Peduli Lingkungan, Dosen FEB UMM Gelar Pelatihan Eco-enzym

Peduli kelestarian lingkungan, dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan pengetahuan tentang pengolahan sampah rumah tangga. Melalui Program Pengabdian Fakultas, tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM melangsungkan pelatihan dengan tema “Gerakan Produktif Pemanfaatan Sampah Rumah Tangga Melalui Eco-Enzym”. Adapun agenda ini dilaksanakan di Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, pada Jumat (18/6) lalu. Aktivitas pengabdian masyarakat itu diinisiasi oleh Dra. Dwi Susilowati, M.Si., Venus Kusuawardhana, SE., MM., dan Dhurotus Sangadah, SE., MM. Mereka bertiga tergabung dalam satu tim yang juga menggandeng kelompok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) sebagai mitra. “Kami berusaha sebaik mungkin untuk berusaha meningkatkan produktifitas masyarakat setempat,” terang Dwi Susilowati. Dwi, panggilan akrabnya menjelaskan bahwa pelatihan itu dihadiri puluhan peserta dari kalangan ibu-ibu. Adapun narasumber yang disiapkan adalah mereka yang sudah ahli dan berpengalaman dalam bidang pengembangan eco-enzym. “Kami sengaja mengangkat eco-enzym karena berawal dari keprihatinan akan semakin rusaknya lingkungan,” jelasnya. Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan dan juga pengalaman baru, utamanya ibu-ibu PKK Desa Mulyoagung. Ia juga berharap agar apa yang didapat di agenda ini bisa disebarluaskan ke masyarakat lain sehingga manfaatnya bisa dirasakan di seluruh lapisan. Dhurotus Sangadah, salah satu pemateri memaparkan bahwa limbah rumah tangga bisa dimanfaatkan dengan baik melalui eco-enzym. Jika dilihat dari aspek ekonomi, bahan ini dapat menekan dan menghemat pengeluaran rumah tangga. Hal itu tidak lepas dari kegunaannya sebagai pengganti handsanitizer, sabun mandi, sabun cuci piring, bahkan juga pupuk alami. Sementara itu, pemateri lainnya, Gung Endah menerangkan bagaimana cara membuat eco-enzym dengan bahan-bahan yang mudah didapat. Beberapa di antaranya adalah sayur-sayuran, buah-buahan, air gula merah dan tetes tebu atau molase. Adapun persentase bahan itu terdiri dari tiga liter sayur dan buah, satu liter gula merah dan tetes tebu, dan yang terakhir adalah sepuluh liter air. Menariknya, pada pelatihan itu para peserta tidak hanya menerima gambaran teori saja. Mereka juga langsung mempraktekkan pembuatan eco-enzym dengan bimbingan para pemateri. “Proses yang digunakan dari bahan mentah menjadi eco-enzym memakan waktu sekitar tiga bulan. Setelah itu, bahan ini sudah bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Gung Endah. (haq/wil)
Tampilkan Tari Menjeng, UMM Sukses Menangi Kompetisi Tari Nasional

Tak hanya meningkatkan prestasi internasional, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga terus melestarikan budaya-budaya tradisional. Melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sansekarta, UMM berhasil sabet juara tiga dalam perlombaan tari yang dilaksanaan oleh Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI). Perlombaan tersebut dilakukan secara daring pada Sabtu (05/06). Tim yang beranggotakan lima orang ini memilih tarian Menjeng asal Bayuwangi dalam kesempatan tersebut. Salah satu anggota tim, Karinadya Debi Fatika Azzarah berkata bahwa pemilihan tari Menjeng untuk lomba didasarkan pada gerak tari yang lincah dan rencak. Tari Menjeng juga memiliki banyak variasi tarian, sehingga tim ini dapat memilih banyak koreografi.“Musik pada tarian tersebut juga sangat meriah dan bersemangat. Di samping itu, kami ingin mencoba tari dari daerah lain selain Malang,” ungkap mahasiswa jurusan Ilmu Keperawatan tersebut. Debi, sapaan akrabnya berkata bahwa perlombaan itu berlangsung secara virtual. Latihan untuk perlombaan dilakukan dalam waktu yang cukup singkat, yaitu hanya satu minggu. Adapun proses latihan dilakukan secara terus menerus setiap hari selama satu minggu penuh. “Dengan waktu yang singkat, kami berusaha dengan sangat keras untuk menghafal koreografi. Kami juga harus mengambil video untuk keperluan lomba. Untungnya tim kami sangat kompak dan memiliki tekad yang kuat untuk meraih juara,” ujar mahasiswa kelahiran Malang itu. Di sisi lain, ketua UKM Sansekerta, Ikko Rahmatya mengungkapkan bahwa pemilihan penari untuk lomba ini cukup sulit. Hal itu karena harus menemukan anggota UKM yang bisa pergi ke Malang untuk latihan setiap hari. Dalam perlombaan ini, UKM Sansekerta juga memberika pendampingan pada para penari melalui tiga orang Liaison Officer (LO). “Ketiga LO ini yang akan mengurus keperluan serta jadwal penari. Mulai dari latihan hingga pengiriman video perlombaan,” kata Ikko. Selain Debi, empat orang penari lainnya yang tergabung dalam tim ini adalah Kalki Sonia Paksi, Lya Novitasari, Salsabiila Ghinantika, dan Shofa Julyta Normasari. Di akhir sesi wawancara Ikko mengaku senang pihak kampus memberikan informasi-informasi bermanfaat terkait perlombaan tari. “Setelah memenangkan kejuaraan ini, ke depannya saya ingin UKM Sansekerta dapat meningkatkan kualitas lagi. Tidak hanya di perlombaan level nasional saja, tapi juga internasional,” pungkasnya. (syi/wil)
Tingkatkan Kualitas, UMM Laksanakan Audit Mutu Internal

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai universitas Islam terbaik dunia terus menjaga kualitasnya. Salah satu jalan yang ditempuh adalah dengan melaksanakan audit mutu internal bagi seluruh prodi dan Unit Pengelola Program Studi (UPPS). Adapun kegiatan itu dilaksanakan sejak tanggal 7 hingga 26 Mei 2021, bergantian di tiap UPPS. Dr. Muslimin Machmud, M.Si. selaku Kepala Badan Penjamin Mutu Internal (BPMI) UMM menerangkan bahwa penjaminan mutu menjadi komponen yang menentukan pengelolaan Perguruan Tinggi (PT). Maka BPMI memiliki tugas untuk memastikan bahwa UMM sudah memenuhi seluruh standar yang ditentukan oleh negara, yakni Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN DIKTI). “Audit ini dilaksanakan di lingkungan prodi setahun sekali, sementara untuk tingkat perguruan tinggi kami langsungkan dua tahun sekali,” tegas Muslimin. Maka dari itu, menurut Muslimin, seluruh Prodi dan UPPS perlu untuk menyusun dokumen yang disebut dengan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Adapun dokumen tersebut terdiri dari dokumen kebijakan mutu, manual mutu, standar mutu serta prosedur mutu. Keempatnya menjadi satu kesatuan yang harus disiapkan dan dilaksanakan agar pengelolaan perguruan tinggi bisa berlangsung dengan lancar. Muslimin kembali menerangkan bahwa audit mutu internal ini juga bisa digunakan untuk kepentingan akreditasi, baik Prodi maupun perguruan tinggi. Di samping itu juga bermanfaat untuk melancarkan proses perubahan dalam instrumen suplemen konversi. “Yakni mengubah format akreditasi yang lama seperti A, B dan C menjadi format yang baru. Sebut saja akreditasi unggul, baik sekali maupun yang lainnya,” ujar Dosen Komunikasi tersebut. Lebih lanjut, demi menjadikan UMM sebagai kampus unggul maka BPMI melakukan audit dengan sungguh sungguh meski berada di level internal. Hal itu dilakukan agar pelaksanaan tridharma bahkan caturdharma bisa diimplementasikan sesuai dengan standar. “Standar yang kami gunakan yakni standar nasional SN DIKTI. Adapula standar pelampauan yang sudah ditetapkan oleh universitas mencakup tujuh hal. Dua di antaranya yakni Al-Islam dan Kemuhammadiyaan dan kerja sama serta sumber daya manusia,” ungkapnya. Dosen yang sempat menjadi General Manager Sengkaling mengatakan bahwa budaya mutu yang baik bisa terlaksana jika ada komitmen yang sama dari berbagai pihak. Kerja sama pimpinan, pelaksana, serta penjamin mutu menjadi unsur penting dalam pelaksanaan mutu di perguruan tinggi. “Tentu kami tidak hanya ingin mencapai hal yang bersifat kuantitas saja, tapi juga terus meningkatkan dari segi kualitas. Sehingga para stake holder dapat merasa puas, karena ukuran mutu itu kan kepuasan,” pungkasnya di akhir. (wil)
Gita Surya UMM Menangi Lomba Paduan Suara POSSE 2021

Kembali berprestasi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menerus cetak mahasiswa bermental pemenang. Kali ini Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Gita Surya UMM berhasil meraih juara satu lomba paduan suara kategori Group Pop tingkat Nasional. Perlombaan ini merupakan bagian dari Pekan Olahraga, Sains, dan Seni (POSSE) 2021 yang di adakan oleh Univeristas Muhammadiyah Riau (UMRI). Adapun kompetisi tersebut berlangsung sejak 5 Mei hingga 17 Juni 2021 dan berlangsung secara daring melalui platform Zoom. Muhammad Ichlasul Amal Haque, Ketua UKM Gita Surya menjelaskan bahwa informasi lomba paduan suara tersebut ia peroleh dari Kemahasiswaan UMM. Adapun mereka telah berlatih selama sebulan sebelum terjun dan memenangi kompetisi itu. “Kami memutuskan untuk mengirim 13 anggota yang kami miliki. Mereka didorong untuk terus berlatih dan memberikan yang terbaik saat lomba berlangsung,” tegasnya. Ichlas, panggilan akrabnya mengaku salah satu tantangan yang dihadapi adalah waktu berlatih. Mereka hanya memiliki waktu satu bulan untuk saling belajar dan menyatukan suara. Apalagi mereka harus melakukan latihan secara daring. “Biasanya kami menyiapkan diri tiga hingga empat bulan sebelum kompetisi. Jadi persiapan kali ini cukup menantang, ditambah lagi porsi latihan yang dilaksanakan secara online. Ini menjadi pengalaman baru yang menarik,” ungkap Ichlas. Ia mengungkapkan porsi latihan daring PSM Gita Surya UMM dibagi menjadi tiga sesi tiap harinya. ketika sudah selesai, mereka juga menyiapkan alat-alat audio untuk merekam. Di samping itu juga alat-alat video agar bisa menghasilkan video dengan gambar dan suara yang terbaik. Terakhir, mahasiswa kelahiran Malang ini berharap raihan yang sudah dicapai tidak membuat PSM Gita Surya besar kepala dan cepat puas. Menurutnya, capaian ini seharusnya menjadi motivasi besar untuk bisa memenangkan kompetisi lainnya. Dengan begitu, para anggota dapat terdorong untuk terus mengasah skill dan kemampuan. “ Saya juga ingin mengajak seluruh mahasiswa untuk mencetak berprestasi. Bukan hanya untuk mengharumkan nama UMM saja, tapi juga menjadi ukiran sejarah bagi diri sendiri,” pungkasnya. (haq/wil)
Psikologi UMM Gelar Webinar Pengembangan Individu Berkebutuhan Khusus

Melihat kurangnya kesempatan kerja bagi individu berkebutuhan khusus, LPT Pengembangan Individu Berkebutuhan Khusus (PIBK) Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar seminar nasional. Agenda ini dilaksanakan dalam rangka menyikapi fenomena individu berkebutuhan khusus yang perlu mendapatkan perhatian agar lebih mandiri, sehingga memperoleh akses untuk bekerja dan hidup yang layak. Adapun seminar ini dilaksanakan pada Sabtu (12/6) lalu. Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Psikologi UMM, Muhammad Salis Yuniardi, Ph.D mengawali acara dengan memberikan pengantar seputar kisah anak romawi. Anak itu selalu berusaha membantu mereka yang mengalami kegagalan, terlantar dan yatim piatu. “Dari kisah tersebut, mari bersama-sama memberikan kontribusi dan bekerjasama untuk membantu individu berkebutuhan khusus agar mampu mendapatkan pekerjaan yang layak,” ajak Salis. Kemudian, pemaparan pertama diberikan oleh Dr. Tulus Winarsunu M.Si. Ia menjelaskan lebih lanjut terkait persiapan masa transisi untuk menghadapi kehidupan setelah sekolah dan dunia kerja bagi siswa berkebutuhan khusus. Ia memaparkan sebuah riset tentang gejolak individu berkebutuhan khusus di masa pandemi. Hasilnya, ia menemukan bahwa pandemi memunculkan kerugian bagi individu berkebutuhan khusus yang semakin mengalami gangguan double disadvantage. Meski sedikit, masih ada keuntungan dari masa pandemi yang dirasakan oleh mereka, yakni mudahnya pemantauan. Tetapi sejauh ini masalah yang terjadi jauh lebih besar daripada keuntungan. Selain itu, adapula masalah lain yang mengintai yakni perubahan mood serta kesejahteraan pada individu berkebutuhan khusus. Gejala ini dinamakan dengan gangguan worse mental well-being. “Banyak rutinitas yang sekarang tidak biasa dilakukan atau disebut dengan lose of progress and skills. Selain itu, berkurangnya teman mengakibatkan munculnya increased social isolation serta terjadinya physical deterioration and ucertain futures,” terangnya. Selanjutnya, Mike Ragnar, pemilik Burger Buto menerangkan terkait bagaimana pengalamannya menyediakan pekerjaan bagi individu berkebutuhan khusus di Malang. Beberapa di antaranya yakni tuna grahita berat dan ringan, tuli, dan individu berkebutuhan khusus lainnya. Menurutnya, mereka sebenarnya bisa bekerja namun dengan perhatian ekstra. Banyak peluang untuk mereka tetapi kita harus telaten. Sejak 2015, Kedai Buto sudah mulai membuka lowongan untuk disabilitas. Dimulai dengan memberikan pengertian sealam 3-6 bulan, kemudian baru bisa ditempatkan di berbagai bagian. “Sebelum pandemi, kami sempat menerima training untuk anak disabilitas, tetapi semenjak ada pembatasan semua terhenti dan beberapa pekerja diberhentikan. Saat ini yang terpenting adalah kualitas bukan kuantitasnya. Cita-cita saya adalah mempekerjakan para individu berkebutuhan khusus di garda terdepan. Saya mempersiapkan mereka untuk belajar menulis dan segala hal yang dibutuhkan,” jelas Mike. Narasumber lainnya, Dra. Dewanti Rumpoko, M.Si selaku Walikota Batu turut andil menyampaikan materi mengenai peluang berkarir bagi peserta didik berkebutuhan khusus. selain itu juga membahas kompetensi yang perlu dikembangkan. Sebagai Walikota, Ia mengaku seringkali memberikan kesempatan bekerja bagi disabilitas dalam sektor pemerintahan. Menurutnya, salah satu yang bisa membuka pintu peluang bagi mereka adalah adalah orang tua. Orang tua harus terus mendorong anak untuk percaya diri. “Yang dibutuhkan penyandang disabilitas bukan hanya belas kasih atau fasilitas yang mengkhususkan saja, melainkan dukungan pemerintah dengan memberi kesempatan yang sama di berbagai aspek,” tegasnya. Dijelaskan Dewanti, sebenarnya orang-orang di sekitar memiliki empati yang sangat besar terhadap disabilitas. Demi meningkatkannya, perlu adanya dorongan menjalin kerja sama antar pengusaha, pemerintah, dan instansi untuk memberikan lapangan usaha. Selain itu juga menyediakan fasilitas tempat yang layak bagi individu berkebutuhan khusus sehingga mereka bisa berdikari. (syi/wil)
Tekuni Dunia Film Sejak Kuliah, Alumni UMM ini Sukses Jadi Publisis

Kegemaran Novi Hanabi menonton film membawanya ke dalam lika liku panjang industri film Indonesia. Bekerja sebagai seorang publisis film, alumni Ilmu Komunikasi (Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini telah terjun ke dunia perfilman sejak duduk di bangku kuliah. Novi sapaan akrabnya, bercerita bahwa awalnya ia ingin terjun ke jurusan desain ataupun ilmu eksak. Namun karena sang ibu tidak ingin anaknya menekuni di bidang yang berat, akhirnya alumni UMM tahun 2015 ini banting setir ke jurusan Ilmu Komunikasi. “Sebenernya aku sudah diterima di Universitas lain jurusan eksak. Namun karena ibu takut kuliahnya terlalu berat, akhirnya aku daftar lagi ke Ikom UMM. kebetulan juga akreditasi Ikom UMM tahun itu sudah A. Selain itu ada Unit Kegiatan Mahasiswa bidang film yang ingin aku ikuti yaitu Kine Klub UMM. Disisi lain, UMM sebagai universitas Islam juga menerima mahasiswa non-Islam sepertiku, jadi ya udah sehati aja sama UMM,” ungkap Novi. Publisis kelahiran Malang ini bercerita bahwa dirinya tidak sengaja belajar mengenai promosi film ketika sedang mengalami kecelakaan data skripsi. Novi berkata pada saat itu data skripsinya hilang dan harus mengerjakan dari awal. Untuk menghibur diri, ia pergi ke jogja dan iseng-iseng melamar pekerjaan. Dari situ jaringan Novi meluas dan ia mengenal pekerjaan sebagai publisis film. “Karena tidak mau di suruh cepat-cepat balik ke Malang, akhirnya aku iseng daftar kerja di Dagadu Yogyakarta dan diterima di bidang marketing komunikasi. Bagiku, bekerja di bidang ini merupakan hal baru karena sebelumnya aku lebih fokus di bidang produksi film lewat praktikum kuliah maupun Kine Klub UMM. Jadi ketika awal menjadi publisis film, aku bisa menggabungkan pengetahuan audio visual dan marketing yang aku dapat dari Dagadu,” ungkap Novi. Film pertama yang digarap oleh Novi adalah seris dari Garuda di Dadaku. Novi berkata dari situ ia berkenalan dengan Angga Dwimas Sasongko dan mulai menggarap film-film Visinema seperti Filosofi Kopi 1 dan 2, Eggnoid, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI), dan Melankolia. “Makin lama relasiku makan berkembang. Aku tidak hanya mengerjakan konten promosi dari film bioskop saja, tapi juga festival film, promosi konser, dan konten promosi bioskop online. Pada tahun 2017 akhirnya aku berkesempatan untuk mendirikan Goodwork Indonesia,” kata Novi. Untuk menjadi seperti sekarang ini, Novi berkata peran dari kampus dan Kine Klub UMM sangat besar. Saya berharap Ikom UMM akan semakin meningkat dan mengikuti perkembangan zaman. “Saya juga ingin perfilman Indonesia semakin berkembang. Selain itu juga mendorong edukasi untuk para penonton agar menonton film secara legal. Dengan menonton film secara legal, kita turut membantu untuk memutar perekonomian negara serta meningkatkan branding di sektor pariwisata,” pungkasnya. (syi/wil)
Mahasiswa Psikologi UMM Sabet Juara Berkat Video Edukasi Kesehatan Mental

Pemahaman masyarakat Indonesia tentang kesehatan mental masih belum maksimal. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya orang yang menyepelekan gangguan mental dan enggan untuk pergi ke psikiater ketika mengalaminya. Untuk menghapus stigma negatif tersebut, Shafira Firdausa Brilliani, mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat video edukasi kesehatan mental berjudul Terbunuh Stigma. Adapun video itu diikutsertakan pada perlombaan nasional Promosi Video Kesehatan Mental dan berhasil meraih juara tiga. Perlombaan itu diselenggarakan oleh Asosiasi Psikologi Perguruan Tinggi Muhammadiyah (APSI PTM) pada Rabu (09/06) lalu. Sebagai seorang yang berkecimpung di bidang kesehatan mental, Brilliani mengaku prihatin dengan stigma negatif yang ada di masyarakat. Banyak orang yang mengalami masalah kesehatan mental. Mereka hanya memendamnya sendiri dan tidak ingin mendapat bantuan profesional. Bahkan ada yang tidak sadar bahwa mereka tengah berada di kondisi mental yang tidak baik. “Stigma negatif masyarakat terhadap pengidap gangguan mental nyata adanya. Orang-orang tidak ingin pergi ke psikolog maupun psikiater untuk berobat karena alasan malu diolok-olok sebagai orang gila. Lebih parah lagi takut dianggap sebagai aib keluarga. Kalau hal ini terus berlanjut, bisa-bisa orang yang mentalnya tidak sehat malah ‘terbunuh’ karena stigma tersebut,” ungkap mahasiswa kelahiran Bangkalan tersebut. Mahasiswa Psikologi semester dua ini bercerita bahwa untuk membuat satu video ini, ia memerlukan waktu hampir tiga minggu. Proses tersebut meliputi kesiapan materi, konsep video, properti, proses syuting, sampai editing. Hebatnya, Brilliani melakukan semuanya sendiri. “Dari semua proses produksi, kendala terberat yang saya alami adalah waktu. Saya harus pintar-pintar membagi waktu untuk kuliah, menjadi parttimer, dan membuat video. Saya juga tidak memiliki kamera profesional, untungnya ada teman yang bersedia meminjamkan kamera kepada saya untuk berkarya dan memenangi lomba ini. Untuk kendala editing, untungnya tidak ada karena saya sudah ada bekal editing sejak SMA,” ujar Brilliani melanjutkan. “Pada awalnya, saya sempat minder karena hampir semua peserta tergabung dalam berkelompok, sementara saya sendiri. Videonya juga keren-keren. Namun, Alhamdulillah saya berhasil memperoleh juara tiga. Saya juga tidak berencana berhenti sampai di sini saja, tapi akan mengembangkan kreativitas sehingga bisa mengikuti dan memenangi kompetisi lainnya,” pungkasnya mengakhiri. (syi/wil)
Tim Mahasiswa UMM Sabet Juara di Pilketannas 2021

Prestasi demi prestasi kembali diraih para Mahasiswa Fakultas Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah. Kali ini kabar baik datang dari Syafira Aulia Rahma, M. Dodik Prastiyo, dan Lailatul Azizah. Mereka yang tergabung dalam satu kelompok berhasil meraih predikat runner-up 2 pada event Pekan Ilmiah Keperawatan Nasional (Pilketannas) 2021, yakni di cabang Karya Tulis Ilmiah (KTI). Kompetisi yang dilangsungkan secara daring tersebut diadakan oleh Prodi Keperawatan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak. Adapun pengumuman juara diumumkan pada 13 Juni lalu. Syafira Aulia, salah satu anggota dari tim Hipotalamus mengatakan bahwa mereka mengambil judul “Si Adek Hebat: Satuan Aksi Deteksi & Rehabilitasi Kekerasan Anak Terintegrasi Aplikasi Dengan Pendekatan Home Based Intervention Masa Pandemi Covid-19”. Melalui KTI ini, mereka ingin membahas tentang kekerasan terhadap anak selama pandemi karena melihat banyaknya kesehatan mental pada anak yang semakin memburuk. Ia kembali menjelaskan bahwa Si Adek Hebat ini menjadi gagasan program yang mampu mendeteksi rehabilitasi dan kekerasan dini, yang terintegrasikan dengan aplikasi. Program Si Adek Hebat sendiri didukung dengan home based intervention yang dapat memudahkan pengawasan serta melibatkan keluarga dalam pemberian pendidikan. “Gagasan Si Adek Hebat ini menjadi gagasan program KTI kami yang harapannya bisa menurunkan angka kekerasan pada anak,” jelasnya. Adapun selama perancangan KTI, Fira menjelaskan tidak ada halangan berarti. Hal itu tidak lepas dari pembagian job desk yang disusun pada awal perancangan KTI. Di samping itu juga adanya briefing tiap minggu serta persiapan maksimal sejak jauh-jauh hari. “Alhamdulillah semua hal sudah kami siapkan dengan rapi sehingga tidak ada rintangan dan kendala besar yang kami temui. Apalagi kami juga terus berkomunikasi demi memenangkan kompetisi ini,” ujarnya. Ia bersyukur bisa ikut serta dalam perkombaan tersebut. Selain meraih juara, ia juga bisa mendapat teman, pengalaman serta pengetahuan baru. Mahasiswa kelahiran Gresik ini berharap agar capaian ini menjadi pemantik mahasiswa lain untuk berani mencoba mengikuti berbagai kompetisi. “Semoga karya kami yang tertuang dalam KTI ini bisa diimplementasikan di masyarakat agar angka kekerasan pada anak bisa menurun,” ungkapnya di akhir. (haq/wil)
Diskusi Publik FISIP UMM Kaji Isu Gonjang-Ganjing KPK

Gonjang-ganjing isu yang menggoyang KPK beberapa waktu terakhir memantik keprihatinan civitas akademika FISIP UMM. Kamis lalu (10/6) FISIP UMM menggelar Diskusi Publik yang bertajuk Gonjang-Ganjing KPK: Analisis Kritis KPK dari Perspektif Politik dan Hukum. FISIP menghadirkan sejumlah pembicara di bidang hukum dan politik. Tokoh hukum Indonesia yang juga mantan wakil ketua KPK, Dr Busyiro Muqoddas, menjadi salah satu dari empat pembicara dalam webinar kali ini. Selain Dr.Busyiro Muqoddas, FISIP juga menghadirkan Prof. Azyumardi Azra, M.A, cendekiawan muslim Indonesia dan Feri Amsari, S.H,M.H.LLM, aktivis hukum Indonesia yang juga merupakan Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Universitas Andalas. Dari FISIP, Dr. Rinikso Kartono, M.Si berkesempatan untuk menjadi pembicara sekaligus keynote speaker pada diskusi publik ini. Rinikso Kartono, Dekan FISIP UMM ketika memberi pengantar mengatakan tindakan labelling pada calon anggota KPK yang tidak lolos TWK adalah perilaku yang tidak adil. Terjadi labelling terhadap pemberantas korupsi sebagai orang-orang tidak Pancasilais, namun para koruptor tidak diberi labelling negatif. “Serangan balik dari koruptor yang terjadi juga mempengaruhi semua elemen di masyarakat. Instrumen kebaikan menjadi pudar dan instrument yang kuat belakangan ini adalah uang. Kita tidak usah heran jika lebih 300 orang termasuk kepala daerah masuk dalam bursa kepemimpinan,” ujar Rinikso. Busyro Muqoddas, mantan wakil ketua KPK, mengatakan ada hubungan timbal balik antara demokrasi dan korupsi. Di era presiden Jokowi, ada faktor determinan oligarki politik dan oligarki taipan terhadap produk politik. Terjadi penurunan indeks persepsi demokrasi pararel dengan turunnya tiga digit indeks prestasi korupsi di era Jokowi. Hal ini menjadi indikasi pembusukan demokrasi sekaligus makin naiknya tingkat korupsi. Demokrasi yang terjadi di Indonesia juga merupakan transaksi nasional yang memerlukan prasyarat. Yang pertama adalah floating mass, yakni masyarakat diambangkan, dibuat terombang-ambing dalam ketidakjelasan terkait isu-isu korupsi, bisnis narkoba dan isu lainnya. Pembunuhan KPK dan SDM menuju Pemilu 2024 adalah prasyarat berikutnya bagi demokrasi transaksional ini. Selain itu intensitas represivitas keamanan seperti teror, hoaks radikalisme, isu intoleran dan gerilya buzzer adalah indikasi berikutnya. Sementara itu, Feri Amsari menjelaskan setiap tahun KPK diserang oleh koruptor. Hal ini merupakan indikasi sederhana yang positif karena berarti KPK masih berada di jalurnya. Ia juga membahas ketidakjelasan posisi KPK, mengingat Indonesia hanya ada tiga jenis lembaga. Di antaranya eksekutif, yudikatif dan legislatif. Menurut Feri Amsari, upaya pengubahan Undang-Undang (UU) KPK baru terjadi di era Jokowi. “Dalam perspektif Hukum Tata Negara, jika ada perubahan UU KPK berlangsung dengan cepat, maka bisa dipastikan adanya keterlibatan presiden dalam perubahan tersebut secara serius,” tambahnya. Dalam kesempatan yang sama, Azumardi Azra menuturkan gonjang-ganing KPK menjadi salah satu pertanda buruk atau negative legacy dalam pemerintahan Jokowi. Seharusnya pada periode kedua, Jokowi bisa menguatkan positive legacy. Menurutnya, kebebasan berekspresi semakin hilang belakangan ini. Selain itu terjadi sejumlah penangkapan beberapa tokoh yang vocal. Ia mengatakan jika presiden Jokowi ingin menguatkan demokrasi, salah satu jalannya yakni membebaskan orang-orang yang mengkiritik. Dijelaskan guru besar peraih gelar commander of The Order of British Empire ini, Indonesia harus dibangun oleh kebebasan berekspresi, bebas menyampaikan kritik, bukan saja oleh orang-orang yang selalu setuju dengan pemerintah. “Yang bisa kita lakukan adalah menyalakan harapan, walaupun saya melihat tidak ada perubahan atau perbaikan pada KPK ini. Presiden Jokowi juga tidak merespon suara dari 75 guru besar yang mengkritisi kasus KPK. Saya juga tidak melihat KPK akan dipulihkan kekuatannya. Walaupun kondisinya pahit, ya biarkan saja. Sembari menunggu harapan baru pada tahun 2024,” tuturnya. (wil)
Halal Bihalal IKA UMM Hadirkan Drama Kolosal 5 Kepala Daerah Alumni

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mempererat jalinan tali silaturahmi. Lewat Ikatan Alumni Mahasiswa (IKA), UMM mengundang para lulusan untuk temu kangen di acara Halal Bihalal, pada Sabtu (12/06) lalu. Gelaran yang menerapkan protokol kesehatan ketat ini dilaksanakan secara luring di Dome UMM dan daring melalui kanal Zoom serta Youtube UMM. Untuk memanggil kembali jiwa muda para alumni, acara ini juga menghadirkan tema UMM tahun 90an. Tak hanya pada dekorasi panggung dan dresscode para peserta, adapula jejeran foto aktivitas mahasiswa pada tahun 1990-2000 yang dipamerkan di belakang tempat duduk. Hadir pada kesempatan itu, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Prof. Muhadjir Effendy, MAP. Gelaran ini juga turut mengundang para alumni yang telah sukses di dunia entertainment seperti juara tiga KDI 2020 Mochammad Abdul Wahid dan komedian Abdurrahim Arsyad. Bahkan, Abdur yang merupakan alumni UMM angkatan 2006 tidak hanya hadir, tapi juga sekaligus menjadi MC hingga akhir acara. Untuk menambah kemeriahan, UMM turut mengundang Paduan Suara Mahasiswa Gitasurya, Band Terima Kos Putri (TKP), dan iringan biola dari Sugianto. Adapula penampilan kecapi dari Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI). Selain itu, ada hal unik yang sudah disiapkan dalam agenda halal bihalal tersebut, yaitu penampilan drama perkuliahan lima tokoh alumni yang sukses menjadi kepala daerah. Kisah kelimanya dipadukan dengan apik oleh para pemeran. Tidak jarang penampilan ini mengundang tawa para alumni yang hadir. Menariknya, tidak hanya menampilkan drama saja, tapi juga langsung menanyakan momen tersebut sembari bercanda tawa ke para Bupati dan Wakil Bupati yang bersangkutan. Salah satu kisah yang ditampilkan adalah kisah Wakil Bupati Kaimana, Papua Barat, Hasbulla Furuada, S.P. Dulunya, ia merupakan salah anggota Resimen Mahasiswa ketika berkuliah di UMM. Di zaman yang serba kekurangan, Hasbulla kadang mengambil jambu di dekat kosnya. “Dulu paling cepat dapat uang bulanan itu sekitar tiga bulan. Jadi saya sering kelaparan, kadang mengambil jambu di dekat kos saya. Pernah suatu ketika, saya mengambil jambu. Ternyata pemilik pohon jambu tepat berada di depan saya. Untung saya diperbolehkan mengambil jambu tersebut,” kenang Hasbulla. Kisah lain yang didramakan adalah cerita Wakil Bupati Malang Drs. H. Didik Gatot Subroto, SH. MH. Pada zaman kuliah, Didik dikenal sebagai mahasiswa yang rajin dan mempunyai catatan yang paling rapi. Karena hal tersebut, catatan perkuliahannya sering dipinjam kawan-kawannya. “Saya sampai sering sekali mendapat komisi di tempat fotocopy karena saking banyaknya teman yang memfotocopy catatan perkuliahan saya,” kata Didik. Selain dua kisah tersebut, terdapat tiga kisah lainnya yang tak kalah unik. Pertama, datang dari Bupati Pasuruan H. M. Irsyad Yusuf, S.E, MMA. Para lakon sukses memerankan Gus Irsyad saat menjadi mahasiswa dulu. Ia seringkali diminta untuk menjemput para pemateri dan undangan karena hanya dia yang memiliki SIM. Kisah Bupati Pamekasan H. Baddrut Tamam, S.Psi. juga tidak kalah menarik. Mulai dari kesuksesannya berjualan kerupuk ketika mahasiswa, memiliki telepon genggam, hingga rela berusaha menyukai basket. Terakhir, ada cerita dari Wakil Bupati Pacitan, Gagarin, S.Sos. yang ketika menjadi mahasiswa, sering sekali mengamati aktivitas yang ada di pasar karena menyukainya. Pada kesempatan yang sama, Muhadjir berkata bahwa banyak sekali alumni UMM yang berprestasi, baik di bidang pemerintahan maupun lainnya. Karena hal itu, UMM harus segera membangun kekuatan dan jaringan alumni dalam rangka membangun dharma bakti demi mewujudkan slogan dari UMM untuk bangsa. “Jangan berpuas diri dengan capaian UMM sekarang. Kita harus terus berpacu ke depan, dan alumni sebagai pendukungnya. Ingat kita akan memasuki dunia 4.0. Tanpa memiliki bekal yang baik, kita tidak bisa menyiapkan alumni untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan drastis. Terimakasih kepada para alumni yang telah datang, baik daring maupun luring. Selamat telah meniti karir dengan baik, semoga UMM tetap jaya,” ucap Menteri Koordinator PMK tersebut. Senada dengan Muhadjir, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. juga menekankan pada pembentukan jaringan alumni yang teratur dan baik. “Terimakasih kepada para alumni yang telah menyempatkan diri hadir di acara ini. Semoga rintisan yang luar biasa ini dapat dikembangkan dalam bentuk jaringan produktif, dalam rangka membawa UMM untuk bangsa,” pungkasnya. (syi/wil)