Tips Dosen UMM untuk Hindari Impulsif Buying Menjelang Lebaran

Fear of missing out (FOMO) menjadi salah satu faktor psikologis yang dapat mempengaruhi seseorang untuk berbelanja secara berlebihan menjelang lebaran. Hal itu diungkapkan Uun Zulfiana selaku dosen psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia menyebut, faktor lain seperti kepuasaan emosional yang dipengaruhi oleh berbagai paparan iklan di media sosial dan faktor kebiasaan yang tidak mampu menahan diri (self control) juga dapat menciptakan sifat impulsif. Bahkan juga menjadi faktor psikologis seseorang berlanja berlebihan Terkait fenomena konsumtif yang berlebihan, ia melihat hal itu berawal dari kombinasi faktor kognitif, emosional dan perilaku situasional. Sehingga membuat faktor-faktor tersebut dapat berkaitan satu sama lain, terutama self control yang menjadi kaitan paling terdekat. Pengaruh sosial seperti teman dan keluarga juga sangat mungkin untuk dapat mempengaruhi perilaku berbelanja seseorang menjelang lebaran. “Karena penyebabnya adalah self control. Ketika seseorang memiliki kontrol diri yang rendah, ia akan sangat mudah untuk dipengaruhi oleh faktor eksternal baik keluarga maupun teman,” tambahnya. FOMO mungkin akan erat hubungannya dengan kepercayaan diri. Jika kepercayaan diri rendah, ia akan lebih mudah untuk mengikuti tren sosial, terutama menjelang lebaran. Hal itu akan membuat seseorang membeli banyak hal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Selain itu juga meningkatkan kemungkinan impulsif buying. Untuk mengatasi hal itu, Uun memberikan sederet tips meningkatkan kesadaran dan self control agar terhindar dari perilaku impulsif buying. Pertama, meningkatkan kesadaran diri dengan cara menegaskan pada diri untuk meningkatkan self awareness. Komitmen yang kuat pada diri sendiri memberikan dampak yang bagus untuk menekan perilaku ini. Kedua, membuat perencanaan anggaran belanja, mencatat apa saja yang dibutuhkan. Menghindari keinginan yang tidak sesuai dengan anggaran. Ketiga, mengalihkan perhatian dengan aktivitas positif lainnya. “Jadi, kita bisa mencoba hal-hal baru seperti olahraga, aktif di komunitas, membaca, dan lainnya. Jangan malah rebahan dan melihat live TikTok, Shopee, dan lainnya. Ini justru akan meningkatkan keinginan untuk membeli barang yang tidak perlu. Terakhir, lakukan kontrol diri atau self management dan pengelolaan emosi secara positif agar tidak lepas kendali. Selain itu juga membangun hubungan sosial atau dukungan sosial yang positif,” pungkasnya mengakhiri. (zaf/wil)

Dosen UMM Beri Tips Atur Keuangan saat Ramadan

Bulan puasa seringkali dianggap sebagai bulan yang bisa menekan pengeluaran. Tapi nyatanya, biaya yang keluar lebih banyak daripada bulan-bulan lainnya. Salah satu penyebabnya adalah alokasi biaya untuk agenda bukber hingga baju baru ataupun pernak-pernik menjelang lebaran. Iqbal Ramadhani Fuadiputra, selaku dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan, hal-hal itulah yang meningkatkan pengeluaran bulanan seseorang atau keluarga. “Untuk meminimalisir hal tersebut, teman-teman bisa melihat pola konsumsi diri di bulan Ramadan. Lakukan secukupnya dan tidak terlalu berlebihan serta jangan sampai mubazir,” tambahnya. Menurutnya, salah satu tips dan trik yang bisa dilakukan agar dapat mengatur keuangan saat bulan Ramadhan adalah dengan menyiapkan dana silaturahmi dari biaya bulan-bulan sebelumnya. Hal ini bertujuan untuk merespon ketika menerima ajakan berbuka puasa. Tips lainnya yakni memilah buka bersama mana saja yang harus dihadiri untuk silatruahmi. Kemudian yang terpenting adalah membelanjakan dana untuk kebutuhan puasa dna lebaran, dan mengesampingkan keinginan-keinginan yang tidak perlu. Iqbal menegaskan, mengikuti berbagai agenda buka bersama (bukber) boleh-boleh saja saat bulan puasa karena itu merupakan bentuk nilai sillaturahmi sesama umat muslim. “Meski begitu, harus tetap disesuaikan dengan kemampuan finansial yang kita miliki. Jangan sampai agenda bukber malah membuat kita kelabakan dalam hal keuangan,” katanya. Alternatif solusi lain yang ia tawarkan yakni mengubah agenda buka bersama menjadi agenda lain. Inti dari pertemuan adalah silaturahmi, maka agenda bukber bisa diganti dengan safari masjid atau qiyamul lail bersama. Menurutnya, hal ini tetap mengikat silaturahmi namun tidak menghilangkan hal-hal yang essential dalam proses beribadah di bulan Ramadhan. Terkait usaha dadakan yang sering muncul saat Ramadan, Iqbal juga memberikan tips agar tidak rugi. Dimulai dengan pemilihan produk yang bisa dijajakan. Mengingat banyak sekali masyarakat yang berburu makanan atau takjil, maka menjual produk makanan ringan ataupun minuman menjadi pilihan yang lebih tepat. Tips kedua yakni mencari lokasi berjualan di tengah pusat keramaiaan, agar produk dapat dengan cepat terjual. Kemudian yang terpenting menurutnya adalah mengkreasikan produk makanan atau minuman menjadi lebih kekinian agar lebih menarik. Terakhir ia menyampaikan, untuk menghindari perilaku boros, maka perencanaan untuk pemasukan dan pengeluaran sangat diperlukan. “Harapannya, planning yang tepat akan memberikan dampak yang tepat pula bagi keuangan kita. Tidak menghabiskan banyak uang untuk hal-hal yang tidak perlu. Sehingga mengeluarkan biaya untuk hal-hal essential,” katanya. (zaf/wil)

Semarak Ramadan UMM Sebut Ilmu Pengetahuan Senjata Majukan Peradaban

Sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar Semarak Ramadhan pada 8 Maret 2025 dengan tema yang relevan yakni “Navigasi Ramadhan: Misi Muhammadiyah yang Mencerahkan.” Acara ini menghadirkan narasumber menarik yaitu Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D., Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang memberikan pencerahan tentang bagaimana Muhammadiyah terus menjalankan misinya untuk memberikan manfaat bagi umat, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah sudah menunjukkan komitmennya dalam dunia pendidikan. Salah satunya dengan mendirikan sekolah-sekolah luar negeri, seperti Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) dan Muhammadiyah Australia College (MAC). Langkah ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada kemajuan di tanah air, tetapi juga berusaha untuk berkontribusi dalam pendidikan internasional. Ini adalah contoh konkret bagaimana Muhammadiyah mengedepankan ilmu pengetahuan dan pendidikan sebagai kunci untuk menciptakan perubahan yang lebih besar. Selanjutnya, Sayuti juga mengingatkan akan sejarah panjang Muhammadiyah sebagai pelopor di berbagai bidang. Sebagai organisasi yang mendunia, Muhammadiyah terus berkembang dengan berbagai gerakan penting, seperti Wujudul Hilal, Taman Pustaka/SM pada 1915, Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT), Penolong Kesengsaraan Umum (PKO/PKM) pada 1920, dan berbagai amal usaha Muhammadiyah (AUM) lainnya. Gerakan-gerakan ini menunjukkan betapa besar kontribusi Muhammadiyah untuk memajukan umat Islam, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. Sayuti mengatakan, menurut survey, di Indonesia ada dua institusi yang memiliki perspektif positif tinggi, yaitu Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Muhammadiyah. Ini menandakan bahwa Muhammadiyah tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga memiliki pengaruh besar dalam menciptakan perubahan positif di masyarakat. Sayuti mengungkapkan, Salah satu kunci keberhasilan Muhammadiyah adalah menerapkan 7S Framework dari McKinsey, yang terdiri dari: Strategy, Structure, System, Skill, Staff, Style, dan Shared Values. Muhammadiyah, yang telah mengadopsi prinsip-prinsip ini, terbukti mampu bertahan dan berkembang dalam menjalankan misinya. Bersikap moderat menjadi salah satu prinsip utama yang dibahas dalam acara ini, moderasi ini memungkinkan Muhammadiyah untuk tetap relevan dan memberikan kontribusi positif di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Bersikap moderat itu membuat kita bertahan, dan amal usaha kita dapat terus berlangsung dan berkembang. Oleh karena itu, Muhammadiyah selalu berusaha menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi, antara agama dan perkembangan zaman, agar terus dapat menjadi pencerahan dalam konteks yang lebih luas. Dalam kesempatan ini, dia juga menekankan betapa pentingnya ilmu pengetahuan, yang ia gambarkan dengan simbolisasi Tangga Sulaiman. Seperti tangga yang membawa seseorang menuju puncak kejayaan, ilmu pengetahuan merupakan anak tangga pertama yang menghubungkan kita dengan harta dan kedudukan. Tanpa ilmu, kedudukan dan harta hanya akan menjadi kosong, sementara dengan ilmu, kita tidak hanya mendapatkan kekuasaan duniawi, tetapi juga kebijaksanaan yang akan memandu setiap langkah kita menuju kesuksesan yang hakiki. Ilmu pengetahuan, yang diibaratkan sebagai Tangga Sulaiman, memang menjadi kunci utama menuju kemajuan. Namun, Sayuti juga mengingatkan bahwa saat ini pusat saintifik di dunia sedang mengalami kemunduran. Padahal, ilmu pengetahuan adalah pionir kemajuan umat manusia, termasuk ilmuwan Muslim. Pesan ini menjadi pengingat yang kuat bahwa Muhammadiyah terus mendorong umat untuk memperjuangkan kemajuan melalui ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEKS). Sementara itu, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si mengatakan, berpikir futuristik adalah cita-cita Muhammadiyah. Sebagai organisasi yang mendunia, Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada kemajuan lokal, tetapi juga memiliki misi yang lebih luas, yaitu menjadi rahmatan lil ‘alamin, seperti yang diajarkan dalam surah Muhammad ayat 107. Muhammadiyah berkomitmen untuk selalu berpikir maju, memberikan pencerahan, dan membawa manfaat bagi seluruh umat manusia. (*/wil)

NgabubuRead Mobil KaCa UMM bareng Mahasiswa Asing di Gresik

Dalam rangka menyemarakkan bulan Ramadan, Tim Universitas Muhammadiyah sambangi Kecamata Bungah, Gresik pada 7 Maret 2025 lalu. Tepatnya di SMA Muhammadiyah 3 Bungah. Menariknya, turut ikut sederet mahasiswa asing dari Vietnam dan Jepang yang mengendarai Mobil Kamis Membaca (KaCa) dengan ratusan bukunya. Berbagai permainan diadakan untuk menghibur para siswa dan anak-anak sembari menunggu waktu berbuka. Selain itu juga berbagi takjil bersama warga, tantangan bermain golf, dan membaca buku bersama di Mobil KaCa. Terkait kunjungan ini, Kepala Humas UMM Dr. M. Isnaini, M.Pd. mengatakan bahwa ini menjadi cara UMM untuk membuat Ramadan semakin ceria. Tidak hanya di Malang, tapi juga di beberapa kota, termasuk Gresik. Berbuka bersama, berbagi takjil, hingga bermain sederet games. Adapun para mahasiswa asing sengaja dihadirkan untuk menarik para siswa dan anak-anak. Memberikan kesempatan mencoba kemampuan bahasa Inggris siswa-siswi untuk berkomunikasi dengan para mahasiswa asing. Sehingga, mereka tidak merasa canggung dan takut jika bertemu orang dari negara lain.  Ratusan buku juga disiapkan oleh UMM melalui Mobil KaCa. Mulai dari buku-buku cerita, novel, motivasi, dan agama. Banyak siswa yang tertarik karena ada buku-buku yang memang susah dicari, padahal mereka menyukainya. Adapun ini menjadi cara Kampus Putih UMM untuk meningkatkan literasi masyarakat, utamanya para siswa.  Sementara itu, mahasiswa asal Vietnam Hani megatakan bahwa mereka merasa bahagia karena ikut dalam agenda ngebuburead tersebut. Apalagi ngabuburit tidak mereka temui di negara asalnya. Menurutnya, bulan puasa di Indonesia juga menyenangkan karena ada banyak pilihan makanan yang menarik, masyarakat benar-benar menikmati hari puasanya, dan sering ada agenda di tiap sudut kota.  Hal serupa juga disampaikan Nur Athira, siswi SMA Muhammadiyah 3 asal Malaysia. Ia senang bisa aktif dan ikut di agenda tersebut. Apalagi ada sederet games, buku, serta doorprize sehingga proses puasa yang ia jalani tidak terasa. Bahkan ada alat-alat golf yang menarik minat banyak siswa. “Tiba-tiba sudah magrib, padahal kami masih ingin terus bermain dan bercengkerama. Kami berharap agenda serupa bisa dilaksanakan setiap tahun di sini. Bisa juga juga dikembangkan di sekolah-sekolah lain atau daerah-daerah lain,” pungkasnya. (wil)

Apakah Zakat Wajib? Apa Perbedaan Zakat Fitrah dan Mal? Begini Kata Dosen UMM

Zakat merupakan  salah satu rukun Islam yang memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi umat Islam. Sebagai kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu, zakat tidak hanya menjadi bentuk ibadah, tetapi juga instrumen pemerataan kesejahteraan. Dalam Islam, diantara jenis zakat yang populer adalah zakat fitrah dan zakat mal.  Zakat fitrah wajib dikeluarkan menjelang Idul Fitri sebagai bentuk penyucian diri, sementara zakat mal dikenakan atas harta yang telah mencapai batas nisab dan haul. Meskipun hukum zakat telah diatur dengan jelas dalam syariat Islam, masih banyak masyarakat yang belum memahami secara mendalam tentang kewajiban ini, termasuk konsekuensi bagi mereka yang tidak menunaikannya. Dosen Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Agus Supriadi, Lc, M.H.I. menjelaskan bahwa hukum dasar zakat adalah wajib bagi mereka yang memenuhi syarat. “Jika seseorang tidak membayar zakat karena tidak percaya bahwa zakat itu wajib, maka ia dikategorikan sebagai kafir. Namun, bagi mereka yang mengakui kewajiban zakat tetapi enggan menunaikannya karena kikir, mereka tergolong dalam dosa besar,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa ada pengecualian bagi orang-orang yang tidak membayar zakat karena ketidaktahuan, seperti mualaf atau mereka yang tinggal di daerah terpencil. Dalam kondisi ini, mereka tidak dianggap kafir, tetapi perlu mendapatkan edukasi terkait zakat. Agar zakat mal dapat tersalurkan dengan baik, diperlukan manajemen yang efektif. Ia menekankan pentingnya peran lembaga zakat dalam mengelola dana zakat secara profesional. “Di Indonesia, potensi zakat mal sangat besar, bahkan diperkirakan mencapai Rp300 triliun. Oleh karena itu, pengelolaan zakat yang transparan dan akuntabel sangat diperlukan agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh penerima yang berhak. Lembaga zakat membantu mengidentifikasi mustahik (penerima zakat) dan muzaki (pemberi zakat) dengan lebih optimal. Dengan sistem yang terorganisir, pendistribusian zakat menjadi lebih tepat sasaran,” jelasnya. Secara umum, zakat fitrah dan zakat mal memiliki perbedaan mendasar. Zakat fitrah dikeluarkan pada bulan Ramadan sebelum Idul Fitri dan tidak memiliki syarat nisab maupun haul. Besarannya setara dengan 2,5 kilogram bahan makanan pokok, yang di Indonesia umumnya berupa beras. Ulama juga memperbolehkan zakat fitrah dikonversikan dalam bentuk uang demi kemaslahatan penerima. “Di sisi lain, zakat mal memiliki syarat nisab sebesar 85 gram emas dan harus dikeluarkan setelah mencapai haul atau kepemilikan selama satu tahun. Misalnya, jika seseorang memiliki penghasilan bersih sebesar Rp120 juta per tahun, maka ia wajib membayar zakat mal karena telah melebihi nisab yang setara dengan Rp85 juta,” terangnya. Dengan memahami ketentuan zakat fitrah dan zakat mal, umat Islam diharapkan lebih sadar akan kewajiban ini. Zakat bukan sekadar kewajiban, tetapi juga bentuk kepedulian sosial yang mampu mengurangi kesenjangan ekonomi di masyarakat. “Merujuk pada Surat At-Taubah ayat 103, ada delapan golongan yang berhak menerima zakat, di antaranya fakir, miskin, amil zakat, mualaf, hamba sahaya, orang yang berutang demi kebutuhan pokok, mereka yang berjuang di jalan Allah, serta ibnu sabil atau musafir yang kehabisan bekal,” pungkasnya. (vin/wil)

Muhadjir Effendy Tulis Buku Profesionalisme Militer dan TNI

Prof Muhadjir Effendy dikenal luas sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan serta menteri koordinator bidang pembangunan manusia dan kebudayaan. Bahkan kini ia memegang amanah sebagai penasihat presiden bidang haji di pemerintahan presiden Prabowo. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa saat belia, Muhadjir juga memiliki angan-angan untuk menjadi tentara. Meski pada akhirnya tidak kesampaian, namun ide dan mimpinya tentang tentara dan TNI tertuang dalam bukunya berjudul “Profesionalisme Militer: Profesionalisasi TNI”. Adapun buku ini membahas bagaimana Tentara Nasional Indonesia (TNI) bertransformasi menuju institusi yang profesional, baik dari segi kompetensi teknis, kepemimpinan, maupun etika kemiliteran. Muhadjir mengulas bagaimana dinamika sosial, politik, dan sejarah Indonesia membentuk karakteristik unik profesionalisme TNI yang berbeda dari militer di negara lain. Sejak awal kemerdekaan, profesionalisme TNI telah menjadi perdebatan. Buku ini menguraikan tiga elemen awal pembentuk TNI, yakni eks-Pembela Tanah Air (PETA), eks-KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger), dan satuan-satuan gerilya. Meskipun PETA dan KNIL memiliki visi profesionalisme yang berbeda, keduanya berperan penting dalam membangun fondasi militer Indonesia. Namun, selama pemerintahan Orde Baru, TNI mengadopsi peran ganda (dwifungsi), di mana mereka tidak hanya bertugas sebagai alat pertahanan negara, tetapi juga aktif dalam politik dan ekonomi. Lebih lanjut, pria kelahiran Madiun itu menjelaskan dalam bukunya bahwa era reformasi 1998 membawa perubahan besar dalam tubuh TNI. Salah satunya mengembalikan militer ke fungsi utamanya sebagai alat pertahanan negara yang profesional dan netral secara politik. Salah satu momen penting adalah lahirnya Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 tentang TNI, yang menegaskan bahwa TNI harus terlatih, terdidik, tidak berpolitik praktis, tidak berbisnis, dan tunduk pada supremasi sipil serta prinsip demokrasi. Muhadjir Effendy menekankan bahwa profesionalisme TNI tidak hanya bergantung pada keterampilan teknis atau modernisasi alutsista, tetapi juga nilai-nilai moral, keprajuritan, dan kedisiplinan. Dalam buku ini, ia memperkenalkan Diagram Pentagonal Profesionalisme TNI, yang mencakup lima elemen utama. Di antaranya kemampuan, kepemimpinan, motivasi, kesempatan, dan knowledge (pengetahuan). Menurutnya, profesionalisasi TNI harus mencakup aspek-aspek ini agar tercipta militer yang tangguh, berintegritas, dan mampu menjalankan tugas pertahanan negara secara optimal. Buku ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi TNI dalam upaya profesionalisasi, seperti ketimpangan dalam sistem pendidikan militer, pengaruh politik, serta perubahan sosial yang memengaruhi persepsi masyarakat terhadap militer. Salah satu isu utama yang dibahas adalah bagaimana reformasi yang telah berjalan lebih dari dua dekade masih menghadapi hambatan dalam hal kontrol demokratis terhadap militer. Selain itu, ia juga mengkritisi kebijakan yang sering kali inkonsisten, terutama terkait peran TNI dalam keamanan domestik. Meskipun TNI sudah tidak lagi memiliki hak politik dan bisnis, masih ada tantangan dalam memastikan bahwa mereka tetap fokus pada pertahanan negara dan tidak kembali terlibat dalam urusan sipil yang dapat mengganggu demokratisasi. Secara keseluruhan, buku ini memberikan perspektif akademik yang mendalam tentang perjalanan TNI menuju profesionalisme. Dengan pendekatan historis dan teoretis, Muhadjir Effendy berhasil menggambarkan bagaimana TNI terus beradaptasi dengan tuntutan zaman. Buku ini menjadi referensi penting bagi akademisi, pengamat militer, serta siapa saja yang ingin memahami lebih dalam tentang dinamika hubungan sipil-militer di Indonesia. (wil)

Penelitian Nyamuk Bawa Dosen UMM Ini Raih Beasiswa Austria

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adalah Mirza Nuryady, S.Si., M.Sc., dosen program studi pendidikan biologi UMM yang berhasil meraih Ernst Mach-Grants Scholarship, beasiswa bergengsi dari pemerintah Austria untuk menempuh studi S3. Beasiswa ini sepenuhnya mendanai pendidikannya selama tiga tahun di Austria, dimulai sejak Oktober 2024. Adapun dalam program doktoralnya, Mirza meneliti struktur populasi genetik nyamuk invasif di Austria. Sejak 2017, negara ini mulai memang menghadapi tantangan serius dengan hadirnya spesies nyamuk dari Asia yang berpotensi menyebarkan penyakit seperti demam berdarah dan Zika virus. “Pemerintah Austria sangat peduli dengan ancaman penyakit akibat nyamuk. Begitu ditemukan spesies invasif, mereka langsung mengembangkan riset mendalam untuk memahami pola persebarannya. Saya fokus pada analisis genetik populasi nyamuk ini untuk membantu pemerintah mengendalikan penyebarannya,” ujarnya. Beasiswa yang ia dapatkan merupakan beasiswa Ernst Mach-Grants Scholarship yang dapat dikatakan sebagai program beasiswa khusus bagi mahasiswa Asia Tenggara yang ingin melanjutkan studi S3 di Austria. Berbekal pengalamannya dalam riset nyamuk di UMM dan berbagai publikasi ilmiah, Mirza berhasil lolos seleksi dan meraih kesempatan belajar di salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. “Seleksi beasiswa ini cukup ketat. Tahapan pertama adalah mendapatkan profesor pembimbing di universitas Austria, kemudian memperoleh letter of acceptance dari universitas tersebut. Setelah itu, saya harus menyusun motivation letter, proposal riset, dan mengikuti wawancara seleksi di Jakarta,” jelasnya. Motivasi utama Mirza dalam mengajukan beasiswa ini adalah untuk menjadi ahli di bidang entomologi medis, khususnya dalam penelitian nyamuk. Menurutnya, secara total terdapat 3.100 spesies nyamuk dari 34 negara yang terdistribusi di seluruh dunia, termasuk Indonesia, sehingga menjadikan studi ini sangat relevan bagi kesehatan masyarakat di tanah air. “Dengan studi ini, saya berharap dapat berkontribusi dalam pengendalian penyakit yang ditularkan oleh nyamuk di Indonesia. Austria dengan teknologi dan fasilitas penelitiannya yang canggih menjadi tempat ideal untuk memperdalam riset ini,” tambahnya. Selain menjalani studi, Mirza juga merasakan pengalaman unik di Austria. “Negara ini jarang menjadi pilihan utama pelajar internasional dibandingkan Jerman atau Inggris. Padahal, Austria memiliki kualitas pendidikan tinggi, fasilitas laboratorium canggih, serta lingkungan akademik yang sangat mendukung. Ini menjadi keuntungan tersendiri bagi saya dalam menempuh pendidikan di sini.” Di luar aktivitas akademiknya, Mirza juga menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Pelajar Austria. Dalam perannya ini, ia memimpin pergerakan mahasiswa Indonesia di Austria dan menjadi penghubung antara komunitas pelajar dengan berbagai pihak di tanah air maupun di Austria. Keberhasilan Mirza Nuryady, S.Si., M.Sc., meraih beasiswa S3 di Austria menjadi inspirasi bagi akademisi dan mahasiswa Indonesia serta memberikan pesan bagi mahasiswa yang bercita-cita melanjutkan studi ke luar negeri. Pengalaman internasional, publikasi ilmiah, serta membangun jejaring akademik menjadi faktor penting dalam seleksi beasiswa. “Jangan ragu untuk memulai dari sekarang. Perbanyak pengalaman di program pertukaran atau riset internasional, serta aktif menulis dan mempublikasikan karya ilmiah. Jika punya kesempatan kuliah di luar negeri, manfaatkan sebaik mungkin untuk membangun relasi akademik yang lebih luas,” tutupnya. (vin/wil)

Semarak Ramadhan di UMM: Memahami Peran Budaya dalam Dakwah Muhammadiyah

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyelenggarakan Semarak Ramadhan yang penuh keberkahan selama bulan Suci. Salah satu acaranya yakni Pengajian Ramadhan dan Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), yang digelar pada 5 Maret 2025. Dalam kesempatan ini, UMM menghadirkan tokoh Muhammadiyah Dr. H. Agung Danarto, M.Ag.. yan menyampaikan tema menarik ‘Membumikan Dakwah Kultural Muhammadiyah”. Dalam pengajiannya, Danarto menyampaikan pandangannya mengenai tantangan yang dihadapi warga Muhammadiyah dalam mengimplementasikan tradisi budaya dalam kehidupan beragama. Menurutnya, banyak warga Muhammadiyah yang salah kaprah dalam memandang budaya. Menganggap keterlibatan budaya dalam agama dapat menimbulkan unsur takhayul, bid’ah, dan khurafat. Akibatnya, banyak yang menjauhi budaya, bahkan menjadi anti budaya. Terdapat dua aliran dalam Islam yang berpengaruh terhadap pandangan ini, yaitu puritanisme yang dipelopori oleh Muhammad Ibnu Wahab, dan Islam Modernisasi yang diprakarsai oleh Muhammad Abduh. “Islam puritan menekankan pada penghapusan segala hal yang berhubungan dengan tradisi dan budaya, dan kembali meniru apa yang ada pada masa Nabi dan sahabat. Dalam pandangan mereka, tradisi yang tidak ada pada zaman Nabi dianggap sebagai bid’ah,” jelasnya. Di lain sisi, Danarto juga menjelaskan bahwa pendekatan yang dilakukan oleh kaum modernasi dalam Islam adalah dengan meneliti hadist-hadist Nabi, memverifikasi keasliannya, dan hanya mengamalkan yang dinyatakan shohih. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar umat Islam dapat menerapkan etika, moral, dan tradisi pada masa Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga menekankan bahwa istilah bid’ah atau inovasi tidak seharusnya digunakan untuk menolak segala bentuk perkembangan dalam masyarakat, termasuk pengetahuan, filsafat, dan ilmu politik. Bid’ah harus dipahami dalam konteks nilai-nilai dasar, moral, dan karakter yang terkandung dalam ajaran Islam, bukan pada bentuk atau praktiknya saja.  “Merujuk pada surat Al-Hujurat ayat 13, eksistensi berbagai budaya, suku, dan bangsa, dan menekankan bahwa budaya yang sesuai dengan nilai-nilai Islam harus diterima dan dihargai. Budaya bukanlah sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan harus dipahami dan diselaraskan dengan ajaran Islam,” jelasnya. Di sisi lain, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., CA., menyampaikan bahwa Muhammadiyah tidak hanya bisa berdakwah melalui ceramah atau tabligh, tetapi juga dapat melibatkan budaya sebagai sarana dakwah. “Muhammadiyah dapat berdakwah melalui budaya dengan mentransformasi nilai-nilai yang sudah ada dan mengemasnya dalam konsep yang lebih berkemajuan, Melalui budaya yang berkemajuan, dakwah Muhammadiyah akan semakin menarik bagi banyak orang. (nam/wil)

Unik, Sahur Barbeque UMM bareng Ojol hingga Tukang Becak

Sahur on the Road (SOTR) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali beraksi. Kali ini mereka datang ke daerah Pasar Besar, Malang, membawa konsep sahur dengan barbeque, 5 Maret 2025 ini. Mengendarai mobil Kamis Membaca (KaCa), tim Kampus Putih berhasil menarik perhatian para anak patrol sahur, tukang becak, ojek online, dan warga sekitar untuk turut sahur bersama dengan barbeque. Adapun ini juga menjadi salah satu cara UMM untuk menebar manfaat pada semesta. Terkait SOTR ini, Kepala Humas UMM Dr. M. Isnaini, M.Pd. menjelaskan bahwa sahur unik ini dilaksanakan bukan tanpa alasan. Tim UMM ingin memberikan kesempatan bagi orang-orang lain untuk ikut merasakan makanan yang seringkali dianggap mewah. Apalagi selama ini, beberapa dair mereka hanya bisa melihatnya di televisi atau media sosial saja.  “Misalnya saja bapak-bapak tukang becak yang mungkin tidak tiap hari bisa makan enak. Begitupun dengan ojek online yang sering hanya mengantarkan makanan untuk customer. Jadi, ini menjadi agenda yang bisa membuat mereka merasakan sahur yang enak,” jelasnya.    Sementara itu, Koordinator Mobil KaCa Hassanalwildan mengatakan bahwa sahur kali ini juga tidak hanya menyediakan makanan untuk sahur tapi juga mengajak masyarakat untuk berinteraksi. Mengobrol sambil membakar daging dan membaca buku yang disediakan Mobil KaCa.  “Ini menjadi cara kami untuk bersilaturahmi dan berbagi dengan saudara-suadara lain. Para tukang becak, ojol, hingga anak-anak patrol. Apalagi di bulan suci ini bisa menjadi momen yang tepat untuk mengembalikan sikap kemanusiaan yang hilang karena kesibukan dunia di sebelas bulan lain,” katanya. Di sisi lain, salah satu ojek online yang ikut SOTR Alfarizi mengaku kaget ketika melewati rombongan UMM. Ia baru pertama kali melihat sahur on the road dengan konsep barbeque yang unik. Jadi, tidak hanya memberi paket makanan saja untuk sahur, tapi benar-benar mengobrol hangat sembari menikmati makanan hingga adzan tiba. “Agenda yang cukup menarik dari UMM. Biasanya orang-orang kan hanya memberikan kotak makanan kemudian ditinggal begitu saja. Tapi ini teman-teman UMM sampai membuka meja-meja dan kursi kemudian memanggang daging bersama. Semoga agenda semacam ini bisa dilanjutkan dengan dikembangkan di daerah lain,” pungkasnya berharap. (wil)

Pesan di Wisuda UMM: dari Atomic Habits hingga Riset sebagai Solusi

Kesuksesan dan keberhasilan seseorang dapat diraih dengan menerapkan Atomic habits positif dalam segala aktivitas kehidupan. Hal ini disampaikan Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. Dr. Jamhari Makruf, M.A. kepada ribuan wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun wisuda yang dilaksanakan pada 27 Februari tersebut juga dihadiri oleh sederet tamu dan pembicara lain untuk memotivasi para lulusan.  Merefleksi karya James Clear tersebut, Jamhari menjelaskan bahwa perilaku positif yang dirutinkan kelak akan membentuk jati diri. “Seperti halnya perjuangan James Clear. Bangkit dengan perubahan kecil yang konsisten dilakukan hingga menjadi habits. Begitupun dengan Cristiano Ronaldo yang berlatih dengan menendang 1.000 bola untuk masing-masing kaki kiri dan kanan setiap harinya,” ungkapnya. Ia juga membagikan hasil studi Harvard University terkait happiness (kebahagiaan) yang dilakukan pada 1000 subjek. Studi tersebut menemukan bahwa ada dua hal yang membuat orang sukses akan bahagia di hari tuanya. Yakni healthy relationships dan close friends. Untuk itu, hubungan yang sehat dengan sesama manusia, serta network dan relationships yang dijalin dengan sempurna melahirkan kebahagiaan dalam hidup.  Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Dra. Rukmini, M.Ap. menyampaikan pentingnya empat idealisme hidup sebagai bentuk ketaatan sebagai hamba Allah SWT. Yakni memahami tujuan hidup, memahami fungsi hidup sebagai hamba dan khalifatullah di bumi, memahami pegangan hidup Alquran, serta memiliki visi misi hidup Khoirunnas Anfa’uhum Linnas. Kemudian, dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan, ia menekankan pentingnya silaturrahmi untuk saling mengenal satu sama lain.  Pesan penting lainnya adalah membangun trust (kepercayaan) dan integritas (akhlaq) serta karakter diri yang baik. “Dengan begitu masyarakat akan senang menyambut orang-orang berilmu seperti saudara-saudara. Doa kami untuk ananda semua, semoga Allah memberikan kepahaman terhadap ilmu yang dipelajari, kemampuan analisa, dan diberikan bimbingan oleh Allah kepada jalan yang lurus,” sambungnya. Di sisi lain, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. sangat mengapresiasi karya dan produk dari riset para sivitas akademika Kampus Putih. Tidak ada suatu keberhasilan tanpa adanya rencana. Ia menegaskan agar para insan akademik memiliki habit mentalitas researcher dalam menyikapi berbagai persoalan kehidupan. (din/wil)