Adakan Kompetisi Public Speaking, Dijuri Langsung Jurnalis Profesional Kompas TV

DALAM DUNIA KERJA, kemampuan public speaking atau berbicara di depan umum sudah menjadi seperti kebutuhan primer. Hampir di setiap bidang kerja, sangat memerlukan kompetensi satu ini. Menyadari hal itu, Program Studi D-III Keuangan dan Perbankan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Public speaking Competition for D-III Finance and Banking di Aula GKB IV UMM, Kamis (20/12). Kepala Laboratorium Bank Syariah Prodi D-III Keuangan dan Perbankan, Eris Tri Kurniawati, S.E., M.M., Ak. menyatakan, program studi vokasi D-III Keuangan dan Perbankan 70% mata kuliahnya merupakan matakuliah praktek. “Keterampilan Public speaking merupakan salah satu penunjang yang sangat penting dari seluruh matakuliah praktek itu. Karena pada level profesional, lulusan D-III keuangan dan perbankan akan dituntut memiliki kecakapan ini,” terang Eris. Kategori yang dikompetisikan yakni Speech Competition, Presenter, Master of Ceremony dan Moderator. Keempat kategori tersebut juga dibagi kembali menjadi kategori Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Salah satu juri kompetisi, yang juga merupakan Video Jurnalis dan Reporter Kompas TV, Shinta Maulidya, mengaku terkejut dengan kualitas dari seluruh peserta di setiap kategori lomba. “Untuk menguasai Public speaking memang memerlukan waktu dan latihan yang cukup intensif. Terlebih lagi, untuk mahasiswa yang tidak memiliki dasar keilmuan Jurnalistik maupun Ilmu Komunikasi, akan lebih memakan waktu,” kata Shinta. Public speaking, sambung Shinta, tidak hanya identik dengan mahasiswa Jurnalistik dan Ilmu Komunikasi saja. Karena memang faktanya di lapangan, kemampuan Public speaking sangatlah penting. Salah satu peserta, Lila Denayu Yustian, merasa sangat senang dengan adanya kompetisi Public speaking sebagai rangkaian akhir mata kuliah ini. Menurutnya, ini bisa menjadi salah satu motivasi bagi mahasiswa untuk lebih kompetitif. “Kemampuan public speaking yang saya peroleh di bangku perkuliahan juga harus diimbangi dengan praktek agar lebih berdampak besar kepada kemampuan public speaking saya,” jelasnya. (iel/can)
Perkuat Toleransi Antar Umat Beragama, Mobil KaCa UMM Sambangi Yayasan Bunda Teresia Batu

RAMAINYA berbagai persoalan yang menyinggung masalah toleransi antar umat beragama, menjadi perhatian khusus tim Mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, Mobil KaCa sambang dan sharing program di Yayasan Bunda Teresia Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (20/12). “Bagi kami, kunjungan kali ini terbilang istimewa. Biasanya Mobil KaCa hanya sambang ke tempat-tempat notabene masyarakat Muslim. Kali ini, tim Mobil KaCa memutuskan untuk sambang ke wilayah yang cakupan lebih luas. Karena literasi milik semua kalangan,” terang koordinator tim, Maharina Novia Zahro. Bagaimanapun, sambung Maharina, konflik yang belakangan terjadi, diakibatkan kurangnya interaksi juga dialog dengan kelompok yang dianggap berbeda. Mobil KaCa UMM, disebut Maharina, menjadi sarana edukatif dan tepat untuk menyemai nilai-nilai toleransi. Yakni dengan mengajarkannya sejak dini. Hadir dengan membawa konsep literasi, anak-anak yang berada di sana merasa terhibur dan senang. Pasalnya, anak-anak bukan hanya disuguhkan buku bacaan, namun di sana diajari tentang cara mengolah degradasi warna dengan pensil gambar. Serta, bergembira bersama melalui kegiatan outbound. “Kami tak pernah ragu untuk berjumpa dengan pembaca baru sekalipun anak kecil. Apalagi mereka yang tidak suka membaca. Kami yakin, mereka hanya belum menemukan buku yang ia senangi saja. Jadi kedatangan kami hanyalan membantu mereka menemukan buku yang disukai,” lanjut Maharina. Gabriel contohnya, anak berusia 8 tahun ini mengaku sangat menyukai permainan Bola Shegy. Bersama teman-temannya, dia saling berebut bola dalam salah satu sesi outbond ini. “Seneng banget main bola, tapi capek rebutan sama temen,” ungkapnya polos. Lutfi Nurul Rosyidah sebagai triner, memilih permainan ini karena merasa cukup efektif mengasah konsentrasi dan ketangkasan. “Setiap ada kata Shegy, peserta harus waspada. Karena mereka harus mencari ke mana arah bola yang sudah saya lempar lalu menangkapnya,” terang mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi ini. Sementara, Tintrim Rahayu, pengurus Yayasan yang dihuni oleh anak yatim, cacat dan terlantar ini mengaku senang dengan kedatangan Mobil Kaca. “Kegiatannya sangat bermanfaat. Saya sangat senang melihat mereka senang membaca dan senang dengan berbagai kegiatan yang diadakan seperti ini,” akunya. (rin/can)
Kejuaraan ESports di UMM Jadi Wujud Dukungan Perkembangan Cabang Olahraga Baru

MESKI belum begitu populer, cabang olah raga (cabor) satu ini justru tengah naik pamor. Olah raga elektronik atau electronic sports (ESports), dulu hanya jadi sarana hiburan, kini berubah jadi cabor yang diperlombakan secara resmi. Salah satunya adalah pada gelaran ASIAN Games 2018 yang resmi memasukkan ESports sebagai salah satu cabang olahraga. Demikian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menunjukkan dukungannya pada cabor ini. Event pertama kali yang dikolaborasikan dengan Tencent dan Tora Bika, menghelat PUBG Campus Championship Indonesia, Kamis (20/12) siang di Aula GKB IV UMM. Game PUBG sendiri sekarang tengah banyak digandrungi. Meski berstatus exhibition, atau tak masuk dalam daftar kontingen pemenang, ajang ini tak sepi peminat. Hal tersebutlah yang mendorong Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) UMM untuk menyelenggarakannya. Kejuaraan ini diselenggarakan secara serentak di 40 Perguruan Tinggi di Indonesia. Di UMM sendiri, hanya dalam kurun 28 jam dibukanya pendaftaran, sudah ada 112 tim yang mendaftar. Padahal kuota bertanding hanya 20 tim. BEM-U sampai harus melakukan seleksi untuk merampingkan pendaftar menjadi 20 tim saja. Di Kota Malang sendiri, ada empat Perguruan Tinggi yang terlibat, yakni UMM, Polinema, Universitas Brawijaya dan UM. Tim yang menang akan mendapatkan Grand prize sebesar lima juta rupiah. Nantinya, tim yang melampaui skor rata-rata akan berangkat mewakili UMM ditingkat Nasional. Serta, berhadapan dengan perguruan tinggi lain. Presiden Mahasiswa UMM, Ainur Rifqi Alhamdani Rahmat menyatakan, “Ini adalah wujud kami mendukung perkembangan E-Sports di Indonesia,” katanya. Ia takjub, sambungnya, dengan antusias para peserta. Terakhir, Rifqy mengajak untuk menyikapi ESports dengan bijak dan menjadikannya sarana prestatif bukan sekedar rekreatif. Lewat kejuaraan ini, masyarakat tak lagi memandang sebelah mata para pemainnya. (mir/can)
DPR RI Komisi VII Puji Kepeloporan UMM sebagai Kampus Hemat Energi

Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (19/12). Kegiatan itu dalam rangka reses Komisi VII DPR RI. Ditunjuknya UMM sebagai tuan rumah Kunker, disebut Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Ridwan Hisjam, tak lepas dari kepeloporannya mengusung konsep kampus hemat energi. Yakni adanya 2 Pembangkit Listrik Tenga Mikro Hidro (PLTMH) Mitra Kerja Komisi-Komisi DPR RI Masa Keanggotaan Tahun 2014-2019 yakni Energi, Riset dan Teknologi, dan Lingkungan Hidup. “Dipilihnya UMM untuk kunjungan kerja ini karena kepeloporannya pada energi baru-terbarukan,” jelasnya. Sebagai kampus yang dikenal dengan predikat pelopor energi baru-terbarukan (EBT), kehadiran 2 Pembangkit PLTMH telah mengantarkan diraihnya Asean Energy Award untuk pertama kalinya di tahun 2009. Di tahun 2018, tepatnya Oktober lalu, melalui Rumah Susun Mahasiswa (Rusunawa) UMM juga meraih penghargaan yang sama. UMM dianugerahi sebagai 2nd Runner-up sub kategori bangunan tropis (tropical building). “PLTMH milik UMM tidak hanya digunakan sebagai laboratorium terapan bagi civitas akademika UMM sendiri, tapi juga digunakan perguruan tinggi lain sebagai sumber belajar mahasiswa,” sebut Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. Setelah mendengar jajak pendapat dan aspirasi dari mitra kerja Komisi VII DPR RI juga pergurun tinggi Malang Raya, kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi 2 PLTMH yang berada di lingkungan Kampus III UMM. (*/can)
Ini 5 Kualifikasi Dosen di Era Revolusi Industri 4.0 Menurut Komisi VII DPR RI

Di era revolusi industri 4.0, profesi dosen semakin kompetitif. Pada era ini Dosen memiliki tuntutan lebih, baik dalam kompetensi maupun kemampuan untuk melakukan kolaborasi riset dengan berbagai pihak tingkat dunia. Demikian disampaikan Ridwan Hisjam, Wakil Ketua Komisi VII DPR di acara Kunjungan Kerja Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Komisi VII di Universitas Muhammadiyah Malang, Rabu (19/12). “Kondisi Dosen Indonesia saat ini sendiri masih didominasi oleh generasi baby boomers dan generasi X yang merupakan digital immigrant. Sementara mahasiswa yang dihadapi merupakan generasi millennial atau digital native,” katanya. Sehingga, dipaparkan Ridwan, setidaknya terdapat lima kualifikasi dan kompetensi dosen yang dibutuhkan di era revolusi industry 4.0. Pertama, educational competence, kompetensi berbasis Internet of Thing sebagai basic skill di era ini. Kedua, competence in research, kompetensi membangun jaringan untuk menumbuhkan ilmu, arah riset, dan terampil mendapatkan grant internasional. Ketiga, competence for technological commercialization. “Dosen harus punya kompetensi membawa grup dan mahasiswa pada komersialisasi dengan teknologi atas hasil inovasi dan penelitian,” terangnya di depan sejumlah rektor dan pimpinan perguruan tinggi Malang Raya. Keempat, competence in globalization, dunia tanpa sekat. Yakni dosen dituntut tidak gagap terhadap berbagai budaya, kompetensi hybrid, yaitu global competence dan keunggulan memecahkan national problem. Serta, yang terakhir atau kelima. competence in future strategies. Di mana dunia mudah berubah dan berjalan cepat. “Sehingga punya kompetensi memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di masa depan dan strateginya,” pukasnya. Dilanjutkan Ridwan, berbagai upaya yang bisa dilakukan di antararanya dengan cara joint-lecture, joint-research, joint-publication, joint-lab, staff mobility dan rotasi, paham arah SDG’s dan industri, dan lain sebagainya. (*/can)
Gandeng UMM, LLDikti Bina Kemahasiswaan 37 Perguruan Tinggi untuk Hadapi Industri 4.0

LEMBAGA Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) menggandeng Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengumpulkan 37 perguruan tinggi di Jawa Timur, dalam rangka membina Kemahasiswaan Perguruan Tinggi dalam menghadapi Industry 4.0. Melaui Pelatihan Pemandu Orientasi Pengembangan Pendamping Kemahasiswaan (PP-OPPEK), terdapat empat poin tujuan yang ingin dicapai PP-OPPEK yang dikumukakan Widyo. Pertama, Pimpinan Universitas dan Dosen mampu membimbing para Mahasiswa untuk dalam menghadapi industry 4.0. Kedua, pimpinan Perguruan Tinggi dan dosen mampu mendidik mahasiswa menciptakan SDM yang berkualitas serta adaptif. Ketiga, Kemahasiswaan di setiap Perguruan Tinggi mampu berkreativitas di berbagai bidang. “Keempat, seluruh Perguruan Tinggi yang berkumpul mampu menjalin sinergi untuk bekerja sama di berbagai bidang,” tukasnya. “Selama pembinaan dilakukan, seluruh perumusan kebijakan tergantung dengan kreativitas universitas masing-masing,” tutur Dr. Widyo Winarso, M.Pd. selaku Sekretaris Pelaksana LLDikti Wilayah VII. Widyo menjelaskan, tidak ada pakem yang bisa ditetapkan untuk menentukan sistem kebijakan Kemahasiswaan. Hal ini dikarenakan budaya setiap universitas berbeda. Kebijakan harus disesuaikan universitas masing-masing. Sementara, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., Wakil Rektor I UMM menyampaikan, penting sekali untuk memahami era Industry 4.0. Menurut Syamsul, sekarang para pengajar bisa kalah paham dengan mahasiswa dalam memahami era industry 4.0. Para pengajar, sebut Syamsul, sangat perlu untuk memahami era Industry 4.0 agar bisa menjadi pembimbing bagi mahasiswanya. “Mahasiswa tidak hanya diajarkan hardskill saja seperti dahulu, tapi sekarang soft skill juga penting,” tandasnya. Acara itu dilaksanakan 3 hari di Hotel Royal Orchids Garden, Senin (17/12) sampai Rabu (19/12). Dengan pembinaan ini, diharapkan mahasiswa di masing-masing perguruan tinggi bisa berkembang sesuai dengan zamannya, yaitu era Industry 4.0. (usa/can)
Begini Islam Memandang Hak Asasi Manusia

BERBICARA tentang kondisi Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia selalu menjadi perdebatan yang menarik. Pasalnya, menegakkan dan memenuhi HAM untuk 265 juta penduduk Indonesia selalu menemui kondisi ketimpangan. Tahun ini saja, Komisi Nasional (Komnas) HAM diberikan rapor merah oleh masyarakat. Hal tersebut berkaitan dengan semakin maraknnya kasus-kasus ketimpangan sosial yang berimbas pada tidak ditegakkannya HAM. Disamping itu, HAM menjadi menarik jika dikaji melalui perspektif Islam. HAM, disebut sebagai sebuah hak yang sudah dimiliki oleh setiap individu sejak ruh yang tertanam pada dirinya dianugerahkan oleh Allah SWT. “Sesungguhnya manusia diciptakan dengan mewarisi sifat-sifat ketuhanan, namun Tuhan memberikan pilihan (hak, red.) padanya,” papar Prof. Dr. Ishommudin, M.Si pada Seminar Nasional HAM BEM UMM, Senin (17/12). Lebih lanjut, Ishomuddin memaparkan bahwa HAM pada setiap individu bersumber pada hati masing-masing. Saat hati tidak merasa puas akan apa yang terjadi, khususnya pada fisik manusia, maka hal itu diungkapkan sebagai pelanggaran HAM. “Manusia itu lupa, bahwa mereka sejak diciptakan telah dianugerahi sifat selalu ingin memuaskan diri dan tamak. Sifat tersebut akan menjadi liar jika tidak dikendalikan oleh logika,” kata Ishomudin. Islam sendiri secara utuh telah mengajarkan bagaimana menerapkan HAM dalam kehidupan sehari-hari. Keberadaan perbedaan yang kemudian dihargai adalah bentuk ditegakkannya HAM. Tak berhenti di situ, sambung Ishomudin, penegakkan HAM dapat dimulai dengan memutuskan dan memusnahkan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma dalam kehidupan bersosial, yang membawa keburukan bagi kehidupan sosial. “Menghargai perbedaan dan memerangi yang zalim sebenarnya adalah hal yang mudah untuk dilakukan oleh setiap umat sebagi seorang individu,” tutup Ishomudin dalam pemaparan yang dihadiri mahasiswa berbagai jurusan ini. Hadir pembicara lain Haris Azhar, Direktur Eksekutif Lokataru Foundation dan Rocky Gerung, Peneliti di Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D). Kedua tokoh ini juga memprovokasi mahasiswa untuk lantang menyuarakan kebenaran. (nis/can)
Haris Azhar dan Rocky Gerung Ajak Mahasiswa UMM Lantang Suarakan Kebenaran

HARIS Azhar, Direktur Lokataru Foundation juga Rocky Gerung, Peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi hadir dalam Seminar Nasional Hak Asasi Manusia yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (17/12) pagi. Haris yang dikenal sebagai Aktivis HAM ini menyentak kesadaran mahasiswa yang hadir, tentang kondisi penuntasan terhadap pelanggaran HAM di Indonesia. “Coba lihat sekitar anda. Berapa banyak orang yang memperjuangkan lingkungan dan berakhir dengan kriminalisasi ataupun dipenjara? Inilah faktanya,” kata Haris. Berderet pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia hingga hari ini belum tuntas seluruhnya. “Karena tidak selesai menuntaskan masalah HAM, kita lihat saja sekarang, para pelanggarnya masih bebas melakukan segala kegiatannya dengan aman,” katanya di Aula Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV Kampus III UMM. Bagi Haris, menjadi seorang yang sadar adalah pilihan dan tidak selalu harus memiliki materi. Namun bisa juga melalui permberdayaan dan aktif berpartisipasi. Bukan menjadi orang yang ikut-ikutan. “Kita mesti membangun partisipasi yang substansial,” ujar pria yang kerap menjad pembicara di berbagai stasiun televisi ini. Menurut speaker kondang Rocky Gerung, Hak Asasi Manusia sudah dicontohkan sejak zaman Nabi SAW. Hak juga yang menjadi salah satu keresahan Ahmad Dahlan dahulu. Baginya, keberadaan Muhammadiyah, dinilai turut banyak berkontribusi mewujudkan keadilan di masyarakat sejak pertama kali berdiri. “Seandainya saja KH. Ahmad Dahlan tak mau menjadi orang yang sadar tentang perubahan, dan lebih memilih sibuk berpolitik, maka tak akan ada (sekitar) 180an Universitas Muhammadiyah di seluruh Indonesia,” katanya dengan disambut tepuk tangan meriah ratusan peserta seminar sehari ini. Rocky ingin sejenak “mengusik” pikiran generasi millennial untuk berpikir tentang mimpi dan harapan Indonesia. “Bilamana dikontekskan dengan era industrial 4.0, maka coba kita berpikir sebentar. Di tahun 2035 nanti yang menjadi penggerak Indonesia ya kalian. Tentu harus dipersiapkan sejak dini,” ajaknya. (nis/mir/can)
Ternyata Nasionalisme yang Buat Samsung Jadi Perusahaan Elektronik Nomor 1 Dunia
“Mau sampai kapan mengandalkan sumber daya alam dan property?” tanya Vice President PT. Samsung Electronics Indonesia, Kang Hyun Lee, Kamis (13/12). Menurutnya, orang Indonesia terlalu suka mengambil jalan mudah untuk mendapatkan uang. Yakni cukup dengan mengolah Sumber Daya Alam (SDA) dan membangun property, manusia Indonesia sudah merasa cukup. Kang Hyun Lee menceritakan bagaimana Samsung dibangun berawal dari toko sembako, hingga menjadi perusahaan elektronik nomor satu dunia. Dikatakannya, bahwa kunci Samsung menjadi nomor satu adalah penghargaannya terhadap Nasionalisme. Perusahaan yang berdiri di Korea ini merupakan kebanggaan orang Korea, sehingga semua orang Korea mendukung tumbuh kembang Samsung. “Selain nasionalisme, kita juga harus banyak-banyak riset dan terus melakukan pengembangan,” tegas Hyun Lee. Setiap harinya, Samsung menghabiskan 40.7 Miliyar USD untuk riset dan pengembangan. Saat awal pendiriannya, Samsung banyak meniru perusahaan internet Jepang. Juga, banyak mengirim karyawannya ke Jerman dan Amerika untuk belajar dan mengembangkan produk. Dihelat di Ruang Sidang Senat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kuliah tamu ini membahas kesiapan Indonesia mengahadapi Industry 4.0. Kuliah tamu dihadiri mahasiswa Teknik Informatika. Kang Hyun Lee menganjurkan Mahasiswa Teknik Informatika UMM untuk mulai memajukan Industri Elektronik di Indonesia. Salah satunya melalui spirit nasionalisme seperti yang Samsung usung. Saat ini Samsung memiliki Research and Development Center sebanyak 34 buah di dunia, khusus untuk riset dan mengembangkan produk. “Dalam hal ini, Indonesia sangat tertinggal, sekarang sudah era Industry 4.0, harus mulai berpikir untuk memajukan Industri Elektronik. Adik-adik nanti harus mulai membangun Industri Elektronik di Indonesia agar tidak semakin ketinggalan,” ucap Hyun Lee. Merespon hal ini, Dr. Tulus Winarsunu, M.Si selaku Koordinator Asisten Khusus Rektor mengatakan, UMM sudah mulai berkemas untuk menyongsong Industry 4.0 dengan merancang pendirian Institut Pendidikan Vokasi (IPV). Di antaranya membuka 5 sekolah bidang keahlian. Yakni Desain dan Media, TIK dan Elektronika, Bisnis dan Manajemen, Kesehatan dan Hospitality, serta Agribisnis. “Sebagai Perguruan Tinggi yang berkemajuan, Universitas Muhammadiyah Malang harus mengambil peran kepeloporan untuk memastikan bahwa hadirnya Industry 4.0 benar-benar akan mensejahterakan masyarakat. Salah satunya melalui pendirian Institut Pendidikan Vokasi ini,” pungkasnya. IPV akan dibangunkan gedung seluas sekitar 20 hektar di wilayah Karang Ploso, Kabupaten Malang. (usa/can)
Bahas Digitalisasi UMKM, Dosen FEB UMM Raih Best Paper AFEB-PTM 2018

DUA dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM, M Sri Wahyudi., SE, ME dan Mocahamad Rofik., S.Pd, M.Pd berhasil mendapatkan Peringkat Pertama Best Paper dalam Seminar dan Call for Paper Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Perguruan Tinggi Muhammadiyah (AFEB PTM) se-Indonesia, Kamis (13/12). Wahyudi dan Rofik berhasil mendapatkan Best Paper untuk kategori penelitian bidang ekonomi pembangunan setelah melakukan penelitian di bidang digitaliasi UMKM Jawa Timur. Wahyudi berujar bahwa penelitian yang dilakukan bertujuan untuk memetakan potensi dan kesiapan UMKM di Jawa Timur dalam menghadapi era revolusi industri 4.0. “Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan pemetaan potensi serta melihat sejauh mana kesiapan UMKM di Jawa Timur dalam menghadapi Revolusi Indusitri 4.0,” ungkap Wahyudi yang juga menjabat sebagai Sekretaris Program Studi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP). Sementara itu, ditemui secara terpisah, Rofik berharap bahwa capaian yang telah ditorehkan dapat semakin memacu semangatnya untuk terus berkontribusi bagi pembangunan ekonomi khususnya di Jawa Timur. “Kita ketahui bahwa 50% lebih PDRB Jawa Timur ditopang oleh UMKM,” terangnya. Sehingga sangat penting untuk memastikan UMKM di Jawa Timur dapat bersaing di era Internet of Things seperti sekarang,” ujar dosen yang mengampu mata kuliah Matematika Ekonomi tersebut. Paper Wahyudi dan Rofik berhasil menyisihkan setidaknya 107 paper dari 54 PTM se-Indonesia. (*/can)