UMM Kembangkan RS Darurat Penanganan Covid-19

Telah lama memiliki Rumah Sakit, kini UMM ditunjuk untuk mengembangkan RS darurat penanganan Covid-19 yang berlokasi tidak jauh dari RS UMM. Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi. M.M. diundang untuk meletakkan batu pertama pembangunan RS tersebut pada Senin (5/4). Hadir pula Wakil Bupati, Kapolres Malang, Komandan Kodim 0818 Malang-Batu serta beberapa undangan lainnya. Dr. Fauzan, M.Pd. selaku rektor UMM menyampaikan ucapan terima kasih kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Kemenkes yang sudah membantu untuk merealisasikan pembangunan RS Covid tersebut. Begitupun dengan dukungan dari Bupati beserta jajaran, Rumah Sakit UMM, WIKA dan Yodya Karya. “Pembangunan RS ini menjadi tekad kami agar Malang, Indonesia serta dunia bisa segera bebas dari Covid-19,” harapnya dalam sambutan. Dalam kesempatan yang sama, Drs. H. M Sanusi, M.M. selaku Bupati Malang mengapresiasi UMM berkat usahanya yang sangat responsif dalam penanganan pandemi. Tidak hanya dalam beberapa bulan ini saja tapi juga sejak pertama kali pandemi Covid-19 menyebar. “Banyak pihak yang mendukung dalam penanganan pandemi ini hingga akhirnya angka corona menurun. Data terakhir yang saya dapat hanya tinggal 60 dari 14.600 RT di Kabupaten Malang yang masih kuning. Sisanya sudah menjadi wilayah hijau,” terangnya. Sanusi juga berharap agar UMM bisa terus berkontribusi di semua bidang. Tidak hanya berhenti di usaha di penanganan covid saja. Tapi juga terus eksis dalam kepekaan kebutuhan masyarakat sekitar. Dalam acara peletakan batu pertama RS darurat tersebut, adapula laporan dari Kepala Balai Prasarana Pemukiman Wilayah (BPPW) Jawa Timur yang disampaikan oleh Reva Sastrodiningrat. Ia menjelaskan bahwa pengembangan RS ini merupakan upaya untuk menangani Covid-19, khususnya di wilayah Malang Raya. Apalagi melihat jumlah pasien Covid-19 di Indonesia yang mencapai 1.534.255 orang per tanggal 4 April. “Adapula sekitar 140.331 pasien positif yang ada di Jawa timur. Sejumlah 10.346 di antaranya berada di wilayah Malang Raya,” tuturnya lebih lanjut. Berdasarkan data tersebut, akhirnya beberapa rumah sakit ditunjuk untuk menjadi RS rujukan virus corona. Salah satunya adalah RS UMM. Adapun pengembangan rumah sakit darurat penanganan Covid-19 akan dilakukan di atas lahan seluas 8.000 meter persegi. Nantinya akan disediakan sejumlah 65 bed untuk ruang observasi serta delapan bed diperuntukkan sebagai ruang isolasi. Selain itu juga ada ruang screening dan fasilitas penunjang lainnya. Reva kembali menuturkan bahwa pembangunan RS darurat tersebut juga menjadi bagian dari program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menyediakan RS khusus Covid-19. Sebelumnya, telah dibangun beberapa rumah sakit serupa yang berlokasi di Pulau Galang, RSUD dr. Soegiri Lamongan, RSUD Zainul Abidin Kota Banda Aceh dan beberapa tempat lainnya. Jangka waktu pembangunan RS darurat tersebut diharapkan bisa selesai dalam jangka waktu 45 hari. Adapun seumber pendanaan akan menggunakan dana siap pakai BNPB. “Harapannya pembangunan RS ini bisa terlaksana secara tepat, baik dari segi biaya, mutu serta tepat waktu 45 hari. Selain itu, semoga bisa segera dijalankan serta didukung dengan peralatan dan tenaga kesehatan yang memadai,” ungkapnya. Pada akhir laporan, Reva juga berharap agar pembangunan RS tersebut dapat senantiasa dipelihara dengan  baik. Sekalipun nanti ketika pandemi sudah menurun dan berakhir. “InsyaAllah RS ini nantinya akan dijadikan sebagai RS penyakit infeksius di Kabupaten Malang ketika pandemi usai,” pungkasnya di akhir laporan. (wil)

Self Planning Kunci Sherly Raih Predikat Wisudawan Terbaik

Meraih Indek Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna di perkuliahan tidaklah mudah. Butuh perjuangan keras dan kedisiplinan yang tinggi. Begitupun yang dialami oleh Sherly Lola Zuraida. Berkat usahanya yang tdak pernah putus, ia dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) periode I tahun 2021. Saat ditemui, Sherly, panggilan akrabnya, bercerita bahwa semua berawal dari raihan Indeks Prestasinya (IP) di semester pertama. Ia tidak menyangka mampu mendapatkan angka yang tinggi di hasil perkuliahannya. “Saya sangat kaget waktu itu. Padahal saya hanya memiliki target yang penting bagus. Apalagi mengingat kemampuan saya yang masih kalah dengan yang lain,” kenangnya. Angka 4 tersebut akhirnya memacu Sherly untuk terus belajar dan berusaha agar bisa mempertahankan nilai semester satu. Semester demi semester ia lalui dengan begitu lancar. Ia menuturkan bahwa semua tak lepas dari dukungan dan doa orang tua. Ditanya ihwal cara belajar, anak sulung dari tiga bersaudara ini mengaku tidak ada yang istimewa. Tapi ada satu hal yang selalu ia lakukan setiap hari yakni membuat perencanaan. Ia selalu membuat jadwal serta daftar tugas yang harus ia selesaikan. “Bukankah perencanaan adalah awal dari kesuksesan? Saya sudah terbiasa melakukannya sejak kecil. Merencanakan kegiatan membuat saya tidak grusa-grusu dalam menjalani hari,” terang wisudawan jurusan manajemen itu. Selain membuat rencana, ia kembali menyampaikan kiat yang kedua yaitu menyempatkan belajar walau terpaksa. Menurutnya, memaksa diri untuk belajar adalah kunci. Mungkin di awal akan terasa berat tapi lama kelamaan akan berubah menjadi ringan. Tidak jarang ia malah menyukai kegiatan tersebut. Wisudawan yang bercita-cita untuk menjadi dosen itu membocorkan kiat belajarnya yang ketiga. Ia menuturkan bahwa berdiskusi adalah cara paling ampuh untuk belajar. Dalam perjalanan akademisnya, ia sering mengajak teman-temannya untuk bertukar pikiran terkait mata kuliah. Apalagi semenjak menjadi asisten laboratorium. “Iya, saya punya grup belajar sendiri. Biasanya kami bertemu dan mengobrol materi-materi perkuliahan. Sayangnya, semenjak Covid-19 intensitas pertemuan kami berkurang,” ungkapnya. Lebih lanjut, Sherly tidak menampik bahwa semua kemudahan yang ia peroleh adalah berkat doa kedua orang tuanya. Meski orang tua jarang menampakkan supportnya, namun ia yakin doa adalah faktor penting dalam capaiannya hingga kini. “Semoga raihan yang saya peroleh bisa semakin memacu teman-teman lain dalam belajar. Boleh saja sibuk kegiatan lainnya, tapi jangan pernah lupakan kewajiban sebagai mahasiswa untuk belajar. Alhamdulillah saya mendapatkan bonus bisa membanggakan ayah dan ibu,”pungkasnya di akhir sesi wawancara. (wil)

Raih Wisudawan Terbaik, Kepala BPTPH Kalteng Siap Berkontribusi

Lahir di tengah keluarga petani, membuat Baini ingin terjun ke dunia pertanian sejak kecil. Cita-cita pria kelahiran Barito Selatan tersebut ia wujudkan dengan mengenyam pendidikan sarjana di bidang pertanian. Tidak puas dengan gelar sarjana pertanian, Ia memutuskan untuk mengambil studi Magister Administrasi Publik. Hingga akhirnya, ia kini diwisuda sebagai doktor di wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan predikat wisudawan terbaik. Baini yang juga menjabat sebagai kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Kalimantan Tengah menceritakan bahwa proses studi doktoralnya tergolong lancar. Meski di tengah pandemi, seluruh informasi terkait pendidikan doktoralnya bisa diperoleh dengan mudah berkat adanya teknologi yang kian maju. “Alhamdulillah tidak ada kendala yang berarti. Selama kita menganggap pekerjaan itu ringan, Insyaallah akan diberikan kemudahan dalam prosesnya,” ungkap Baini. Dalam disertasinya, ia meneliti mengenai tindakan penyimpangan dalam distribusi pupuk, khususnya di Desa Belanti Siam, Kecamatan Pandih Batu Kabupaten Pulang Pisau. Ia mengaku mendapat banyak keluhan dari petani karena harga pupuk yang melambung tinggi. Bahkan beberapa kali terjadi kelangkaan pupuk, padahal musim tanam sudah tiba. Lebih lanjut, anak ketiga dari lima bersaudara tersebut mencoba mencari tahu titik akar permasalahan terkait penyimpangan distribusi pupuk bersubsidi. Kemudian mencari solusi yang tepat agar persoalan yang sama tidak terjadi lagi di masa depan. Ia menyarankan kepada para petani untuk segera membentuk kelompok tani agar bisa memperoleh pupuk bersubsidi. Selain itu kerja sama antar instansi dalam bidang pertanian juga harus lebih diperkuat. Usai menyelesaikan studinya, Baini berharap seluruh ilmu dan pengalaman yang ia dapat selama belajar di UMM bisa memberikan dampak positif untuk masyarakat luas. Terutama bagi dunia pertanian di mana ia berkecimpung. “Semoga penelitian yang sudah saya selesaikan bisa mengurangi permasalahan yang ada, baik di wilayah saya maupun Indonesia secara umum. Saya juga siap berkontribusi dan memberikan inovasi demi kebaikan bersama,” terangnya lebih lanjut. Tak lupa, wisudawan doktor UMM tersebut juga berterimakasih kepada banyak pihak yang turut membantu dalam menyelesaikan studinya. Utamanya adalah istri dan anaknya yang tidak pernah lelah mendukung dan memotivasinya. Di samping itu juga kepada Gubernur Kalimantan Tengah yang sudah memberikan beasiswa penelitian sehingga ia bisa menyelesaikan studinya dengan baik. “Terima kasih pula saya sampaikan pada Rektor UMM dan jajarannya. Selesainya disertasi saya tentu berkat bantuan dari berbagai pihak,” pungkasnya di akhir sesi wawancara. (wil)

Kegiatan Internasional UMM Antar Faraj Terbang ke Polandia

Tumbuh di lingkungan yang sederhana membuat Firdaus Faraj Ba-Gharib menjadi pribadi yang mandiri sejak kecil. Didikan sang ibu memacu Farah untuk terus berkompetisi, mengikuti perlombaan dan meraih berbagai prestasi. Mahasiswa akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini bercerita bahwa sejak kecil ibunya tidak pernah memberikan Faraj barang secara cuma-cuma. “Jadi konsepnya itu take and give. Dulu ketika Sekolah Dasar (SD) saya pernah minta buat dibeliin Crayon Titi yang isi 55 dan itu mahal sekali. Ibu saat itu bertanya apa yang bisa saya berikan ke ibu, jika ibu membelikan crayon itu. Lalu saya belajar mati-matian agar bisa memenangkan lomba menggambar setelah dibelikan Crayon Titi,” kenang Faraj. Hal tersebut terus berulang hingga Faraj menjadi mandiri dan terbiasa dengan berbagai perlombaan. Meskipun begitu, kadang usaha dan hasil yang Faraj dapatkan tidak setimpal. Faraj berkata bahwa masa transisi dari Sekolah Menengah Atas (SMA) ke bangku perkuliahan merupakan hal yang paling sulit. “Banyak hal yang tidak bisa saya capai pada saat itu, termasuk untuk berkuliah di jurusan psikologi. Namun saya tidak berlama-lama terpuruk dan mulai membiasakan diri dengan perkuliahan. Ternyata Allah SWT memberikan banyak kejutan setelah saya masuk akuntansi UMM,” kata mahasiswi kelahiran Bogor tersebut. Faraj mulai mengembangkan diri dengan mengikuti berbagai organisasi dan perlombaan. Terhitung sudah enam organisasi yang diikutinya selama tiga tahun berkuliah di UMM. Saat terjun di International Relations Office (IRO) UMM, pengetahuan Faraj tentang luar negeri menjadi bertambah. Terutama mengenai beasiswa luar negeri. Berbeda dengan peserta lain, Faraj mendapat beasiswa Erasmus ke SGH Warsaw School of Economics polandia pada sekali percobaan. “Alhamdulillah saya langsung diterima ketika mendaftar beasiswa ini. Dari prinsip yang ibu saya tanamkan, saya jadi suka ikut lomba dan berorganisasi. Tanpa sadar  Curriculum Vitae (CV) saya telah memenuhi standar yang ditetapkan oleh Erasmus ketika saya mendaftar,” ujar Faraj. Sekarang Faraj sedang menikmati perkuliahannya di Polandia. Faraj mengungkapkan bahwa selain mengambil mata kuliah di Polandia, ia juga mengambil mata kuliah secara online di UMM pada semester ini. Meskipun banyak adaptasi yang harus dilakukan, ia menganggap bahwa ini adalah kesempatan yang bagus untuk berkembang dan memperoleh pengalaman. “Sampai pada titik ini merupakan sesuatu yang luar biasa. Banyak hal yang saya pelajari, terutama dalam hal mengatur prioritas di saat banyak kegiatan. Dukungan keluarga juga membuat saya terus terpacu untuk berkembang. Kedepannya saya berharap bisa mendapat kesempatan untuk belajar ke luar negeri lagi,” harapnya. (syi/wil)

Tekan Angka TBC-RO, RS UMM Jadi Rumah Sakit Rujukan

Kasus tingginya penyakit tuberkulosis membuat Indonesia bertengger di peringkat kedua dunia setelah India. Bahkan sebagian dari jumlah penderita yang tinggi tersebut telah mengalami resistensi obat (TBC-RO). Sayangnya, hanya sekitar 49 persen pasien saja yang sudah memulai pengobatan. Melihat hal itu, Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah bekerja sama dengan USAID Amerika menyusun program Mentari. Program ini bertujuan untukm membentuk jaringan rumah sakit rujukan layanan TBC-RO. Salah satu rumah sakit yang ditunjuk adalah RS Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ditemui di kantornya, dr. Thahrir Iskandar Sp.P. selaku dokter spesialis paru RS UMM menjelaskan bahwa penunjukan ini adalah hasil dari keberhasilan RS UMM dalam menyembuhkan pasien TBC. Proses penyembuhan tersebut tentu berkat kerja keras berbagai pihak. Selain itu, pemilihan ini memang langsung dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan juga USAID tanpa ada pengajuan. Thahrir melanjutkan, Program Mentari juga merupakan bentuk kontribusi Muhamamadiyah bagi bangsa dan negara. Seiring berjalannya program ini, Muhammadiyah berusaha sebaik mungkin untuk menekan dan menurunkan angka pengidap TBC di Indonesia. “Program penanggulangan TBC ini rencananya akan berjalan dari tahun 2020 hingga 2030. Harapannya selama 10 tahun tersebut penderita TBC bisa berkurang signifikan,” tuturnya. Doker Spesialis paru ini kembali menjelaskan bahwa TBC-RO ini berbeda dengan TBC pada umumnya. Penderita TBC-RO lebih kebal terhadap obat ketimbang yang biasa. Hal ini membuat obat yang diberikan tidak bisa bekerja sebagaimana mestinya. Penanganannya juga lebih sulit dan kompleks ketimbang TBC pada umumnya. Pada akhir sesi wawancara, Thahrir berharap bahwa dengan adanya program Mentari, angka pengidap TBC yang melambugn tinggi bisa segera menurun. Utamanya angka pednerita TBC-RO.  Ia juga ingin agar RS UMM bisa menjadi opsi masyarakat untuk berobat tanpa harus bergantung kepada RS Negeri. “Semoga ditunjuknya RS UMM sebagai salah satu RS Program Mentari bisa menambah opsi masyarakat dalam hal kesehatan. Khusunya bagi mereka yang ada di Malang,” pungkas Dokter RS UMM tersebut. (haq/wil)

Mahasiswa UMM Rancang Aplikasi Kesehatan Mental

Pandemi tak hanya berdampak pada kesehatan dan perekonomian, tetapi juga pada psikologis masyarakat. Melihat hal itu, Clara Demmy Dwi Anisha Imansari, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) rancang aplikasi berbasis kesehatan mental bernama PAUT.ID. Prototipe aplikasi ini berhasil meraih juara satu pada lomba Inovasi Health Hackathon 2021 pada Minggu lalu (28/03). Tak sendiri, dalam proses pembuatannya Clara dibantu oleh empat anggota tim lainnya yang berasal dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Nusa Cendana (UNDANA), Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA), dan  Institut Pertanian Bogor (IPB). Clara berkata bahwa awalnya dia tidak sengaja menemukan pengumuman lomba ini di email pribadinya. “Saya iseng membuka email dan melihat tentang kompetisi ini. Untungnya, saya masih bisa mendaftar karena hari itu ternyata hari terakhir pendaftaran. Setelah mendaftar kami dikelompokkan menjadi 20 tim, dengan satu tim terdiri dari lima orang,” jelas mahasiswa asal malang tersebut. Dalam perlombaan tersebut, para peserta dituntut untuk membuat inovasi di bidang kesehatan masyarakat. Clara bercerita bahwa dirinya dan tim memutuskan untuk berinovasi di bidang kesehatan mental. Hal ini dipilih karena kesehatan mental dinilai penting di masa pandemi. Selain itu masyarakat Indonesia juga belum begitu akrab dengan hal ini. “Karena hal tersebut, kami mempunyai ide untuk menciptakan aplikasi di mana masyarakat dapat bercerita mengenai masalah mental yang sedang dihadapinya,” kata mahasiswa program studi farmasi tersebut. Clara menjelaskan beberapa fitur yang ada di aplikasi PAUT.ID ini. Pertama, ada fitur chating yang membuat pengguna bisa saling berinteraksi secara daring. Kedua, ada fitur konsultasi bersama tenaga ahli di bidang psikologi. Terakhir adapula fitur modul yang memuat saran beberapa aktivitas yang bisa dilakukan selama pandemi. “Fitur-fitur tersebut kami rancang untuk memudahkan masyarakat bercerita terkait kesehatan mental, baik dengan pengguna lain maupun dengan ahli. Selain itu juga untuk menggiring pengguna melakukan hal-hal yang positif,” ujar anak terakhir dari dua bersaudara ini. Dibanding tim lain, tim Clara hanya membutuhkan waktu empat hari untuk menyusun proposal dan membuat prototipe aplikasi.  Dalam proses pengerjaannya, tim ini dibagi menjadi dua tim kecil yaitu tim penyusun proposal dan tim penyusun desain serta prototipe. “Jika tim lain membutuhkan waktu dua minggu untuk mempersiapkan proposal, kami hanya membutuhkan waktu empat hari. Selain itu dari semua tim, hanya tim kami yang sampai membuat prototipe. Mungkin itu yang membuat kami mendapat nilai plus di mata juri,” lanjut Clara. Lomba ini merupakan lomba pertama yang Clara ikuti. Dirinya merasa senang dengan pencapaian yang diraihnya tersebut. “Kedepannya saya berharap dapat mengembangkan aplikasi ini. Selain itu saya ingin menginspirasi teman-teman lain bahwa pandemi bukanlah alasan untuk tidak berkarya dan mengembangkan potensi diri,” pungkasnya. (syi/wil)

Dewan Guru Besar Bahas Hilirisasi Inovasi bagi Masyarakat

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah menelurkan beragam inovasi dan rancangan produk yang dibuat oleh dosen maupun mahasiswa. Dalam rangka mendekatkan inovasi dan rancangan produk penelitian tersebut ke masyarakat, Dewan Guru Besar (DGB) Universitas Mumammadiyah Malang (UMM) adakan lokakarya. Acara tersebut berlangsung di Ruang Sidang Rektor pada Selasa (30/03). Ketua DGB UMM, Prof. Dr. Wahyu Widodo, M.S., mengatakan fokus pembahasan pada lokakarya tersebut adalah bagaimana proses hilirisasi teknologi dan inovasi UMM dapat diterapkan ke masyarakat luas. Dalam lokakarya tersebut juga membahas mengenai kebijakan, strategi dari program hilirisasi ini. Sealin itu juga mengkaji teknis pelaksanaan agar bisa berjalan dengan semestinya. “Sebagai lembaga yang memberi saran kepada rektor, DGB UMM kini telah memfokuskan diri untuk membahas program hilirisasi. Lokakarya ini akan dilakukan selama sebulan ke depan. Salah satu alasannya adalah proses hilirisasi inovasi yang menurutnya kurang optimal. Padahal UMM memiliki segudang ide untuk berkontribusi bagi masyarakat,” ujar dosen kelahiran Trenggalek tersebut. Lebih lanjut, Wahyu kembali bercerita bahwa banyak inovasi yang bisa di hilirisasi ke masyarakat. Produk tersebut bisa berupa prototipe maupun rekayasa teknologi. Regulasi sistem juga bisa menjadi terobosan yang bagus sebagai bentuk pengabdian. Produk-produk tersebut tidak hanya dari pemikiran dosen saja, tapi juga bisa dari ide kreatif para mahasiswa. “Karena ada beragam inovasi dan produk penelitian tersebut, kami membagi tujuan hilirisasi menjadi dua yaitu komersial dan non komersial,” jelas Wahyu. Ia berharap setelah kebijakan-kebijakan terkait program hilirisasi ini selesai dibuat, akan semakin banyak inovasi yang yang diterapkan pada masyarakat. Wahyu juga berharap agar kebijakan ini nantinya akan berjalan secara berkelanjutan. Tidak hanya berhenti dan aktif saat program ini dimulai, tapi juga harus ada kegiatan lebih lanjut agar proses hilirisasi bisa berjalan dengan baik.  “Kebijakan ini nantinya bisa semakin mendorong para akademisi di UMM untuk meningkatkan berbagai inovasi terbarukan. Tentu saja dengan aturana yang jelas dan terstruktur. Jadi masyarakat bisa menikmati hasilnya sehingga terciptalah masyarakat yang sejahtera,” pungkas Wahyu di akhir sesi wawancara. (syi/wil)

Undang Alumni dan Mahasiswa Berprestasi, UMM Gelar Talkshow Student Day

Dalam rangka memacu prestasi mahasiswa baru di masa pandemi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adakan talkshow motivasi akademik dan karir pada Sabtu (27/03). Acara yang menjadi bagian dari Student Day ini dilaksanakan secara luring di Basement Dome UMM dan daring melalui kanal Youtube UMM. Selain mengundang alumni berprestasi, agenda ini juga menghadirkan para mahasiswa dengan segudang capaian. Setidaknya ada lima orang narasumber yakni Septifa Lailano Ceria, S.Sy., Andi Akbar, S.Pd., Dita Fomara Tuasikal, SM., Nurfitriani Marsuki, dan Galang Bimandara. Hadir secara virtual, Septifa adalah alumni Fakultas Agama Islam (FAI) UMM yang sekarang sedang melanjutkan pendidikan strata 2 di Australian National University. Dirinya berkata bahwa dalam menjalani perkuliahan mahasiswa harus memiliki prioritas. Hal mana yang perlu didahulukan dan mana yang bisa dikerjakan setelahnya. “Kita ibarat botol kaca kosong yang harus diisi dengan batu, kerikil, pasir, dan air. Ketika kita tidak dapat menempatkan prioritas dengan benar maka botol kaca tersebut tidak dapat menampung semua itu. Sementara kalau kita dapat menempatkan prioritas dengan baik maka kita dapat memasukkan semua elemen tersebut ke dalam botol kaca kita,” kata Septifa. Selain prioritas, Septifa juga menekankan kepada para peserta akan pentingnya untuk memiliki target. Target itu bisa harian, bulanan, maupun tahunan. Hal ini akan membantu mahasiswa agar tidak menyia-nyiakan masa kuliahnya selama empat tahun. “Kita harus memiliki target apa yang akan kita lakukan selama setahun. Misalnya tahun ini menambah keahlian baru atau mengikuti perlombaan. Lalu tahun depan kita menambah skill lain atau memperdalam skill yang sudah ada. Target-target tersebut akan memudahkan kita nantinya dalam menulis Curriculum Vitae (CV) maupun bekerja karena skill dan pengalaman kita telah terasah selama empat tahun kuliah,” ujar Septifa Sementara itu, Galang menjelaskan bahwa motivasi terbesarnya dalam mengikuti berbagai perlombaan Kontes Mobil Hemat Energi selama tiga tahun belakangan adalah minatnya terhadap bidang otomotif. Beruntungnya UMM memfasilitasi minat tersebut melalui Lembaga Semi Otonom (LSO) Mekatronik. “Dalam mengikuti berbagai perlombaan, minat itu sangat membantu karena kita bisa senang menjalaninya. Jadi temukan minat kalian apa, lalu kembangkan minat itu dan berprestasilah pada bidang tersebut,” pungkas Galang dalam sesi talkshow tersebut. (syi/wil)

Hadir di Wisuda, Bupati Pasuruan Bagikan Kisah Suksesnya

Alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah tersebar di segala penjuru. Tidak hanya di tingkat nasional tapi juga internasional. Satu dari sekian alumni yang sukses adalah H. M. Irsyad Yusuf, S.E, MMA, Bupati Pasuruan. Ia berkesempatan memberikan cerita sukses dalam gelaran wisuda UMM pada Selasa (30/3) lalu. Wisuda kali ini tidak hanya dilaksanakan secara luring tapi juga daring karena pandemi yang tidak kunjung membaik. Bahkan Pemerintah Kabupaten Pasuruan juga melaksanakan nonton bareng untuk menyaksikan wisuda tersebut. Dalam sambutannya, Dr. Fauzan, M.Pd selaku rektor UMM ingin agar ilmu dan pengalaman yang wisudawan dapat bisa memberikan manfaat untuk masa depan. Selain itu juga menjadi bekal dalam menghadapi tantangan dan masalah yang akan ditemui nantinya. “Sekali lagi selamat, semoga bisa menebar benih-benih manfaat di manapun dan kapanpun kalian berada,” harapnya. Ia kembali menuturkan bahwa tidaklah salah menjadi orang yang sukses, kaya ataupun hebat. Namun, hal yang salah adalah jika melupakan kedua orang tua ketika mencapai impian dan cita-cita. “Jangan pernah lupakan doa dan kasih sayang orang tua. Berkat merekalah mimpi-mimpi kalian bisa tercapai,” tegas Fauzan. Sementara itu Gus Irsyad, panggilan akrab Bupati Pasuruan, memulai sambutannya dengan rasa bangga pernah mengenyam pendidikan di UMM. Ia juga senang sekali bisa menjadi bagian alumni UMM. Bahkan sampai saat ini Gus Irsyad masih mengingat nomor induk mahasiswanya ketika berkuliah dulu. Gus Irsyad mengaku bahwa pengetahuan dan pengalaman yang ia peroleh saat menimba ilmu di UMM telah menjadi bagian dari kesuksesannya. Selain itu juga telah menjelma menjadi usaha-usahanya untuk selalu bermanfaat bagi umat, agama, negara serta bangsa Indonesia. “Saya memang bukan yang terbaik, tapi sebagai alumni saya akan selalu memberikan yang terbaik,” ungkapnya dengan bangga. Tidak hanya menceritakan kisahnya, Gus Irsyad juga sempat memberikan pesan-pesan kepada para wisudawan. Menurutnya, ilmu yang bermanfaat itu diawali dengan sikap tawaduk. Selalu mengikuti hal-hal baik yang disampaikan oleh para guru serta menghormati kedua orangtua yang telah membesarkan dengan kasih sayang. Terakhir, pria yang juga menjadi ketua Ikatan Keluarga Alumni UMM itu mengucapkan selamat kepada UMM yang telah ditetapkan menjadi Universitas Islam terbaik nomor satu dunia. Ia berharap capaian ini menjadi motivasi kuat untuk terus mengharumkan dan membanggakan nama kampus UMM. “Bangga sekali rasanya UMM bisa meraih predikat sebagai Universitas Islam terbaik dunia,” pungkasnya. Tidak jauh berbeda, sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Drs. H. Wakidi juga berpesan agar mereka selalu menjaga nama baik almamater. Apalagi usai UMM telah dikenal sebagai universitas islam terbaik dunia. “Ada banyak cara yang bisa dilakukan tapi paling tidak para wisudawan dapat menerapkan beberapa hal ini. Pertama adalah bertaqwa, kemudian tangguh, pandai bersyukur, berbakti kepada orang tua, memiliki akhlaqul karimah serta selalu taat pada hukum yang berlaku,” tekannya dalam sambutan. (wil)

Dosen UMM Kembangkan Wisata Jamu di Malang

Ada yang menarik dari Desa Karangrejo Kecamatan Kromengan Kabupaten Malang. Berbeda dengan desa pada umumnya, lokasi ini kini menjadi desa wisata sentra jamu dengan berbagai macam olahan makanan. Hal itu tidak lepas dari sumbangsih tim Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) mereka mengembangkan desa ini menjadi Desa Wisata Jamu sealam 2019-2021. Ketua tim Dosen UMM, Dra. Thathit Manon Andini, M.Hum menjelaskan bahwa semua agenda ini berawal dari program Desa Potensial di tahun 2015. Kemudian terpilihlah Desa Karangrejo sebagai lokasi pengembangan. Ia dan beberapa dosen lainnya juga sempat memaparkan potensi pengembangan jamu dan pangan kreatif sebagai produk unggulan. Terakhir, pada 2021 ini mereka juga telah menjelaskan pada masyarakat agar desa Karangrejo bisa ditingkatkan menjadi desa wisata. Dalam perjalanannya, desa wisata ini tidak lepas dari kendala dan masalah. Salah satunya adalah alat-alat yang digunakan masih tergolong tradisional. Hal itu membuat proses produksi memakan waktu yang cukup lama. Selain itu juga tidak bisa menghasilkan produk yang melimpah, baik produksi jamu maupun keripik. Dosen Pendidikan Bahasa Inggris ini kembali menuturkan bahwa pihaknya berinisiatif untuk membuat dan memberikan alat pengering Spiner yang digunakan dalam produksi keripik. “Alat pengering tenaga surya yang berkapasitas 5 kilo ini dapat memperlancar produksi dan memperbanyak hasilnya,” ujar Thathit. Di samping itu, produksi jamu yang sebelumnya masih menggunakan penumbuk, kini telah ditingkatkan dengan blender. Aspek pengemasan juga tidak lepas dari pembaharuan. Botol polos yang biasa dipakai kini telah dihiasi dengan beberapa stiker untuk menarik pembeli. Dosen yang juga menjadi Kepala Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (LP3A) ini menjelaskan inovasi lain yang tidak kalah menarik. Jamu yang biasanya hanya berbentuk cair, sekarang sudah dibuat yang berupa serbuk. Jamu serbuk ini diyakini bisa bertahan lebih lama ketimbang yang cair. Usai PPDM berjalan dengan baik, pihak desa akhirnya membentuk Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Karangrejo. Langkah ini dilakukan agar agenda pemberdayaan masyarakat bisa tertata rapi. Sleai itu juga sebagai bentuk usaha agar desa dapat lebih mandiri dan juga ekonomi meningkat. “Semoga Desa Wisata ini bisa mendapat dukungan dari pemerintah, baik daerah maupun pusat. Para akademisi juga diharapkan bisa memberikan inovasi lain dalam pengembangan Desa manapun,”pungkasnya di akhir sesi wawancara. (haq/wil)