Winekram Art Space Jadi Markas Inkubasi Seni dan Budaya Baru Kota Batu

Kelompok Praktikum Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menghelat gelaran festival Obah Nggedruk Bumi. Proyek kolaboratif ini menandai dilaunchingnya Winekram Art Space, sanggar kesenian milik budayawan Kota Batu Winarto Ekram. Sanggar ini digadang bakal jadi tempat inkubasi serta berkumpulnya para seniman Malang Raya juga luar daerah untuk mengokohkan identitas bangsa melalui kebudayaan. Dihelatnya Festival Obah Nggedruk Bumi, Jumat (3/1) menandai berdirinya sanggar seni ini. Festival Obah Nggedruk Bumi sendiri merupakan festival pentas seni tari dan budaya, dimana Adhigana Production yang merupakan kelompok praktikum program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai penggeraknya. Gelaran seni dan budaya ini merupakan implementasi dari tugas mata kuliah Keterampilan Bahasa Produktif yang diampu M. Isnaini, M.Pd. Sanggar ini terletak di wilayah Nggopit RT 12 RW 03 Dusun Mojorejo, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. “Ini adalah sebuah kegiatan untuk mengawali sebuah tempat, (festival ini) bernama Obah Nggedruk Bumi. Tempat ini adalah space program kesenian yang diharapkan pada ke depan memiliki acara kesenian. Karena acara seperti ini periodik sekali untuk perkembangan kesenian yang ada,” ujar Winarto Ekram. Kegiatan yang menampilkan seni dan kebudayaan lintas daerah ini melibatkan berbagai seniman dari berbagai kota, diantaranya dari Indramayu, Solo, Jombang, Lumajang, Surabaya, serta dari beberapa kota-kota lain.  Tidak hanya berupa pertunjukan kesenian, tetapi juga ada workshop tari dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ), hingga parade sanggar tari se-Jawa Timur. Acara ditutup dengan pertunjukan kesenian. “Festival ini tujuannya memang membuka tempat untuk dikerubungi, membuka lahan, membuka ruang untuk pertunjukan kesenian. Selanjutnya, tentu perkembangannya untuk pariwisata budaya yang ada di sekitar  Pendem. Kegiatan yang akan diadakan bentuknya berupa Festival-festival tidak hanya tari, ada teater, musik, tapi juga kecenderungannya memang lebih ke tradisional juga ke kontemporer,” lanjut Winarto. “Kami berharap, sanggar ini bisa sebagai tempat sarasehan kebudayaan maupun workshop kebudayaan. Serta segala sesuatu yang berbau kesenian. Dengan adanya kegiatan dan kerjasama seperti ini, bisa menjadi tahap awal kami juga dalam belajar dan menambah ilmu baru untuk menunjang lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMM,” jelas Nirwana Chendra Kasih sebagai ketua pelaksana event. “Untuk mata kuliah Keterampilan Berbahasa Produktif yang konsentrasi di bidang Manajemen Event Organizer, mahasiswa bahasa Indonesia perannya ialah untuk membantu, memanage acaranya pak Winarto. Karena kegiatan ini adalah sebagai salah satu praktek kegiatan secara langsung yang mungkin selama ini mereka pahami hanya beberapa teori singkat tentang bagaimana  memanage atau meng-EO acara,” tegas M. Isnaini selaku Dosen pengampu Mata kuliah. Selain itu, dijelaskan Isnaini, Prodi Bahasa Indonesia itu sangat luas cakupannya, meliputi komunikasi yang di dalamnya menggunakan bahasa Indonesia dalam cakupan linguistik. Praktik ini merupakan implementasi dari bagaimana cara berkomunikasi, negosiasi dan keterampilan berbahasa lainnya, sehingga wujudnya adalah membuat sebuah event. “Karena dalam menyelenggarakan acara itu juga terkadang ada banyak hal yang tidak kita pahami, dan kadang itu menjadi kunci penyelenggaraan acara. Itulah yang menjadi teknis dari para mahasiswa, sehingga memang harus dilakukan dengan praktek langsung,” tandas Isnani. (riz/can)

Rektor Fauzan: Seorang Dokter Juga Harus Punya Kepribadian Melayani Masyarakat

Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan RSU Haji Surabaya menggelar kegiatan Lokakarya dan Evaluasi Kepaniteraan Klinik RS Pendidikan Utama, RS Jejaring dan Puskesmas. “Ini adalah rangkaian kegiatan tahunan tentang evaluasi selama setahun, kira-kira ada permasalahan apa dan solusi yang harus dilakukan bagaimana. Akan diplenokan dalam forum yang besar, misal seperti perubahan dari desain kurikulum,” ujar dr. Risma Karlina Prabawati, Sp.S selaku ketua panitia saat ditemui di Harris Hotel and Conventions Malang. Menjadi pemateri sekaligus  Pengurus Divisi Rumah Sakit Pendidikan pada Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI), dr. Rini Listiowati, MMR., mengangkat judul “Peran RS Pendidikan sebagai Wahana Pendidikan dokter Muda di Era JKN”. Pada kegiatan yang berlangsung selama dua hari (4-5/1), kegiatan ini diikuti oleh 19 Rumah Sakit Muhammadiyah Jawa Timur (Jatim), 15 Rumah sakit Jejaring, serta  9 Puskesmas wilayah Dinas Kesehatan Kediri. Saat ini di AIPKI memiliki 94 anggota Fakultas Kedokteran di Indonesia. “Dari 94 itu, yang mempunyai rumah sakit pendidikan baru sekitar 70. Jadi masih ada 24 fakultas kedokteran yang belum mempunyai rumah sakit pendidikan,” ungkap dr. Rini. Selain itu Rini menjelaskan pula tentang fungsi dan tugas Rumah Sakit Pendidikan dalam Tata Kelola organisasi yaitu, terdiri atas tiga poin yakni Pelayanan, Penelitian, dan Pendidikan. “Pada pelayanan harus menjamin mutu dan keselamatan pasien serta pelayanan sesuai kebutuhan pasien. Adapun penelitian meliputi pengembangan pusat unggulan, kerjasama dengan pelaku industri, penelitian untuk pendidikan  kedokteran. Dan untuk ranah pendidikan meliputi penyediaan dosen, menyediakan tenaga kesehatan hingga membina jejaring Rumah Sakit Pendidikan,” jelasnya. “Sebagai salah satu institusi yang tidak mau ketinggalan dari dinamika masyarakat, khususnya dinamika kehidupan manusia, maka konsolidasi yang di dalamnya berupa suatu upaya untuk mengevaluasi kegiatan, adalah satu keharusan. Evaluasi jika dimaknai lebih luas, tidak hanya pada tatanan-tatanan parsial. Tetapi kami berharap evaluasi secara menyeluruh,” tandas Dr. H. Fauzan M.Pd selaku rektor UMM. Sehingga evaluasi tidak hanya dilakukan untuk meningkatkan kualitas akademik yang dimiliki oleh calon dokter, tetapi juga diharapkan memiliki kontribusi yang lebih baik dalam rangka membentuk kepribadian seorang dokter. “Jadi, disamping mereka memiliki kompetensi yang memang mumpuni, tetapi tidak kalah pentingnya ini adalah adanya kepribadian yang diharapkan dapat melayani masyarakat,” pungkas Fauzan saat sambutan sekaligus membuka acara. (riz/can)

Mahasiswa UMM Buat Sistem Pintar Pendeteksi Kebakaran Hutan

Menurut data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2018, luas lahan berhutan di Indonesia mencapai 93,5 juta hektare. Sehingga, selain Brazil, Indonesia menjadi penyumbang terbesar kadar oksigen dunia yang kemudian sering disebut menjadi paru-paru dunia. Indonesia adalah negara yang menempati posisi ketiga terluas di dunia dengan hutan tropis. Namun kebakaran hutan, baik yang terjadi karena musim kemarau atau pembukaan lahan ilegal, menjadi masalah yang tak kunjung usai. Hal inilah yang mendorong sekelompok mahasiswa Program Studi Teknik Informatika UMM untuk membuat sistem pintar atau teknologi yang bernama Integrated Forest Fire Management System, alat yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk mendeteksi kebakaran hutan. “Cara kerja sistem ini adalah dengan memanfaatkan sensor LM35 dan sensor Flame menggunakan Artificial Intelligence sebagai pemroses data,” ungkap Billy, Selasa (2/1) selaku ketua kelompok. Pada kasus kebakaran hutan di Indonesia telah menjadi masalah yang hingga kini masih belum teratasi, dan menjadi permasalahan internasional. Hal ini juga dapat dilihat dari data BNPB yang di update pada 15 September 2019 mencatat luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sebesar 328.722 hektare terbakar, dengan jumlah titik panas 538 titik panas. Inovasi yang dibimbing dosen Fakultas Teknik Nur Hayatin, S.ST, M.Kom digadang mampu mengurangi perluasan dampak kebakaran. “Hutan memegang peran penting bagi kehidupan diantaranya adalah filter dalam mengurangi pemanasan global, dan penghasil oksigen terbesar di dunia. Bercermin dari peran penting hutan, disayangkan jika hutan di Indonesia terus mengalami penurunan dari setiap tahunnya. Banyak penyebab berkurangnya hutan di Indonesia salah satunya yaitu masalah kebakaran hutan,” terang Billy menjelaskan temuan yang didaftarkan Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Futuristik Konstruktif. Banyak upaya yang telah dilakukan pemerintah. Di antaranya pengefektifan perangkat hukum, menerapkan metode kampanye sadar masyarakat, dibangunnya embung, membangun Menara pengawas dan lainnya. Kemudian ketika terjadi kebakaran upaya pemadaman yang dilakukan adalah dengan meningkatkan teknologi dalam upaya pemadaman, kemudian dilakukan operasi pemadaman, juga evakuasi dan penyelamatan. Inovasi teknologi ini dinilai dapat menjawab tantangan tersebut. Inputan yang didapat dari teknologi besutan Billy Aprilio, Yasril Imam dan Ulfah Nur Oktaviana ini berupa temperatur suhu dan nyala api. Ketika terjadi kebakaran, maka sensor akan mendeteksi secara otomatis. Selanjutnya, sistem akan memberikan perintah untuk memompa air untuk disemprotkan ke titik terjadinya kebakaran. “Di mana air didapatkan dari pembuatan penampungan air embun alami dengan menggunakan pemanen embun menggunakan jaring atau fog harvesting,” kata Billy. Penyemprot akan menyemprotkan air pada periode waktu tertentu yang kemudian akan dilakukan pengecekan ulang terhadap suhu sekitar. Jika dinilai masih terdeteksi suhu tinggi, maka penyemprot akan diaktifkan kembali. “Namun, apabila sensor mendeteksi kategori kebakaran hutan tingkat tinggi, maka sistem secara otomatis akan mengirimkan sinyal tempat kebakaran pada komputer pusat. Sehingga, tidak akan terjadi kebakaran yang jauh lebih besar,” terang Billy menjelaskan sistem kerja alat. Selanjutnya, hasil dari Fog Harvesting tersebut akan disalurkan ke tangki air (water tank) sebagai tempat penampungan. “Kemudian untuk power supplay, kami menggunakan panel surya untuk memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber daya utama yang kami aplikasikan pada pompa penyemprot air. Dengan adanya sistem pintar ini diharapkan akan meminimalisirkan terjadinya kebakaran hutan besar,” tutur Billy. Mereka berharap teknologi ini bisa segera di realisasikan dalam waktu dekat. (can)

Di Era Industri 4.0, Pustakawan Juga Harus Melek Teknologi

SIAPA bilang menjadi pustakawan itu pekerjaan mudah? Di era Industri 4.0 ada syarat khusus yang mesti dipenuhi untuk menjadi seorang pustakawan. Tak sekedar mengurus buku dan gedung perpustakaan saja, melainkan juga mesti paham teknologi. Demikian ditegaskan Tulus Winarsunu Koordinator Asisten Khusus Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat membuka kegiatan E-resources and Antiplagiarism Workshop Series, Jumat (25/1). Acara yang diselenggarakan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Jawa Timur ini dihadiri 84 perwakilan dari universitas negeri dan swasta. Mereka semua tergabung dalam keanggotaan FPPTI Jawa Timur. Menurut ketua PPTI Jawa Timur, Amirul Ulum, perkembangan perpustakaan sebagai pusat literasi tidak dapat dipisahkan dari peran pustakawan. Keberadaan kinerja pustakawan di dalam suatu perpustakaan memegang peranan yang penting. “Karenanya, potensi setiap sumberdaya manusia dalam perpustakaan harus dapat dimanfaatkan sebaik-baiknnya, agar mampu memberikan hasil yang maksimal. Terlebih dalam pemanfaatan akses yang dilanggan,” ungkap Amirul Disamping itu, sambung Amirul, pustakawan juga harus bisa meningkatkan dan pemberdayaan e-journal, ebook serta penggunaan plagscan atau alat pendeteksi plagiasi untuk mendukung publikasi karya ilmiah. Mulai April 2018, FPPTI Jawa Timur berlangganan konsorsium e-journal, ebook dan antiplagiarism yang terdiri dari Bidang Ekonomi dan bisnis, Bidang Kesehatan, Bidang Teknik dan Bidang Humaniora serta aplikasi plagscan untuk deteksi plagiarism. Workshop ini terdiri dari empat sesi yang terdiri dari narasumber berbeda. Yaitu Irawan Sukardi (E-journal Emerald), Dwi Janto Suandaru (E-journal Proquest dan PlagScan), Okkie S. Budiman (E-journal Gale), dan Jona Giovani (E-Books Cambridge). Senada dengan Tulus, menurut Kepala Perpustakaan UMM Asep Nurjaman, di era Industri 4.0 ini pustakawan harus mengerti bagaimana beradaptasi dengan teknologi dengan baik. Sehingga mahasiswa bisa mengakses buku di mana saja. UMM sendiri sudah memperhatikan perkembangan E-Resourch agar kedepannya mampu meningkatkan akses dan layanan. “Diharapkan UMM mampu beradaptasi dalam perubahan yang terjadi,” tandas Asep. (bel/can)

Ed-Parent, Aplikasi yang Bikin Orang Tua Cerdas Mengasuh Anak

Usai menerima tropi sebagai Juara 1 LKTI tingkat Nasional di STIKI Malang. (Foto: Istimewa)

KOMISI Perlindungan Anak (KPAI) mencatat pada tahun 2011-2016 sebanyak 4.294 kasus kekerasan pada anak dilakukan oleh keluarga dan pengasuh. Data ini didukung dengan laporan “Global Report 2017 Ending Violence in Childhood”, sebanyak 73,7 persen anak Indonesia berumur 1-14 tahun mengalami pendisiplinan dengan kekerasan, atau agresi psikologis dan hukuman fisik di rumah. “Hal ini tentunya dapat berdampak negatif pada kesehatan mental anak, serta berdampak pula pada karakter yang terbentuk pada diri anak. Sehubungan dengan hal ini  edukasi terhadap  cara mendidik, mengasuh anak secara benar sangat diperlukan orang tua guna mengindari hal-hal tersebut,” terang Siti Mubasiroh, mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Latar belakang ini yang mendorong Siti bersama teman satu kelompoknya menggagas aplikasi Ed-Parent. Aplikasi khusus orang tua tentang cara edukasi anak yang benar. “Dibuatnya aplikasi ini diharapkan dapat merekontruksi generasi bangsa menjadi generasi yang berkarakter dan bermoral sehingga terwujudnya revolusi mental di era perkembangan teknologi saat ini,” beber Siti. Aplikasi berbasis Android garapan sekelompok mahasiswa ini dinobatkan sebagai juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat Nasional di Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Indonesia (STIKI) Malang, 21 Januari lalu. Adalah Chano Paramita mahasiswa Ilmu Komunikasi, Siti Mubasiroh mahasiswa Pendidikan Biologi, Muhammad Fitrah Asyari Bangun mahasiswa Manajemen. Masing-masing angkatan 2017. “Saya sangat senang sekali. Saya tidak menyangka bisa menang setelah bersaing dengan berbagai peserta dari perguruan tinggi yang sangat bagus karyanya. Semua tidak lepas dari dukungan bapak dan ibu dosen kami masing-masing yang membimbing dan  selalu mendukung aktifitas akademik mahasiswanya,” ungkap Siti selaku ketua kelompok saat diwawancarai Sabtu (26/1) siang. Siti berharap bisa mengikuti kompetisi serupa di tempat lain. “Kedepannya saya ingin meningkatkan level perlombaan. Harapan saya, semoga prestasi ini bisa membahagiakan orangtua, juga menginspirasi mahasiswa prodi saya, pendidikan biologi secara khusus, dan mahasiswa UMM pada umumnya untuk selalu semangat belajar dan berprestasi,” ucap Siti. “Tiada hari tanpa prestasi, tiada prestasi yang tidak dihargai, dan tidak ada pelanggaran yang diberi sangsi menjadi semangat kami untuk mendidik mahasiswa untuk menjadi yang terdepan dan menginspirasi,” kata Husamah, S.Pd., M.Pd selaku Sekretaris Prodi Pendidikan Biologi mengapresiasi raihan salah satu mahasiswanya. Aplikasi ini akan tersedia dan dapat diunduh secara gratis di Play Store. (*/can)  

Raih Gelar Doktor Ilmu Hukum di UNS, Herwastoeti: Kepastian Hukum Konsumen Bank Harus Terjamin

KEPASTIAN hukum bagi para konsumen saat penyelesaian sengketa perbankan kerap menemui jalan buntu. Hal itu, disebut dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) Dr. Herwastoeti, SH, M.Si., dikarenakan masyarakat jarang mengetahui bagaimana langkah hukum yang harus ditempuh ketika bersengketa dengan Bank. Demikian problem mengakar ini sebagai latar belakang Herwastoeti dalam pengerjaan disertasi untuk meraih gelar doktoralnya. Herwatoeti resmi menjadi Doktor Ilmu Hukum di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS). Permasalan ini, kata Herwastoeti, disebabkan minimnya informasi yang diedukasi oleh Bank tentang resiko-resiko jika kredit di Bank. Herwastoeti menemukan bahwa konsumen banyak yang tidak tahu resiko apa yang akan didapat saat mengajukan kredit di Bank. Hal ini dikarenakan kebanyakan Bank sekedar mensosialisasikan produk-produk dan layanan-layanan baru, namun tidak pernah mengedukasi masyarakat tentang resiko dan jalur hukum yang harus ditempuh saat bersengketa. Selain itu, menurutnya, Bank juga tidak terbuka dan tidak pernah membacakan perjanjian ketika peminjaman kredit. Hal ini menyebabkan tidak ada kepastian hukum bagi konsumen. Konsumen Bank kebanyakan menyelesaikan sengketa di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). Padahal, tahun 2011 sudah dibentuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Praktik ini menyebabkan konsumen dirugikan. Karena BPSK tidak mempunyai kapabilitas untuk menyelesaikan sengketa, lantaran latar belakang anggota BPSK minim dari orang Hukum atau Keuangan. “BPSK tidak paham mengenai prinsip-prinsip, dasar-dasar, dan norma-norma Hukum sehingga banyak menabrak aturan hukum yang berlaku,” sebutnya. Dengan kapabilitas semacam ini, saat mediasi sengketa antara Bank dan konsumen, pihak Bank sering tidak hadir karena ketidakpercayaannya pada BPSK. OJK dalam hal ini sudah membentuk Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Perbankan Indonesia (LAPSPI) untuk menyelesaikan sengketa perbankan. Namun demikian, kata dia, LAPSPI hanya ada di Jakarta. “Sehingga para konsumen daerah yang tidak punya akses ke LAPSPI akhirnya ke BPSK. Seharusnya OJK membentuk LAPSPI di daerah-daerah agar kepastian hukum konsumen Bank terjamin,” tandas Herwastoeti. Tujuh tahun lamanya perjuangan Herwastoeti mengerjakan disertasi terbayar lantaran dinyatakan lulus sebagai doktor pada 9 Januari 2019 lalu. Perjuangan Herwastoeti untuk bergelar doktor tidaklah mudah. Ia sempat berhenti mengerjakan disertasinya karena sang Ayah jatuh sakit. Herwastoeti putus asa dan sempat berkeinginan untuk tidak melanjutkan. Namun berkat dukungan keluarga, teman, dan kerabat kerja yang tak putus-putus, semangat Herwastoeti menyala kembali. (usa/can)

Peringkat 6 PTS Terbaik Indonesia, Unpam Belajar Tata Kelola Perguruan Tinggi ke UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menerima kunjungan dari Universitas Pamulang (Unpam) Banten, Kamis (24/1). Diterima langsung oleh Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., Unpam membawa sepuluh jajaran fungsional universitas. Diantaranya hadir Wakil Rektor II, Dr. Subarto, M.Pd. Dalam lawatannya ke Kampus Putih, Unpam ingin belajar banyak pada UMM terkait pengelolaan Perguruan Tinggi. Mengingat beberapa waktu lalu, UMM berhasil menempati pemeringkatan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terbaik di Indonesia. UMM berada di posisi ke-6 PTS terbaik versi Kemenristekdikti tahun 2018. “Kami ingin belajar upaya-upaya UMM dalam membesarkan perguruan tinggi, karena kami kira UMM saat ini menjadi salah satu percontohan perguruant tinggi swasta di Indonesia,” ungkap Subarto. Saat ini, sambungnya, Unpam telah memiliki lahan seluas 160 hektar yang siap dibangun untuk aktivitas akademik mahasiswa. Disamping itu, Unpam juga ingin belajar terkait konsistensi UMM dalam ranah pengabdian pada masyarakat. “Kami kira besarnya Universitas Muhammadiyah Malang juga karena besarnya pengabdian perguruan tinggi pada masyarakat,” tutur Subarto. Besarnya UMM, sebut Syamsul, tak lain loyalitas seluruh elemen yang ada. “Kesungguhan ini ditanamkan Pak Abdul Malik Fadjar sejak dahulu,” jelas Syamsul. Salah satu wujud nyata UMM dalam ranah pengembangan perguruan tinggi yakni melalui berbagai unit usaha yang telah dibangun. Beberapa diantaranya yakni Wahana Wisata Sengkaling, Hotel UMM Inn dan SPBU UMM. Selain itu, relasi perguruan tinggi dengan berbagai instansi juga perlu dibangun dengan baik. “Salah satu buah dari relasi kami adalah perjanjian untuk para fresh graduate Fakultas Ilmu Kesehatan. Setelah lulus dari UMM kami akan kirimkan mereka ke Jepang untuk menjadi tenaga kesehatan di sana,” tandas Syamsul. (mir/can)

Penulis Menggusur Ego, Niam Muiz Ungkap Rahasia Kendalikan Ego

HIMPUNAN Psikologi Indonesia (HIMPSI) Malang menggelar bedah buku di Gedung Kuliah Bersama IV  Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (22/01). Acara ini membedah buku keempat pebisnis dan konsultan sukses, Niam Muiz. Dalam bukunya, Niam membongkar makna ego. “Ego laksana api yang apabila dikelola dengan baik akan menjadi kekuatan dahsyat. Menggelorakan cinta, mengejar prestasi dan menjadi energi spiritual,” paparnya. “Namun jika tidak dikelola dengan baik, ego menjadi kerdil, liar dan membumi hanguskan diri sendiri dan alam sekitar,” ujarnya. Selepas kuliah pada 1985, Niam Muiz sukses menggedor pintu perusahaan asing. Ia hilir mudik di lima perusahaan konsultan asing terbesar di dunia. Sebagai konsultan SDM, ia telah mendapatkan puncak dari perjalanan kariernya. Rumah mewah, mobil BMW serie terbaru di masanya, jabatan tinggi dengan 12.000 anak buah. Bukunya, ‘Menggusur Ego’, sempat dilayangkan kritik oleh Muhammad Salis Yuniardi, S.Psi,. M.Psi., PhD selaku Dekan Fakultas Psikologi UMM, karena dinilai tidak membahas definisi ego. Sehingga membuat pembaca bingung. Niam Muiz mengonfirmasi, bahwa bukunya bukan buku akademik. Namun buku ini disesuaikan keinginan pasar. Buku ini didasarkan pada pengalamannya menggeluti ego selama bertahun-tahun. Sehingga, Niam Muiz memiliki definisi ego tersendiri. “Ego adalah ‘lampu sorot’ yang mempercantik panggung. Panggung ini adalah sebuah perumpaan tentang apa yang menjadi berharga buat kita. Misalnya kecantikan adalah hal yang berharga buat kita,” ungkapnya. Maka, sambung Niam, ‘lampu sorot’-nya adalah skin care, make up, makanan bergizi, dan olahraga untuk membuat panggung kecantikan kita bagus untuk dilihat. Demikian, kita tinggal membuat ‘lampu sorot’ masing-masing. Ego perlu dikendalikan. Mana yang perlu dan tidak kita jadikan ‘lampu sorot’. Bagi Niam, jika ingin cantik, yang dilakukan tinggal makan makanan yang bergizi dan rutin berolaraga saja. Tak perlu membeli skin care dan make up yang mahal-mahal. “Kita perlu untuk menkonfigurasi ego untuk mengenalli diri kita sendiri,” tegas Niam. Ia memberi contoh Nabi Muhammad SAW ketika menyendiri di gua tsur hingga gua hira untuk mengenali egonya dan mengukur jarak dengan Tuhan. Kemudian, Nabi Muhammad SAW diberitahu oleh Malaikat Jibril siapa dirinya sebenarnya, yaitu seorang Rasul Allah. Niam Muiz melanjutkan, setelah itu ‘lampu sorot’ Nabi Muhammad runtuh, berganti cinta bersahaja kepada Allah SWT. Niam Muiz mengatakan bahwa kita sudah diberi contoh oleh manusia paling sempurna yang pernah lahir di Bumi, maka kita harus meneladaninya. Menurut Niam, perjuangan manusia hanyalah menkofigurasi egonya saja. Musuh manusia semuanya sama, sambung Niam, yaitu ego. “Sebenarnya manusia itu semuanya sama, cuma ego kita yang merasa kita lebih baik daripada yang lain saja yang membuat kita berbeda,” papar Niam. Niam menutup dengan ungkapan bahwa tiap orang harus senantiasa berprasangka baik kepada Allah SWT. Bahwa Allah Maha Kaya, maka manusia tak perlu khawatir dengan rezeki. Yang perlu dilakukan oleh tiap orang hanyalah berjuang. Ego yang terlalu tinggi kadang mengukur cinta kasih Allah kepada kita. Sehingga kita selalu khawatir dan resah. “Jika kita tetap teguh dengan apa yang kita perjuangkan dan selalu mengingat Allah dalam setiap langkah kita,” tandasnya. (usa/can)

Mahasiswa Psikologi Juga Harus Mahir Berbisnis

FAKULTAS Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Malang dan HIMPSI Jakarta menggelar Bedah Buku “Menggusur Ego”, Selasa (22/1). Penulisnya, Niam Muiz menyebut, di era modernisasi sekarang, mahasiswa dituntut menggali potensi diri menjadi entrepreneur. Rumpun keilmuan Psikologi sebagai ilmu yang luas, kata Niam, memberi peluang bagi mahasiswanya untuk bereksplorasi menghadapi globalisasi. Salah satunya melalui bisnis atau wirausaha. Kedatangan motivator sekaligus pebisnis Niam Muiz, memotivasi mahasiswa Fakultas Psikologi UMM untuk menumbuhkan jiwa entrepreneur. Dalam buku Menggusur Ego, Niam membongkar makna ego. Ego laksana api yang apabila dikelola dengan baik akan menjadi kekuatan dahsyat. Menggelorakan cinta, mengejar prestasi dan menjadi energi spiritual. “Namun jika tidak dikelola dengan baik, ego menjadi kerdil, liar dan membumi hanguskan diri sendiri dan alam sekitar,” ujarnya. Selepas kuliah pada 1985, Niam Muiz sukses menggedor pintu perusahaan asing. Ia hilir mudik di lima perusahaan konsultan asing terbesar di dunia. Sebagai konsultan SDM, ia telah mendapatkan puncak dari perjalanan kariernya. Rumah mewah, mobil BMW serie terbaru di masanya, jabatan tinggi dengan 12.000 anak buah. Sementara, ketua HIMPSI Malang, Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., Psikolog yang juga dekan Fakultas Psikologi UMM mengajak semua anggota HIMPSI untuk menggali potensi di tiap diri. “HIMPSI itu sebagai rumah untuk kalian. Dan jangan pernah merasa sendiri karena kalian masih punya rumah yang nyaman di sini,” ujarnya. Bersamaan dengan peluncuran buku keempat Niam Muiz ini, Salis memaparkan buku ini sangat cocok untuk bahan perenungan, karena tema yang sangat cocok dengan kondisi Indonesia kekinian. “Di mana masalah terbesar bangsa saat ini adalah Ego. Selain itu setiap sub bab-nya juga menarik untuk diulik,” ungkapnya. Kedepan, sambung Salis, diharapakan mahasiswa tidak lagi hanya berpatok pada bisnis di rumpun ilmu Psikologi saja. Namun, mereka mau menantang dirinya untuk keluar dari zona nyamannya. Yakni dengan membangun bisnis apapun. Baik di sentra kuliner, teknologi, dan lain sebagainya melalui pemanfaatan disiplin ilmu Psikologi. “Karena sejatinya apa yang dilakukan sehari-hari semuanya berkaitan dengan hubungan antar manusia. Begitupun dengan bisnis. Maka dari itu, ilmu Psikologi harus mampu mengambil celah untuk berbisnis,” pungkas Salis di ruang sidang lantai 4 Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV UMM. (yun/can)

Gelar Talkshow, UMM dan KKU Bandingkan Demokratisasi Indonesia-Thailand

BERTEMPAT di ruang sidang Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mahasiswa program studi (Prodi) Ilmu Pemerintahan (IP) bersama mahasiswa pertukaran pelajar dari College of Local Administration (COLA) Khon Kaen University (KKU) Thailand menyelenggarakan talkshow, Selasa (22/1). Membahas gerakan mahasiswa dalam proses demokratisasi di Indonesia dan Thailand. Diskusi ini diawali penjelasan mahasiswa COLA KKU Sittisak Khaeothanmanukun terkait sistem pemerintahan di Thailand. Dijelaskan Sittisak, Thailand merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang menganut sistem pemerintahan Monarki. Negara yang dipimpin oleh seorang raja bernama King Rama X. “Rakyat Thailand sangat menghormati rajanya sebagai pemimpin dari segi moral,” terangnya. Seperti negara Monarki yang lain, sambung Sittisak, dalam hal ini kepala pemerintahan adalah perdana menteri yang dilantik oleh raja dari anggota-anggota parlemen. Biasanya adalah pemimpin partai mayoritas. Dari aspek ini, mahasiswa COLA KKU mengakui, perbedaan antara Indonesia dan Thailand sangat kentara. Namun, sebut Sittisak, terdapat persamaan antara Indonesia dan Thailand. Yaitu terdapat lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. “Jika kembali ke sejarah, Indonesia dan Thailand sama-sama memiliki masalah dengan adanya paham komunisme yang di anut oleh beberapa oknum di negara tersebut,” bebernya. Di Thailand pada tahun 1473, terjadi peristiwa penghukuman bagi para penganut paham Komunis yang ingin melakukan persekusi terhadap raja. Komunis di Thailand dianggap paham yang dilarang karena dapat mengancam kedaulatan. ”Seperti halnya di Indonesia yang memiliki permasalahan dengan paham ini,” ungkap Sittisak. Sementara, disebut mahasiswa IP UMM Tia Marwah, sistem kepartaian dalam periode Pemilu 1955 hingga 2014 memberikan warna dalam Pemilu di Indonesia. Mulai dari sistem yang demokratik hingga psuedo demokratik. “Poin penting dalam penyelenggaraan Pemilu di Indonesia adalah untuk menjamin hak politik, menjamin sirkulasi elit, melindungi kedaulatan rakyat, hingga menjamin kesehteraan masyarakat,” jelas Tia. Penyelenggaraan Pemilu setidaknya harus mewujudkan poin, yang disebut Tia, melalui visi dan misi serta strategi masing-masing pasangan calon presiden. “Bukan hanya sekedar pertentangan wacana untuk memperebutkan maupun mempertahankan kekuasaan, namun untuk mewujudkan keadilan politik, sosial dan ekonomi,” pungkas Danang Kurniawan, mahasiswa IP UMM yang juga menjadi pemateri. (*/can)