (SPME). “Rencananya, bidang SPMI yang kami berikan ada lima, yaitu pendidikan dan pembelajaran, penelitian, pengabdian masyarakat, tata kelola, dan kerja sama, sedangkan SPME terkait dengan akreditasi institusi dan akreditasi prodi. SPME dan SPMI saling terkait, karena nilai SPME yang baik tak lepas dari poin-poin penilaian pada SPMI,” ujar Rofieq. Meski telah merumuskan rencana pembimbingan, tapi UMM tetap mengacu pada hasil need analysis dan Focus Group Discussion yang dilakukan setelah MoU. Rofieq menambahkan, hal ini lantaran kebutuhan tiap kampus berbeda. “Misalnya Uniro yang akreditasi institusi masih C, dan UMSIDA sudah B. Juga, Uniro yang memiliki 13 prodi berakreditasi C dan UMSIDA hanya 7 prodi,” imbuh Rofieq. Program pembimbingan ini akan dilakukan hingga November 2017 mendatang. Menanggapi hal ini, Rektor UMM Fauzan dalam sambutannya menyatakan tak ingin momen ini hanya menjadi formalitas, melainkan harus realitas. “Satu-satunya pilihan yakni harus berhasil. UMM membuka peluang selebar-lebarnya untuk belajar. Silahkan UMSIDA dan Uniro magang di masing-masing program studi yang sesuai, nanti kita juga bisa gelar workshop di kedua universitas,” terang Fauzan. Rektor berharap berlangsungnya program ini dapat menjadi instrumen strategis dalam menciptakan trust masyarakat baik untuk UMM maupun perguruan tinggi asuh, sehingga output-nya dapat meningkatkan akreditasi institusi dan akreditasi jurusan. Lebih lanjut, Rofieq menjelaskan, Kopertis selalu memberikan penilaian bagi PT yang membina kampus lain yang secara akreditasi dan mutu ada di bawahnya. Tak hanya itu, penilaian ini akan menjadi media UMM untuk mempertahankan AKU Kartika. “Jika berhasil membimbing dua kampus asuh itu, UMM akan dapat poin tambahan. Jadi sama-sama menguntungkan,” pungkas Rofieq. (ich/nim/han)
Lulusan UMM Berpeluang Jadi Perawat Profesional di Jepang

DUA alumni Program Diploma Tiga (D3) Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sobaruddin Subekti dan Muhammad Fattahu, yang saat ini bekerja sebagai tenaga keperawatan di Jepang berkesempatan membagi ilmunya pada mahasiswa D3 Keperawatan UMM (10/7) di sela masa liburannya di Indonesia. Subekti dan Fattahu merupakan dua dari tujuh alumni D3 Keperawatan UMM yang saat ini bekerja di sejumlah rumah sakit dan lembaga kesehatan di Jepang. Subekti bekerja di Sangenjaya Hospital sementara Fattahu di Central Otaku, keduanya terletak di Tokyo. Mereka bekerja di Jepang melalui program kerjasama pemerintah Indonesia dan Jepang. Bagi Subekti, kualitas lulusan D3 Keperawatan UMM sudah sangat mumpuni untuk bersaing secara profesional dengan lulusan luar negeri. “Pengetahun dan pengalaman yang kita dapat selama kuliah di UMM sudah lebih dari cukup untuk bersaing dengan perawat dari Filipina maupun Jepang sendiri. Kendala kita hanya bahasa saja, dan itu bisa dilatih,” ujarnya saat sharing pengalaman di Auditorium Kampus II UMM. Pengalaman bekerja di luar negeri bagi mereka sungguh mengesankan. Selain merasakan suasana baru dengan budaya dan gaya hidup berbeda, dari sisi pendapatan juga cukup tinggi, terlebih jika dibandingkan dengan gaji perawat di Indonesia. Gaji pertama seorang perawat bisa mencapai Rp 19 Juta, sedangkan biaya hidup berkisar antara Rp 8 hingga 9 juta saja. Subekti malah digaji mencapai Rp 35 juta karena sudah memperoleh registered nurse (RN) sebagai perawat profesional. Diakui Subekti, perawat yang telah memiliki RN memang digaji dua kali lipat karena telah dianggap profesional dan sudah bisa menangani pasien secara langsung. RN merupakan sertifikasi nasional bagi perawat di Jepang yang juga diakui secara internasional. Untuk memiliki RN, seorang perawat harus mengikuti ujian keperawatan yang sepenuhnya berbahasa Jepang. “Bahkan, ini juga berlaku bagi perawat yang lulus kuliah di Jepang. Mereka pun tidak mudah untuk lulus ujian ini dan bisa mendapatkan RN. Dari segi persentase, hanya 10 persen perawat yang bisa lolos ujian ini,” jelas Subekti. Selain Subekti dan Fattahu, pada bulan Februari lalu, alumni D3 Keperawatan UMM lainnya yang juga bekerja di Jepang, Micky Herera, sempat mengunjungi adik-adiknya di UMM untuk memberikan motivasi dan inspirasi. Seperti halnya Subekti, Micky juga termasuk di antara sedikit perawat yang sudah mendapatkan RN dari pemerintah Jepang. Sekalipun mereka lulusan D3, namun di Jepang kualifikasi mereka disetarakan dengan S1. Dengan adanya RN ini, mereka juga berkesempatan bekerja di Eropa, karena RN di Jepang diakui secara internasional. Menindaklanjuti banyaknya alumni yang saat ini bekerja di Jepang, Kepala Program Studi D3 Keperawatan UMM, Reni Ilmiasih, mengatakan akan memperkuat kurikulum agar alumninya siap bersaing secara internasional. “Selain di Jepang, ada juga beberapa alumni kita yang bekerja di Arab Saudi, Taiwan, Australia, dan sebagainya. Untuk itu, kurikulumnya coba kita perkuat agar adik-adiknya bisa mengikuti jejak mereka,” paparnya. Di kurikulum, kata Reni, sudah ditambahkan mata kuliah wajib bahasa asing, yaitu bahasa Jepang dan bahasa Arab, selain bahasa Inggris tentunya yang sudah menjadi program universitas. “Selain kurikulum, kemitraan dengan berbagai universitas dan lembaga luar negeri juga kita perkuat. Yang pasti, kita sudah siap untuk menghasilkan alumni yang bertaraf internasional,” pungkasnya. (dis/han)
UMM Hadirkan Pakar Australia Perkuat Kualitas Ajar Bahasa Inggris

KOMITMEN Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam upaya terus menerus meningkatkan kualitas sumber daya manusia pengajaran bahasa Inggris makin dipertajam. Hal tersebut ditandai dengan diselenggarakannya Seminar on English Language Teaching yang menghadirkan pakar dari University of South Australia, Dr Ngoc Ba Doan (6/7). Selain Ngoc Ba Doan melalui materi English Language Teaching and Learning in Mobile World: Challenges and Possibilities, seminar ini juga menghadirkan dua pakar lainnya, di antaranya Teachers Code-Switching in Indonesian Tertiary Bilingual Classroom oleh Hilda Cahyani, Ph.D. dari Politeknik Negeri Malang (Polinema), Effective EFL Teaching: A Note on Succes and Failure Stories oleh Dr. Estu Widodo. Seminar ini merupakan salah satu bentuk implementasi kerjasama antara UMM dengan UNISA. Kegiatan yang berlangsung di di Ruang Sidang Senat UMM ini diikuti sejumlah dosen dari program studi Bahasa Inggris dan lembaga pengembangan bahasa Language Center UMM. Sementara Asisten Rektor Bagian Kerjasama Luar Negeri, Drs. Suparto, M.Pd. menjelaskan, gelaran seminar ini melanjutkan tradisi kerjasama UMM yang sudah ada sebelumnya. Suparto juga mendorong para peserta untuk memanfaatkan luasnya peluang kerjasama yang dilakukan UMM. “Kami juga membuka usulan kerjasama, khususnya dengan UNISA. Masih banyak kesempatan dan peluang untuk menjalin kerjasama dengan Australia. Meskipun Australia secara geografis dekat dengan Indonesia, malahan kita lebih banyak kerjasama dengan Eropa,” pungkasnya. (can/han)
Pramuka Masuk Kurikulum, PPG UMM Gelar Kursus Mahir Dasar

SEBANYAK 77 mahasiswa Program Profesi Guru (PPG) dan mahasiswa program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) siap mengikuti Kursus Mahir Dasar (KMD) dan Kursus Mahir Lanjutan (KML) pembina pramuka di bumi perkemahan Sumber Waras, Lawang, Kabupaten Malang, Selasa hingga Sabtu (4-8/7). Sebelum berangkat ke bumi perkemahan, alumni program Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (SM-3T) ini lebih dulu mengikuti pembukaan di ruang sidang Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Ketua pelaksana kegiatan, Oki Dika Gura menyatakan KMD dan KML ini adalah program kerja PPG UMM bekerja sama dengan Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka Kabupaten Malang. Sejak tahun 2013, kegiatan pramuka masuk dalam kurikulum pembelajaran di semua level pendidikan. Untuk itu, kata Oki, alangkah lebih baik bila tiap guru bisa membina pramuka. “Di KMD akan mendapatkan materi, baik di dalam ruangan maupun lapang. Sebagai calon pendidik, akan lebih baik bila memiliki ijazah KMD dan bisa membina pramuka, karena pramuka sudah masuk di kurikulum,” ujarnya. Sementara itu, dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM, Dr Poncojari Wahyono, MKes mengatakan PPG di UMM sudah berjalan selama dua tahun. Amanah dari Kemenristek Dikti ini tak sembarangan. Pasalnya, tidak semua kampus bisa menyelenggarakan PPG. Di Jawa Timur, UMM menjadi satu-satunya kampus swasta penyelenggara PPG. Untuk menyelenggarakan PPG, UMM mesti mengikuti seleksi berdasarkan akreditasi dan AIPT fakultas, kegiatan FKIP, serta kinerja dan kompetensi dosen. Selain PPG, UMM juga mengemban amanah untuk menyelenggarakan PLPG sejak 8 tahun lalu. “Banyak FKIP di kampus lain yang tidak berkesempatan menyelenggarakan program ini. Evaluasi dari penyelenggaraan program ini juga dilakukan tiap tahun oleh Kemenristek DIkti. Jadi, UMM harus mengembangkan kualitas dengan harapan kedua program ini akan terus terselenggara di FKIP UMM,” pungkasnya. (ich/han)
Malik Fadjar: Silaturrahim Hadirkan Optimisme dan Kejernihan Pikiran

KETUA Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Malik Fadjar MSc dalam tausiahnya pada gelaran Halal bi Halal UMM, Senin (3/7) menegaskan, kita semua wajib bersyukur atas nikmat kesempatan melalui Ramadhan. Syukur ini perlu terus-menerus dijadikan kekuatan untuk memandang masa depan, berpikir optimis dan jernih dalam menjalani kehidupan. “Usia boleh menua, tapi pikiran dan pandangan harus tetap segar dalam memandang masa depan,” ujarnya. Bersyukur, lanjut Malik, harus selalu ditingkatkan agar bisa memainkan peranan ketaqwaan, keimanan, dan kemanusiaan. Terlebih, bulan Syawal diibaratkan Malik sebagai bulan menjalin silaturrahim. Melalui silaturrahim, kata Malik, rezeki akan banyak mengalir dalam kehidupan. “UMM harus terus didukung rasa syukur oleh segenap penghuninya, pandangan yang jernih, persahabatan yang ikhlas, dan semangat memberi makna yang besar untuk generasi penerus. Generasi penerus dapat dimaknai sebagai anak didik di lingkungan kampus, atau anak-anak kita dalam keluarga,” urai Malik. Merujuk pada perintah berpuasa pada Quran Surat Al-Baqarah ayat 183, Malik menegaskan tujuan berpuasa ialah menjadikan manusia sebagai makhluk yang bertaqwa. Taqwa, menurut Malik adalah nilai mulia yang bersarang di hati. Setelah sebulan berpuasa, manusia mestinya mempunyai satu kekuatan yang dalam ilmu jiwa dikenal dengan istilah inner beauty. Dalam Islam, inner beauty dikenal sebagai hanif. “Taqwa itu hanif, menebar kebajikan memihak kebenaran, dan selalu ingin berbuat yang terbaik. Misalnya dalam menyambut mahasiswa baru, layani dengan kekuatan hati yang peduli dan munculkan inner beauty yang kita miliki,” kata Malik. Sementara itu, Rektor UMM Fauzan menyatakan dalam Islam, setelah iman ialah kemanusiaan. Oleh karenanya, UMM tak lelah mengembangkan nilai keimanan dan kemanusiaan. “Qori’ yang membaca ayat suci Al-Quran dalam pembukaan tadi ialah petugas kebersihan di UMM. Ini salah satu cara UMM mengembangkan nilai kemanusiaan,” ungkap Fauzan. Hidup di tengah dinamika masyarakat berbangsa dan bernegara, UMM terus bahu –membahu memberikan yang terbaik. Akhirnya, halal bihalal menjadi momen untuk menjernihkan kembali lahir dan batin antarkeluarga besar UMM dan menjadikan hari esok sebagai harapan bagi generasi baru. Halal bihalal keluarga besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) digelar setelah libur hari raya Idul Fitri, di UMM Dome. Kegiatan ini dihadiri seluruh jajaran rektorat, dekanat, dosen, dan karyawan beserta keluarganya. Selain untuk silaturrahim, halal bihalal ini juga menjadi momen meningkatkan syukur dan siap memulai kembali aktivitas di kampus putih. (ich/can)
Melalui Buber Lintas Agama, UMM Kembangkan Harmoni Kemajemukan

BEKERJA sama dengan Forum Kerukunan Umat Beragama dan Perhimpunan Indonesia Tionghoa, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan silaturrahim dan buka bersama (18/6) di Sengkaling Convention Hall. Wakil Rektor II UMM, Dr Nazaruddin Malik menyatakan, silaturrahim ini digagas untuk memperkuat posisi Muhammadiyah dalam menjaga kemajemukan bangsa melalui UMM sebagai salah satu amal usahanya. Kemajemukan ini salah satunya tampak dari mahasiswa UMM yang berasal dari beragam latar belakang suku, agama, dan ras. “Kemajemukan ini bisa menjadi potensi dan instrumen untuk mendestruksi perkembangan bangsa,” ujar Nazar. Senada dengan Nazar, ketua umum Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) kota Malang, Drs H A Taufik Kusuma menyatakan silaturrahim ini menjadi momen penting untuk membangun kebersamaan yang lebih kokoh. Tak hanya itu, silaturrahim ini penting untuk meneguhkan kembali kerukunan umat beragama di tengah maraknya isu nasional terkait toleransi beragama. “Prinsip dari Muhammadiyah untuk Bangsa terwujud di sini, karena kampus berlabel Islam tapi tetap menerima dari berbagai agama, suku, dan budaya,” imbuh Taufik. Dihadiri perwakilan keenam agama di Indonesia, suasana tampak akrab dan hangat. Orang-orang Tionghoa Muslim mewarnai kehangatan suasana ramah-tamah selepas melaksanakan Salat Maghrib berjamaah. Di akhir, Widodo dari perkumpulan kesukuan Tionghoa menyatakan, UMM tak hanya menerapkan kemajemukan dalam ranah normatif. Lebih dari itu, UMM telah bergerak nyata di dalam keberagaman itu. “Muhammadiyah menjadi lokomotif untuk menjadi alat memajukan masyarakat,” pungkasnya. (ich/han)
Rektor Ingin Media Perkuat Fungsi Edukatif

REKTOR UMM Fauzan menegaskan bahwa peran media begitu strategis di tengah masyarakat sebagai aktor yang memiliki fungsi edukasi. Hal itu disampaikan Fauzan dalam Silaturahim dan Buka Bersama Jajaran Pers se-Malang Raya di Sengkaling Convention Hall UMM (16/6). Dalam perkembangannya, kata Fauzan, media terbagi menjadi dua kelompok, yakni media yang berorientasi konstruktif, juga media yang berorientasi destruktif. “Sebagai fungsi edukasi, yakni media harus membangun, membina dan memperbaiki. Bukan sebaliknya, memberi efek negatif kepada seseorang, baik kelompok, lembaga maupun lapisan sosial lainnya,” ungkap Fauzan. Lebih lanjut Fauzan menyatakan bahwa dirinya terbuka atas kritik dan saran yang dilayangkan kepadanya maupun kepada UMM. Hal itu, kata Fauzan, dalam rangka agar tetap terjaganya kesinambungan kerjasama antara UMM dan pihak media. Dengan cara demikian, imbuh Fauzan, akan mampu membangun sesuatu yang lebih bermakna. “Kita harus saling bersinergi. Sinergi untuk mengembangkan informasi-informasi yang lebih konstruktif. Alhamdulillah, selama ini kita tidak pernah salah paham, karena memang sudah saling pengertian. Semoga silaturahim kita pada hari ini akan bisa memperkuat jalinan saling pengertian itu,” tandasnya. Hadir memberi tausiyah, Direktur Agropolitan TV Nurbani Yusuf. Menurutnya, selain guru, jurnalis juga memiliki fungsi edukasi. “Di tangan kita ada tanggungjawab besar. Kita yang akan membentuk dan membangun opini masyarakat,” kata Nurbani yang juga merupakan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu ini. Dengan menukil surat Fussilat ayat 34, Nurbani lantas mempertegas pernyataannya. “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia,” kutipnya. “Tesisnya, ketika kita mendapat perlakuan jahat, antitesisnya kita disuruh memberikan kebaikan berlipat. Bukan kejahatan dibalas kejahatan, tetapi kejahatan dibalas kebaikan,” tukasnya. (can/han)
Aktivis Mahasiswa UMM Diminta Jadi Insan Spiritual

RATUSAN aktivis mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Senat Mahasiswa, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), maupun Lembaga Semi Otonom (LSO) di lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti Kajian Ramadhan 1438H di hall dome UMM, Kamis (15/6). Kepala biro kemahasiswaan, Drs Abdullah Masmuh MSi dalam sambutannya menyatakan, ada tiga tujuan diadakannya kajian untuk para aktivis. Kajian ini sebagai pengejawantahan agar aktivis memiliki nilai spiritual dan tangguh dalam menjalankan amanahnya sebagai pemimpin mahasiswa. Kedua, kajian ini menjadi momentum meningkatkan kesadaran beragama, keimanan, dan ketaqwaan. Ketiga, memperkaya tradisi kajian Al-Quran dan khazanah keilmuan klasik dan kontemporer. Hadir sebagai pemateri tentang “Al-Quran sebagai Landasan Etik Pengembangan Sains menuju Tafsir Kontekstual”, Dr M Nurhakim MAg menyatakan Al-Quran harus menjadi sumber inspirasi aktivis dalam menjalankan roda kepemimpinan dan kegiatan kemahasiswaan. “Aktivis yang menjadi pemimpin di kalangan mahasiswa harus menjadikan Al-Quran sebagai pedoman. Karena Al-Quran hadir sebagai petunjuk dan nasehat bagi manusia,” ujar asisten koordinator bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) ini. Sementara itu, materi kedua disampaikan oleh kepala Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF), Pradana Boy ZTF, Ph D bertema “Muhammadiyah sebagai Doktrin dan Tantangan Masa Depan”. Boy menuturkan, tidak semua mahasiswa berideologi Muhammadiyah. Namun, pengajaran nilai-nilai Muhammadiyah di kampus putih menjadi hal yang mutlak di mata Boy. “Mahasiswa yang sadar lalu berMuhammadiyah melalui AIK itu adalah bonus. Tapi, kalau mahasiswa UMM tidak memiliki wawasan tentang keMuhammadiyahan dan organisasi-organisasi teknis Muhammadiyah, ini bencana,” terang Boy. Dalam paparannya, Boy menegaskan, Muhammadiyah sebagai gerakan purifikasi seringkali dihubungkan sangat dekat dengan radikalisme. Namun, ada dimensi yang menjaga Muhammadiyah tetap pada garisnya, yakni rasionalisasi. “Sekuat apapun arus radikalisme, jika masih berMuhammadiyah, maka mahasiswa tak akan terseret arus menjadi radikal, karena memegang erat rasionalisasi. Oleh karenanya, baik Boy maupun Nurhakim menekankan, dewasa ini banyak orang memegang keyakinan pada identitas atau organisasi melebihi keyakinan akan Islam. Sebagai aktivis yang berbeda organisasi dan latar belakang pemikiran, perbedaan fiqih dan keyakinan mestinya tak lantas menciptakan keretakan antarmahasiswa. Wawasan akan latar belakang mengapa tiap manusia berbeda menjadi wawasan yang harus dimiliki aktivis. Pasalnya, dengan memahami alasan perbedaan tiap individu, maka perbedaan akan menjadi hal yang disepakati bersama dan dihargai. “Mahasiswa aktivis itu berilmu. Orang yang berilmu mesti membuat orang berhati lembut. Kalau berilmu tapi belum memiliki hati lembut, berarti belum berilmu yang sesungguhnya,” pungkas Boy berpesan. (ich/han)
UMM Gelar Apresiasi Ramadhan Karya Anak Bangsa

RATUSAN siswa setingkat Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) se-Kota Malang, Jawa Timur, unjuk kebolehan di perhelatan Apresiasi Karya Anak Bangsa di selasar Masjid AR Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (15/6). Mereka menampilkan apresiasi di bidang seni gambar, bicara, serta agama “Event ini selain dimaksudkan untuk menyemarakan bulan Ramadhan 1438 Hijriyah, juga untuk mengedukasi peserta tentang pentingnya hidup yang harmoni di tengah Kebhinekaan anak bangsa,” terang koordinator kegiatan, Jamroji MComm saat diwawancarai di sela acara. Maka, imbuh dosen program studi Ilmu Komunikasi ini, tema-tema tiap lomba diarahkan untuk bisa memberi pesan-pesan hidup yang harmoni, hidup yang rukun antar sesama makhluk Allah. Gelaran yang merupakan bagian dari rangkaian acara Gema Ramadhan 1438 Hijriyah UMM ini terbagi menjadi 6 tangkai lomba. Di antaranya Lomba Mewarna untuk sekolah TK dan SD kelas III, sementara Lomba Kaligrafi, Lomba Puisi Islami, Lomba Pemilihan Dai Cilik (Pildacil), Lomba Mendongeng, serta Lomba Tartil diperuntukan bagi siswa tingkat SD. Setiap jenis lomba diambil 3 juara dengan ganjaran tropi dan uang pembinaan. Khusus pada tangkai lomba mendongeng, panitia memberikan kebebasan tiap peserta untuk mengeksplor potensinya. Seperti yang dilakukan peserta dari SD Plus Qurrota A’yun Kota Malang, Mariella Nafisah yang menggunakan media boneka guna mendukung penampilan mendongengnya. Tak pelak, penampilan Mariella mengundang tepuk tangan meriah dari para penonton dan peserta lain. Senada dengan Jamroji, melalui tema “Merajut Harmoni dalam Prestasi Anak Negeri”, ketua pelaksana Gema Ramadhan 1438 Hijriyah Ahmad Fatoni Lc MAg berharap gelaran ini dapat menanamkan karakter peserta menjadi generasi yang soleh dan solehah. (can/han)