UMM Berangkatkan 20 Pelajar SMA ke Tiongkok

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (24/07), memberangkatkan 20 pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat ke Tiongkok untuk mengikuti Summer Camp. Mereka berkesempatan berangkat ke Negeri Tirai Bambu itu merupakan pemenang kompetisi National Chinese Competion, yakni lomba pengetahuan umum Tiongkok yang diadakan UMM bekerjasama dengan Confucius Institute. Ke-20 siswa SMA itu berhasil menyisihkan 2.369 peserta yang mengikuti lomba. Selama dua pekan, 24 Juli-6 Agustus 2017, selain mengenal lebih dekat kebudayaan dan bahasa Tiongkok, para pelajar itu bakal diajak mengunjungi sejumlah tempat ikonik di Tiongkok, termasuk di antaranya The Great Wall (Tembok Besar China) dan Tiananmen Square. Juga, peserta diajak mengunjungi pameran pendidikan di sejumlah perguruan tinggi di Tiongkok. Salah satu peserta, George Geraldo, siswa SMK Kristen Imanuel Pontianak, Kalimantan Barat mengungkapkan kesyukurannya masuk dalam daftar pelajar yang diberangkatkan. “Sepulang dari Tiongkok, saya ingin juga memotivasi teman-teman saya untuk juga bisa berangkat ke Tiongkok,” ungkapnya.  Lomba yang diadakan Februari hingga April 2017 silam ini merupakan program kolaborasi UMM dan Konsulat Jenderal China melalui Confucius Institute. Kompetisi yang kali ketiga diselenggarakan di UMM ini merupakan bentuk kepercayaan Confusius Institute kepada UMM. Hal tersebut lantaran UMM yang telah begitu kooperatif di tiap program yang mengatasnamakan Confucius Institute. “Selain itu pada kompetisi serupa yang digelar Konsulat Jenderal China di Surabaya akhir tahun lalu, tiga mahasiswa UMM berhasil meraih juara pertama dan ketiga. Bahkan, UMM juga meraih juara untuk kategori perguruan tinggi dengan peserta lomba terbanyak, yakni 332 mahasiwa,” ungkap Asisten Rektor Bidang Kerjasama UMM Suparto dalam kesempatannya menghadiri Closing Ceremony National Chinese Competion 2017. Sementara koordinator China Corner UMM Karina Sari menerangkan, di akhir tahun 2017, 22 mahasiswa UMM juga akan diberangkatkan ke Tiongkok melalui program yang sama. Kesempatan itu mereka peroleh lewat keikutsertaannya dalam kursus gratis Bahasa Mandarin yang diselenggarakan di China Corner UMM. (can/han)

Pelantikan Pengurus Wilayah dan Pengurus Komisariat APTISI Wilayah VII Jawa Timur

MELANJUTKAN pengabdian sosial untuk memperjuangkan eksistensi perguruan tinggi swasta (PTS), Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah VII Jawa Timur menggelar acara Pelantikan Pengurus Wilayah, Pengurus Komesariat dan Halal Bihalal APTISI Wilayah VII Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin 24 Juli 2017. Hadir dalam acara tersebut, Rektor UMM, Ketua APTISI Pusat Budi Djatmiko, Ketua APTISI Wilayah VII Jawa Timur, Koordinator Kopertis Wilayah VII Jawa Timur, serta Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf (Gus Ipul). Ketua APTISI Wilayah VII Jawa Timur Suko Wiyono  menyampaikan, dewasa ini keberadaan PTS tidak kalah dengan perguruan tinggi negeri (PTN). Bahkan hampir diseluruh daerah, peningkatan kualitas dan mutu PTS terlihat jelas. Melalui kerjasama para Pengurus APTISI yang semakin baik Suko yakin secara bertahap PTS mampu bersaing dan menjadi lebih baik dari pada PTN. ”Menjadi tugas pengurus, bagaimana kita bisa meningkatkan kualitas PTS, terutama kualitas sumber daya manusianya,”tandasnya. Menambahkan Suko, Ketua APTISI Pusat Budi Djatmiko menyampaikan penting kiranya bagi komisariat-komesariat di APTISI Wilayah VII Jatim untuk bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat. Hal tersebut dapat dilakukan dengan bebagai cara, salah satunya dengan menyampaikan info-info PTS serta masalah global yang sedang dihadapi kepada pemimpin daerah, khususnya dalam dunia pendidikan. “Sehingga nanti jika ada info–info PTS di masa mendatang dan juga masalah –masalah global ada dapat disampaikan kepada rektor dan diteruskan kepada gubernur,”jelasnya. Suko mencontohkan, PTS-PTS yang ada di wilayah Jawa Barat. Berdasarkan pengamatannya, melalui penilaian yang dilakukan pada setiap semester, hampir seluruh PTS di Jabar memiliki alokasi pemecahan masalah untuk diselesaikan bersama koordinator kopertis serta gubernur. Bukan hanya Jabar, beberapa daerah lain juga tengah melakukan hal yang sama. Suko pun bercita-cita agar PTS di Jatim juga memiliki semangat yang sama. “Alhamdulillah PTS di Jabar sudah berbenah. Kemarin-kemarin ini juga di Lampung. Mudah-mudahan hal ini juga bisa dicapai oleh APTISI Jawa Timur,”tegasnya. Melengkapi Suko, Koordinator Kopertis Wilayah VII Jawa Timur, Suprapto menekankan perlunya memperkuat kerjasama terutama dalam peningkatan kualitas mutu pendidikan. Selama ini, Kopertis Wilayah VII Jatim selalu menjadi nomor I secara nasional. Prestasi ini hendaknya terus dijaga dan diperthankan. “Ayo kita mantapkan kualitas pendidikan di Jatim agar selalu dan selalu bagus secara nasional, ”katanya. Bangga dengan prestasi yang dicapai perguruan tinggi di Jatim, Gus Ipul mengapresiasi terus meningkatnya jumlah lulusan PT yang diserap oleh pasar tenaga kerja. Jika pada sekitar tahun 2014 sekitar 14 persen lulsusan PT di Indonesia terserap didunia kerja, angka ini meningkat di tahun 2016 dengan total sekitar 40 persen. “Yang membanggakan sebetulnya, tahun 2016 lulusan PT se –Jatim, yang diserap pasar tenaga kerja mencapai 80 persen. Target kita ke depan, 99 persen lulusan PT bisa diserap pasar tenaga kerja,”tambahnya. Melanjutkan paparannya, Gus Ipul menegaskan bahka dengan jumlah total sekitar 550.000 mahasiswa, dunia perguruan tunggi perlu bersiap-siap dalam menyambut era digitalisasi. Pada era ini, masyarakat memerlukan generasi yang paham teknologi dengan baik. Pihak PT harus mengenalkan teknologi kepada mahasiswa agar para mahasiswa dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. “Saya titipkan kepada Bapak, Ibu dan saudara-saudara sekalian masa depan Jawa Timur dengan menghadirkan PT yang berkualitas dan bermutu,”pesannya. Di akhir Gus Ipul menyampaikan posisi strategis APTISI sebagai wadah untuk PTS saling belajar dan bertukar fikiran dalam penalaran. Dengan terus memperbaiki kualitas, sesungguhnya antara PTS satu dengan yang lain tidak perlu berebut mahasiswa. Kualitas yang baik, akan membuat mahasiswa tertarik dengan sendirinya. Hal ini yang kemudian menjadi PR bersama, agar PTS mampu berimprovisasi dalam mengelola kampusnya. “Kalau PTS harus pandai pencak silat, artinya pandai dalam meningkatkan mutu, mencari uang dan lain-lain. Saya bangga dan senang, karena di era yang penuh kompetisi seperti ini hal tersebut bukanlah hal yang mudah,”pungkasnya. (sil/han)

Hadirkan Pakar Lintas Negara, UMM Lakukan Kontekstualisai Pembelajaran Bahasa Inggris di Era Digital

SEJUMLAH pakar bahasa Inggris dari berbagai negara hadir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membincangkan kontekstualisasi pengajaran bahasa Inggris di era digital, Sabtu (22/4). Mereka di antaranya yaitu Robert John Pope dari Autralia, William Little dari Amerika, Aleksandra Skrzynecka dari Polandia, Flavia Iona Butu dari Rumania, Richard John  Wesley dari Kanada, Ibrahim Bosha dari Sudan, Mick Jethro Miqallos Basa dari Filipina, sementara dari UMM diwakili Dwi Poedjiastutie. Bertempat di Aula Ahmad Dahlan UMM Inn, Seminar Internasional yang diadakan oleh Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris UMM ini berupaya menyusun strategi agar pembelajaran bahasa Inggris relevan dengan kebutuhan zaman. Ketua pelaksana Seminar Internasional tersebut, Drs Djarum MEd menyatakan, era digital menjadikan siswa sedikit abai dengan keberadaan guru. Hal tersebut dikarenakan, apa yang disampaikan guru dalam mengajar, sudah banyak tersedia di berbagai situs internet. “Jika keadaan tersebut tidak ditangani, maka guru akan semakin diabaikan dan siswa menjadikan internet sebagai sumbernya. Padahal belum tentu internet benar seluruhnya,” jelas Djarum. Akhirnya, lanjut Djarum, guru juga harus mengikuti perkembangan zaman termasuk era digital ini. Menurutnya, sebelum mengajar guru tidak hanya mempersiapkan bahan ajar dan metode ajar. Namun, sebelum mengajar guru juga harus tersiapkan. “Artinya diri guru sendiri harus dipersiapkan juga sebelum menghadapi siswa,” ujarnya. Dalam seminar internasional tersebut juga dihadiri berbagai pemateri dari berbagai negara. Diantaranya, Yuta Otake sebagai salah satu praktisi dari Regional English Language Office (RELO) dari Kedutaan Besar Amerika Serikat (KBAS), Dr. Ikhsanudin, M. Hum sebagai presiden English Language Teaching Materials (ELTeaM) Association. Yuta Otake menjelaskan, teknologi telah merubah gaya guru dalam menyampaikan materinya. Otake menyampaikan metode pengajaran temuannya. Ia menyebutnya Flipped Clasroom. Flipped Classroom adalah metode yang mewajibkan siswa untuk melihat dan mempelajari materi dirumah kemudian didiskusikan dalam kelas hasil belajarnya. Otake menjelaskan, materi yang diberikan bisa dalam bentuk video maupun slide presentasi. “Dengan metode Flipped Classroom tersebut, siswa dapat lebih aktif dan memperhatikan guru secara seksama. Karena siswa saling berdiskusi bahkan berdebat dalam kelas,” jelasnya dihadapan 200 lebih peserta seminar. (jal/han)

LP3A UMM Sadari Perlunya Kartini Kekinian

PERJUANGAN perempuan zaman dahulu dan sekarang jelas berbeda. Dulu, yang diperjuangkan adalah agar perempuan bisa menuntut ilmu dan mengenyam pendidikan layaknya pria. Sementara sekarang, pendidikan tak lagi jadi soal. Tantangan saat ini adalah bagaimana perempuan tetap berjuang dan memperbarui kemampuannya di era kekinian, yang serba modern, kecanggihan teknologi, dan menyesuaikan diri dalam dinamika kehidupan yang pesat. Demikian dikatakan kepala Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dra. Thathit Manon Andini, M.Hum terkait peringatan Hari Kartini yang jatuh tiap 21 April. Sebagai refleksi, LP3A pada momen ini melakukan aksi bagi-bagi bunga mawardan stiker berbentuk persegi berisi kalimat motivasi agar perempuan terus bergerak dan berkemajuan. “Tujuannya, baik perempuan maupun laki-laki agar terus mengingat perjuangan RA Kartini dulu untuk membuat perempuan bisa berkarya sebebas sekarang. Juga memberi motivasi untuk wanita-wanita agar berkarya di lebih banyak bidang,” ungkap Thathit. Aksi bagi bunga dan stiker ini dilakukan di area kampus 2 dan 3 UMM. Sebanyak 200 tangkai bunga dan stiker dibagikan pada dosen, staf, dan mahasiswa di berbagai titik di kampus. Selain pembagian bunga mawar pada 21 April, menyambut Hari Kartini, LP3A juga mengadakan pelatihan “Training of Trainer (ToT)” pada Sabtu hingga Senin (15-17/4) lalu. Sebanyak 180 sahabat LP3A dari berbagai jurusan, baik laki-laki maupun perempuan mendapatkan pembekalan mengenai HIV, AIDS, narkoba, kekerasan pada perempuan dan anak, serta pemberdayaan perempuan dan anak. Thathit mengatakan, hal ini berguna sebagai pembekalan sejak dini untuk menjadi orang tua. “Karena orang tua adalah guru utama, sementara rumah adalah sekolah pertama. Oleh karena itu bekal yang dimiliki laki-laki dan perempuan sebagai calon orang tua harus cukup. Inilah emansipasi di zaman sekarang,” ujar Thathit. (ich/han)

Mahasiswa Agrisbisnis UMM Fasilitasi Entrepreneur Muda Memulai Usaha

UNTUK menyiapkan lulusan yang siap berwirausaha di bidang pertanian, mahasiswa program studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia (Popmasepi) menggelar talkshow dan Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM) “Padma Ksatria 8”, Rabu hingga Sabtu (19-22/4). Ketua pelaksana kegiatan, Andy Yani menyatakan Padma Ksatria merupakan agenda tahunan Popmasepi. Tahun ini, UMM berkesempatan menjadi tuan rumah dari 250 peserta dari 58 kampus se-Indonesia. Kegiatan yang mengangkat tema “Kredit Usaha Rakyat” ini, bertujuan agar mahasiswa Agribisnis tak merasa kesulitan saat ingin memulai usaha, utamanya untuk urusan modal. “Kali ini kita mendatangkan narasumber dari bank BRI, kementerian Koperasi dan UKM, dan praktisi yang sukses berwirausaha melalui KUR. Kami ingin mahasiswa bukan bingung mencari pekerjaan, tapi berwirausaha dan menciptakan lapangan pekerjaan,” ujar mahasiswa semester 6 tersebut. Andy menuturkan, selain mendapatkan modal dari bank, mahasiswa juga bisa mendapatkan modal dari Dinas Koperasi setempat. “Tak hanya mendapatkan modal usaha, tapi juga bisa mendapatkan pelatihan trik memulai dan mengembangkan usaha, sehingga mahasiswa tak perlu bingung memulai usaha dari mana atau akan melakukan apa untuk UKM-nya,” imbuh Andy. Selain talkshow, Padma Ksatria 8 juga menggelar bazar wirausaha di bidang pertanian, peternakan, perikanan, maupun Usaha Kecil dan Menengah (UKM), donor darah, pengobatan gratis, pembagian bibit tanaman dan buah, serta edukasi untuk murid TK. “Kita memberi edukasi pada anak-anak TK di sekitar UMM tentang cara menanam tanaman di polybag, memberi makan hewan ternak, atau memelihara ikan di rumah. Tujuannya untuk mengajarkan anak sejak dini tentang dunia agraris di Indonesia,” papar Andy. Sementara itu, LKMM  akan mulai digelar Rabu malam hingga Jumat mendatang. Materi yang diberikan beragam, antara lain kepemimpinan, negosiasi, pemasaran, hingga strategi lobbying. Pemateri pun didatangkan dari berbagai kalangan, yakni praktisi pengusaha, mahasiswa, maupun dosen. Puncaknya, di hari Sabtu akan ada peluncuran buku Popmasepi yang merupakan proyek bersama anggota. Kata pengantar buku ini ditulis oleh komisi IV DPR RI. Selain itu, di penghujung acara juga ada temu alumni Popmasepi yang sudah tersebar di berbagai penjuru Indonesia. “Alumni Popmasepi yang terbentuk sejak 2009 lalu akan hadir dalam reuni akbar ini,berbagi ilmu pada seluruh peserta, apa yang dilakukan atau diciptakan ketika sudah ‘alumni’ dari Popmasepi,” pungkas Andy. (ich/han)

Lomba Perencanaan Bisnis, Tantang Mahasiswa UMM Inovatif Berwirausaha

BERAGAM produk bisnis mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditampilkan di lantai 3,5 Gedung Kuliah Bersama (GKB) I UMM, Kamis (20/4). Pameran itu merupakan bagian dari lomba perencanaan bisnis (business plan) dan debat perkoperasian Rector Cup yang diadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Koperasi Mahasiswa (Kopma) UMM. Salah satu stan menamai dirinya Telimut, akronim dari Tempe Selimut. Salah satu penggagas Telimut, Nadia Amalia Rizkyta menyatakan ia dan ketiga temannya berpikir untuk mengolah tempe karena kekhasannya sebagai oleh-oleh kota Malang. Menurutnya, selama ini tempe di kota Malang masih dipasarkan dalam varian yang itu-itu saja. Oleh karena itu, mahasiswa program studi Pendidikan Matematika angkatan 2014 ini memutar otak agar tempe bisa dikemas dalam bentuk yang berbeda. Bersama kedua kawannya, Meri Dwi Septiana dan Harisandi, Nadia lalu menciptakan keripik tempe berselimut. Ada empat varian rasa, yaitu tempe selimut cokelat, teh hijau, stroberi, dan cokelat pedas. Meski dibuat hanya untuk lomba perencanaan bisnis, tapi ternyata peminatnya cukup banyak. Sehingga, ke depan Nadia berencana memasarkan produk ini hingga ke pusat oleh-oleh di Malang. Koordinator acara lomba, Diaz Saputra menyatakan lomba yang perencanaan bisnis bertujuan untuk memupuk jiwa wirausaha mahasiswa. Berbekal kemampuan perencanaan bisnis, maka mahasiswa akan mampu menciptakan usaha dan menyaring tenaga kerja. “Mahasiswa harus membuat proposal rencana usaha dulu. Lalu, hari ini mereka mempresentasikan bisnisnya di hadapan juri, sekaligus pameran produk,” terang Diaz yang juga mahasiswa prodi Pendidikan Matematika 2014 ini. Selain Telimut, berbagai inovasi usaha lain yaitu kerudung dan pakaian dari kain perca, bakso sayur, buket bunga, hingga cilok organik. Dari Sembilan tim, akan diambil 3 juara yang akan mendapatkan hadiah dari bagian Kemahasiswaan UMM. (ich/han)

IRO UMM Kenalkan Mahasiswa Budaya Eropa Melalui Film

MELALUI beasiswa Erasmus+, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberi kesempatan bagi mahasiswa UMM untuk merasakan studi di Eropa selama satu hingga dua semester. Bagi yang akan mendaftar beasiswa tersebut, ada baiknya mulai mengenal budaya Eropa, salah satunya melalui film. Hal itulah yang mendasari International Relation Office (IRO) UMM mengadakan rangkaian movie screening and discussion yang berlangsung 19 April, 26 April, 3 Mei dan 10 Mei 2017. Staf IRO UMM, Arofiatus Sa’diyah menyatakan, kegiatan movie screening and discussion ini merupakan salah satu upaya IRO untuk mendekatkan dunia internasional pada mahasiswa. Menurut Ofi, sapaan akrabnya, film sangat efektif untuk pertukaran informasi dan budaya. Banyak sekali simbol dan kebudayaan yang ditampilkan melalui adegan-adegannya. Seperti melalui pakaian, makanan serta cara bersosialisasi dapat digambarkan melalui film. “Penonton juga dapat memahami lebih cepat, karena medianya audio visual,” ujarnya. Kegiatan yang rutin diadakan tiap semester ini mengangkat film berbagai genre. Pada semester ini akan ada empat kali pemutaran film dari negara beberapa negara. Salah satu film yang diputar yakni El Muno Es Nuestro, yang ditayangkan pertama kali pada Rabu (19/4). Film asal Spanyol tersebut berhasil membuat penonton tertarik tentang kebudayaan serta kebiasaan masyarakat Spanyol. Selain film asal Spanyol, akan diputar juga film Bogowie asal Polandia, film Boys Eating the Birds Food asal Yunani dan film asal Aferim asal Rumania. “Mahasiswa UMM diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan maksimal. Selain bertukar informasi, mahasiswa UMM juga dapat jaringan internasional untuk berprestasi di dunia internasional,” pungkas Ofi. (jal/han)

FEB Soroti Impelementasi Good Corporate Governance

FAKULTAS Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Kolokium Doktor menghadirkan empat narasumber dari kalangan internal untuk mempresentasikan disertasi doktoralnya. Seminar dengan tema “Implementasi Good Corporate Governance (GCG) dalam Membangun Perkonomian” digelar di Theater Dome UMM, Rabu (19/4). Salah satu narasumber Dr Ihyaul Ulum dalam materi “Peran Pengungkapan Modal Intelektual dan Profibilitas dalam Hubungan antara Kinerja Modal Intelektual dan Kapitalisasi Pasar” memaparkan hasil temuan investigasinya tentang peran Intellectual Capital Disclosure (ICD) dan profitabilitas dalam hubungan antara Intellectual Capital Performance (ICP) dan Market Capitalization (MCAP). ICP sebelumnya telah diukur dengan model baru berlabel Modified Value Added Intellectual Coefficient (MVAIC). “MVAIC adalah model komprehensif untuk mengukur modal intelektual berdasarkan model dari VAIC. Data diambil dari perusahaan perbankan Indonesia yang terdaftar dalam Indonesia Stock Exchange dalam tiga tahun yaitu 2006, 2009 dan 2012,” jelas dosen yang fokus pada kajian Intellectual Capital, Akutansi Sektor Publik, dan Metodologi Riset ini. Dilanjutkan Ihyaul, penemuan ini menunjukkan bahwa ICD tidak menengahi hubungan antara ICP dan MCAP. Makin tingga capaian IC, maka semakin kurang informasi IC yang diungkapkan dalam laporan tahunan. Sebaliknya, Profit adalah sebuah variabel mediasi dalam hubungan antara ICP dan MACP,” imbuhnya. Ihyaul menemukan bahwa ICP dan Profit berefek pada MCAP. Selanjutnya, ICP dan Profit mempunyai sebuah tanda negatif terhadap ICD. Penemuan-penemuan tersebut menunjukkan bahwa semakin baik IC, maka semakin kurang informasi tentang IC yang diungkapkan dalam laporan tahunan. Narasumber lain yang turut mengisi seminar sehari ini di antaranya Dr Wahyu Hidayat Riyanto lewat bahasan “Determinant on Economic Growth, Disparity Income, And Poverty of Regencies/Cities in East Java Province”, Dr Ahmad Mohyi tentang “Membangun Komitmen Organisasional dan Kinerja dengan Etika Profesional, Motivasi Kerja dan Orientasi Sosial: Sebuah Fenomena pada Lembaga Pemerintahan”, serta Dr Eny Suprapti membahas “Pengaruh Struktur kepemilikan, Tekanan Keuangan, Kesempatan Rasionalisasi Keuangan Terhadap Penghindaran Pajak dengan Corporate Governance dalam Membangun Perekonomian”. (can/han)

OJK Gandeng UMM dan Muhammadiyah Tingkatkan Literasi Keuangan

KOLABORASI Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus meningkat. Setelah sebelumnya pada 2012 UMM menjadi perguruan tinggi pertama yang menjalin kerjasama dengan OJK, kali ini kemitraannya meluas hingga pengembangan keuangan syariah, peningkatan literasi keuangan, serta perlindungan konsumen di sektor jasa keuangan. Penandatangan nota kesepahaman (MoU) dilakukan di Auditorium UMM, Selasa (18/4) oleh Rektor UMM Fauzan dan Ketua Dewan Komisioner OJK Dr. Mulaiaman D. Hadad. Selain dengan UMM, MoU juga dilakukan OJK dengan Muhammadiyah yang diwakili langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir M.Si. “OJK sangat tepat bekerjasama dengan UMM. Semoga kerjasama ke depan bisa lebih real, utamanya berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya dilakukan mahasiswa, tapi juga dosen,” kata Fauzan. Bagi Fauzan, peran perguruan sangat strategis, utamanya dalam upaya mensosialisasikan jasa keuangan. Fauzan lebih lanjut juga menawarkan pendirian pusat kajian jasa keuangan di Perpustakaan Pusat UMM bernama OJK Corner. Sementara bagi Muhammadiyah, ungkap Haedar, kerjasama ini setidaknya memberikan tiga keuntungan. Pertama, kata Haedar, yakni semakin memperkuat sistem tata kelola keuangan, pengawasan dan pembinaan di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah. Selain itu, kerjasama ini juga mendukung pengembangan ekonomi utamanya pada tingkat mikro kecil dan menengah. “Terakhir, pengembangan Muhammadiyah dalam pilar ekonomi yang saat ini menjadi perhatian Muhammadiyah,” tukas Haedar. Selain penandatangan MoU, kegiatan juga diisi dengan kuliah umum bertajuk “Peran Otoritas Jasa Keuangan dan Industri Jasa Keuangan dalam Pengembangan Keuangan Syariah di Indonesia” . (can/han)

Gebyar Enam Bahasa Asing di Car Free Day ala KBA UMM

SEBAGAI kota pendidikan dan pariwisata, kota Malang menjadi jujugan wisatawan maupun perantau dari berbagai negara. Untuk itu, masyarakat di kota Malang mesti dinamis dan mampu berkomunikasi dengan pendatang yang berbicara dalam ragam bahasa. Menyikapi hal tersebut sekaligus sebagai peringatan hari jadi kota Malang ke-103 di bulan April, unit Kursus Bahasa Asing (KBA) Universitas Muhamamdiyah Malang (UMM) mengadakan Gebyar Budaya dan Pelatihan Singkat bahasa asing di kawasan Car Free Day (CFD) jalan Ijen, Ahad (16/4). Kepala KBA UMM, Dr. Sri Hartiningsih, MM menyatakan warga Malang penting untuk belajar bahasa asing. “Kota Malang tak hanya jadi tuan rumah bagi mahasiswa, tapi juga wisatawan asing. Selain itu, kemajuan zaman menuntut kita untuk belajar tak hanya di dalam negeri, tapi juga ke luar negeri,” terang Harti. Pada gebyar budaya ini, sebanyak 140 mahasiswa KBA unjuk penampilan dari 6 negara, yakni Korea, Mandarin, Jepang, Perancis, Jerman, dan Arab. Tak hanya menyaksikan penampilan lewat panggung, KBA juga menyiapkan stan bagi pengunjung CFD untuk belajar ke-enam bahasa negara tersebut. “Ini adalah warming-up, pengenalan pada masyarakat bahwa belajar bahasa itu penting. Ibaratnya, hukum untuk belajar bahasa asing itu sunnah muakad,” ujar Harti menganalogikan. Tak sekadar tampil, mahasiswa KBA juga akan mendapatkan penilaian. Nantinya, kelas dengan nilai tertinggi akan berkesempatan tampil pada malam inagurasi yang diselenggarakan Mei mendatang. (ich/han)